Dalam bahagian ini hendak diuraikan karya-karya ilmiah mengenai: (1) studi perpolitikan di Indonesia sesudah masa Reformasi, (2) kajian-kajian tentang politik lokal sebelum dan sesudah 1999, dan (3) penelitian perpolitikan Indonesia dalam kaitan kebijakan perkebunan. Uraian ini bertujuan untuk men-dapatkan gambaran mengenai apa yang telah diketahui oleh para peneliti terdahulu mengenai persoalan perpolitikan lokal di Indonesia terutama sesudah 1999.
Henk Schuldte Nordtholt and Gerry van Klinken (2007) melakukan studi mengenai politik lokal di Indonesia pasca Soeharto.1 Kedua peneliti ini ingin menyelami pendekatan-pendekatan baru terhadap politik lokal di Indonesia pasca-Soeharto dengan menerapkan asumsi bahwa perpolitikan Indonesia sebelum dan sesudah 1999 menunjukkan bahwa secara substansif tidak ada perubahan. Untuk mengungkap-kannya, kedua ilmuwan ini mengusulkan untuk meneliti sifat
1 Henk Schuldte Nordtholt and Gerry van Klinken (Edt). 2007.Renegotiating Boundaries Local Politics In Post-Soeharto Indonesia. KTLV Press. RA Leiden The Nederlands.
dan peranan para elit daerah, khususnya bidang politik birok-ratis, ekonomis, dan identitas.
Analisis Nordtholt and Klinken mengungkapkan bahwa politik Indonesia pasca-Soeharto menunjukkan kontinuitas-kiontinuitas historis dengan periode-periode sebelumnya, misalnya sifat patrimonial sistem dalam mengalokasikan anggaran melalui kendali Pusat. Kemudian, sistem pemajakan informal pada masa Orba serta distribusi pendapatan bottom up hingga pasca reformasi masih tetap mewarnai birokrasi Indonesia. Para birokrat yang digaji rendah menopang gaji mereka dengan sumber-sumber pendapatan informal dengan menjual izin-izin dan menarik pajak-pajak pribadi. Selain itu, pemerintah memegang teguh sifat patron-client dan menjadi bagian struktur kapitalis yang lebih luas dan melemah dalam memanfaatkan kapital, tenaga kerja, produksi dan pasar.
Secara faktual, kondisi-kondisi inilah dalam banyak hal me-nunjukkan Indonesia pasca-Soeharto adalah kelanjutan dari rezim sebelumnya, meskipun kepemimpinan Pusat dari periode sebelumnya sudah melemah, yang membuka jalan bagi ’fak-sionalisasi’ dan desentralisasi kekuasaan.
Nordtholt and Klinken mempunyai kekuatan analisis yang tajam ketika mengusulkan peninjauan ulang terhadap perspektif relasi antara ‘negara’ dan ‘masyarakat’, ‘negara’ dan ‘pasar’, dan hubungan-hubungan ‘formal’ serta ‘informal’. Menurut kedua ilmuwan ini, agak terlalu simplistis untuk menyimpulkan bahwa negara di Indonesia telah melemah sejak tahun 1998.
Argumentasi yang diajukan Nordtholt and Klinken adalah ter-lalu simplistis. Karena jika mengamati struktur-struktur kekuasaan, baik institusi formal maupun jaringan informal; masih di-warnai aktivitas-aktivitas ekonomis illegal, dimana misalnya para birokrat, politisi, militer, polisi, pengusaha, dan penjahat berkoalisi, sementara itu perbedaan-perbedaan antara profesi kelompok ini seringkali kabur. Struktur hubungan elit inilah yang tetap bertahan sejak Orba hingga masa reformasi.
Akan tetapi, studi ini tidak lepas dari keterbatasan, setidak-nya mengandung satu kelemahan, yaitu mengajukan tesis yang kurang cermat jika diamati dari perkembangan politik lokal di Indonesia pasca reformasi paling tidak untuk kasus Riau.
