• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Program kegiatan CSR Kantor BNI Cabang Balige

METODOLOGI PENELITIAN

6 NILAI PERILAKU UTAMA INSAN BN

1. Pemahaman Program kegiatan CSR Kantor BNI Cabang Balige

Wawancara mendalam pertama kepada informan pertama, yaitu Ibu Bunga Ria melalui telepon pada 26 Maret 2015. Wawancara berjalan cukup baik, namun mengingat signal yang kurang baik, percakapan kami memiliki cukup banyak kendala. Tapi ini tidak menghalangi peneliti sehingga peneliti telah melengkapi wawancara ke dua secara tatap muka pada tanggal 2 Juli 2015. Kesan awal yang bisa peneliti tuliskan adalah bahwa Ibu Bunga adalah orang yang sangat tangguh dan tidak suka menunda waktu. Tangguh bukan berarti fisik yang kuat. Tetapi karena dari wajahnya yang letih dan sedikit pucat, beliau mampu menjalani perjalanan yang tidak singkat namun masih mau untuk membantu peneliti untuk menjawab beberapa pertanyaan. Peneliti pun bertanya kepada ibu Bunga mengenai pelaksanaan kegiatan CSR di BNI Balige. Ternyata pengerjaan CSR ini tidak hanya dikerjakan oleh bagian pemasaran saja. Hal ini dikarenakan waktu dan daerah yang dituju berbeda. Seperti Pak Maralun yang mengerjakan pemberian bantuan bencana alam di Kecamatan Sarula karena dekat dengan kantor cabang pembantu Tarutung dimana Pak Maralun

dulu menjabat sebagai pemimpin capem Tarutung. Atau pak Viktor yang bertanggungjawab didalam pelaksanaan Go Green BNI Balige 2013 di Lumbansilintong karena itu tempat dia dilahirkan, dan sampai sekarang masih tinggal disana.

“sebenarnya, pelaksanaan kegiatan CSR ini tidak saya sendiri yang mengerjakannya

dek. Kami (pemasaran) dibantu oleh semua pegawai disini. Contohnya pak Maralun yang di tarutung mengerjakan bencana gempa bumi tahun 2011 di Sarula. Bulan Juni kalau tidak salah. Lalu seperti penanaman pohon tahun 2013 di Lumbansilintong. Kakak kurang banyak peran disini karena tugas ini banyak dikerjakan Pak Victor. Dia yang tau kepala desa disana dan tau dimana bisa mengambil banyak pohon untuk penanaman pohon itu.”

Ketika peneliti bertanya tentang kegiatan apa saja yang dia pegang, ibu Bunga berkata bahwa Ia memegang kegiatan pendidikan, lebih tepatnya pemberian bantuan kepada TK Paud di daerah Kab.Tobasa. Kegiatan bantuan ini dikerjakan pada tahun 2012, bulan Juli, tepat setelah sebulan Ia mengajukan cuti hamilnya. Ibu Bunga mengatakan bahwa tujuan dan target yang ingin dicapai adalah jelas agar anak-anak bisa menikmati pendidikan dengan lebih baik sejak usia dini. Dan menurut beliau sudah dapat dilakukan sejak masa pendidikan PAUD. Pemikirannya cukup revolusioner karena banyak perusahaan tidak memikirkan hal-hal semacam ini. Dalam kegiatan ini mereka menggandeng Dinas Pendidikan Kabupaten Tobasa untuk membantu mereka dalam mentukan jenis bantuan apa yang perlu diterima oleh anak- anak itu.

“Yang saya tangani pada saat saya menangani dana , dalam hal ini CSR itu memang

dalam lingkungan membantu masyarakat yang memerlukan, namun kita secara perbankan tidak mungkin sia-sia hanya memberikaan tanpa adanya cost dan benefit yang kita pikirkan. Kita gandenglah disini dengan dinas pendidikan karena dinas pendidikan itu banyak menyadari, istilahnya, dari hal yang kecil sampai hal yang terbesar, namanya juga pendidikan. Nah disini kita mencoba kita kasih gambaran

sama mereka bagaimana kalau anak-anak dari dini mulai sekarang mulai diperhatikan. Karena apa? Anak-anak itu banyak terlantar, hanya sekolah tetapi fisilitasnya tidak lengkap. Nah kami coba berdiskusi dengan pimpinannya kemudian saya tinjau dulu yang layak dibantu itu bagaimana. Jangan selama ini hanya membangun sekolah dan membangun ini tanpa melihat bagaimana sisi siswanya itu apakah mereka mau dan benar-benar sudah bisa menikmati belajar atau fasilitasnya sudah lengkap, begitu. Kita coba lihat dari hal kecil dulu, yaitu anak-anak balita lah ya. Dalam hal ini PAUD nya dari usia 3 tahun sampai usia 5 tahun.”

