• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Skripsi Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

i

Analisis kesalahan berbahasa pada karya tulis

siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong

Kabupaten Boyolali

Oleh:

Wahyu Tyas Cahyaningrum

K.1206043

Skripsi

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

ii

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA KARYA TULIS

SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 ANDONG

KABUPATEN BOYOLALI

Oleh:

WAHYU TYAS CAHYANINGRUM

K1206043

Skripsi

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. Herman J Waluyo, M.Pd. Dr. Andayani, M.Pd.

(4)

iv

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari : Tanggal :

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda tangan

Ketua : Dra. Raheni Suhita, M.Hum. ...

Sekretaris : Drs. Edy Suryanto, M.Pd. ... Anggota I : Prof. Dr. Herman J Waluyo, M. Pd. ...

Anggota II : Dr. Andayani, M. Pd. ...

Disahkan oleh:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dekan,

(5)

v

ABSTRAK

Wahyu Tyas Cahyaningrum. K1206043. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA KARYA TULIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 ANDONG KABUPATEN BOYOLALI Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai (1) bentuk kesalahan penggunaan ejaan pada karya tulis siswa, (2) bentuk kesalahan penggunaan pilihan kata atau diksi pada karya tulis siswa, (3) bentuk kesalahan penggunaan kalimat pada karya tulis yang dibuat oleh siswa, dan (4) persentase persebaran komponen ejaan, pilihan kata, dan penyusunan kalimat pada karya tulis siswa, (5) penyebab terjadinya kesalahan penulisan karya tulis siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan strategi tunggal terpancang. Sumber data dalam penelitian ini adalah dokumen yang berupa arsip karya tulis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong, Kabupaten Boyolali dan catatan lapangan hasil wawancara dengan narasumber. Selain dokumen, sumber data yang lain adalah informan, yaitu guru bahasa Indonesia, guru pembimbing karya tulis dan beberapa siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mengkaji dokumen atau arsip dengan menggunakan teknik analisis isi atau disebut content analysis. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi teori, trianggulasi sumber, triangulasi metode, dan review informan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif (interaktif model of analysis).

(6)

vi

MOTTO

Tinggalkanlah segala keragu-raguan untuk menuju kepastian, sebab kejujuran itu melahirkan ketenangan dan kebohongan adalah keragu-raguan.

(H.R. Tirmidzi)

Hadapilah masa depan yang muram tanpa rasa takut, tetapi dengan hati yang jantan.

(Longfellow)

Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah

(7)

vii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu tercinta, atas doa yang tiada pernah berhenti mengalir untukku;

2. Mbak Endang dan keluarga, mas Dwi dan keluarga, mbak Naning serta Najwa, yang telah memberikan semangat hingga studiku selesai;

3. A’ Joko Febri Suhartono, Ak., atas cinta dan dukungan yang tak pernah terhenti untukku; 4. Sahabatku (Jenny, Rihi, Asih, dan Hesti),

terimakasih untuk semua yang telah diberikan;

5. Rekan-rekan Bastind ’06, terimakasih atas kebersamaan yang telah kita lalui selama ini; 6. Teater Peron, yang telah mendidik dan

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan, karunia, rahmat, dan hidayah-Nya kepada kita semua, terutama penulis dan keluarga. Hanya kepada-Nya kembali segala sanjungan, kepada-Nya kami memohon pertolongan dan ampunan, dan atas ridhonya sehingga penulis mampu menyusun skripsi ini dengan baik, yang merupakan persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Dalam mengumpulkan data dan informasi selama proses penyusunan skripsi ini, penulis menyadari tidak dapat bekerja seorang diri melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin penulisan skripsi ini;

2. Drs. Suparno, M. Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin dalam penulisan skripsi ini;

3. Drs. Slamet Mulyono, M. Pd., Ketua Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin dalam penulisan skripsi ini;

4. Prof. Dr. Herman J Waluyo, M. Pd., sebagai pembimbing skripsi I yang senantiasa dengan sabar dan perhatian membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini;

5. Dr. Andayani, M.Pd., selaku pembimbing skripsi II yang selalu sabar memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini;

6. Bapak Ahmad Sochib, S.Pd., selaku guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Andong yang senantiasa memberikan informasi dan semangat kepada penulis; 7. Bapak Drs. Agus Suyono; selaku guru pembimbing karya tulis siswa SMA

(9)

ix

8. Siswa dan siswi SMA Negeri 1 Andong kelas XII yang memberikan informasi yang dapat membantu penulis dalam mengumpulkan data-data dalam penelitian; dan

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan skripsi ini serta tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia.

Surakarta, Juni 2010

(10)

x

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PENGAJUAN ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 7

1. Analisis Kesalahan Berbahasa ... 7

a. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa ... 7

b. Pengertian tentang Kesalahan ... 8

c. Fungsi Analisis Kesalahan ... 12

d. Kesalahan Berbahasa ... 12

2. Jenis Kesalahan Berbahasa ... 13

a. Kesalahan Ejaan ... 14

b. Pilihan Kata atau Diksi ... 29

(11)

xi

3. Pengertian Menulis ... 33

4. Pengertian Karya Tulis Ilmiah ... 35

5. Bahasa dalam Tulisan Ilmiah... 36

B. Penelitian yang Relevan... 36

C. Kerangka Berpikir... 38

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu ... 41

B. Bentuk dan Strategi Penelitian... 41

C. Sumber Data... 42

D. Teknik Sampling ... 42

E. Teknik Pengumpulan Data... 43

F. Uji Validitas Data... 43

G. Teknik Analisis Data... 44

H. Prosedur Penelitian ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 47

B. Hasil Penelitian ... 48

1. Kesalahan Penggunaan Ejaan ... 48

2. Kesalahan Pemilihan Kata atau Diksi ... 64

3. Kesalahan Penggunaan Kalimat ... 71

4. Persentase Kesalahan Berbahasa ... 75

5. Sumber Penyebab Terjadinya Kesalahan... 78

C. Pembahasan Penelitian ... 79

1. Kesalahan Penggunaan Ejaan ... 79

2. Kesalahan Pemilihan Kata atau Diksi ... 81

3. Kesalahan Penggunaan Kalimat... 82

4. Persentase Kesalahan Berbahasa ... 83

5. Sumber Penyebab Terjadinya Kesalahan... 83

D. Keterbatasan Penelitian ... 86

(12)

xii

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Pembagian Waktu Penelitian ... 41

2. Identifikasi Data Sampel ... 48

3. Data Kesalahan Huruf Kapital ... 49

4. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Titik ... 52

5. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Koma ... 53

6. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Titik Dua ... 55

7. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Titik Koma ... 56

8. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Apostrof... 57

9. Data Kesalahan Penggunaan Tanda Petik... 58

10.Data Kesalahan Penggunaan Kata Depan ... 60

11.Data Kesalahan Penggunaan Kata Turunan... 61

12.Data Kesalahan Penggunaan Cetak Miring ... 62

13.Data Kesalahan Penggunaan Garis Bawah ... 64

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Data Kesalahan Karya Tulis Siswa... 95

2. Data Hasil Wawancara dengan Guru Pembimbing Karya Tulis... 191

3. Data Hasil Wawancara dengan Guru Bahasa Indonesia ... 195

4. Data Hasil Wawancara dengan Siswa... 198

(16)

xvi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluhan tentang rendahnya kemampuan menulis di kalangan siswa khususnya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) bukan masalah baru lagi dalam dunia pendidikan. Kegiatan pengamatan yang telah dilakukan kurang begitu diperhatikan. Biasanya kegiatan menulis ini hanya digunakan untuk memenuhi persyaratan nilai suatu mata pelajaran ataupun syarat kenaikan kelas saja.