Pemerintah reformasi memang mewarisi sifat patrimonial dan sifat patron-client dari Orba, tetapi argumentasi itu tidak cukup tajam jika dipakai untuk menjelaskan perpolitikan lokal paling tidak kasus di Riau. Di Riau, sifat perpolitikan lokalnya selain sifat-sifat patrimonial dan sifat patron-client masih kuat melekat sejak Orba dan reformasi, perpolitikan lokal di Riau juga ditandai adanya perubahan politik lokal yaitu mulai ter-bukanya ruang politik masyarakat di sektor kepemilikan perkebunan. Sebelum 1999, Riau dengan ekonomi minyaknya, dikuasai oleh Pusat, masyarakat di daerah tidak dapat berbuat banyak. Setelah 1999, struktur ekonomi Riau selain ditopang ekonomi minyak, juga mulai beralih pada ekonomi perkebunan Kelapa Sawit. Dengan berlakunya UU No. 22/1999 dan 25/
1999 yang memberi peluang bagi daerah untuk memanfaatkan SDA lokal, maka dalam ekonomi perkebunan ruang politik Pemda dan masyarakat Riau semakin terbuka. Perubahan-perubahan politik lokal inilah yang kurang ditangkap oleh studi Nordtholt and Klinken.
Selaras dengan analisis di atas, R. William Liddle (2004) melakukan studi mengenai perpolitikan di Indonesia yang terkait Pemilu.2 Menurut Liddle perpolitikan di Indonesia sebe-lum dan sesudah 1999 secara substansif tidak berubah, peta kepartaian perpolitikan Indonesia tetap menampakkan pola fragmentasi atau perpecahan yang semakin parah. Argu-mentasi ini diketengahkan Liddle dengan mengamati sejarah politik kepartaian Indonesia sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2004.
2 R. William Liddle (2005) Keberhasilan Demokrasi. The Ohio State University, Columbus, Ohio, AS, hal. 1-4.
Menurut Liddle pola persaingan kelompok partai politik yang direpresentasikan oleh pimpinan partai dalam menanamkan pengaruhnya sesudah dan sebelum 1999 tetap tidak berubah, sama-sama menghasilkan pola fragmentasi politik semakin memburuk. Pada tahun 1955, empat partai – PNI, Masyumi, NU, dan PKI memenangkan Pemilu demokratis yang pertama.
Tetapi tidak ada partai yang cukup kuat untuk memerintah sendiri (partai yang memenangkan Pemilu masa itu PNI hanya memperoleh 22,3% dari seluruh suara). Lebih gawat lagi, pemimpin partai masa itu tidak berhasil menciptakan koalisi antar partai yang bisa meletakkan sebuah pondasi yang kukuh buat pemerintahan yang stabil dan berwibawa. Pemilu 1999 mengurangi fragmentasi yang diciptakan pada Pemilu 1955.
PDI-P meraih 34% yang jauh melebihi dari PNI pada Pemilu 1955. Sayang, Megawati tidak langsung memanfaatkan ke-menangannya untuk membangun koalisi baru, koalisi poros tengah yang dipimpin Amien Rais merebutnya. Namun, Pemilu 2004 pola fragmentasi peta kepartaian Indonesia anjlok kembali. Misalnya, keunggulan Presiden Megawati lenyap de-ngan merosotnya dukude-ngan yang diberikan kepada partainya.
Tentu saja faktor bertambahnya jumlah partai utama misalnya Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dapat dijadikan prakondisi kemerosotan dukungan itu.
Analisis politik Liddle di atas memiliki kekuatan dalam mengidentifikasi pola perpecahan peta kepartaian dalam sejarah politik Indonesia. Kekuatan analisis ini bertumpu pada pergulatan kepentingan kelompok partai melalui representasi tokoh-tokoh partai di tingkat nasional sejak pemilu 1955 hingga 2004. Tetapi, analisis ini mengandung kelemahan ketika dinamika perpolitikan lokal pasca reformasi terkesan diabaikan begitu saja dalam memahami berulang-ulangnya pola-pola fragmentasi dalam peta kepartaian Indonesia.
