KAJIAN TEORETIK
A. Tinjauan Pustaka 1. Analisis Kesalahan Berbahasa
1) Pemakaian Huruf Kapital
Huruf kapital secara umum disebut juga sebagai huruf besar. Pengertian ini tidaklah salah, tetapi akan lebih baik digunakan istilah huruf
xxx
kapital, karena istilah huruf besar berhubungan dengan ukuran tetapi yang dimaksudkan sebenarnya tentu bukan ukuran hurufnya.
Huruf besar atau huruf kapital dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 6-12). Penggunaan huruf kapital tersebut harus disesuaikan dengan aturan sebagai berikut:
a) Sebagai huruf pertama awal kalimat. Misalnya:
Dia mengantuk. Apa maksudnya?
b) Huruf pertama petikan langsung. Misalnya:
Adik bertanya, ”Kapan kita pulang?”
”Besok pagi, dia akan berangakat.”, kata Ibu.
c) Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti Tuhan.
Misalnya: Alkitab
Yang Maha Pengasih
d) Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya: Haji Agus Salim Sultan Hasanuddin
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat sebagai sultan. Tahun ini dia pergi naik haji.
xxxi
e) Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama istansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian Gubernur Jawa Tengah
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal f) Huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya: Amir Hamzah Dewi Sartika
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya: Mesin diesel 10 volt
g) Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya:
Bangsa Indonesia Suku Sunda
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
Mengindonesiakan kata asing Keinggris-inggrisan
xxxii
h) Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya:
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia. i) Huruf pertama nama geografi.
Misalnya: Banyuwangi Danau Toba
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak dipakai menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
Berlayar ke teluk Mandi di kali
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis.
Misalnya: Gula jawa Pisang ambon
j) Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatnegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata dan.
Misalnya:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
xxxiii
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
Menjadi sebuah republik Beberapa badan hukum
k) Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
l) Huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nam buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Bacalah majalah Bahasa dan sastra
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan
m) Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya:
Prof. profesor Sdr. saudara
n) Huruf pertama petunjuk unsur kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya:
”Silakan duduk, Dik!” kata Ucok. Besok Paman akan datang.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
xxxiv Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita. Semua kaka dan adik saya sudah berkeluarga. o) Huruf pertama kata ganti Anda.
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima. 2) Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca terkadang dipakai oleh beberapa penulis untuk menghasilkan suatu gaya atau kesan tersendiri. Tidak jarang terlihat suatu tulisan mengandung titik-titik sederetan panjang, bahkan diulang-ulang dalam tulisan itu. Ada pula yang menggunakan tanda seru (!) sampai tiga buah, berdiri tegak berjajar. Atau tanda seru didampingi tanda tanya (!?), atau banyak yang diberi tanda petik (”...”) atau dicetak miring dan digarisbawahi. Sebenarnya pemakaian tanda-tanda baca yang tidak lazim ini tidak perlu.
Dalam karya tulis tentu tidak bisa lepas dari pemakaian ejaan. Karya tulis juga menggunakan bahasa terikat oleh aturan. Keberadaan aturan atau kaidah tersebut ternyata belum sepenuhnya bisa dipatuhi dengan benar oleh penulis, sehingga sangat dimungkinkan dalam karya tulis terjadi kesalahan. Bentuk-bentuk aturan kebahasaan yang mungkin dilanggar antara lain sebagai berikut.
a) Tanda titik (.)