Hasil menulis siswa tersebut biasanya berbentuk karya tulis. Isi yang akan disampaikan melalui karya tulis akan mencapai sasarannya secara efektif apabila bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan isi karya tulis tersebut sesuai dengan penggunaan bahasa dalam karya tulis, teknik penulisan ilmiah dan teknik notasi ilmiah. Dalam hal ini bahasa sebagai alat komunikasi dalam karya tulis sangat memegang peranan terpenting di samping bentuk-bentuk nonbahasa.

Karya tulis pada hakikatnya adalah sebuah komposisi atau karangan. Oleh karena itu, semua ketentuan mengenai komposisi berlaku juga untuk karya tulis. Sebagai salah satu bentuk komposisi khusus, karya tulis terikat oleh kaidah karya tulis. Kaidah-kaidah itu perlu diperhatikan supaya karya tulis itu memenuhi syarat penulisan ilmiah dan notasi ilmiah serta dapat mencapai sasaran secara efektif dan efisien.

Untuk menghadirkan karya tulis dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak hanya berpatokan pada ada tidaknya aturan yang mengatur, tetapi juga perlu diketahui bagaimana sumber daya pendukung dalam hal ini penulis karya tulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam penulisan karya ilmiah, terdapat potensi kesalahan yang besar dari faktor Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini disebabkan oleh lemahnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, oleh sumber daya manusia khususnya dalam penulisan karya tulis.

(17)

xvii

difokuskan pada karya tulis nonpenelitian, karena siswa SMA biasanya hanya menulis karya tulis yang nonpenelitian. Yang menjadi pembeda antara karya tulis penelitian dan nonpenelitian terutama terletak pada penyajian. Karya tulis nonpenelitian disajikan dengan gaya dan bahasa yang lebih bebas. Diksi atau pilihan kata cenderung lebih lentur baris demi baris. Kata-kata teknik profesional tertentu tidak dipergunakan lagi. Walaupun demikian bahasa yang digunakan tetaplah bahasa resmi, yaitu bahasa baku.

Hasil karya tulis akan lebih efektif bila bahasa yang digunakan adalah bahasa dengan ejaan yang benar, pilihan kosa kata yang baku, susunan atau struktur kalimat yang tertib dan sitematis. Oleh karena itu, penulis karya tulis harus mempunyai pengetahuan yang cukup memadai mengenai komponen-komponen kebahasaan.

Karya tulis atau karya ilmiah banyak ragamnya, misalnya ada yang berbentuk laporan, artikel, jurnal, skripsi, buku-buku ilmiah dan sebagainya. Setiap ragam sudah tentu memiliki ciri-ciri masing-masing. Oleh karena itu, sulit untuk memberikan pengertian yang mewakili semua karya ilmiah. Brotowidjojo (dalam Amir, 2007: 105) menyatakan bahwa karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Selain itu, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2005: 511 ) menjelaskan mengenai karya ilmiah berupa laporan yaitu 1) sesuatu yang dilaporkan, 2) berita. Dari semua kepentingan dituliskannya suatu karya ilmiah ada satu maksud yang sama, yaitu berkomunikasi dengan orang lain tentang ilmu.

(18)

xviii

memecahkan masalah penulisan karya tulis yang baik dan benar. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan begitu saja dan terus berlanjut.

Kebakuan bahasa dalam karya ilmiah harus diupayakan melalui proses. Untuk mengadakan perbaikan diperlukan deskripsi data tentang kemampuan riil penggunaan bahasa Indonesia dalam karya tulis. Kegiatan menganalisis pemakaian bahasa Indonesia dalam karya tulis dipandang sangat penting. Berdasarkan pengamatan penulis, penulis sering menemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dalam karya tulis siswa yang ditulis oleh siswa SMA. Dalam hal yang sama, penulis juga sering menemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dalam karya tulis yang ditulis oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

Perlu ditegaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku merupakan cermin dari sikap si pemakai bahasa tersebut terhadap bahasa Indonesia yang dipakainya. Jika bahasa Indonesia yang dipakainya acak-acakkan atau serampangan, ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa kurang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

Analisis kesalahan bahasa memberikan banyak keuntungan terutama yang bertalian dengan kegiatan pengajaran bahasa. Dengan analisis tersebut, akan dapat dipahami dan dapat diungkapkan berbagai kesalahan bahasa yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Nageri 1 Andong Kabupaten Boyolali dan dapat dipahami latar belakang atau faktor penyebabnya. Sebagaimana telah dikemukakan dapat digunakan sebagai masukan atau umpan balik dalam upaya memperbaiki kesalahan sejenis pada waktu yang akan datang, yang pada akhirnya dapat memperbaiki atau menyempurnakan pengajaran bahasa.

(19)

xix

pemerolehannya. Kedua, kurangnya ketepatan dan spesifikasi yang memadai dalam definisi kategori kesalahan. Dan ketiga, pemakaian klasifikasi yang simplistic yang tidak tepat untuk menjelaskan kesalahan.

Penulis masih sering menemukan kesalahan penggunaan bahasa dalam karya tulis siswa. Masih ditemukan kesalahan yang sama dengan penelitian yang relevan di tempat penulis melakukan penelitian, yaitu: dalam komponen ejaan, pilihan kata dan penyusunan kalimat dalam karya tulis yang ditulis oleh siswa kelas XI SMA.

Kendala bagi terwujudnya karya tulis atau karya ilmiah bermutu karena kurangnya kemampuan berbahasa sangatlah beralasan. Sebagaimana dikemukakan Lawrence (1972) (dalam Suwandi, 1997: 9 ) bahwa pada hakikatnya menulis adalah mengkomunikasikan apa dan bagaimana pikiran penulis. “Apa” menyangkut substansi persoalan (gagasan) yang akan dikemukakan, sedangkan “bagaimana” merupakan persoalan media yang digunakan, untuk menyampaikan gagasan itu. Dengan kata lain, persoalan kedua adalah kemampuan berbahasa.

