• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Nyata kegiatan CSR Kantor BNI Cabang Balige

METODOLOGI PENELITIAN

6 NILAI PERILAKU UTAMA INSAN BN

5. Perubahan Nyata kegiatan CSR Kantor BNI Cabang Balige

Menurut Ibu Bunga, perubahan nyata itu jelas ada, dengan TK yang menjadi lebih baik untuk anak-anak belajar, dengan tambahan semakin banyak orang yang membuka rekening di BNI termasuk para guru, juga BNI membuat hubungan yang baik dan loyal dengan dinas pendidikan. Dan Bank Dunia melakukan transaksinya di BNI karena kegiatan yang mendidik ini. Dengan tambahan bahwa wakil bupati mengajak masyarakat untuk semakin rajin untuk menabung sejak dini dan mereka diajar untuk menabung di bank, dalam hal ini tentu BNI.

“puji Tuhan dek semuanya berjalan dengan lancar dari yang kita harapkan. Karena

waktu itu kepala daerah, dalam hal ini wakil Bupati karena bupati ada kendala, menyarankan dalam pidatonya agar kita meenabung sejakk dini. Nah dari kecil kita ajari kepada anak-anak untuk menabung supaya kenal bank. Jadi perpikir positif, dia mendapat uang bukan hanya berfoya-foya, tetapi belajar menabung sejak dini. Dan tamu yang kita undang pun hanya sekitar 30 orang, namun lebih dar situ sampai ratusann orang. Jadi anak-anak itu sangat antusias menanti kedatangan bupatnya, sampai ada pengalungan segala dan pakai acara adat untuk menyambutnya gitu. Itu diluar prediksi kita, dinas pendidikanlah yang membuat itu.”

“....kita tetap memonitor apa itu memang dirawat dan dijaga. Sampai sekarang pun

kita masih bagus hubungannya dengan dinas pendidikannya. Jadi mereka masih tetap loyal dalam arti saat ini penerima bantuan pun, dengan bank lain katakan dengan bank dunia, pinjama uang transaksinya menggunakan bank BNI....”

“...dari kita tidak pantau lagi, tapi dari dinas terkait kita masih kerjasama yang baik

sampai saat ini. Kan kita yang sudah menyerahkan ini, seharusnya mereka dong yang menjaga dan merawat supaya itu bagus kan gitu. Kita kan sudah serahkan kepada merekka menjadi hak milik mereka seutuhnya. Meraka itu dinas pendidikan dan sekolahnya ya...”

Sedangkan menurut pak Victor, setelah kegiatan penghijauan ini, masyarakat menjadi mengenal bahwa BNI adalah bank yang masih peduli dengan keadaan alam di daerah mereka. Dan mereka juga mengetahui bahwa BNI bukanlah bank untuk para orang kaya saja, namun juga untuk semua golongan masyarakat.

“Mereka yang dulu d daerah desa lumban silintong ada yang tidak tahu bni itu apa,

atau mereka hanya tahu bahwa BNI adalah bank untuk orang kaya saja. Tapi sejak kegiatan go green itu, bni menjelaskan bahwa BNI untuk segala golong masyarakat, karena konteksnya dengan bank-bank lain. Dan mereka memang menerimanya dengan baik.”

Menurut Pak Maralun, mereka bisa melihat apakah bantuan mereka sudah diterima oleh masyarakat melalui pengumuman di kantor kecamatan.

“: Kalau kita ingin mengetahui berhasil ato tidaknya ya waktu di sana. Kita dengar laporannya itu dari camat. Di kantor camat itu ada papan bertuliskan distribusi bantuan. Jadi misalnya kita sudah mendistribusikan barang ke suatu daerah, mereka akan catat. Nah catatan yang ada di papan besar itu terpantau semua oleh masyarakat dan perwakilan-perwakilan lurah mereka atau kepala desa. Jadi mereka tepat sasaran. Jadi kita melihat dari papan itu”

4.2. Pembahasan

Berikut mengenai pembahasan dari hasil analisis dan pengamatan peneliti:

Seperti yang telah kita bahas pada Bab II sebelumnya, efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. . Suatu kegiatan dikatakan efisien apabila dikerjakan dengan benar dan sesuai dengan prosedur sedangkan dikatakan efektif bila kegiatan tersebut dilaksanakan dengan benar dan memberikan hasil yang bermanfaat. Dan dari pemahaman inilah peneliti ingin mengetahui apakah sudah efektif atau tidaknya pelaksanaan kegiatan CSR di BNI Balige dari tahun 2011 sampai dengan 2014. Peneliti mengukurnya dari 6 (enam) indikitor efektivitas yaitu : (1). Pemahaman program, (2). Ketepatan sasaran, (3). Ketepatan waktu , (4). Tercapainya target, (5). Tercapainya tujuan, dan (6). Perubahan nyata.

Peneliti memiliki 3 informan utama yang perupakan pelaksana dari kegiatan CSR BNI Balige dan 2 informan tambahan yang merupakan masyarakat yang merasakan dampak dari pelaksanaan ini. Semuanya telah di wawancarai dengan mendalam dan ikuti dengan observasi juga.

Dari informasi yang telah dikumpulkan peneliti, diketahui bahwa dalam menentukan tugas masing-masing anggota, mereka membagi berdasarkan tempat mereka ditugaskan, atau berdasarkan minat dan tempat tinggal mereka. Seperti Pak Maralun yang memegang kegiatan pemberian bencana alam di Kecamatan Sarulla karena saat itu beliau sedang bertugas sebagai pemimpin kantor cabang pembantu BNI Tarutung. Atau pak Victor yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan GO GREEN BNI di Bukit Pahoda Desa Lumban Silintong karena dia lahir dan besar disana.

Semua kegiatan CSR BNI secara keseluruhan diatur di dalam Peraturan Menteri Negara BUMN No. 08/MBU/2013 tanggal 10 September 2013 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara BUMN No. 05/MBU/2007

tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Di dalam UU itu telah diatur mengenai perusahaan BUMN harus melakukan 7 kegiatan Bina Lingkungan, yaitu bantuan korban bencana alam, bantuan pendidikan dan atau pelatihan, bantuan peningkatan kesehatan, bantuan peningkatan sarana dan prasarana umum, bantuan pembangunan ibadah, bantuan pelestarian alam, dan bantuan pengentasan kemiskinan.

Diantara 7 itu, BNI telah melakukan 4 kegiatan dari 7 kegiatan tersebut yaitu: bantuan korban bencana alam (bantuan gempa bumi di Kabupaten Tapanuli Utara, tepatnya di Kecamatan Sarulla), bantuan pendidikan (pengadaan sarana bermain dan belajar anak di 14 TK Paud di Kabupaten Tobasa), bantuan pembangunan rumah ibadah (di HKBP Untemungkur Muara dan Kantor Pusat HKBP di Balige), dan bantuan pelestarian lingkungan (Kegiatan menanam 1946 pohon di Bukit Pahoda Desa LumbanSilintong).

Kembali kepada efektivitas daripada kegiatan ini. Diantara ke 3 informan yang diperoleh, jelas bahwa Ibu Bunga memiliki pengetahuan yang lebih luar mengenai keseluruhan kegiatan yang mereka lakukan. Ibu Bunga tidak sebatas hanya memberikan bantuan dalam bentuk pemberian dana. Mereka secara aktif melakukan penelitian langsung ke lapangan dan juga bertanya kepada orang-orang yang memang terjun langsung didalam dunia pendidikan. Kegiatan pemberian bantuan pendidikan ini bukanlah hal yang sepele. Banyak orangtua merasa anak-anak tidak perlu ke sekolah Pendidikan Anak Usia Dini, atau biasa kita singkat PAUD. Semua berpikir bahwa pada masa usia 3-5 tahun anak-anak hanya perlu bermain, bermain, dan bermain saja. Itu tidak salah tapi juga bukan hal yang benar. Berdasarkan

berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh

terhadap

terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti

habislah peluangnya.

