• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Pengertian Pernikahan Pada Usia Muda

Pernikahan adalah ikatan lahir batin seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.1 Pada pembahasan ini dibicarakan factor-faktor terjadinya pernikahan dini dan implikasinya dalam kehidupan berumah tangga.

Ma’sum Djauhari menegaskan bahwa “ apabila seseorang yang hendak menikah seyogyanya mengetahui empat hal :2

a. Pernikahan sangat perlu di persiapkan dengan sebaik-baiknya.

b. Pernikahan harus memperhitungkan waktu yang tepat sesuai dengan umur seseorang.

c. Kita seyogyanya tahu prosedur dan tata cara melangsungkan

pernikahan.

d. Kita tahu siapa yang bakal menjadi calon pasangan kita.

1

Nasarudin Latif ,Ilmu Perkawinan, (Jakarta: Insan Cita, 2000), h. 56 2

Djauhari Ma’sum, Bimbingan Perkawinan Dan Berumah Tangga, ( Jakarta : cv. Aji sakti, 1994 ). h. 38.

Dengan berpatokan pada empat hal tersebut barulah seseorang diperbolehkan melangsungkan pernikahan. Disamping hal tersebut juga ada yang perlu dipersiapkan usianya yang sudah mencukupi atau belum. Mengenai pernikahan usia muda, di dalam undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang pernikahan dikatakan bahwa : pernikahan hanya di izinkan jika pihak pria mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.3

Kalau sudah mencapai umur yang di tetapkan oleh undang-undang di atas maka pihak KUA dapat menikahkan mempelai dengan syarat harus mendapat izin dari orang tua masing-masing mempelai atau calon pengantin.

Melihat pernyataan tersebut, yaitu 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk wanita sebelum kedua mempelai mencapai batasan usia yang telah ditentukan disebut dengan pernikahan di usia muda. Kondisi seperti ini tidak cocok dengan perkembangan zaman dan perubahan zaman, karena setiap manusia dia harus mengembangkan intelektual dan pengalaman pada berbagai aspek.

Pernikahan usia muda kebanyakan akan mengalami rasa penyesalan, kesengsaraan dan kekacauan dalam membina rumah tangga karena belum siap secara lahir yakni menikah pada usia yang terlalu muda. Satu kendala yang membuat pernikahan usia muda semakin bermasalah adalah

3

merebaknya kebiasaan pernikahan di bawah tangan. Pernikahan di bawah tangan adalah pernikahan yang tidak mengikuti prosedur peraturan pemerintah, atau ada istilah pernikahan yang tidak di catat pada Kantor Urusan Agama ( KUA ) setempat. Karena pernikahan, adalah sah apabila dilakukan menurut hukum Islam. Sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang pernikahan.4

Pernikahan di usia muda mayoritas akan mengalami penyesalan yang diakibatkan terlalu muda usianya, orang tua sendiri sering mendorong pernikahan anaknya dalam usia yang sangat muda. Orang tua seperti ini sebenarnya salah perhitungan dengan menganggap bahwa pernikahan dalam usia muda mempunyai suatu faktor kematangan.

Pernikahan dalam usia muda belasan tahun adalah keputusan-keputusan yang sangat kompulsip, kemungkinannya akan sangat buruk buat mereka yang melangsungkan pernikahan di usia muda. Biasanya kedua anak laki-laki dan perempuan yang tidak dewasa secara emosi dan sering dimanjakan. Mereka ingin segera memperoleh apa yang dikehendakinya, tidak peduli dengan akibat apakah itu bencana.

Pengadilan Agama menentukan batasan umur bagi calon pengantin agar tidak terjadinya pernikahan di usia muda yang memang mereka masih labil emosinya dan dianggap masih belum mampu secara fisik dan mentalnya,

4

sehingga akan mengalami ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam rumah tangga. Apalagi pada usia yang belum matang secara lahir dan batin seperti yang dijelaskan dalam undang-undang dan ketentuan-ketentuan yang telah di ungkapkan.