Sehubungan dengan itu, maka upaya peningkatan kemampuan berbahasa siswa perlu dilakukan. Pembinaan kemampuan menulis perlu dilakukan. Pembinaan kemampuan menulis perlu mendapat prioritas. Untuk dapat melakukan upaya peningkatan kemampuan menulis siswa secara tepat, yang pertama harus dipahami adalah apa yang menjadi kebutuhan (need) mereka. Berdasarkan pada rumusan kebutuhan itu akan dapat diformat materi yang diperlukan serta ditentukan pendekatan dan strategi yang tepat sehingga upaya peningkatan tersebut efektif.

Kebutuhan itu dapat dirumuskan dengan memahami adanya kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan yang dituntut atau dipersyaratkan bagi terwujudnya tulisan yang baik dengan pengetahuan dan keterampilan nyata yang dimiliki siswa. Yang pertama dapat diperoleh dengan melakukan kajian teoretis (kajian pustaka), sedangakn kedua dapat dipahami, antara lain, dengan melakukan analisis kesalahan berbahasa (tulis) siswa.

(20)

xx

diungkapkan berbagai hal mengenai kesalahan bahasa yang dibuat siswa. Hal itu dapat digunakan sebagai umpan balik dalam upaya memperbaiki dan menyempurnakan pengajaran bahasa. Untuk itu, analisis di atas sangat penting artinya untuk lebih mengefektifkan pengajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, yang difokuskan pada pembinaan kemampuan menulis siswa. Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Karya Tulis Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Andong, Kabupaten Boyolali.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah bentuk kesalahan penggunaan ejaan pada karya tulis yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali? 2. Bagaimanakah bentuk kesalahan penggunaan pilihan kata pada karya tulis

yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali? 3. Bagaimanakah bentuk kesalahan penggunaan kalimat pada karya tulis yang

dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali? 4. Kesalahan komponen manakah yang memiliki persentase persebaran terbesar

di antara komponen ejaan, pilihan kata atau diksi, dan penyusunan kalimat yang ada pada karya tulis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali?

5. Apa sajakah sumber-sumber penyebab kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dalam karya tulis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang penggunaan bahasa Indonesia pada karya tulis ini dilaksanakan dengan tujuan:

(21)

xxi

2. Mendeskripsikan kesalahan penggunaan pilihan kata atau diksi pada karya tulis yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

3. Mendeskripsikan kesalahan penggunaan kalimat pada karya tulis yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

4. Mendeskripsikan persentase persebaran kesalahan penggunaan bahasa Indonesia pada setiap komponen kebahasaan seperti ejaan, pilihan kata atau diksi, dan penyusunan kalimat yang ada pada karya tulis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

5. Mendeskripsikan penyebab kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam karya tulis yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Memberikan sumbangan teoretis dalam bidang analisis kesalahan berbahasa khususnya dalam karya tulis yang ditulis siswa dan dapat memperkaya dan melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa dapat menambah pengetahuan tentang teknik penulisan ilmiah dan teknik notasi ilmiah yang pada akhirnya dapat membuat karya tulis dengan baik dan benar.

b. Bagi guru pengajar bahasa dan sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Andong yaitu memberikan pengetahuan kepada guru agar dapat menyampaikan materi pembelajaran menulis ilmiah kepada siswa dengan tepat.

(22)

xxii

BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Tinjauan Pustaka 1. Analisis Kesalahan Berbahasa a. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa

Analisis kesalahan sering disingkat anakes. Analisis kesalahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan terdengar hanya sebagai pekerjaan yang membosankan yang berusaha mencari-cari kesalahan. Sesungguhnya analisis kesalahan bukan hanya memiliki pengertian yang sesempit itu, supaya lebih jelas pada bab ini juga akan sedikit menyinggung tentang analisis kesalahan berbahasa yang berkaitan erat dengan penelitian ini.

Parera (1993: 7) berpendapat bahwa analisis merupakan proses menjelaskan gejala-gejala alam dengan cara: (1) membedakan, (2) mengelompokkan, (3) menghubung-hubungkan, (4) mengendalikan, dan (5) meramalkan. Berdasar pengertian tentang analisis tersebut, sepertinya Parera (1993: 7) berusaha menyampaikan pengertian tentang analisis kesalahan secara tersendiri. Menurutnya, analisis kesalahan adalah kajian dan analisis mengenai kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa atau peserta didik atau pelajar asing atau seseorang atau bahasa kedua.

Hastuti (1989: 45) menjelaskan bahwa analisis merupakan suatu penyelidikan dengan tujuan ingin mengetahui sesuatu dengan kemungkinan dapat menemukan inti permasalahan, kemudian dikupas dari berbagai segi, dikritik, diberi ulasan (komentar) akhirnya hasil dari tindakan tersebut dapat diberi kesimpulan untuk kemudian dipahami.

(23)

xxiii

Menurutnya, analisis kesalahan berbahasa ialah suatu prosedur yang digunakan oleh para peneliti dan para guru, yang meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam sampel, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Pendapat lain datang dari Tarigan (dalam Ardiana, 1998: 2.6) bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru dan peneliti bahasa dengan langkah-langkah pengumpulan data, pegidentifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan itu.

Sehubungan dengan kata analisis dalam penelitian ini, dapat diberikan pengertian sebagai suatu kegiatan penelitian untuk menyelidiki atau meneliti (menguraikan, menjabarkan, menelaah, mengkaji) bahasa pada karya tulis yang dibuat oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali. Telaah kajian yang diselidiki sebagaimana uraian bab terdahulu meliputi kesalahan ejaan, pemilihan kata atau diksi, dan penyusunan kalimat.

b. Pengertian Tentang Kesalahan

Penelitian ini akan berusaha mencari kesalahan bahasa dalam karya tulis siswa. Sebelum membahas penelitian secara mendalam perlu adanya pemahaman tentang konsep kesalahan. Berikut adalah sedikit konsep atau gambaran tentang kesalahan berbahasa.

Arti kata kesalahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2005: 983)adalah atau bersinonim dengan kekeliruan atau kealpaan, tetapi Tarigan dan Tarigan (1990:75) memberikan pengertian yang berbeda antara kesalahan dengan kekeliruan dalam konteks bahasa. Istilah kesalahan lebih erat dengan pengertian error dan kekeliruan dengan mistake.

According to Brown (Xing, 2008: 175), a “mistake” refers to a

performance error in that it is a failure to utilize a known system correctly. While

an “error” is a noticeable deviation from the adult grammar of a native speaker,

(24)

xxiv

is followed by the error description process. We compare learners’ sentences with

the correct sentences in target language, and find the errors. Then we come to the

next step- explanation stage, finding the sources of errors.

Senada dengan pendapat di atas, Corder (dalam Suwandi, 1997: 19) juga mengusulkan adanya perbedaan antara kekeliruan (mistake) dan kesalahan (error), kekeliruan menurutnya ialah penyimpangan-penyimpangan yang tidak sistematis seperti kekeliruan ucapan disebabkan oleh faktor keletihan, emosi, dan sebagainya. Kekeliruan terletak pada performance, sedangkan kesalahan pada competence yang merupakan penyimpangan-penyimpangan yang sifatnya sistematis, konsisten, dan menggambarkan kemampuan siswa pada tahap tertentu.