Ibu Bunga telah melihat bagaimana kurangngnya fasilitas pendukung bagi anak-anak. Siapa yang kita salahkan disini? Maka dari dasar pemahaman itulah kegiatan ini muncul. Kalau diperkirakan, mungkin pemberian bantuan ke TK ini tidak akan menghasilkan keuntungan yang baik bagi BNI. Anak-anak jelas belum tahu perlunya menabung di bank. Akan jauh lebih menguntungkan jika mereka hanya memberi bantuan seperti beasiswa pendidikan kepada yang lebih tinggi tingkatannya.

Tapi BNI Balige berani beda. Dan setelah kegiatan itu berlangsung, mereka memperoleh keuntungan-keuntungan diluar ekspektasi yang dikira. Wakil Bupati didalam pidatonya kepada para undangan dan orang-orang yang menyaksikan mengatakan bahwa perlu untuk megajarkan kepada anak-anak pentingnya menabung sejak usia dini, tanpa melupakan peran BNI dalam mendukung kegiatan ini. Hal ini merupakan media promosi yang sangat baik, mengingat banyaknya wartawan yang hadir selama acara tersebut.

Selain itu mereka mendapat banyak sekali para guru yang membuka rekening di BNI Balige, tanpa terkecuali para pegawai dinas pendidikan Kabupaten Tobasa. Selain itu, rupanya kegiatan mereka ini mereka ini telah diikut oleh Bank Dunia. Mereka juga memberikan bantuan yang serupa kepada TK-TK dan banyak sekolah di Tobasa sekitarnya. Semua bantuan itu mereka berikan melalui BNI Balige. Tentu ini menambah nilai yang baik dimata dunia internasional bahwa perbankan di Indonesia juga peduli kepada dunia pendidikan anak sejak usia dini.

Untuk sasaran yang hendak dicapai, Ibu Bunga mengatakan bahwa ada 14 TK PAUD yang diberikan, dari 35 TK PAUD yang diajukan. Dari wawancara

sebelumnya, ini dikarenakan alokasi dana yang diberikan tidak mencukupi. Semuanya menerima 10 (sepuluh) unit Komedi Putar, 4 (empat) unit Panjatan Pelangi, 4 (empat) unit Jungkitan, 2 (dua) unit ayunan lempar, 10 (sepuluh) unit APE dalam, dan 2 (dua) unit ayunan hadapan. Dan semuanya itu didatangkan dari Jombang. Tidak ada setengah-setengah dari kegiatan ini. Demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dari semua itu, mereka memesang semua alat permainan itu dari pusat permainan anak yang terkenal dengan keamanan dan kebersihannya.

Menurut pendapat peneliti, semua kegiatan pemberian bantuan ini sudah efektif dilakukan. Tujuan mereka jelas untuk memperbaiki pendidikan anak sejak usia dini, juga dengan tambahan-tambahan keuntungan yang menjadi cara promosi yang baik kepada masyarakat. Selain itu strategi-strategiyang mereka gunakan juga sangat baik. Walaupun tidak mampu mencapai keseluruhan PAUD yang mereka targetkan, namun mereka mampu membuat BNI menjadi terkenal dikalangan para nasabah dan calon nasabah yang memiliki anak di usia 3-5 tahun. Dengan demikian para nasabah akan mengetahui BNI benar-benar peduli kepada dunia pendidikan. Namun masalahnya, peneliti juga mengetahui ada sekolah TK yang tidak dirawat fasilitasnya. Seperti pada gambar di lampiran foto, ada TK yang sama sekali tidak terawat. Itu adalah PPAUD DOLOK TOLONG. TK ini sama sekali tidak terawat, banyak rumput-rumput liar yang tumbuh. Gedung yang diperkirakan sebagai tempat belajar sudah sangat tidak layak untuk digunakan lagi karena peneliti melihat atapnya yang sudah terbuka. Dan lagi mainan-mainannya diluarnya seperi ayunan dan komidi putar jelas tidak dapat terpakai lagi. Ibu Bunga megatakan bahwa BNI yang telah memberikan bantuan itu, dan menjadi tugas Dinas Pendidikan untuk merawatnya. Namun kalau kita melihat papan nama mereka dan melihat di atas ayunan yang sudah tidak dapat digunakan lagi ada tulisan “Bantuan dari BNI”, ini telah mencreng nama baik BNI sendiri, terkhusus cabang Balige. Image adalah penting bagi perusahaan untuk meningkatkan nama baik perusahaan sehingga masyarakat menjadi lebih percaya kepada perusahaan tersebut. Tapi ketika kita pergi ke Desa Lintong Ni Huta kecamatan Tampahan, orang pasti akan berpikir bahwa BNI hanya memberi bantuan