F Shappiro dalam bukunya yang berjudul Mencegah Perkawinan Yang

Tidak Bahagia,5 mengungkapkan beberapa kendala yang dialami akibat

menikah di usia yang masih muda.

a. Ketidak bahagiaan yang tidak dapat dielakkan.

b. Perceraian tidak dapat dihindari.

Hal seperti ini sepertinya sudah sering terjadi pada pasangan yang menikah di usia muda dikarenakan belum siapa mereka untuk membina rumah tangga maka dari itu keputusan untuk melangsungkan pernikahan ini akan menjaga segi emosional dan segi praktis dari kebahagiaan perkawinan. Batas usia yang telah ditentukan oleh Pengadilan Agama tidak lain untuk mencegah terjadinya pernikahan di usia muda.

Terlalu banyak pernikahan yang implusif (hanya menurut kata hati),Yang mengakibatkan banyak perceraian yang implusif juga.banyaknya perceraian yang di lakukan secara sembarangan mengakibatkan sangat

5

F Shappiro, Mencegah Perkawinan Yang Tidak Bahagia, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), h. 52

meresahkan masyarakat moderen.6 Jika kita semua dan para orang tua yang tidak memaksakan anak-anak mereka untuk menikah di usia muda maka untuk mencegah terjadinya perceraian harus di persiapkan secara matang bagaimana agar tidak terjadi perceraian, dan tentunya akan mendapat kebahagiaan dalam melakukan pernikahan di usia muda.

Perkawinan mampu menghadapi kesulitan-kesulitan mereka secara realitis dan mau mengadakan perbaikan atau konsensi yang di perlukan. Hal ini menjadikan mereka bersedia menerima tanggung jawab sendiri dari perselisihan perkawinan mereka. Suatu perkawinan yang tidak bahagia jarang disebabkan oleh suatu pihak saja,yang bertanggung jawab dalam kebahagiaan perkawinan atau pernikahan tidak hanya satu orang saja tetapi kedua-keduanya yaitu suami istri, merupakan orang yang saling mempengaruhi, dan keduanya pasangan mempunyai jalan dan komitmen yang menjadi bimbingan dan pelurus bagi kesadaran, jika perkawinan itu tidak di selamatkan.

Dan hendaknya dengan keduanya jika menemukan permasalahan dalam hidup berumah tangga saling mengingatkan kesalahan tersebut dasar sadar akan kesalahan yang di lakukannya sehingga tercipta keluarga yang saling pengertian dan harmonis berdasarkan tuntunan dalam agama Islam.

Didalam masyarakat Jati Bening Bekasi menjadikan pernikahan sebagai suatu adat istiadat dalam kebudayaan setempat, tidak terkecuali usia muda.

6

Mayoritas warga masyarakat Jati Bening khususnya di Rw 002 melakukan pernikahan pada usia muda yang relatif muda dan hal ini menjadikan kebiasaan penduduk setempat. Didasari oleh berbagai macam faktor yaitu,

Pertama, Ekonomi yaitu dalam sebuah keluarga yang berekonomi

lemah memposisikan anak sebagai beban dalam keluarganya oleh karena itu anak yang berusia di atas lima belas tahun segera di nikahkan, dengan begitu beban orang tua menjadi lebih ringan.

Kedua, Pendidikan. Tingkat pendidikan yang rendah mendominasi

setiap warga kelurahan jati bening yang rata-rata hanya menyelesaikan pendidikan tingkat dasar saja. Jadi tingkat kedewasaan secara emosional dan pemahaman mereka akan sesuatu dapat dikatan rendah dan sangat terbatas.

Dan yang Ketiga adalah motifasi yang berasal dari orang tua atau dari anak itu sendiri. Dorongan dari orang tua banyak terjadi untuk mendorong anaknya untuk segera menikah jika mengetahui anaknya sudah mempunyai pasangan,karna menurut mereka jika di biarkan lama berpasangan timbul kehawatiran akan terjadi perbuatan negatif yang melanggar Agama. Dan bagi anak itu yang melakukan pernikahan dengan keinginan sendiri hanya untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya saja dengan cara yang sah.