Dilihat dari perspektif ekonomi-politik, fenomena perpe-cahan dalam peta kepartaian Indonesia dalam batas-batas
tertentu ada yang tetap dan ada pula yang berubah. Secara politik, fenomena yang tetap sebelum dan sesudah 1999 adalah kontiniunitas historis akan komando DPP Partai terhadap elit partai lokal. Yang kemudian melahirkan ketidakmampuan para pemimpin partai lokal mendukung koalisi antar partai sebagai fondasi yang kuat bagi pemerintahan yang stabil. Secara eko-nomi setelah 1999, yang mengalami perubahan adalah pola fragmenatasi peta kepartaian di tingkat lokal ditentukan oleh pergeseran basis ekonomi masyarakat dari minyak kepada perkebunan misalnya di Riau. Dalam ekonomi minyak, para pemimpin partai sangat terikat dengan DPP. Dalam ekonomi perkebunan para elit lokal seolah-olah berjalan sendiri-sendiri (tidak terikat DPP), berinisiatif bekerjasama dengan pengusaha perkebunan, birokrat, LSM dan sebagainya. Dalam kondisi se-perti inilah perpolitikan lokal semakin terfragmentasi.
Sejalan dengan analisis di atas, Edward Aspinall, Gerry van Klinken, dan Herbert Feith(2000) mengkaji dinamika kekuasaan politik di Indonesia di era desentralisasi dan demo-kratisasi.3 Analisis Aspinall ini bertumpu kepada argumen bahwa dalam beberapa hal Orba masih menunjukkan ciri-ciri yang sama seperti 1960-an misalnya muncul kekacauan komunal, konflik politik, dan hubungan petronase. Ciri-ciri politik itu terus berlanjut pada perpolitikan Indonesia pasca Soeharto.
Menurut Aspinall bahwa di tengah-tengah euforia yang mengiringi pergantian Soeharto, terdapat juga beberapa hal yang layak untuk diperhatikan, yakni bahwa Soeharto – lantaran ia merupakan pusat patriarki dari Orba yang tak ter-bantahkan– telah mampu menjaga posisinya untuk sekian waktu yang lama dengan perlindungan dari institusi dan kelompok yang sangat berkuasa. Meskipun Soeharto telah lengser,
3 Edward Aspinall, Gerry van Klinken, dan Herbert Feith (Edt). 1999.The Last Days of President Suharto. Monas Asia Institute.
aparat dan sebagian besar personelnya yang berasal dari Orba masih tetap belum bergeser. Bahkan mereka dengan bendera pemihakan pada reformasi, sehingga mereka mampu melin-dungi kepentingan yang kuat, dalam bingkai ruang lingkup reformasi.
Analisis Aspinal ini memiliki kekuatan di tingkat makro.
Kekuatan analisis ini paling tidak nampak dari alasan yang dikemukakan Aspinall bahwa dewasa ini Indonesia sedang mengalami masa yang demokratis di tengah-tengah konti-niunitas ciri-ciri “lama”. Inisiatif politik berada di tangan mahasiswa, Amien Rais, dan pendukung demokrasi lainnya.
Orang kuat telah jatuh,dan untuk sekarang ini,segala sesuatu dapat menjadi mungkin. Kemudian, tuntutan-tuntutan terhadap reformasi politik, pemberantasan korupsi, dan hukuman terhadap Soeharto dan para pendukungnya, sekarang diajukan kembali. Namun, sikap optimistik itu agak berlebihan jika meli-hat lebih jauh perpolitikan Indonesia yang sangat terfrag-mentasi pasca reformasi. Modal politik utama yang harus diraih pemimpin politik dimasa depan misalnya bagaimana dapat memobilisasi dukungan masyarakat melalui sumberdaya politik yang dimilikinya. Ini adalah persoalan political skill yang harus dimainkan oleh para aktor politik Indonesia di masa depan.
