HASIL PENELITIAN
4. Pemahaman masyarakat tentang hukum pernikahan yang masih rendah
Pemahaman masyarakat yang masih rendah tentang ketentuan-ketentuan yang berlaku atau hukum-hukum pernikahan yang ada menjadikan segala sesuatu dalam pernikahan mungkin dan mudah terjadi. Tentunya dapat didasarkan atas pengetahuan seseorang akan suatu sumber hukum, yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini Pengadilan Agama Islam.
Menurut Zamaksari salah seorang Ulama dan tokoh masyarakat di Kelurahan Jati bening bahwa ketika menikah masyarakat tahu syarat, rukun dan kewajiban dalam hidup berumah tangga, tetapi masyarakat di Kelurahan jati bening hanya sekedar tahu saja tentang hukum pernikahan tersebut tanpa diiringi pemahaman mereka tentang arti dan fungsi sebuah rumah tangga dalam sebuah pernikahan, dalam implementasinya kehidupan rumah tangga yang mereka jalani mencontoh dari rumah tangga yang
dilakukan oleh orang tuanya sehingga banyak terjadi pemaksaan kehendak dengan dasar setiap keluarga tidak sama dalam menerapkan peraturan rumah tangga antar kedua belah pihak masyarakat setempat hanya menikah dan hidup berumah tangga saja tanpa mengetahui segala batasan hak dan kewajiban suami istri dengan baik. Jika ditemukan sebuah permasalahan dalam rumah selalu diselesaikan dengan emosional tidak dengan kepala dingin sehingga perceraian rawan sekali terjadi bahkan suatu perceraian dapat terjadi hanya karena masalah sepele.19
Lebih lanjutnya Zamaksari menyatakan bahwa jita menemukan permasalahan dalam rumah tangga, mereka tidak meminta bantuan dari badan penasehat perkawinan atau orang yang di anggap mengerti sebagai tokoh masyarakat yang dapat meredam permasalahn mereka, jiwa muda yang ada dalam pasangan pernikahan usia muda menjadikan keluarga selalu emosi dalam menyikapi problematika hidup berumah tangga, bila sudah emosi maka dapat mengalahkan logika sehingga melupakan peraturan hukum perkawinan yang ada.20
19
Zamaksari Abdul Madjid, (Tokoh Masyarakat), Wawancara Pribadi di Rumahnya RT 002/005 Kelurahan Jati Bening Pondok Gede Bekasi, Tanggal 23 Maret 2010
20
Zamaksari Abdul Madjid, (Tokoh Masyarakat), Wawancara Pribadi di Rumahnya RT 002/005 Kelurahan Jati Bening Pondok Gede Bekasi, Tanggal 23 Maret 2010
5. Faktor Ekonomi Penduduk Atau Struktur Mata Pencaharian
Semua daerah muslim masuk dalam kategori negara berkembang meskipun diantaranya relatif kaya sementara bagian yang lain sangat miskin. Negara berkembang selalu saja di hadapkan pada persoalan-persoalan yang sangat sulit dimana terjadi ketidak seimbangan ekonomi yang dicerminkan dalam angka pengangguran yang tinggi, kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang sangat luas di antara golongan-golongan yang berbeda-beda dari setiap daerah yang dihuni oleh komunitas masyarakat. Konsekuensinya kebutuhan pokok bagi setiap penduduknya tetap belum dapat dipenuhi sementara golongan kaya dan menengah hidup dalam kemewahan dan menjadi unsur ketimpangan sosial pada masyarakat.
Penyebab ketidak stabilan sosial ekonomi. Ekonomi adalah suatu kegiatan kemasyarakatan dalam mencapai suatu keinginan yang bersifat material dan dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari atau masa yang akan datang. Keadaan ekonomi masyarakat Jati Bening memang belum baik, pekerjaan atau mata pencaharian mereka adalah mayoritas bergerak di bidang pertanian sehingga pekerjaan mereka hanyalah bertani atau menjadi tukang ojek atau buruh pabrik. Penghasilan yang minim atau pas-pasan menyebabkan mereka berada pada masyarakat marginal atau kekurang mampuan dalam menyediakan dan memenuhi fasilitas hidup yang memadai untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Melalui jalan pernikahan akan dapat melepaskan tanggung jawab orang tua secara materil dan memisahkan diri dari keluarga untuk berbakti kepada suami, walaupun pada akhirnya bisa atau yang sering terjadi masalah dalam hidup rumah tangga yang timbul pasca pernikahan adalah karena faktor ekonomi juga. Ekonomi penduduk yang rendah dan struktur mata pencaharian agraris di kenal suatu istilah bahwa “musim panen adalah musim kawin sedang musim paceklik adalah musim cerai “ sehingga banyak warga Jati Bening yang melakukan pernikahan ketika musim panen atau banyak uang tidak peduli atau belum sampai usia yang cukup untuk melakukan pernikahan, dan musim paceklik adalah musim cerai dimana masa paceklik merupakan masa-masa sulit sehingga banyak warga Jati Bening terutama Rt 002 Rw005 yang bercerai dimusim paceklik karena alasan ekonomi.
