PERPOLITIKAN RIAU
2. Peluang dan Tantangan
Salah satu asumsi yang mendasari bahagian tulisan ini adalah bahwa perilaku pemerintah (Daerah) sejak tahun 2001 konteks politik lokal mencerminkan upaya untuk menanggapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang datang baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Karena itu sebagai salah satu cara untuk memahami perilaku pemerintah (Daerah) dalam kaitan kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit dewasa ini
dengan menempatkannya dalam konteks kendala yang me-lingkupinya, terutama dalam wujud hubungan dinamika ekonomi-politik lokal.
Untuk memahami kaitan antara konteks internal mau-pun eksternal dengan perilaku pemerintah (Daerah) tulisan ini diarahkan untuk membahas beberapa pertanyaan berikut:
Bagaimana karakteristik dinamika politik lokal kaitan kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau? Peluang apa yang ditawar-kan orde 2001-2005, dan tantangan apa yang ditimbulditawar-kannya?
Apa dampaknya kepada kemampuan Pemerintah Daerah Riau, dan apa yang dapat dilakukan oleh aktor lokal terutama Pemda untuk menanggapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang mungkin muncul terutama setelah otonomi daerah? Dan kondisi apa yang harus dipertimbangkan untuk memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit?
Secara ringkas hubungan dalam konteks dinamika politik lokal dapat digambarkan secara hirarkis dengan ciri utama, yaitu: (1) ada tujuan/nilai yang dibela komunitas, (2) memiliki komitmen moral, (3) ada individu (pemimpin) yang menjadi rujukan kolektif), (4) mengacu pada aturan main tertentu, (5) pengorganisasian diri, dan (6) keterbatasan sarana dan prasarana (Purwosantoso, 2004: 21-22).
Dewasa ini, usaha Perkebunan Kelapa Sawit telah ber-kembang pesat di Riau. Luas areal terus bertambah, diikuti dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) yang terus meningkat sehingga saat ini produksi minyak sawit telah mencapa 3.387.801 ton (Bappeda Riau, 2005: 11). Kondisi ini telah menjadikan Riau sebagai produsen minyak sawit terbesar di Indonesia. Peningkatan produksi ini akan terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan permintaan konsumsi dalam dan luar negeri.
Dilihat dari ekspor minyak sawit Riau juga meningkat
dari 3.289.114 ton dengan nilai 1.189.292 dollar AS tahun 2003 menjadi 4.288.381 ton dengan nilai 1.747.007 juta dollar AS tahun 2004. Peningkatan nilai ekspor ini didukung juga peningkatan permintaan minyak sawit dunia.
Minyak sawit merupakan bagian dari jenis minyak hayati, seperti kedelai, bunga matahari dan biji lobak. Tahun 2004-2005 permintaan minyak hayati dunia tercatat 135.659 juta ton dengan pertumbuhan rata-rata 3,81 persen pertahun.
Namun, minyak sawit mempunyai keunggulan dalam produk-tivitas dibandingkan dengan minyak lain sehingga pada tahun 2004-2005 produksi minyak sawit mencapai 33,14 juta ton minyak sawit 24,2 persen dari produksi minyak hayati dunia (Kompas, 25 Februari 2006). Minyak sawit mampu menggeser produksi minyak kedelai 32,68 juta ton (23,8 persen dari produksi minyak hayati dunia) yang menjadi penghasil minyak hayati nomor satu dunia pada tahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, menguatnya pasar minyak nabati dunia didukung oleh meningkatnya permintaan minyak nabati dunia terutama seperti minyak biji lobak untuk bahan baku biodisel.
Kondisi ini memberikan peluang minyak sawit untuk meng-gantikan peran minyak nabati lain terutama untuk bahan pangan. Selanjutnya, terbukanya peluang minyak sawit ini juga didukung oleh harga minyak sawit yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lain. Kualitas nutrisi minyak sawit juga lebih unggul, yaitu kaya vitamin A dan E, mengandung anti oksidan, serta bebas asam lemak (Kompas, 25 Februari 2006). Keunggulan minyak sawit ini akan memperbesar pangsa pasar minyak sawit di Eropa dan Amerika Serikat.
Perkebunan Kelapa Sawit juga merupakan sumber peneri-maan pajak. Komoditi ini sumber penerima pajak bumi bangu-nan (PBB). Pada tingkat nasional, PBB yang didapat dari Perkebunan Kelapa Sawit berkisar Rp.26,23 miliar. Asumsinya luas areal perkebunan 5.247.171 hektar dan PBB tiap
hek-tarnya Rp. 5000 pertahun. Selain itu, Perkebunan Kelapa Sawit juga menjadi sumber pendapatan pajak ekspor yang cukup besar. Pajak ekspor CPO dan produk olahannya 10,05 juta ton dengan nilai ekspor 1,5 persen.