Tarigan dan Tarigan (1990: 75) memberikan pengertian bahwa kekeliruan pada umumnya disebabkan oleh faktor performansi. Keterbatasan dalam mengingat menyebabkan kekeliruan dalam pelafalan bunyi bahasa, kata, urutan kata, tekanan kata atau kalimat, dan sebagainya. Kekeliruan dapat terjadi pada setiap tataran linguistik, karena bersifat acak. Kekliruan dapat diperbaiki dengan lebih mawas diri, lebih sadar atau memusatkan perhatian. Kekliruan biasanya tidak bersifat lama.

Tarigan dan Tarigan (1990: 75-76) memberikan pengertian bahwa kesalahan disebabkan oleh faktor kompetensi. Maksudnya, pelaku memang belum memahami sistem linguistik bahasa yang digunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten sehingga dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Kesalahan ini bisa diperbaiki dengan belajar, latihan, praktik dan sebagainya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang kesalahan dan kekeliruan, dapat dilihat melalui ilustrasi berikut.

(25)

xxv

2) Heri adalah siswa kelas satu sekolah dasar. Heri telah hafal abjad bahasa Indonesia dan mampu menulis kata-kata bahasa Indonesia. Hari ini ia belajar menulis. Heri sangat senang karena berhasil menulis kalimat yang sederhana, seperti: ini Budi, Amir makan nasi, dan sebagainya. Tetapi semua kalimat yang ditulis Heri tersebut seluruhnya tidak diakhiri dengan tanda titik karena memang ia belum mendapat pelajaran tentang tanda baca.

Ilustrasi (1) merupakan contoh kekeliruan (mistake) karena sebenarnya Idrus telah sangat menguasai prinsip atau teori bahwa kalimat yang ia tulis harus diakhiri dengan tanda titik, tetapi karena tergesa-gesa maka ia lupa memberi tanda titik pada kalimat penutup proposal yang ia kerjakan. Ilustrasi (2) adalah contoh kesalahan (error) karena Heri yang sedang belajar memang belum menguasai teori atau prinsip penggunaan tanda baca titik, sehingga semua kalimat yang ia tulis tidak diakhiri dengan tanda baca titik.

Memperjelas perbedaan antara kesalahan dengan kekeliruan, Parera (1993: 74) menyampaikan bahwa kesalahan adalah kekhilafan berlatar belakang tentang bahasa yang memang sudah salah, kekhilafan itu dilakukan berulang-ulang karena pengetahuan tentang kaidah bahasa yang sudah tidak benar.

Pemaparan tadi telah cukup jelas membedakan antara kesalahan dalam arti (error) dengan kekeliruan (mistake). Adanya perbedaan antara keduanya ternyata meminta penanganan yang berbeda pula untuk memperbaikinya. Kesalahan karena sifatnya yang sitematis, maka perlu adanya pemerolehan prinsip kebahasaan yang benar, baik dengan latihan remedial maupun yang lain. Sementara itu, untuk memperbaiki kekeliruan cukup dengan pemusatan perhatian.

Pendapat lain muncul dari Hastuti (1989: 75-76) tentang konsep kesalahan berbahasa sebagai berikut:

1) Salah adalah apa yang dilakukan (kalau ia salah) tidak betul, tidak menurut aturan. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan. Jika kesalahan ini dihubungkan dengan penggunaan kata, maka pelaku tidak tahu kata apa yang setepat-tepatnya dipakai.

(26)

xxvi

aturan yang ada. Sikap berbahasa ini cenderung menuju ke pembentukan kata, istilah, slang, jargon atau prokem.

3) Pelanggaran adalah saat pelaku dengan penuh kesadaran tidak mau menurut aturan yang telah ditentukan. Terdapat indikasi pengaruh kedwibahasaan dalam pelanggaran ini.

4) Kekhilafan adalah proses psikologis seseorang khilaf menerapkan teori atau norma bahasa yang ada pada dirinya. Khilaf mengakibatkan sikap keliru pakai. Kekhilafan dapat diartikan kekeliruan. Seperti salah ucap atau salah susun karena kurang cermat.

Contoh berikut berusaha memberi penjelasan tentang empat konsep kesalahan yang disampaikan oleh Hastuti tersebut.

1) a. Untuk memberantas hama tikus menggunakan alat tangkap atau bubuk mati hewan. (salah)

b. Untuk memberantas hama tikus digunakan alat tangkap atau bubuk mati hewan. (betul)

2) a. Banyak anak-anak membaca buku komik. (menyimpang-salah) b. Banyak anak membaca buku komik. (tepat)

3) a. Ia mau berdatangan dalam pertemuan itu. (melanggar-salah) b. Ia mau datang dalam pertemuan itu. (tak melanggar)

4) a. Di mana ada uang ingin aku memperbaiki rumahku. (khilaf-salah) b. Jika ada uang ingin aku memperbaiki rumahku. (mengena)

Dari beberapa pendapat tentang kesalahan berbahasa yang telah disampaikan, penulis justru condong pada pendapat Tarigan dan Tarigan (1990: 75) karena pendapat mereka ringkas sehingga mudah dipahami.

Hadirnya pendapat serta istilah lain yang memandang kesalahan, bukanlah sesuatu yang membingungkan. Pemaparan di atas telah jelas. Walaupun istilahnya berbeda ternyata penjelasan di dalamnya telah relatif lengkap mampu menjelaskan inti yang dimaksud.

(27)

xxvii

mempersoalkan tentang kesalahan sebagai mistake atau error atau yang lain, tetapi dengan penjelasan ini dapat diketahui penyebab kesalahan penggunaan bahasa dan bagaimana penanganannya.

c. Fungsi Analisis Kesalahan

Fungsi atau kegunaan analisis kesalahan sangat erat dengan kegiatan pembelajaran. Supaya lebih jelas tentang fungsi atau kegunaan analisis kesalahan perlu dilihat pendapat para pakar bahasa. Berikut akan dibicarakan tentang fungsi atau kegunaan analisis kesalahan.

Fungsi analisis kesalahan akan disampaikan oleh dua ahli dengan pendapat mereka masing-masing. Menurut Parera (1993: 7), analisis kesalahan dilakukan untuk: (1) menemukan seberapa baik dan benar seseorang mengetahui bahasa ajaran, (2) mengetahui bagaimana seseorang belajar bahasa, dan (3) memperoleh informasi tentang kesulitan-kesulitan dalam belajar bahasa.