Tanda titik bentuknya sangat sederhana. Meskipun demikian tanda titik memiliki arti tersendiri yang tidak kalah penting dengan tanda baca yang lain. Mungkin karena bentuknya yang sangat sederhana terkadang terjadi kesalahan dalam penggunaannya.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 42-44) telah menjelaskan bagaimana menggunakan tanda titik (.). Adapun penggunaannya sebagai berikut.
xxxv
(2) Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar
(3) Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu
(4) Dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu
(5) Dipakai diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka
(6) (a) Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
(b) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
(7) Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya
(8) Tidak dipakai dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat
Bentuk tanda baca titik memang sangat sederhana, tetapi penggunaannya tidak bisa sembarangan. Dalam berbahasa, khususnya tulis, pengguna bahasa harus mentaati aturan atau tata cara penggunaan tanda titik seperti telah dibicarakan di atas. Oleh sebab itu, penguasaan penggunaan tanda titik harus dimiliki oleh setiap penulis.
b) Tanda koma (,)
Tanda baca koma di antaranya dipergunakan sebagai berikut.
(1) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
(2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan suatu kalimat setara yang satu dengan kalimat setara berikutnya yang didahului kata tetapi atau melainkan.
(3) (a) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, jika anak kalimat itu mendahului anak kalimat.
(b) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimat.
xxxvi
(4) Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh, karena itu, namun, jadi,lagi pula, meskipun, begitu, dan akan tetapi. (5) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh,
kasihan, dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
(6) Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
(7) Tanda koma dipakai diantara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang dituliskan berurutan.
(8) Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
(9) Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
(10) Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
(11) Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
(12) Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(13) tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
(14) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2007: 44-48).
c) Penggunaan Tanda Hubung (-)
Kegunaan tanda hubung adalah untuk menyambung. Meski demikian, ada tata cara atau aturan pemakaian tanda hubung ini. Berikut adalah hal-hal yang perlu yang perlu diperhatikan dalam penggunaan tanda hubung seperti pendapat Tarigan (1986: 168-172).
xxxvii
(1) Tanda hubung dipakai untuk menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.
(2) Tanda hubung dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
(3) Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang. (4) Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja
satu-satu, bagian-bagian tanggal, dan suku kata yang dipisah-pisahkan.
(5) Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
(6) Tanda hubung dipakai untuk merangkai se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan dan kata-kata. d) Penggunaan Tanda titik dua (:)
Tanda titik dua umum dipakai pada karya tulis. Walaupun demikian, karya tulis juga belum tentu telah tepat menggunakan tanda titik dua. Agar terhindar dari kesalahan penggunaan tanda titik dua seorang penulis harus menguasai pemakaian titik dua secara benar.
Berikut adalah hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian titik dua yang dikemukakan oleh Tarigan (1986: 161-162).
(1) Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta mempunyai empat jurusan: Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Bahasa dan Seni, dan Ilmu Pendidikan.
(2) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
xxxviii Misalnya:
Tempat Sidang : Ruang 104 Pengantar Acara : Bambang S
Hari : Senin
Waktu : 09.30
(3) Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : ”Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : ”Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk) Ibu :” Jangan lupa, letakkan baik-baik!”
(4) Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pertanyaan.
Misalnya:
Fakultas Bahasa dan Seni IKIP Bandung mempunyai Jurusan bahasa Indonesia, Jurusan bahasa daerah, dan Jurusan bahasa asing.
(5) Tanda titik dua dipakai (a) di antara jilid atau nomor dan halaman, (b) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, (c) di antara anak judul dan judul suatu karangan, atau nama kota dan penerbit buku.
Misalnya:
Tempo, I (1971), 34: 7 Samuel 1: 20
Karya Henry Guntur Tarigan, membaca: Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa, sudah terbit.
Gorys Keraf. 2001.Komposisi. Jakarta: Nusa Indah e) Penggunaan Tanda titik koma (;)
Masyarakat pada umumnya belum menguasai fungsi atau kegunaan tanda baca titik koma (;). Tanda baca titik koma sering kali tidak digunakan oleh pengguna bahasa. Para penulis lebih memilih menggunakan tanda baca koma dari pada tanda baca titik koma. Walaupun demikian, bukan berarti
xxxix
tanda titik koma ditinggalkan oleh para penulis. Para penulis tetap ada yang menggunakan tanda titik koma walau tidak tepat penggunaannya.