Namun, beliau juga mengatakan ada tujuan yang sebenarnya hendak dicapai oleh BNI Balige di dalam rencana ini guna mengumpulkan dana masuk bagi mereka. Para guru-guru, orang-orang tua, dan pegawai dari dinas pendidikan, banyak yang membuka rekening kepada BNI, khususnya BNI Balige. Selain itu mereka juga memperoleh dana bantuan dari World Bank yang masuk ke kas BNI Balige yang menggunakan Bank Indonesia (BI) sebagai tempat transaksinya.

“... Bermanfaat bagi mereka dan kita juga ada untungnya. Apa keuntungannya?

Guru-gurunya itu membuka rekening ke kita. Ada dana bantuan dari Bank Dunia masuk ke kita, jadi Bank Indoensia dipakai menjadi bank transasksinya mereka.”

Lalu peneliti membandingkan jawaban Ibu Bunga dengan Ibu Naibaho yang merupakan informan tambahan. Ibu Naibaho adalah guru tetap yang sudah mengajar di TK PAUD TK Dharmala Balige sejak tahun 2000. Beliau juga yang merasakan langsung dampak dari kegiatan CSR ini. Ketika ditanya mengenai kegiataan CSR apa yang dilakukan oleh BNI Balige di TK PAUD Dharmala Balige, beliau menjelaskan dengan lugas dan tidak bertele-tele.

“kalo bantuan yang diberi BNI ke TK kami banyak dek. Ada memberi alat bermain

anak-anak yang di luar, kayak jungkat-jungkit, ayunan, perosotan. Trus yang di dalam juga ada. Misalnya lego. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi memang yang paling banyak digunakan itu yang diluar karena, yah memang anak-anak lebih

semangat main-main diluar daripada di dalam sih. Juga dilaur dan didalam kelas pun dicat.”

Peneliti pun bertanya apakah mereka tahu apa tujuan yang ingin dicapai oleh BNI, ibu Naibaho tersenyum kepada saya dan berkata bahwa ia tahu, bahwa supaya BNI menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa ia baru membuka rekening BNI sejak bantuan BNI ini. Ibu Naibaho merasa tidak ada masalah dengan hal itu karena juga pada saat itu beliau juga sedang bermasalah dengan bank lain . Sehingga pada saat BNI muncul, Ia lalu menyimpan uangnya disana. Selain fakta bahwa BNI membantu TK Dharmala menjadi lebih baik.

“Tau lah dek. Namanya juga bank ya kan. Ya supaya banyak orang yang nyimpan

uang sama mereka. Saat mereka mengasih tau rencana mereka sama kami, kami pikir untuk apalah bank BNI bantu TK. Kan biasanya mereka itu kasih beasiswa atau membantu sekolah yang lebih tinggi tingkatannya kan. Kami saat itu terharu kali sebab selama kami, khususnya saya sejak saya mengajar, belum pernah ada yang memperbaiki TK kami. Baru-baru ini saja TK kami cantik. Uda kamu lihat kan dek? kalo dulu ya dek, ya ampun jeleknya! Sejak itu lah kami semua guru, bahkan banyak orang tua yang nabung di BNI. Kebetulan juga ya dek, saat itu ibu lagi ada masalah sama BRI. Kalo ngak salah itu gara-gara sering kali ada gangguan di komputer mereka. Jadi gampang aja pindahin uang ibu ke BNI.”

Informan yang kedua, yaitu pak Victor yang memegang kegiatan Go Green (Penghijauan) di bukit Pahoda Lumban Silintong pada tanggal 22 Juni 2013.

“Untuk kegiatan CSR BNI yang saya pegang adalah kegiatan penghijauan yang

lokasinya terletak di bukit Pahoda, Lumban Silintong.”

Beliau juga menyatakan bahwa memang kegiatan ini adalah kegiataan accidental dan sama sekali tidak ada didalam rencana kegiatan BNI

“Sebenaranya gini, program Go Green yang ada kemarin itu memang termasuk

Balige, LumbanSilintong. Tapi kebetulan ada surat dari wilayah menyatakan siapa yang bersedia jadi tuan rumah, atau yang bisa menyediakan lokasi atau tempat penanaman, ya secara spontanitas BNI cabang Balige mau. Maksudnya siap menyediakan lokasi untuk tempat penanaman.”