B. Maksud dan Tujuan Pernikahan Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

Islam menilai bahwa pernikahan mempunyai tempat dan kedudukan yang suci dan mulia,oleh karena itu banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan

Haditsyang menganjurkan untuk menikah bagi mereka-mereka yang telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada di antara mereka, Surat Ar-Rum ayat 21 :

☺ ⌧

Artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu

isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.Ar-Rum: 21).

Rumah tangga atau keluarga adalah satu unit masyarakat terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak, ataupun anggota keluarga yang lainya.7 Membina rumah tangga merupakan sunnatullah, yang di awali dengan mengikat kedua bani adam, pria dan wanita dengan akad nikah, yaitu ijab dan qabul dengan tata cara sesuai dengan ajaran Allah.

Didalam Hadits pun di jelaskan tentang anjuran menikah bagi orang yang sudah mampu, yaitu sesuai dengan Hadits Nabi SAW yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari :

Artinya: “Wahai segenap pemuda, barang siapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tetapi barang siapa yang

7

belum mampu hendaklah dia berpuasa ( karena ) puasa itu benteng ( penjagaan ) baginya.” 8

Adapun tujuan membina rumah tangga dalam Islam, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hidup cinta mencintai dan kasih mengasihi.

2. Membina kehidupan keluarga yang tenang dan bahagia. 3. Melanjutkan dan memelihara keturunan.

4. Bertaqwa kepada Allah SWT, dan membentengi diri dari

perbuatan maksiat.

5. Membina hubungan kekeluargaan dan mempererat silaturrahim antar keluarga.9

Menurut ajaran Islam ketenangan hati dan kehidupan yang aman damai adalah hakekat pernikahan Muslim yang di sebut sakinah. Untuk hidup bahagia dan sejahtera manusia membutuhkan ketenagan hati dan jiwa yang aman damai. Tanpa ketenagan dan keamanan hati, banyak masalah tidak terpecahkan,apalagi kehidupan keluarga yang anggotanya adalah manusia-manusia hidup dengan segala cita dan citranya. Disini jelas bahwa pernikahan pertama-tama berpungsi sebagai ibadah atau taat kepada Allah dan Rasul Nya, dan setiap orang yang akan menempuh mahligai rumah tangga bagi

8

H. R. Bukhari 9

kehidupan manusia, sehingga nilai itulah yang akan menjadi landasan dan dasar kehidupan suami istri sesudah rumah tangga berjalan.10

C. Pernikahan Pada Usia Muda : Tinjauan Agama Dan Psikologis

Di dalam hukum Islam masalah pembatasan usia untuk menikah memang belum ada secara ekspilit. Namun para ahli fiqh memasukan permasalahan tentang pembatasan usia untuk menikah di cantumkan sebagai syarat perkawinan. Pada dasarnya kedudukan usia perkawinan dalam Islam adalah bersifat fleksibel.

Dalam konteks fiqh munakahat, ada beberapa pandangan ulama yang berkaitan dengan usia perkawinan, antara lain:

1.Sayyid Sabiq

Di dalam kitab Fiqh Sunah, Sayyid Sabiq berpendapat:

اﻰ و ا ﺎ و رﺪ ﻰ جاوﺰ ا

11

Artinya : Wajib hukumnya bagi orang yang telah mampu menikah atau berkeluarga dan mampu untuk membayar mahar dan takut melakukan dosa (zina).

Usia perkawinan dalam pemikiran Sabiq mengacu pada firman Allah dalam QS. An-Nur (24) : 32 yang berbunyi :

10

ayyid Sabiq, Fiqh Sunnah ,(Riyadh : Daar Al-Fath li Al- Alam Al- Arab, 1996), Jilid II. Cet II, h.14.