Sejalan dengan analisis di atas, Vedi R. Hadiz (2005)4 melakukan studi yang terkait perpolitikan lokal dengan me-ngambil kasus mengenai perpolitikan lokal di Sumatera Utara pasca runtuhnya Orba. Argumentasi yang diketengahkan Hadiz bahwa perpolitikan Indonesia sebelum dan sesudah reformasi secara substansial tetap menampakkan wajah yang sama yang ditandai dengan munculnya kekuatan-kekuatan oligarkis yang
4 Vedi R. Hadiz (2005) "Kekuasaan dan Politik di Sumatera Utara: Reformasi yang Tidak Tuntas" dalamDinamika Kekuasaan Ekonomi-Politik Indonesia Pasca-Soeharto, LP3ES, Jakarta, hal. 235-253.
diwarisi dari rezim Orba. Kelompok-kelompok oligarkis ini tetap menyebar dari Pusat hingga ke desa-desa dengan kemasan jaringan petronase baru yang bersifat desentralistik, lebih cair dan saling bersaing satu sama lain.
Kekuatan studi ini terletak pada kemampuannya men-jelaskan kemunculan kekuatan-kekuatan oligarkis gaya baru yang membentuk pola perpolitikan lokal pasca reformasi. Ana-lisis Hadiz ini meyimpulkan bahwa peta perpolitkan lokal sebelum dan sesudah 1999 secara substansial tidak mengalami perubahan. Menurut Hadiz kasus di Sumatera Utara mungkin terjadi juga di kebanyakan daerah, muncul aktor-aktor politik baru, para pengusaha kecil dan menengah yang tergantung pada proyek dan kontrak negara. Para politisi profesional dengan kaitan khusus dengan partai Orba, atau aktivis yang berbasis organisasi semacam (HMI), (GMKI), (GMNI) dan kaki tangan rezim lokal melalui organisasi seperti Pemuda Pancasila. Para pendatang yang relatif baru ini mempunyai pengaruh dengan cara mendekatkan diri dengan tokoh-tokoh/
kelompok yang memiliki sumber akses uang, dan yang penting lagi aksesnya kepada aparat kekerasan, mengenai bangkitnya politik lokal kasus Sumatera Utara pasca runtuhnya Orba.
Akan tetapi, kelemahan penelitian Hadiz di Sumatera Utara ini adalah melupakan penyebab mengapa perpolitikan lokal itu secara substansial sama sebelum dan sesudah 1999 dan apa yang diperebutkan oleh para pelaku lokal itu sehingga pola persaingannya sebelum dan sesudah reformasi tetap sama.
Padahal sebelum reformasi, politik lokal tidak bisa berbuat banyak misalnya terkait peluang sumber daya alam. Kapitalisasi SDA dinikmati oleh para PBS/PBSN, Daerah tidak memiliki akses. Setelah 1999, dengan diberlakunya UU No. 22/1999 daerah dapat memanfaatkan SDA lokalnya, muncul banyak investor baru (termasuk lokal).
Daerah penelitian Hadiz Sumatera Utara dikenal sebagai daerah yang lebih duluan menerapkan kebijakan Pusat
me-ngenai perkebunan dibandingkan Riau. Di Riau secara ekonomi-politik dalam batas tertentu terjadi perubahan sifat perpolitikan lokal. Sebelum 1999, ekonomi Riau bertumpu pada minyak dan gas, pengendaliannya sangat sentralistik Usaha sektor perkebunan kelapa sawit didominasi Salim Group.
Sesudah 1999, ekonomi Riau banyak ditopang perkebunan, daerah mempunyai akses memanfaatkan peluang-peluang ekonomi-politik lokal misalnya Pemda Provinsi dan hampir seluruh Pemkab memiliki usaha perkebunan yang dikendalikan melalui keputusan lokal. Sehingga bisnis sawit di Riau semakin semarak. Sifat perpolitikan lokal inilah yang tidak teridentifikasi dengan baik oleh studi Hadiz ini.