Selain itu, Perkebunan Kelapa Sawit juga membuka pe-luang kesempatan kerja. Pada industri hulu (budidaya kelapa sawit), usaha kelapa sawit memerlukan tenaga kerja rata-rata 35-40 orang per 100 hektar. Dengan luas areal perkebunan kelapa sawit 5,2 juta hektar tahun 2005, maka Indonesia membutuhkan sekitar 1.836.500 orang tenaga kerja di sektor Perkebunan Kelapa Sawit. Kemudian, dalam hal pembukaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Komoditi ini juga membutuhkan tenaga kerja. Tahun 2003 jumlah PKS sekitar 320 unit dan setiap PKS berkapasitas olah 30 ton tandan buah segar (TBS) perjam memerlukan 136 tenaga kerja. Dengan demikian, jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung di seluruh PKS di Indonesia diperkirakan sebanyak 61.300 orang. Dalam pembangunan Kelapa Sawit ini, peluang kerja terjadi juga dalam sektor jasa dan pendukung lainnya yang terkait dengan industri hilir kelapa sawit.
Peluang-peluang yang diperoleh dari pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit ini terjadi juga di Riau. Setidaknya ada sepuluh potensi yang dapat dikelola untuk memacu percepatan pembangunan perkebunan di daerah ini. Pertama, potensi pasar atas komoditas Perkebunan Kelapa Sawit dan olahan. Dengan mengamati pertumbuhan penduduk dan berbagai kebutuhan yang melekat pada perkembangunan pembangunan Kelapa Sawit, maka peluang pasar dan olahan komoditas ini menjadi potensial di Riau.Kedua, tersedianya tanah untuk dimanfaatkan sebagai lahan usaha perkebunan; Ketiga, tersedianya tenaga kerja yang dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam usaha pengelolaan perkebunan;
Keempat, masyarakat dapat ditarik dan didorong minatnya untuk menginvestasikan modalnya dalam usaha perkebunan.
Namun demikian, ditemui pula berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi sektor perkebunan daerah Riau terutama dalam menghadapi pasar global. Pertama, per-syaratan mutu produk perkebunan dan olahan yang semakin ketat di pasar global; Kedua, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi, meng-akibatkan tuntutan produk perkebunan dan olahan yang bermutu tinggi dari berbagai pilihan harus tersedia; Ketiga, pengusahaan tani harus mampu mengelola usahanya dengan perubahan pasar; Keempat, belum efisien dan terpadunya usaha perkebunan dan agroindustri sebagai bahagian dari sistem agrobisnis; Kelima, kelembagaan perkebunan belum mendukung secara terpadu pengembangan agrobisnis komo-ditas unggulan; dan Keenam, usaha perkebunan yang ber-jangka panjang dihadapkan pada suku bunga bank yang tinggi (Yasin, 2003: 30).
Selain itu, perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau selama ini tampaknya juga memberikan peluang terhadap pembesaran akses Perkebunan Kelapa Sawit rakyat di Daerah ini. Pembesaran ruang akses rakyat ini didapat dengan ber-tambahnya sarana dan prasarana yang ada di area perkebunan.
Sarana-prasarana ini baik yang dibangun oleh Pemda maupun perusahaan-perusahaan per-kebunan swasta. Sarana yang dibangun Pemda seperti jalan dan jembatan. Sarana yang dibangun perusahaan perkebunan seperti rumah sekolah dan PKS. Sarana dan prasana pendukung perkebunan ini semakin mempelancar arus informasi dan komunikasi pada sentra-sentra perkebunan rakyat yang letaknya cenderung terpencar dan menyebar di wilayah Riau. Disamping itu, berkembangnya perkebunan besar swasta terutama PTPN juga memberikan kemungkinan bertambahnya areal perkebunan rakyat melalui pola Perkebunan Inti Rakyat-Pekebun (PIR-bun).
Dalam kondisi demikian, salah satu peluang ekonomi yang muncul adalah peningkatan pendapatan di tingkat petani
Kelapa Sawit. Adapun tingkat rata-rata pendapatan petani perkebunan kelapa sawit secara umum terjadi peningkatan.
Tahun 2003 sebesar Rp.18.000.000/KK dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar Rp.25.910.000. Peningkatan pendapatan ini memacu tumbuhnya minat masyarakat setempat untuk berpartisipasi membangun kebun kelapa sawit sebagai langkah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya (Jonaidi, 2005: 83-99). Karena pembukaan usaha perkebunan (termasuk Kelapa Sawit) memberikan peluang bagi perbaikan keadaan kelembagaan ekonomi petani yang berorientasi pasar.
Kondisi inilah antara lain dapat memacu tumbuhnya luas per-kebunan rakyat di Riau.
Berdasarkan potensi wilayah sesuai dengan RTRW Provinsi Riau luas lahan yang dicadangkan adalah sebesar 3.133.398 ha. Dari luas areal kebun ini, 1.340.036,49 ha terdiri dari kebun Kelapa Sawit atau 52,59% tahun 2004. Dilihat dari status kepemilikan lahan kebun, pada periode 1980-1988 Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara (PTPN) mendo-minasi luas kepemilikan areal kebun Kelapa Sawit di Riau.
Namun sejak 1989 hingga 2005 Perusahaan Besar Swasta (PBSN) yang mendominasi luas areal kebun sawit di Riau.
Sedangkan luas areal yang dimiliki Perkebunan Rakyat (PR) termasuk petani pekebun plasma, petani pekebun masyarakat lokal lebih kecil dibanding dengan PTPN dan PBS-bun. Akan tetapi, terdapat kecenderungan bahwa luas areal kebun Kelapa Sawit yang dimiliki petani pekebun ini terus meningkat hingga 2007.***