Untuk memperkuat pendapat tersebut, perlu pendapat lain sebagai pembanding. Pendapat tersebut datang dari Sidhar (dalam Tarigan dan Tarigan, 1990: 69). Analisis kesalahan antara lain berfungsi untuk: (1) menentukan urutan penyajian butir-butir yang diajarkan dalam kelas dan buku teks, misalnya urutan mudah-sukar, (2) menentukan urutan jenjang relatif penekanan, penjelasan, dan latihan berbagai butir bahan yang diajarkan, (3) merencanakan latihan dan remedial, dan (4) memilih butir-butir bagi pengujian kemahiran siswa.

Dari pendapat kedua ahli di atas dapat ditarik kesimpulan secara garis besar bahwa fungsi analisis kesalahan bahasa adalah untuk mengarahkan seseorang agar berhasil dalam belajar bahasa.

d. Kesalahan Berbahasa

(28)

xxviii

Kesalahan berbahasa bertalian dengan faktor pribadi pemakai bahasa dan faktor sosial budaya. Ditinjau dari faktor kebahasaan, kesalahan berbahasa terjadi dari segi keterbatasan, semantik dan ejaan. Faktor pribadi pemakai bahasa yang menimbulkan kesalahan berbahasa menyangkut segi fisiologis dan psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang terjadi kemudian.

2. Jenis Kesalahan Berbahasa

Sebelum lebih jauh membahas tentang kesalahan berbahasa perlu diketahui pengertian tentang bahasa itu sendiri. Sumardi (1993: 3) memberi pengertian bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain. Penyampaian perasaan dan pikiran ini dapat dinyatakan dengan tanda yang berupa bunyi atau tulisan.

Keraf (2001: 2) memberikan pengertian bahwa bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan diperkuat dengan gerak-gerik badani yang nyata. Kesimpulan dari pendapat tersebut, bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dengan suatu sistem yang mempergunakan lambang bunyi yang arbitrer dan digunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Keraf (2001: 3) menjelaskan pendukung pengertian bahasa berupa fungsi bahasa, yaitu sebagai alat: (a) menyatakan ekspresi diri; (b) berkomunikasi; (c) mengadakan integrasi dan adaptasi sosial: dan (d) alat untuk mengadakan kontrol sosial. Dengan pengertian tentang bahasa tersebut dapat diketahui bagaimana dampak yang terjadi jika pengguna bahasa melakukan suatu kesalahan dalam penggunaannya. Pemahaman ini memberikan kesadaran bahwa bahasa harus digunakan secara benar, oleh karena itu pemakainya harus berhati-hati dalam menggunakan bahasa agar terhindar dari kesalahan yang dapat mengakibatkan terganggunya komunikasi.

(29)

xxix

berbeda dengan ragam yang lain. Menurut Chaer (1988: 4) bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang dijadikan dasar ukuran atau tang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar. Mendukung pendapat tersebut, Moeliono (1988: 12) mengemukakan bahwa ragam itulah yang dijadikan tolak bandingan bagi pemakaian bahasa yang benar.

Selanjutnya kesalahan bahasa yang ada yang akan dibahas pada penelitian ini meliputi ejaan, diksi, dan penyusunan kalimat. Berikut ini akan diuraikan dasar-dasar atau aturan yang akan digunakan untuk mencari kesalahan penggunaan bahasa pada karya tulis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Andong Kabupaten Boyolali.

a. Kesalahan Ejaan

Sabariyanto (1992: 189) mengungkapkan bahwa ejaan adalah kaidah penulisan huruf, kata-kata, dan tanda baca. Tarigan (1986: 2) mengemukakan bahwa ejaan adalah cara atau aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sementara Wibowo (2002: 47) menjelaskan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah, aturan, atau ketentuan yang mengatur pelambangan bunyi bahasa, termasuk bagaimana menggunakan tanda baca. Pendapat lain dari Suryaman (1997: 7) menyatakan bahwa ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran, bagaimana menempatkan tanda-tanda baca, bagaimana memotong-motong suatu kata, dan bagaimana menghubungkan kata-kata.

Berdasarkan pengertian tentang ejaan di atas dapat disimpulkan bahwa ejaan adalah cara ataua aturan atau kaidah menulis kata-kata dengan huruf disertai tanda baca untuk menggambarkan bunyi ejaan suau bahasa. Kesalahan penggunaan ejaan bahasa Indonesia banyak macamnya. Adapun yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu:

1) Pemakaian Huruf Kapital

(30)

xxx

kapital, karena istilah huruf besar berhubungan dengan ukuran tetapi yang dimaksudkan sebenarnya tentu bukan ukuran hurufnya.

Huruf besar atau huruf kapital dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 6-12). Penggunaan huruf kapital tersebut harus disesuaikan dengan aturan sebagai berikut:

a) Sebagai huruf pertama awal kalimat. Misalnya:

Dia mengantuk. Apa maksudnya?

b) Huruf pertama petikan langsung. Misalnya:

Adik bertanya, ”Kapan kita pulang?”

”Besok pagi, dia akan berangakat.”, kata Ibu.

c) Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti Tuhan.

Misalnya: Alkitab

Yang Maha Pengasih

d) Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya: Haji Agus Salim Sultan Hasanuddin

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

(31)

xxxi

e) Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama istansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian Gubernur Jawa Tengah

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya:

Siapa gubernur yang baru dilantik itu?

Kemarin Brigadir jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal f) Huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya: Amir Hamzah Dewi Sartika

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya: Mesin diesel 10 volt

g) Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya:

Bangsa Indonesia Suku Sunda

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

(32)

xxxii

h) Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya:

hari Lebaran

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia. i) Huruf pertama nama geografi.

Misalnya: Banyuwangi Danau Toba

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak dipakai menjadi unsur nama diri.

Misalnya:

Berlayar ke teluk Mandi di kali

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis.

Misalnya: Gula jawa Pisang ambon

j) Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatnegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata dan.

Misalnya:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

(33)

xxxiii

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:

Menjadi sebuah republik Beberapa badan hukum

k) Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

l) Huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nam buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Bacalah majalah Bahasa dan sastra

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan

m) Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya:

Prof. profesor Sdr. saudara

n) Huruf pertama petunjuk unsur kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya:

”Silakan duduk, Dik!” kata Ucok. Besok Paman akan datang.

(34)

xxxiv Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita. Semua kaka dan adik saya sudah berkeluarga. o) Huruf pertama kata ganti Anda.

Sudahkah Anda tahu?

Surat Anda telah kami terima.

2) Penggunaan Tanda Baca

Tanda baca terkadang dipakai oleh beberapa penulis untuk menghasilkan suatu gaya atau kesan tersendiri. Tidak jarang terlihat suatu tulisan mengandung titik-titik sederetan panjang, bahkan diulang-ulang dalam tulisan itu. Ada pula yang menggunakan tanda seru (!) sampai tiga buah, berdiri tegak berjajar. Atau tanda seru didampingi tanda tanya (!?), atau banyak yang diberi tanda petik (”...”) atau dicetak miring dan digarisbawahi. Sebenarnya pemakaian tanda-tanda baca yang tidak lazim ini tidak perlu.