Selanjutnya, sejalan dengan analisis di atas, Ignes Kleden (2008) melakukan studi mengenai politik Indonesia pasca Orba.5 Studi Ignes ini menekankan pada analisis terhadap perkembangan politik dan budaya politik Indonesia era refor-masi dan sampai pada kesimpulan bahwa reforrefor-masi yang berlangsung tidak menunjukkan hadirnya, perubahan atau pembangunan politik, kecuali pada perspektif perebutan ke-kuasaan.
Menurut Ignes, secara makro politik Indonesia lebih didominasi pada hubungan antar aktor-aktor politik. Bahkan, secara keseluruhan politik Indonesia masih terkosentrasi pada kepentingan negara dibanding pada kepentingan masyarakat.
Begitu juga tentang kebijakan desentralisasi yang dilandasi dengan gerakan reformasi, bagi Ignes hanya memindahkan
“sentralisme” politik dari pemerintahan pusat ke pemerintahan daerah. Disisi lain “transisi” yang terjadi menciptakan konflik-konflik politik pada tingkat partai politik, yaitu antara kepen-tingan (elitis maupun kolektif) serta antara kepenkepen-tingan idiologi. Secara miklro politik, politik Indonesia diwarnai ke-tegangan-ketegangan idiologis yang sangat kentara pada
5 Ignes Kleden (2008)Politik Indonesia, Antara Demokrasi dan Sentralisme Politik.
gerakan atas “islamic state” dari sebagian kelompok muslim yang berseberangan kelompok nasionalis “nasionalist state”.
Pertarungan kelompok ini mendapat legitimasi melalui partai politik dan bermuara pada “suksesi kepemimpinan nasional’
sebelum dan sesudah Pemilu 1999. Dengan demikian, secara substansial relatif tidak ada perubahan politik pasca Orba.
Perbedaannya, pada masa Soeharto, idiologi-idiologi tidak mun-cul kepermukaan, masa reformasi membuka kembali gairah idiologis dan muncul dengan semangat primordialisme. Tetapi, aliran-aliran “lama” itu muncul hanya dalam bentuk kemasan baru.
Analisis Ignes di atas memiliki kekuatan dalam memberi-kan dasar pemahaman historis politik Indonesia dari pertenta-ngan kepentipertenta-ngan dan idiologi. Pertama, pemikiran tentang perlunya dasar empiris untuk memahami kekuatan-kekuatan nyata –seperti ABRI– dalam pertarungan kekuasaan yang terjadi. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai seberapa signifikansinya pembesaran jumlah partai dengan penguatan partisipasi politik kepartaian sebagai representasi kesadaran rakyat atau hanya “pragmentasi” kelompok elit partai. Kedua, adanya norma-norma yang menjadi dasar penilaian realitas politik Indonesia. Apakah pembaharuan politik di masa refor-masi mendekati atau menjauhi kriteria normatif yang disepa-kati. Ketiga, hubungan ketentuan normatif dan kenyataan empiris dalam politik praktis. Dari ketiga kriteria itu, Ignes menyimpulkan bahwa muatan reformasi dapat diposisikan selalu sarat dengan perebutan kekuasaan(power building) bukan pada efektivitas penggunaan kekuasaan (the use of power).
Selain analisis Ignes Kleden memiliki kekuatan tentulah terdapat kelemahan-kelemahan. Salah satu kelemahan studi ini adalah keterbatasannya memotret perpolitikan lokal pasca reformasi. Tidak disanggah bahwa ada banyak fakta yang me-nunjukkan batas-batas tertentu bahwa politik Indonesia tidak banyak berubah misalnya pertarungan kekuasaan (lokal) dan
persaingan idiologi. Tetapi, menjadi fakta baru di tingkat lokal yang tak dapat disangkal bahwa ada perbedaan politik sebelum dan sesudah 1999 misalnya mengenai sifat perpolitikan lokal dari sentralistik ke desentralisasi. Perubahan politik ini me-nimbulkan gairah baru bagi Pemda dan masyarakat lokal untuk berinisiatif misalnya di sektor bisinis Perkebunan Kelapa Sawit.
