BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
2. Pelembagaan Partai Politik
Pelembagaan partai politik dikenalkan pertama kali oleh Samuel P.
Huntington di tahun 1976 dalam sebuah karyanya yang berjudul Political Order In Changing Societis. Huntington mendefinisikan pelembagaan partai politik adalah sebagai suatu proses di mana suatu organisasi menentukan tata cara untuk memperoleh nilai baku dan stabil (Huntington, 1983: 23).
Sedangkan menurut tokoh lain Randal dan Svasand mendefinisikan pelembagaan partai sebagai pemantapan partai politik dalam aspek kultural dan aspek struktural dimana aspek tersebut terwujud dan tercermin dalam pola perilaku serta dalam sikap dan budaya (Randal dan Svasand, 2002: 13). Tokoh lainnya Ramlan Surbakti dalam tulisannya di harian kompas 2003 mengartikan pendapatnya Randal dan Svasand sebagai suatu proses pemantapan partai politik baik baik dalam wujud perilaku yang memola maupun dalam sikap dan budaya.
22
Dengan kata lain partai politik akan terlihat terlembaga dengan baik jika mapan dalam hal-hal sikap, budaya, pola perilaku, dan mengakar secara terintegrasi.
Dalam karyanya Randall dan Svasand (party institutionalization in New Democracies: 2002) membagi pelembagaan partai politik menjadi dua aspek yaitu aspek internal-eksternal dan aspek struktural-kultural. Jika aspek ini dipersilangkan maka hasilnya seperti di bawah ini:
Tabel 2.1
Dimensi Pelembagaan Partai Politik Internal Eksternal
Struktural Systemness
Decisional Autonomy
Kultural
Value Infusion
Reification
Sumber: Randall dan Svasand (2002)
Hasil persilangan pertama antara aspek internal dengan struktural disebut dengan kesisteman (systemnes), persilangan kedua antara aspek internal dengan kultural disebut dengan identitas nilai (Value infusion). Persilangan ketiga antara aspek eksternal dan struktural disebut otonomi partai dalam membuat suatu keputusan (decisional autonomy). Keempat persilangan antara aspek eksternal dan kultural menghasilkan drajat citra partai di mata public (reification), (Randal dan Svasand, 2002: 13). Hasil persilangan tersebut menjadi tolak ukur bagi pelembagaan partai politik.
23
Kesisteman merupakan tentang bagaimana partai tumbuh dan berkembang serta penyelesaian konflik-konflik yang dijalankan sesuai Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai politik yang telah disepakati dan ditetapkan; Infus nilai mengacu pada perilaku anggota dan kelompok populis (basis popular) pendukung partai dengan keterkaitannya pada ideologi dan platform partai; otonomi keputusan berkaitan dengan hubungan partai dan kelompok eksternal partai; Citra Partai merujuk pada pengetahuan publik atau masyarakat pada keberadaan partai politik (Randall dan Svasand, 2002).
Dimensi pelembagaan partai yang dikemukakan oleh Randal dan Svasand inilah yang kemudian menjadi rujukan dalam penelitian ini. Hal ini didasari karena konsep pelembagaan yang dikemukakan oleh mereka adalah hasil elaborasi dan perpaduan konsep pelembagaan yang sebelumnya telah dikemukakan oleh para ahli.
Kajian teoritis penulis akan berfokus pada pelembagaan dimensi kultural dalam hal ini infus nilai (value infusion) dan bangunan reifikasi (reification) terhadap Partai Golkar Banten.
a) Value Infusion (infus nilai)
Menurut Randall dan Svasand dalam (Tomsa, 2008) Identitas nilai menyangkut tindakan basis populer dan anggota partai politik dan keterikatannya pada partai dengan identifikasi ideologi partai dan platform partai, Pembentukan
24
identitas nilai sangat dipengaruhi oleh budaya partai. Randal dan Svasand juga mendefinisikan value infusion sebagai berikut:
“Value infusion is the other internal dimension of party institutionalization. It refers to the strength of a distinctive party culture or value-system and can be a vital source of party cohesion especially where more strictly organizational mechanisms are weak.
This kind of transcending loyalty has been a notable feature of a range of party types in western democracies (Vicky Randal, 2006:
22)”.