Dalam karya tulis tentu tidak bisa lepas dari pemakaian ejaan. Karya tulis juga menggunakan bahasa terikat oleh aturan. Keberadaan aturan atau kaidah tersebut ternyata belum sepenuhnya bisa dipatuhi dengan benar oleh penulis, sehingga sangat dimungkinkan dalam karya tulis terjadi kesalahan. Bentuk-bentuk aturan kebahasaan yang mungkin dilanggar antara lain sebagai berikut.

a) Tanda titik (.)

Tanda titik bentuknya sangat sederhana. Meskipun demikian tanda titik memiliki arti tersendiri yang tidak kalah penting dengan tanda baca yang lain. Mungkin karena bentuknya yang sangat sederhana terkadang terjadi kesalahan dalam penggunaannya.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 42-44) telah menjelaskan bagaimana menggunakan tanda titik (.). Adapun penggunaannya sebagai berikut.

(35)

xxxv

(2) Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar

(3) Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu

(4) Dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu

(5) Dipakai diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka

(6) (a) Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

(b) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

(7) Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya

(8) Tidak dipakai dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat

Bentuk tanda baca titik memang sangat sederhana, tetapi penggunaannya tidak bisa sembarangan. Dalam berbahasa, khususnya tulis, pengguna bahasa harus mentaati aturan atau tata cara penggunaan tanda titik seperti telah dibicarakan di atas. Oleh sebab itu, penguasaan penggunaan tanda titik harus dimiliki oleh setiap penulis.

b) Tanda koma (,)

Tanda baca koma di antaranya dipergunakan sebagai berikut.

(1) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

(2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan suatu kalimat setara yang satu dengan kalimat setara berikutnya yang didahului kata tetapi atau melainkan.

(3) (a) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, jika anak kalimat itu mendahului anak kalimat.

(36)

xxxvi

(4) Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh, karena itu, namun, jadi,lagi pula, meskipun, begitu, dan akan tetapi. (5) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh,

kasihan, dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

(6) Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

(7) Tanda koma dipakai diantara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang dituliskan berurutan.

(8) Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

(9) Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

(10) Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

(11) Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

(12) Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

(13) tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

(14) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2007: 44-48).

c) Penggunaan Tanda Hubung (-)

(37)

xxxvii

(1) Tanda hubung dipakai untuk menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

(2) Tanda hubung dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

(3) Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang. (4) Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja

satu-satu, bagian-bagian tanggal, dan suku kata yang dipisah-pisahkan.

(5) Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.

(6) Tanda hubung dipakai untuk merangkai se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan dan kata-kata. d) Penggunaan Tanda titik dua (:)

Tanda titik dua umum dipakai pada karya tulis. Walaupun demikian, karya tulis juga belum tentu telah tepat menggunakan tanda titik dua. Agar terhindar dari kesalahan penggunaan tanda titik dua seorang penulis harus menguasai pemakaian titik dua secara benar.

Berikut adalah hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian titik dua yang dikemukakan oleh Tarigan (1986: 161-162).

(1) Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta mempunyai empat jurusan: Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Bahasa dan Seni, dan Ilmu Pendidikan.

(38)

xxxviii Misalnya:

Tempat Sidang : Ruang 104 Pengantar Acara : Bambang S

Hari : Senin

Waktu : 09.30

(3) Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu : ”Bawa kopor ini, Mir!”

Amir : ”Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk) Ibu :” Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

(4) Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pertanyaan.

Misalnya:

Fakultas Bahasa dan Seni IKIP Bandung mempunyai Jurusan bahasa Indonesia, Jurusan bahasa daerah, dan Jurusan bahasa asing.

(5) Tanda titik dua dipakai (a) di antara jilid atau nomor dan halaman, (b) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, (c) di antara anak judul dan judul suatu karangan, atau nama kota dan penerbit buku.

Misalnya:

Tempo, I (1971), 34: 7 Samuel 1: 20

Karya Henry Guntur Tarigan, membaca: Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa, sudah terbit.

Gorys Keraf. 2001.Komposisi. Jakarta: Nusa Indah e) Penggunaan Tanda titik koma (;)

(39)

xxxix

tanda titik koma ditinggalkan oleh para penulis. Para penulis tetap ada yang menggunakan tanda titik koma walau tidak tepat penggunaannya.

Supaya terhindar dari kesalahan penggunaan tanda titik koma menurut Tarigan (1986: 161-162) penulis harus menguasai fungsi atau kegunaan pemakaian tanda titik koma adalah untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara, serta memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

Pemakaian tnda titik koma akan lebih mudah dimengerti dalam contoh sebagai berikut.

(1) Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:

Hari telah sore; makanan belum datang juga; kami sudah merasa sangat lapar.

Badannya penat; nafasnya sesak; hatinya sedih dan duka.

(2) Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat suatu majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

Misalnya:

Para petani giat bekerja; anak-anak main layang-layang; para ibu mempersiapkan makanan dan minuman.

Ani sedang menggambar pemandangan; Ida membaca buku cerita; Umi asyik merenda; Leni asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

Setiap pemakai bahasa, khususnya tulis harus memberi perhatian tersendiri jika akan menggunakan tanda baca ini. Tanpa pemahaman yang benar dan mantap penggunaan tanda baca ini justru akan menimbulkan masalah karena tidak ketidaksesuaian dengan aturan yang ada.

f) Penggunaan Tanda pisah (-)

(40)

xl

(1) Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat-kalimat menjadi lebih jelas.

(2) Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangunan kalimat.

(3) Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ’sampai ke’ dengan’ atau’sampai dengan’.

g) Tanda ellipsis (…)

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik, tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

h) Tanda Tanya (?)

Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

i) Tanda seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

j) Tanda kurung ((…))

(41)

xli k) Tanda kurung siku ([…])

Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

l) Tanda petik (“…”)

Penggunaan tanda petik menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 56) harus memerhatikan 5 hal.

(1) Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tulisan lain.

(2) Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan buku apabila dipakai dalam kalimat.

(3) Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

(4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

(5) Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

m) Tanda petik tunggal (‘…’)

Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

n) Tanda garis miring (/)

Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap. o) Tanda apostrof (‘)

(42)

xlii 3) Penulisan Kata

a) Penulisan Kata Depan

Kata depan adalah kata yang bertugas merangkaikan kata atau bagian kalimat. Tempatnya terletak di depan kata. Kata depan dimunculkan dalam kaitannya dengan kelas kata, bukan dalam kaitan dengan fungsinya dalam kalimat.

Kata-kata depan yang termasuk dalam kelompok di, ke, dari, antar, hingga, dan lewat berfungsi merangkaikan sebuah kata dengan kata yang lain yang menyatakan tempat atau waktu (Keraf, 1991: 108). Kata depan di- dan ke- penulisannya terpisah dengan kata yang diikutinya, sedangkan awalan di- dan ke- penulisannya serangkai dengan kata yang diikutinya.