11

Ibid., h. 15

Artinya : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.(QS. An-Nur/24 : 32)

Dari kandungan ayat ini, Sabiq berpendapat bahwa kemampuan untuk kawin relatif ditentukan oleh aspek kejiwaan, setelah itu baru aspek kebutuhan sosial ekonomi. Untuk itu, kesiapan mental dan fisik tidak ditentukan oleh batas usia tertentu.12

2. Muhammad Rasyid Ridho

Dalam pengertian usia nikah Muhammad Rasyid Ridho berpendapat di dalam bukunya Tafsir Al- Manar

لﻮ أ : ، ﺤ اغﻮ ﻮهو،جاوﺰ ااًﺪ ءﺮ اﺎﻬ نﻮﻜ ا اﻰ إلﻮ ﻮ اﻮهحﺎﻜ اغﻮ نا او جﺎ اﺔ ﻰهو ﺎﻬ هﺄ ةﺮﻈ ا ﺎ ا ﺬه ﺎ وزنﻮﻜ نأﻰ ا ﻮ ةﺮ ﺋرو بروﺎ أو . 13

Artinya : Sesungguhnya masa untuk menikah yaitu, sampainya umur yang mana seseorang telah siap untuk berkeluarga dan menikah yaitu sempurnanya umu,r maka pada sempurnya umur itu akan membutuhkan saluran biologis atau kebutuhan biologis.yaitu kebutuhan untuk reproduksi dan kebutuhan untuk mempunyai keturunan, maka dengan sampainya umur itu akan siap menjadi seorang bapak dan pemimpin keluarga.

12

Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir Al- Manar (Mesir Al- Manar, 1325 H) Juz IV h .387 13

Bulughul al-Nikah berarti sampainya seseorang kepada umur untuk menikah, yakni sampai bermimpi, pada usia ini ditambahkan seseorang telah bisa melahirkan anak dan menurunkan keturunan, sehingga tergerak hatinya untuk menikah. Dalam usia ini kepadanya telah dibebankan hukum, hukum agama, seperti ibadah dan muamalah serta ditetapkan hukum hudud, karena itu makna rusyd adalah kepantasan seseorang untuk melakukan Tasharruf

yang mendatangkan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Hal ini merupakan bukti kesempurnaan akalnya.

3. Quraish Shihab

Seseorang dikatakan telah dewasa dan dianggap telah mampu untuk melakukan pernikahan setelah ia berumur 25 tahun14, dalil yang digunakan adalah surah An-Nur 32.

Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian, diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

14

Andi Syamsu Alam, Usia Ideal Untuk Kawin, (Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum Islam dan Masyarakat bekerjasama dengan Kencana Mas Publishing Hause 2006) Hal, 56

Ada beberapa pemikiran Islam tentang usia perkawinan, konsep pemikiran Islam hanya dipersyaratkan telah mencapai balig antara kedua calon suami-isteri, inheren dengan syarat-syarat perkawinan. Di samping itu, terdapat rukun perkawinan, salah satu syarat sah perkawinan adalah telah mencapai usia balig15.

Dalam hubungannya dengan usia perkawinan, maka sigah (lafal) ijab dan kabul adalah bersifat kekal selamanya, sehingga haram hukumnya jika calon suami hanya berkata “Saya nikahi engkau untuk selama satu tahun”, atau “Saya nikahi engkau selama saya berada di kota ini”. Nikah dengan mensyaratkan tenggang waktu tertentu, menurut ulama fiqh di sebut nikah

mu’aqqat dan hal itu diharamkan. Menurut hukum Islam, dilakukan bersifat selamanya, tanpa di batasi oleh waktu, baik waktunya itu jelas atau tidak jelas.

Secara biologis, calon suami isteri telah mencapai usia balig karena di tandai perubahan fisik, akan tetapi aspek mentalitasnya masih membutuhkan pembinaan secara utuh, tidak perlu kondisi mental-psikologis yang labil, dan masih dipengaruhi oleh faktor kecenderungan praktis dalam kaitan fisik biologisnya16.

15

Ibid. 16

Hurlock Elizabeth B ,Developmental Psychology: A life-Span Aparoach, Fifth Edition. Psikology Perkembangsn , suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, edisi V Istiwidiyanti dan Soejarwo (terj) ( Jakarta- Erlangga, 2002,), h. 23.