Penulis menemukan bahwa pernikahan pada usia muda ini sering terjadi pada musim panen, dimana keluarga yang panen lalu mempunyai uang atau harta yang banyak jika menginginkan untuk menikah atau mencari istri muda maka ia mudah saja mencarinya seorang wanita yang muda dan cantik dari kalangan marginal untuk diperistri dan jika di musim paceklik tentu saja kaum yang berekonomi lemah kekurangan pangan maka tidak mengherankan jika keluarga tersebut merelakan anaknya untuk menikah walaupun usianya masih belia. Jadi dalam masyarakat
peKelurahanan banyak sekali terjadi perkawinan atau pernikahan yang didasari pada faktor ekonomi masyarakat.
Dengan demikian wajarlah kiranya pernikahan di usia muda banyak terjadi dilingkungan masyarakat yang masih bercorak peKelurahanan, dan masih belum tersentuh banyak akan peradaban dunia modern. Masyarakat yang sudah tersentuh kebudayaan modern itu lebih di relevansikan dengan masyarakat yang pluralistik dan sekular sehingga hal-hal yang bersifat ritual kebudayaan sudah agak ditinggalkan karena terbawa oleh westernisasi. Pada masyarakat ini unsur koletifitas gerak bersama sudah agak jarang ditemukan terutama dalam masalah yang bersifat individual.
Pernikahan yang terjadi pada usia muda bukan hanya keinginan dari sang pengantin saja tetapi juga bisa berasal dari ekternal yaitu ekonomi, pendidikan bahkan juga pengaruh lingkungan dan orang tua dan hal ini lebih cenderung terjadi pada masyarakat peKelurahanan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran sebagai langkah akhir setelah mengadakan penelitian lapangan dan kepustakaan untuk melengkapi dan menyempurnakan sekaligus merupakan jawaban dari pernyataan penelitian yang telah dirumuskan terdahulu.
a. Keadaan pernikahan pada usia muda pada masyarakat di RT 005 RW 002 Kelurahan Jati Bening Kecamatan Pondok Gede Bekasi pada tahun 2009n lebih banyak atau relatif tinggi dibandingka dengan usia dewasa yaitu sebanyak 19 orang melaksanakan pernikahan usia muda pada usia antara 11 sampai dengan 18 tahun jumlah 20 orang pada tahun 2009 ( 99% )
b. Problematika sekitar pernikahan pada usia muda di RT 005 RW 002 Kelurahan Jati Bening ternyata juga di latar belakangi oleh kondisi ekonomi yang rendah, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, lingkungan yang masih tradisional, rendahnya status sosial dan kurangnya pemahaman hukum – hukum perkawinan yang masih berlaku serta pemahaman pernikahan yang masih tradisional, orientasi pemikiran masyarakat yang masih tradisional.
B. Saran
Mengingat betapa pentingnya masalah pernikahan bagi masyarakat dengan adanya undang-undang No. 1 Tahun 1974 dan untuk mencegah terjadinya pernikahan di usia muda maka penulis akan mengajukan saran-saran kepada semua pihak yang terkait antara lain :
a. Meningkatkan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat dan para remaja tentang efek dan dampak negatif dari pernikahan di usia muda. b. Meningkatkan peran aktif dan fungsi KUA atau Kelurahan serta Karang
Truna sebagai salah satu wadah untuk kegiatan-kegiatan yang dapat membangkitkan semangat untuk menggali ilmu lebih tinggi, juga bimbingan keagamaan yang lebih konstruktif dan inovatif.
c. Kepada para pegawai Kantor Urusan Agama agar memperhatikan kesiapan kedua mempelai ketika akan melangsungkan pernikahan. Baik dari segi usia, alasan pernikahan, tingkat kedewasaan, rasa tanggung jawab dan wali nikah dari kedua mempelai.