Kata di, ke dan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

b) Penulisan Kata Ganti -ku, kau-, -mu, dan -nya

Kata gantu ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; sedang ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

c) Penulisan Kata Turunan

Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata mendapat awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

d) Penulisan Gabungan Kata

(43)

xliii e) Penulisan Unsur Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, I’exploitation de I ‘homme par I’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

f) Penulisan Huruf

Huruf adalah lambang atau gambaran dari bunyi. Alfabet atau aksara adalah rangkaian urutan huruf menurut suatu sistem tulisan. Huruf dibedakan menjadi huruf abjad, vokal, konsonan, diftong, gabungan huruf konsonan, pemenggalan kata.

Huruf yang digunakan adalah huruf latin dari a sampai z. Huruf-huruf q dan x tidak digunakan untuk menuliskan kata-kata bahasa Indonesia, kecuali untuk menuliskan nama atau istilah. Huruf-huruf yang tidak dapat menempati posisi akhir adalah c, ny, v, w, dan y.

4) Penggunaan Cetak Miring dan Garis Bawah

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2007: 12-13) menyatakan bahwa di dalam tulisan, semua kata-kata yang bukan kata-kata bahasa Indonesia seharusnya kita cetak miring atau italic, istilah yang biasa dipakai untuk itu. Kalau kita menggunakan mesin ketik, atau tulis tangan, kata-kata asing itu kita beri satu garis di bawahnya.

(44)

xliv

ditulis miring atau digaris bawah. Hanya kata-kata asing yang benar dicetak miring atau digaris bawah dalam bahasa Indonesia.

b. Pilihan Kata atau Diksi

Pilihan kata menurut Mustakim (1994: 41) adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat, sedangkan pilihan kata adalah hasil dari proses atau tindakan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa pilihan kata tidak hanya mempersoalkan apakah kata yang dianggap tepat itu dapat disesuaikan dengan konteks nilai atau norma sosial pembaca atau pendengarnya. Dari sini dapat dijabarkan bahwa diksi atau pilihan kata menyangkut dua hal yang perlu diperhatikan oleh pemakai bahasa, yakni tentang ketepatan dan kesesuaian.

Sebenarnya tentang ketepatan dan kesesuaian dalam pemilihan kata bukan hal yang sederhana. Menjelaskan permasalahan ini, Wibowo (2002: 26-34) menyampaikan bahwa ketepatan dan pemilihan kata meliputi: (1) pemahaman kata sebagai simbol, (2) pemahaman adanya struktur leksikal, (3) pemahaman makna denotatif dan konotatif, (4) pemahaman kata umum dan kata khusus, (5) pemahaman adanya perubahan makna, (6) pemahaman adanya kata asing, kata serapan, dan kata baru, dan (7) pemahaman pentingnya kelangsungan pilihan kata. Sementara tentang kesesuaian pilihan kata meliputi: (1) kesadaran terhadap eksistensi bahasa baku dan non baku, (2) kesadaran terhadap konteks sosial bahasa, (3) kesadaran terhadap eksistensi kata kajian dan kata popular, (4) kesadaran terhadap keberadaan jargon, slang, dan kata percakapan, serta (5) kesadaran terhadap keberadaan makna idiomatis.

1) Ketepatan

(45)

xlv a) Penggunaan Denotatif-Konotatif

Menurut Keraf (1981: 28) makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial, atau makn aproporsional. Disebut makna denotasional, referensial, konseptual, atau ideasional, karena makna itu menunjuk (denote) kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan; stimulus (dari pihak pembicara) dan respons (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang dapat diserap pancaindra (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna itu disebut juga makna proporsional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat aktual. Makna ini, yang mengacu dengan bermacam-macam nama, adalah makna yang paling dasar pada suatu kata. Dalam bentuk yang murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah.

Makna konotatif masih menuruf Keraf (1981: 29) disebut juga dengan makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis makna di mana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak senang dan sebagainya pada pihak pendengar; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama. b) Penggunaan Sinonim

Matthews (1997: 158) sinonim is the relation between two lexical

(46)

xlvi c) Penggunaan Verba Berpreposisi

Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu (Alwi, dkk, 2003: 95). Preposisi yang mengikuti verba tersebut sudah tentu, seperti cinta pada/akan, terbagi atas, terdiri atas/dari, bertentangan dengan, bergantung pada, dan terbuat dari.

d) Penggunaan Kata secara Ekonomis

Dalam karya tulis pasti dituntut untuk selalu menggunakan kata yang ekonomis. Kata ekonomis di sini dimaksudkan kata yang dipakai tidak berlebihan, tidak menggunakan kata-kata mubazir, dan sebagainya. Tidak jarang penggunaan kata tidak ekonomis sering digunakan, dengan tujuan untuk memperjelas suatu kalimat namun justru maksud dari kalimat tersebut tidak tersampaikan secara sempurna atau bahkan membingungkan pembaca.

2) Kesesuaian

a) Penggunaan Kata Baku

Kata baku adalah kata yang cara pengucapannya atau penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar atau kaidah yang telah dibakukan. Kaidah standar yang dimaksud dapat berupa pedoman (EYD), tata bahasa baku, kamus umum (Kosasih, 2001: 117).

b) Penghindaran Kata Cakapan

Karya tulis siswa merupakan salah satu jenis karya tulis ilmiah, maka dalam penulisannya hendaknya dihindari penggunaan kata-kata cakapan. Semua kata dalam karya tulis siswa harus merupakan kata-kata bahasa tulis. Bahasa tulis di sini yakni bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan, yaitu sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku.

c. Penyusunan Kalimat

Tentang kalimat, Akhadiah, dkk (1988: 116) mengatakan:

(47)

xlvii

disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut meliputi: (1) unsur-unsur penting yang harus dimiliki sebuah kalimat, (2) aturan-aturan tentang Ejaan yang Disempurnakan, (3) cara memilih kata dalam kalimat (diksi).

Pendapat lain dikemukakan oleh Mustakim (1994: 65). Menurutnya kalimat adalah rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, perasaan atau pikiran yang relatif lengkap. Kesimpulan dari pendapat tersebut sebagai berikut. Kalimat adalah suatu alat atau sarana untuk menyampaikan pernyataaan berupa gagasan, perasaan atau pikiran yang relatif lengkap berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku.

Kesimpulan tentang kalimat telah dirumuskan di atas, tetapi untuk lebih dalam mempelajarinya berikut adalah pengertian kalimat efektif. Parera (dalam Sabariyanto, 1992: 14) menjelaskan bahwa kalimat efektif adalah bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik.

Akhadiah, dkk (1998: 116-117) menjelaskan bahwa kalimat yang baik harus memenuhi ciri atau unsur: (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran bentuk, (3) penekanan, (4) kehematan dalam mempergunakan kata, dan (5) kevariasian dalam struktur kalimat. Pendapat berikutnya dari Wibowo (2002: 82-90) menyatakan bahwa kalimat yang baik harus memenuhi unsur atau ciri: (1) keharmonisan, (2) keparalelan, (3) ketegasan, (4) kehematan, (5) kecermatan, (6) kelogisan, dan (7) kevariasian.