“Infus nilai adalah dimensi internal dari pelembagaan partai. Ini mengacu pada kekuatan budaya partai serta sistem nilai yang khas dan dapat menjadi sumber vital kohesi partai terutama di mana mekanisme organisasi yang lebih ketat lemah. Loyalitas dalam hal ini menjadi fitur penting dari berbagai jenis partai di demokrasi barat (Vicky Randal, 2006: 22)”
Identitas nilai tampak pada pola dan arah kebijakan yang diperjuangkan partai politik serta juga tampak pada basis sosial pendukungnya. Penciptaan identitas nilai yang khas dapat dapat secara signifikan berkontribusi pada kohesi partai karena memberikan dasar pada ikatan yang kuat antara partai sebagai organisasi dan anggota serta pendukungnya (Vicky Randal, 2006)
Lebih lanjut Randal dan Svasand Identitas nilai tidak dapat dilepaskan dari; (a) hubungan partai dengan kelompok populis tertentu (popular bases), dalam hal ini partai politik dianggap sebagai gerakan sosial yang didukung oleh kelompok atau golongan populis tertentu. (b) pengaruh klienelisme dalam organisasi, yaitu apakah hubungan partai dengan anggota cenderung bersifat instrumentalis yaitu anggota selalu mengharapkan tangible resources berupa materi dari partai, atau lebih bersifat ideologis yaitu anggota mengenal dan mengharapkan partai bertindak berdasarkan identifikasi terhadap ideologi partai.
25
Sehingga untuk melihat kondisi infus nilai di area luar partai perlu untuk mengidentifikasi basis populer pendukung partai dan, untuk melihat kondisi infus nilai dalam internal partai perlu untuk mengidentifikasi pengaruh klienelisme dalam partai itu sendiri. Hubungan partai dengan anggota dan basis populer akan sangat berpengaruh pada dimensi infus nilai dalam pelembagaan partai politik.
Dalam penelitian sebelumnya Randall dan Svasand (2002) mencatat bahwa infus nilai paling kuat jika partai politik diidentifikasikan dengan gerakan sosial yang lebih luas.
b) Reification (reifikasi)
Sedangkan reifikasi berkaitan erat dengan konstruksi imajinasi publik.
Oleh karena itu untuk memantapkan dirinya dalam imajinasi publik, sebuah partai perlu menciptakan dan mengembangkan sarana interaksi yang efektif dengan publik. Oleh karena itu, akses reguler ke media massa merupakan kebutuhan vital bagi setiap pihak yang ingin menyebarluaskan pesan politiknya kepada publik. Hal ini selaras dengan pendapat nya Randall dan Svasand:
“Obviously one vital requirement for reification is time. But a further advantage in projecting the party to a wider public is likely to be access to the mass media. Especially where the state still controls the broadcasting media, ruling parties have been able to exploit these media links (Vicky Randal, 2006: 27)”.
“Jelas satu persyaratan penting untuk reifikasi adalah waktu. Tetapi keuntungan lebih lanjut dalam memproyeksikan partai ke publik yang lebih luas kemungkinan adalah akses ke media massa. Terutama di mana negara masih mengontrol media penyiaran, partai-partai yang berkuasa telah dapat mengeksploitasi tautan media ini (Vicky Randal, 2006: 27)”.
26
Randall dan Svasand dalam (Tomsa, 2008) Politik kontemporer disampaikan kepada masyarakat terutama melalui media massa dan tidak ada pihak saat ini yang mampu dijauhi oleh media. Hal yang sama pentingnya untuk reifikasi adalah penggunaan simbol dan label terkenal secara efisien karena mereka berfungsi sebagai alat bagi publik untuk menyusun preferensi elektoral mereka.
Menurut Mainwaring dan Scully dalam (Tomsa, 2008) Pemilih secara alami mengasosiasikan harapan tertentu dengan partai politik. Namun biasanya hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui secara rinci program dan kebijakan partai. Sebaliknya, kebanyakan orang cenderung mengandalkan simbol dan organisasi untuk mengarahkan partai politik mereka. Nama partai memainkan peran penting dalam hal ini, tetapi simbol tradisional, warna, atau slogan yang menarik juga bisa menjadi cara yang efektif untuk mengamankan tempat di benak masyarakat.
Tetapi keuntungan lebih lanjut dalam memproyeksikan partai ke publik yang lebih luas adalah akses ke media massa. Terutama di mana negara masih mengontrol media penyiaran, partai-partai yang berkuasa dapat mengeksploitasi media dengan mudah. (Vicky Randal, 2006)
Oleh karena itu, lebih lanjut Randall dan Svasand menilai reifikasi sangat berkaitan erat dengan; (a) simbol-simbol populer partai seperti warna, dan logo yang melekat dalam reifikasi. (b) akses pada media massa, bagaimana partai diberitakan dalam media massa.
27
Reifikasi adalah proses yang panjang dan hanya dapat dicapai oleh waktu. Seperti yang dikatakan Randall dan Svasand (2002: 23), dalam reifikasi partai pada akhirnya yang terpenting adalah fungsi dari umur panjang, kemampuan partai untuk bertahan dari waktu ke waktu. Sementara transisi demokrasi seringkali menyebabkan menjamurnya partai-partai politik baru, biasanya hanya sedikit yang selamat dari euforia awal seputar pemilu.
Dibandingkan dengan banyak pendatang baru, partai-partai yang sudah ada baik sebelum atau di bawah rezim otoriter yang digulingkan dapat menikmati keuntungan yang signifikan dalam hal reifikasi