Selain itu juga guna penghijauan ini adalah untuk mendukung program pemerintah dalam penanaman 1 miliar pohon. Beliau mengatakan bahwa bumi sudah semakin krisis dan perubahan iklin telah menimbulkan dampak negatif seperti semakin banyaknya emisi karbon.

“..BNI menyadari bahwa perubahan iklim telah mengakibatkan berbagai dampak

negatif. Kondisi itu semakin parah dengan tingginya emisi karbon sebagai dampak dari industrialisasi dan semakin berkurangnya kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon. BNI aktif mendukung komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi karbon sebesar 26% dengan usaha sendiri dan 41% dengan dukungan global. Salah satu pelaksanaan dari komitmen tersebut adalah program penanaman satu miliar pohon...”

Informan ke 3 adalah Pak Maralun dan beliau menghandel kegiatan pemberian bantuan kepada korban bencana alam gempa di Sarulla, Tarutung, Tapanuli Utara. Beliau mengatakan kepada peneliti bahwa di BNI Balige didalam pelaksanaan kegiatan, mereka selalu membagi kewenangan pekerjaan. Dan beliau berada di dalam bagian suporting, yaitu yang menyiapkan segala sesuatu yang membantu memperlancar kegiatan-kegiatan operasional.

“Karena disini kita melakukan pembagian kewenangan job, jadi job saya pada

bagian supporting yaitu menyiapkan segala sesuatu yang membantu memperlancar kegiatan-kegiatan operasional. Jadi jika ada kegiatan CSR yang kita laksanakan, tanggung jawab itu saya hanya sebatas operasional, yaitu bagaiman supaya CSR itu berjalan sesuai dengan arahan pimpinan. Jadi pimpinan mengatakan kita mengadakan CSR disini, misalnya bidang pendidikan, tugas saya itu mengukur

segala sesuatu yang berhubungan dengan operasional sehingga kegiatan CSR dapat berjalan dengan baik..”

“...Kalau yang pernah saya handle itu, ya waktu kegiatan CSR mengasih bantuan

gempa bumi di Sarula”

Kejadian gempa terjadi pada tanggal 14 juni 2011 dengan kekuatan gempa 5,5 Skala Ricter.

Gempa mengakibatkan ratusan rumah rusak dan retak-retak. Selain

Sarulla, ada 3 kecamatan lain yang mengalami kerusakan, namun yang

terparah yang dialami oleh Warga desa Nahomop Marsada, Kec. Sarulla.

BNI memberi bantuan sehari setelah gempa itu terjadi. Bantuan yang

diberikan adalah memberikan bantuan besar sebanayk 1 ton yang

diserahkan kepada kantor kecamatan Sarulla, yang diwakil Kepala Camat

Sarulla.

" Kegiatan kita yang pastinya memberikan bantuan dana CSR beras 1 ton waktu itu.

Dan waktu itu diberikan kepada camat Sarula”

Ketika ditanya apa tujuan dari pemberian bantuan ini, beliau menjelaskan dengan tegas bahwa BNI khususnya BNI Balige ingin menunjukan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Kebetulan BNI Tarutung berada didekat persimpangan Sarulla.

“Tujuannya bahwa kita ingin menunjukkan bahwa kita peduli kepada lingkungan

sekitar. Kita ada di sekitar Sarula, itu Balige Tarutung kan di simpang Sarula. Jadi kita mau menunjukkan kepada masyarakat bahwa BNI ada dan BNI peduli kepada masyarakat.”

Informan tambahan, Pak Nicson, adalah salah satu masyarakat yang menjadi saksi dan tinggal di desa lumban silintong sehinngga menjadi undangan khusus dari BNI Balige. Beliau menyataan bahwa ia sangat bersyukur dengan adanya kegiatan penanaman pohon di Bukit Pahoda. Selain karena semakin banyaknya orang yang

senang menebang pohon untuk mememperkaya diri, mereka juga tidak peduli untuk memperbaharui atau menghijaukan kembali pohon-pohon yang sudah mereka tebang.

“iya dek, saya menonton kegiatan penanaman itu dari awal sampai akhir. Acaranya

sangat bagus karena penghijauan itu penting. Kalau sekarang ya, orang lebih suka untuk menebang pohon sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke luar dengan harga tinggi dengan harapan supaya menjadi lebih kaya. Tapi mereka semua lupa bahwa pohon- pohon itu tidak tumbuh sendiri. Sehingga dapat dilihat kalau Pahodda semakin lama semakin tandus.”