Pendapat maupun pandangan tentang kalimat datang dari beberapa pakar. Pendapat mengenai kalimat, selain dari ahli di atas, masih ada dari para ahli berikut ini. Mustakim (1994: 90-107) berpendapat bahwa kalimat yang baik itu memiliki unsur antara lain: (1) kelengkapan, (2) kesejajaran, (3) kehematan, dan (4) variatif. Ahli lain memberikan pengertian tentang kalimat yang baik. Menurut keraf (dalam Sabariyanto, 1992: 14) kalimat yang baik adalah kalimat yang memiliki unsur atau ciri: (1) kesatuan pikiran, (2) kesatuan susunan, dan (3) kelogisan.

(48)

xlviii

ahli yang terakhir di atas karena lebih memusatkan pandangan pada kalimat-kalimat karya tulis yang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam media atau bentuk yang lain. Penulis mengambil contoh dari pendapat Mustakim, disebutkan bahwa salah satu unsur atau ciri kalimat yang baik adalah adanya variasi.

1) Kohesi dan Koherensi

Kohesi dan koherensi adalah dua unsur yang menyebabkan sekelompok kalimat membentuk kesatuan makna. Kohesi merujuk pada keterkaitan antar proposisi yang secara eksplisit diungkapkan oleh kalimat-kalimat yang digunakan. Koherensi juga mengaitkan dua proposisi atau lebih, tetapi keterkaitan di antara proposisi-proposisi tersebut tidak secara eksplisit dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang dipakai (Alwi, dkk, 2003: 41)

2) Kesejajaran

Menurut Suwandi (1997: 69-70) kalimat yang kurang baik dapat dilihat dari segi kesejajaran gagasan-gagasan yang ingin diungkapkan penulis. Ketidaksejajaran tersebut dapat dilihat pada contoh berikut. “Dewasa ini kesadaran wanita untuk melangsingkan tubuh, perawatan kecantikan amat gencar dipromosikan, terutama oleh produk-produk dari lusr negeri.” Kalimat tersebut tidak menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur atau konstruksi gramatikal yang sama. 3) Keekonomisan

Keekonomisan sangat erat kaitannya dengan keefektivan kalimat. Kalimat efektif adalah kalimat yang tidak banyak menggunakan kata-kata mubazir dan tidak menggunkan kata yang berkonstruksi meliuk-liuk. Sebagai contoh kalimat yang tidak efektif yaitu, “ Peran serta sponsor dalam mendukung adanya kompetisi ini adalah sangat besar sekali.” Kata sangat besar sekali seharusnya tidak digunakan, cukup menggunakan kata sangat besar atau besar sekali.

3. Pengertian Menulis

(49)

xlix

dipahami seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami lambang grafik itu. Jadi, menulis merupakan suatu kegiatan mengungkapkan informasi kepada pembaca dengan media kertas dan tinta yang menggunakan huruf-huruf (lambang-lambang grafik) sebagai sistem tanda.

Lebih jelas lagi Kurniawan (2006: 56 ) menjelaskan bahwa menulis adalah sebuah kemampuan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam kemampuan menulis yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, meliputi kosa kata, struktur, kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.

Kegiatan menulis sangat penting dalam dunia pendidikan karena dapat membantu siswa berlatih berpikir, mengungkapkan gagasan, dan memecahkan masalah. Menulis adalah salah satu bentuk berpikir, yang juga merupakan alat untuk membuat orang lain (pembaca) berpikir. Dengan menulis, seorang siswa mampu mengkonstruk berbagai berbagai ilmu atau pengetahuan yang dimiliki dalam sebuah tulisan, baik dalam bentuk esai, artikel, laporan ilmiah, cerpen, puisi, dan sebagainya. (Rosidi, 2009: 2-3).

Menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekadar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”. (Kartono, 2009: 17).

(50)

l

mengekspresikan segala pikiran, perasaan, dan sikap yang dituangkan ke dalam susunan kata atau kalimat yang runtut dan sistematis sehingga dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain (pembaca) dengan baik.

4. Pengertian Karya Tulis Ilmiah

Tulisan atau karangan pada hakikatnya merupakan organisasi ide atau pesan secara tertulis. Jika kata itu dikaitkan dengan kata ilmiah, maka hasil organisasi ide atau pesan itu disebut tulisan ilmiah. Menurut Moersaleh dan Musanef (dalam Suwandi, 1997: 97), karya ilmiah adalah suatu karya yang ditulis berdasarkan kenyataan-kenyataan ilmiah yang diperoleh sebagai hasil penelitian kepustakaan (library research) maupun penelitian lapangan (field research). Dengan kata lain, karya ilmiah merupakan suatu karangan yang membahas suatu masalah yang timbul berdasarkan teori-teori ilmiah dan data atau kenyataan yang objektif sehingga dapat dibuat suatu analisis yang menghaslkan simpulan yang benar guna menjawab permasalahan tersebut.

Dardjowidjojo (dalam Suwandi, 1997: 17) mengemukakan sejumlah ciri bahasa ilmu pengetahuan: (1) wujud bahasanya haruslah lengkap (artinya afiksasi yang di dalam ragam informal opsional, dalam bahasa ilmiah wajib), (2) kosa kata yang dipakai harus utuh, (3) menggunakan tanda baca yang tepat, (4) padat isi, bukan padat kata-kata, (5) adanya ketepatan ungkapan dan ketunggalan arti, (6) pemakaian bahasanya bersifat abstrak, (7) lebih menekankan pada peristiwa yang digambarkan (banyak ditemukan kalimat pasif), dan (8) adanya kelengkapan unsur kalimat seperti subjek dan predikat.

Gambar

Tabel
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
Tabel 1. Pembagian Waktu Penelitian
Gambar 2. Model Analisis Interaktif
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Langkah pertama sebagai acuan dasar perbandingan dengan heat exchanger rancang ulang, maka dilakukan terlebih dahulu perhitungan untuk heat exchanger yang

Tujuan khusus dalam penelitian ini, antara lain (1) Mengidentifikasi ketersediaan makanan jajanan di warung sekolah; (2) Mengidentifikasi karakteristik siswa dan

Nilai perusahaan Nilai perusahaan Nilai perusahaan Nilai perusahaan Nilai perusahaan dan kinerja perusahaan Nilai perusahaan VARIABEL INDEPENDEN Kepemilikan manajerial,

[r]

Efektivitas Penggunaan Media Lagu Berbahasa Jepang Terhadap Motivasi Belajar Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu..

© www.arithmetic4kids.com Sign up at: www.kizmath.com.

Langsung (SP2HL) atas seluruh pendapatan hibah langsung yang bersumber dari luar negeri dalam bentuk uang sebesar yang telah diterima dan belanja yang bersunber