Demikian pula, asumsi yang harus dibangun bahwa usia baliq harus mengacu pada dimensi yang komplementer, baik yang bersifat sosial maupun yang bersifat ekonomi. Bahkan aspek ini seharusnya dimiliki oleh calon suami-isteri sebagai konsekuensi sense of responsibility baik terhadap pribadi masing-masing maupun bagi keturunan dan lingkungan masyarakatnya. Inheren dengan kemampuan dari segi sosial ekonomis itu, juga merupakan indikasi adalah syarat kerelaan (ridha) antara kedua belah pihak untuk melakukan perkawinan. Kerelaan adalah sebagai salah satu ekspresi kesiapan mental untuk bertanggung jawab membina rumah tangga, sehingga relatif penting, bahkan menjadi prinsip atau asas dalam perkawinan.

Memahami keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa usia

balig atau perkawinan menjadi bagian yang semakin penting. Karena

pertimbangan syarat-syarat yang demikian kompleks. Di dalam aspek lain yang berkaitan dengan syarat khusus tentang usia perkawinan, ulama fiqh menegaskan bahwa calon mempelai yang mencapai kedewasaan yakni mampu dalam arti menafkahi baik lahir dan batin serta telah masak jiwanya dan sudah terlihat dari fisik maka diwajibkan layak untuk menikah.. Alasannya, kedua mempelai sudah dianggap mampu. Dari aspek sosial keduanya telah selesai studi dari perguruan tinggi, yang sudah mungkin memiliki kemampuan intelektual, kemampuan psikologis serta respek terhadap tanggung jawab secara pribadi dan secara kolektif, lebih jelasnya

pendapat ulama yang membolehkan nikah muda dan melarang nikah muda yakni :

Pendapat para ulama fiqh yang memperbolehkan nikah muda ada dua golongan yang menetapkan hukum boleh dan tidaknya nikah tanpa batasan usia atau nikah muda17 :

1. Pandangan Jumhur Fuqoha, yang membolehkan pernikahan usia muda. Walau demikian, kebolehan pernikahan muda ini tidak serta merta membolehkan adanya hubungan badan. Jika hubungan badan akan mengakibatkan adanya dlarar, maka hal itu terlarang, baik pernikahan pada usia dini maupun sudah dewasa.

Dalil yang di gunakan antara lain Al-Qur’an Surah Ath-Thalaaq (65) : 4

Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi

(monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang

17

Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA ,Pembatasan Usia Pernikahan Perspektif Fiqih Klasik dan Peraturan Perundang-undangan , (Jakarta: Alpha Beta, 2002), h. 6

siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah

menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.(QS.

Ath-Thalaaq/65 : 4)

Pada ayat tersebut, Allah SWT menetapkan masa iddah bagi

perempuan yang belum haid selama tiga bulan.

Dalam terminilogi fikih, Iddah di definisikan sebagai berikut :

ﺎﻬ اﺮ وأﺎﻬـ وزةﺎـ وﺪـ وﺰ اةاﺮ اﺎﻬـ ﺮ ةﺪ 18

Artinya : Suatu masa dimana perempuan membersihkan rahim atau janin setelah ditinggal mati suaminnya.

Kaitanya dengan penetapan masa iddah baginya tidak mungkin terjadi kecuali setelah terjadinya aqad pernikahan. Ayat ini juga menunjukan keabsahan pernikahan anak kecil (oleh wali) tanpa izinnya, mengingat tidak dianggapnya izin bagi anak kecil.19

Secara umum, mufasirrin sepakat bahwa " ﻀﺤ ﻷاو" menunjukan penetapan masa iddah bagi anak perempaun yang masih kecil, yang telah menikah kemudian pisah dengan suaminya.