Supaya terhindar dari kesalahan penggunaan tanda titik koma menurut Tarigan (1986: 161-162) penulis harus menguasai fungsi atau kegunaan pemakaian tanda titik koma adalah untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara, serta memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Pemakaian tnda titik koma akan lebih mudah dimengerti dalam contoh sebagai berikut.
(1) Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Hari telah sore; makanan belum datang juga; kami sudah merasa sangat lapar.
Badannya penat; nafasnya sesak; hatinya sedih dan duka.
(2) Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat suatu majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya:
Para petani giat bekerja; anak-anak main layang-layang; para ibu mempersiapkan makanan dan minuman.
Ani sedang menggambar pemandangan; Ida membaca buku cerita; Umi asyik merenda; Leni asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
Setiap pemakai bahasa, khususnya tulis harus memberi perhatian tersendiri jika akan menggunakan tanda baca ini. Tanpa pemahaman yang benar dan mantap penggunaan tanda baca ini justru akan menimbulkan masalah karena tidak ketidaksesuaian dengan aturan yang ada.
f) Penggunaan Tanda pisah (-)
Tanda pisah sepintas seperti tanda hubung, tetapi pemakaian tanda pisah tentu berbeda dengan tanda hubung. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian tanda pisah (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2007: 53).
xl
(1) Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat-kalimat menjadi lebih jelas.
(2) Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangunan kalimat.
(3) Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ’sampai ke’ dengan’ atau’sampai dengan’.
g) Tanda ellipsis (…)
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik, tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
h) Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
i) Tanda seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
j) Tanda kurung ((…))
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di teks dapat dihilangkan. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.
xli k) Tanda kurung siku ([…])
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
l) Tanda petik (“…”)
Penggunaan tanda petik menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 56) harus memerhatikan 5 hal.
(1) Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tulisan lain.
(2) Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan buku apabila dipakai dalam kalimat.
(3) Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
(4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
(5) Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
m) Tanda petik tunggal (‘…’)
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
n) Tanda garis miring (/)
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap. o) Tanda apostrof (‘)
Tanda penyingkat atau apostrof digunakan untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
xlii 3) Penulisan Kata
a) Penulisan Kata Depan
Kata depan adalah kata yang bertugas merangkaikan kata atau bagian kalimat. Tempatnya terletak di depan kata. Kata depan dimunculkan dalam kaitannya dengan kelas kata, bukan dalam kaitan dengan fungsinya dalam kalimat.
Kata-kata depan yang termasuk dalam kelompok di, ke, dari, antar, hingga, dan lewat berfungsi merangkaikan sebuah kata dengan kata yang lain yang menyatakan tempat atau waktu (Keraf, 1991: 108). Kata depan di- dan ke- penulisannya terpisah dengan kata yang diikutinya, sedangkan awalan di- dan ke- penulisannya serangkai dengan kata yang diikutinya.
Kata di, ke dan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
b) Penulisan Kata Ganti -ku, kau-, -mu, dan -nya
Kata gantu ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; sedang ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
c) Penulisan Kata Turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata mendapat awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
d) Penulisan Gabungan Kata
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
xliii e) Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, I’exploitation de I ‘homme par I’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
f) Penulisan Huruf
Huruf adalah lambang atau gambaran dari bunyi. Alfabet atau aksara adalah rangkaian urutan huruf menurut suatu sistem tulisan. Huruf dibedakan menjadi huruf abjad, vokal, konsonan, diftong, gabungan huruf konsonan, pemenggalan kata.
Huruf yang digunakan adalah huruf latin dari a sampai z. Huruf-huruf q dan x tidak digunakan untuk menuliskan kata-kata bahasa Indonesia, kecuali untuk menuliskan nama atau istilah. Huruf-huruf yang tidak dapat menempati posisi akhir adalah c, ny, v, w, dan y.