Selaras dengan studi di atas, studi perpolitikan Indonesia masa trasisi berkaitan dengan kebijakan perkebunan Kelapa Sawit dilakukan antara lain oleh Anne Casson6 (2000). Hasil penelitian Casson menunjukkan bahwa Kelapa Sawit meru-pakan salah satu subsektor pertanian yang paling dinamis di Indonesia. Areal perkebunan Kelapa Sawit meningkatkan dari 106.000 Ha akhir 1960-an menjadi 2,7 juta Ha tahun 1997.
Pertumbuhan Kelapa Sawit yang pesat ini didorong oleh faktor kebijakan ekonomi pemerintahan Soeharto. Kebijakan ekonomi ini mendorong keterlibatan sektor swasta dalam kurun waktu 1986-1996. Pemerintah menyediakan kredit dengan bunga rendah dalam pengembangan perkebunan, penanaman baru, dan pembelian fasilitas pengolahan buah Sawit. Pemerintahan Habibie mempunyai komitmen melanjutkan kebijakan per-kebunan pemerintahan Soeharto. Dalam studi ini Riau dipandang sebagai daerah “baru” perkebunan Kelapa Sawit yang terpesat perkembangannya di Indonesia.
Studi Casson (2000) ini memiliki kekuatan, yaitu terletak pada kemampuannya menunjukkan hubungan antara peru-bahan setting politik nasional dengan penerapan kebijakan Kelapa Sawit. Namun, kekuatan studi yang diuraikan di atas, sekaligus menjadi kelemahan kajian ini. Karena tinjauan terhadap keberhasilan pertumbuhan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia itu semata-mata dari kepentingan Pemerintah
6 Anne Casson (2000)The Hesistant Boom Indonesia’s Oil Palm Subsektor in an Era of Economic Crisis and Political Change, CIFOR, Indonesia.
Pusat. Dibalik keberhasilan seperti yang dituduhkan itu, kajian Casson ini kurang mengungkapkan kepentingan lokal yang beragam dan dinamis, misalnya penerapan kebijakan per-kebunan menimbulkan konflik lokal terus menerus. Konflik itu diduga kuat akibat dari penerapan kebijakan perkebunan Pusat selama ini.
Berbagai studi di atas pada dasarnya mempunyai thesis bahwa perubahan politik tidak terjadi dalam perpolitikan Indonesia pasca reformasi. Perbedaan diantara studi di atas, yaitu Henk Schuldte Nordtholt and Gerry van Klinken (2007 menekankan pada sifat dan peranan para elit daerah, R. William Liddle (2004) memusatkan perhatian kepada pola fragmentasi atau perpecahan pada peta kepartaian yang semakin parah dalam sejarah politik Indonesia, Vedi R. Hadiz (2002) mem-fokuskan diri kepada kemunculan kelompok-kelompok oligarkis lokal, sementara Anne Casson (2000) lebih memperhatikan dampak perubahan rezim Soeharto ke Habibie kepada kebija-kan perkebunan di Indonesia, dan studi Edward Aspinall, Gerry van Klinken, dan Herbert Feith (2000) menekankan kepada arah demokratisasi sejak kejatuhan Soeharto.