2. Pendapat kedua, pendapat Ibn Syubrumah dan Abu Bakaral Asham dalam kitabnya Ahkam Zawaj al- shaghirah yang menyatakan bahwa pernikahan usia muda hukumnya terlarang secara mutlak. Argument kelompok ini adalah Al-Qur’an surah An-Nisa (4) : 6 :

18

Imam Al-Sohn’ani, Subulus salam : Syarah Bulughul Al-Maram, (Daru al-Fikr, Beirut Lebanon, 1991 M/1411 H), , Juz 3, h. 1491

19

Asrorun Niam Sholeh, MA ,Pembatasan Usia Pernikahan Perspektif Fiqih Klasik dan Peraturan Perundang-undangan, (Jakarta: Tintamas, 2003), h. 8

☺ ⌧ ⌧ ⌧ ☺ ⌧ ⌧

Artinya : “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).(QS. An-Nisa/4 : 6)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa tanda berakhirnya masa kecil adalah sampainya pada usia pernikahan. Seandainya pernikahan pada masa kecil di bolehkan, niscaya pembatasan pada ayat tersebut akan sia-sia. Selanjutnya pernikahan usia muda ini tidak ada faedahnya. Hal ini mengingat salah satu tujuan pernikahan adalah untuk membangun rumah tangga yang sakinah serta memperoleh keturunan yang baik dan tidak berakhir dengan perceraian, dan

hal ini mustahil tercapai dengan menikahi anak kecil. Bahkan bisa jadi akan menimbulkan dlarar atau kerugian bagi kedua mempelai atau salah satunya.

Perlu di ketahui bahwa pernikahan yang tanpa memperhitungkan akibat dari pernikahan usia muda akan berakibat fatal. Praktek pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah r.a, adalah merupakan suatu kekhususan bagi seorang Nabi, dan bukan menjadi suatu kewajiban atau menjadi suatu ketetapan hukum20.

Dan inilah pemahaman dari istilah fiqh, dalam arti kedewasaan, usia kecenderungan, dan kematangan. Ada beberapa hal yang menjadi dasar atau patokan usai dewasa pada para fuqoha-fuqoha Islam yakni :

1. Usia baliq di tentukan kepada kemampuan dalam bertanggung jawab. 2. Usia baliq lebih ditunjukan kepada wanita yakni dengan kesimpulan

untuk berkumpul atau senggama adalah kesiapan psikologis perempuan untuk menjalani hidup bersama.

3. Ibn Qudamah dalam bukunya al-Mughni pasal 1124 halaman 415

bahwa kondisi anak masih kecil dan dirasa belum siap maka tidak boleh untuk menikah kalaupun sudah menikah maka walinya menahan untuk tidak hidup bersama dengan suaminya terlebih dahulu, sampai si perempuan mencapai kondisi yang sangat siap21.

20

Andi Syamsu Alam, op. cit. h, 59 21

Ibn Qudmah Al-Mugni (Al-Hijro At- Tauba’ah wa Nasr wa Taujia’ wa I’lan, Kairo, 2002) h. 415.

Dari hal tersebut diatas bahwa sesungguhnya batasan usia aqil balig

dalam Islam tidak ditemukan akan tetapi Islam mebolehkan menikah ketika sudah siap mental secara psikologisnya baik psikis dan fisik. Sedangkan menurut peraturan perundang-undang perkawinan menikah di bolehkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan mempelai wanita sudah berusia 16 tahun.

Ada beberapa hal yang penting, jika usia kedewasaan ini penulis kaitkan dengan pemahaman para ahli psikology yakni :

1. Hurclok , kedewasaan atau biasa disebut adult dalam ilmu psikology berasal dari bahasa latinyang berarti “Tumbuh menjadi kedewasaan”.

Definisi kedewasaan adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhan dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya22. Kemudian Hurlock mendefinisikan dewasa dan masa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola kehidupan dan harapan baru. Seperti menjadi suami, istri, bapak dari ayah atau kepala rumah tangga.

2. Feldmeen menjelaskan secara sederhana bahwa seseorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah sempurna pertumbuhan fisiknya seperti laki- laki bertambahnya bulu, dan timbulnya jakun, dan perempuan bertambahnya

22

Hurlock Elizabeth B ,Developmental Psychology: A life-Span Aparoach, Fifth Edition. Psikology Perkembsngsn , suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, edisi V Istiwidiyanti dan Soejarwo (terj) 1980 Jakarta- Erlangga. hal 20. Cet I

bulu, payudara juga pinggul dan sudah haid.dari segi sikap masa dewasa

Dokumen terkait