hanya setengah hati saja. Ini perlu berubah atau kedepannya orang akan semakin berpikir buruk kepada BNI.

Selain kegiatan pemberian bantuan pendidikan, mereka juga memberikan bantuan kepada korban bencana gempa bumi di Kabupaten Tapanuli Utara, Kecamatan Sarulla. Gempa ini terjadi pada tanggal 14 Juni 2011 dengan kekuatan gempa sekitar 5,5 skala Richter. Gempa mengakibatkan ratusan rumah rusak dan retak-retak. Tercatat sekitar 50 orang menderita luka-luka saat berupaya menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan dan 356 unit rumah mengalami kerusakan. Ada 4 kecamatan yang mengalami kerusakan parah, yaitu di Sarulla, Pahae Julu, Purba Tua, dan Simangumban. Tapi yang terparah adalah Desa Nahomop Marsada, kecamatan Sarulla.

Karena tempat ini dekat dengan Tarutung, dan BNI memiliki cabang pembantunya di sana, BNI Balige langsung memberikan bantuannya Sarulla keesokan harinya. Pelaksana kegiatan ini adalah BNI KCP Tarutung, yang pada saat itu dipimpin oleh Pak Maralun. Mereka tidak melakukan pemantauan langsung ke tempat kejadian dengan alasan bahwa mereka tidak dapat mencapai tempat itu. Mereka hanya datang ke kantor Kecamatan Sarulla. Kebetulan kantor Kecamatan sudah membuat list tentang barang-barang apa yang diperlukan untuk membantu masyarakat. Dikatakan bahwa Kecamatan memiliki organisasi LSM yang lebih tahu hendak diberi kemana saja bantuan ini. Pak Maralun menceritakan bahwa saat mereka tiba di kantor kecamatan, mereka sedang melakukan rapat. Setelah mengetahui bantuan apa saja yang mereka butuhkan seperti beras 10 ton, gula dan sebagainya. BNI KCP Tarutung langsung memberikan bantuan 1 ton beras dan bahan-bahan pokok lainnya. Setelah diberikan kepada pihak Kecamatan, mereka mempercayakan kepada mereka untuk menyerahkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Mereka memantau pemberian itu melalui papan pengumuman dan laporan langsung dari Kecamatan.

Dikatakan bahwa tujuan pemberian bantuan itu selain untuk tujuan kemanusiaan, BNI juga hendak menunjukan bahwa BNI peduli kepada lingkungan sekitar. Namun bagaimana masyarakat bisa tahu bahwa BNI yang teelah memberikan bantuan ini. Dikatakan bahwa semua bantuan itu disebutkan dipapan pengumuman mereka, baik itu organisasi dan pribadi serta apa saja bantuan yang diberikan. Ini tidak efektif menurut peneliti. BNI perlu untuk terjun langsung ke lapangan dan memberikan bantuannya langsung kepada masyarakat. Dengan situasi politik dan birokrasi yang sangat tidak konsisten di Indonesia, tanpa mengecilkan peran pemerintah, kita tidak bisa percaya 100% kepada mereka. Selain itu tidak ada media yang dapat membuktikan bahwa BNI telah memberikan bantuan itu. Hanya orang- orang yang mungkin datang ke kantor kecamatan dan mungkin melihat papan pengumuman tersebut.