Studi ini ikut melibatkan diri dalam perdebatan mengenai karakter perpolitikan Indonesia masa “Reformasi”. Dalam perdebatan mengenai perpolitikan Indonesia pasca 1999 di atas, nampak kecenderungan untuk memandang perpolitikan di massa “Reformasi” tidak terlalu berbeda dengan perpolitikan masa “Orba”. Penelitian ini berusaha menunjukkan bahwa pengalaman politik Indonesia sejak akhir 1990-an itu telah menghasilkan pola perpolitikan yang secara struktural maupun praktik perilaku politik berbeda. Studi mengenai perpolitikan lokal selama ini tidak mengungkapkan secara substansial adanya pola perbedaan tersebut. Karena itu, penulis berharap agar studi ini mempunyai arti dalam mengisi kekosongan khasanah kajian politik lokal di Indonesia.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan analisis penelitian
ini, data yang diperlukan meliputi kondisi perpolitikan Riau sebelum dan sesudah 1999, sejarah Perkebunan Kelapa Sawit di Riau, pilihan-pilihan kebijakan perkebunan masing-masing aktor lokal 1999-2009, dan koalisi aktor dengan lembaga-lembaga sosial. Sumber data baik data sekunder maupun primer. Sumber data skunder diperoleh dari bahan dokumen yang berkaitan dengan Perkebunan Kelapa Sawit , baik cetak ataupun elektronik. Sumber data sekunder ini adalah; laporan penelitian, jurnal ilmiah, buku-buku, Peraturan perundangan baik berupa Undang-undang, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Keputusan Menteri Pertanian, Peraturan Daerah yang mengatur perkebunan kelapa sawit di Riau, surat kabar seperti Riau Pos, Riau Tribune, Riau Mandiri, Kompas, Majalah Eksekutif, Tempo, peta lokasi, brosur, selebaran,risalah rapat, data direktori perusahaan perkebunan yang diterbit Badan Pusat Statistik (BPS), dan bahan yang bersumber dari websites internet.
Selanjutnya, sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh lokal atau meman-faatkan hasil wawancara yang dilakukan media cetak terhadap pelaku sejarah dan pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau. Tujuan wawancara itu adalah: Pertama, untuk meng-ungkapkan dukungan masing-masing aktor terhadap pilihan kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit; Kedua, untuk mengum-pulkan data lebih lengkap mengenai elit kebijakan perkebunan;
dan Ketiga, untuk memperoleh pemahaman tantang bagai-mana aktor mengorganisir diri dan berkoalisi dengan kelompok sosial lain. Sebelum memilih aktor lokal terlebih dahulu perlu menyusun peta sementara elit lokal. Secara umum kajian ini membagi dua kategori aktor konteks lokal, yaitu aktor peme-rintah dan non-pemepeme-rintah. Studi ini membatasi pada aktor-aktor pemerintah dan non-pemerintah dilevel provinsi tiap periode, diperkuat oleh penentuan beberapa aktor kabupaten seperti Kampar dan Bengkalis, aktor-aktor inilah yang menjadi jangkauan penelitian atau cakupan obeservasi. Sedangkan
tokoh-tokoh Pusat dijadikan penguat informasi yang diperoleh.
Aktor Pemerintah Provinsi dan Kabupaten itu misalnya Gubernur/
Bupati, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas perkebunan, Kepala Dinas Kehutanan, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPMD), Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Aktor non-pemerintah misalnya Ketua DPRD Propinsi, Ketua Komisi-B DPRD Riau, pimpinan parpol Golkar, PDI-P, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM); Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Jaringan Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), akademisi; Jhonyanis, RM.Amin, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Unri, Badan Ekskutif mahasiswa (BEM);
Unri, UIR, tokoh-tokoh lokal yang menonjol misalnya Tabrani Rab dan Thamrin Nasution yang diangap mengetahui sejarah usaha Perkebunan Kelapa Sawit di Riau.
Pengusaha-pengusaha dan perusahaan perkebunan besar dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut. Pertama, hubungan mereka dengan para birokrat, atau beberapa pejabat pemerintah (Daerah) yang berkuasa, partai politik, politisi, elit yang ber-pengaruh, yang masing-masing berakibat pada proses kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau. Kedua, posisi atau reputasi yang mereka miliki pada tingkat lokal sebagai pelaku usaha perkebunan. Ketiga, tindakan-tindakan aktor dalam
Pengusaha-pengusaha dan perusahaan perkebunan besar dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut. Pertama, hubungan mereka dengan para birokrat, atau beberapa pejabat pemerintah (Daerah) yang berkuasa, partai politik, politisi, elit yang ber-pengaruh, yang masing-masing berakibat pada proses kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau. Kedua, posisi atau reputasi yang mereka miliki pada tingkat lokal sebagai pelaku usaha perkebunan. Ketiga, tindakan-tindakan aktor dalam