Lalu ada kegiatan GO GREEN yang dilakukan BNI balige pada tanggal 22 Juni 2013. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyambut ulang tahun BNI yang ke 67 pada tanggal 5 Juli 2013. Tercatat ada 1946 pohon yang ditanam, ini mengingatkan bahwa BNI sudah ada sejak tahun 1946. Kegiatan ini ternyata tidak dilakukan di Bukit Pahoda Desa Lumban Silintong saja, melainkan serentak dilakukan diseluruh Indonesia dengan total pohon sebanyak 29.190 pohon seperti pohon tanaman keras yang meliputi tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan, seperti trembesi, sengon, jati, jabon, kayu Afrika, matoa, rambutan, nangka, durian, lengkeng, pala, sirsak dan

bahkan pohon langka atau endemik Indonesia.

Menurut pendapat pak Victor, penanggungjawab kegiatan penghijauan ini, kegiatan ini sebenarnya tidak ada didalam daftar kegiatan yang hendak dilakukan oleh BNI Cabang Balige. Namun ketika BNI Wilayah meminta kepada BNI Balige sebagai tuan rumah kegiatan, BNI Balige menerimanya. Diatakan bahwa kegiatan ini bekerja sama dengan pihak wilayah Medan untuk acaranya. Sedangkan BNI Balige bertugas untuk mencari tempat acara, lokasi untuk menanam pohon, dan memperoleh

izin dari pemerintah setempat. Alasan dipilihnya Bukit Pahoda juga adalah karena akses transportasi ke tempat itu lebih mudah dan juga pemandangan yag diberikan bukit itu sangat indah, yaitu Danau Toba.

Sempat menghadapi penghadangan dari para pemilik tanah yang tidak tahu akan diadakannya kegiatan ini, namun bisa terselesaikan dengan damai setelah BNI bertemu dengan kepala desa dan kepala adatnya.

GO GREEN BNI 2013 yang dilaksanakan oleh BNI Balige dihadiri juga oleh direktur Consumer dan Retail Banking BNI, Pak Darmadi Sutanto. Itu adalah hal yang cukup jarang terjadi karena ditengah kesibukannya, beliau sempat meluangkan waktunya menjadi tamu penting didalam acara ini.

Secara keseluruhan, acara ini sudah efektif karena mereka memiliki strategi yang baik didalam pelaksanaanya, walaupun ini sama sekali tidak ada di dalam daftar kegiatan mereka. Selain itu mereka mampu menghadapi krisis-krisis yang dihadapi dan juga dengan kedatangan direktur Consumer dan Retail Banking BNI menjadi nilai tambah bahwa kegiatan GO GREEN BNI 2013 oleh BNI Balige berbeda dengan tempat-tempat lain.

Namun juga peneliti melihat bahwa ada kekurangan didalam kegiatan ini. Walaupun pak Victor adalah penanggungjawab, beliau tidak bisa menjelaskan sasaran yang hendak dicapai didalam kegiatan ini. Selain itu juga beliau juga menyatakan kekecewaannya karena tidak ada tindakan lanjutan yang dilakukan. Tindakan lanjut yang dimaksud adalah perawatan-perawatan yang perlu guna mendukung pertumbuhan pepohonan itu seperti pemupukan, penyiraman, dan pemagaran. Setelah penanaman itu dilakukan, sampai sekarang beliau menyatakan sudah banyak pohon yang telah mati karena tidak mampu menghadapi terpaan cuaca.

Ketika ditanya mengapa tidak ada kelanjutan, beliau beralasan bahwa itu mungkin karena kurang koordinasi dengan pusat sebagai sumber dana kegiatan CSR ini. BNI Balige bingung bagaimana mengajukan biaya pemeliharaannya ke pusat.

Namun beliau berpikir positif dan mengatakan bahwa itu pasti ada meskipun belum ada balasan dari surat yang telah mereka sampaian ke pusat.

BAB V