• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Pemanfaatan Benang Obras dalam Pembuatan Lampu Hias

Hasil karya seni merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting, di samping memiliki nilai estetis karya seni juga sangat bermanfaat. Kata pemanfaatan sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara, perbuatan atau proses yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Dalam pembelajaran seni budaya terkhusus pada penciptaan karya seni rupa terapan begitu banyak cara yang dapat dilakukan oleh siswa untuk meyalurkan ide dan gagasannya baik dalam penggunaan bahan atau teknik yang digunakan, salah satunya adalah memanfaatkan benang obras menjadi lampu hias yang unik dan menarik.

Pemanfaatan benang obras dalam pembuatan lampu hias adalah salah satu cara untuk menghasilkan karya seni terapan yang memiliki nilai seni tersendiri seperti yang dihasilkan oleh siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga. Benang obras merupakan benang halus yang biasa digunakan sebagai benang jahit khusus kelim (jahitan pinggir) untuk menjaga agar bahan (kain) menjadi tidak berserabut, dan kali ini benang

30

obras akan diolah menjadi sesuatu yang berbeda. Selain pemanfaatan benang obras yang menjadi media utama dalam pembuatan lampu hias, terdapat beberapa bahan dan alat lain yang dimanfaatkan untuk melengkapi proses pembuatan lampu hias dari benang. Seperti penggunaan kain flannel, balon, lem, lampu dan beberapa alat pendukung lainya.

Gambar 3.2 Pemanfaatan Benang Obras Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016)

Dalam memanfaatkan benang obras untuk menghasilkan suatu lampu hias yang menarik dan artistik ada beberapa proses serta tahapan penting yang harus dilaksanakan yaitu:

a) Menyiapkan bahan dan peralatan

Menyiapkan bahan dan peralatan merupakan tahap awal sebelum memulai membuat lampu hias dari benang yaitu suatu proses menyediakan bahan dan alat yang sesuai, dengan benang obras sebagai media utama serta bahan dan alat pendukung lainnya yang terdiri atas

kain flannel, balon tiup, lem fox, kabel set, fitting lampu, bohlam lampu 5 watt, potongan kayu sebagai dudukan fitting, bahan PVC bulat diameter 2,5 inch dan lebar 1 cm atau bekas gulungan lakban, digunakan sebagai leher dan pembentukan lubang pada bola benang agar mudah memasukkan bohlam lampu pada proses finising, gunting, serta kuas digunakan untuk memudahkan disaat mengoleskan lem pada bagian dasar balon (cetakan).

Gambar 3.3 Bahan dan Alat pembuatan lampu hias benang obras Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016)

b) Proses lem, gulung, dan pengeringan

Tahapan ini merupakan proses yang telah memasuki tahap pengerjaan, setelah semua bahan dan alat telah tersedia maka selanjutnya siswa mengawali dengan memberikan lem pada permukaan balon, yang kemudian diteruskan pada proses pengulungan benang obras menjadi gulungan benang yang utuh dan sempurna, serta yang terakhir adalah tahap pengeringan.

Gambar 3.4 Proses pemberian lem, pengulungan, dan pengeringan.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) c) Proses pemberian leher (dudukan bola benang)

Proses ini dilaksanakan setelah gulungan benang telah kering secara sempurna, ditandai dengan perubahan tekstur benang yang mulai kaku dan mengikuti bentuk balon sebagai dasar cetakan. Selain itu proses ini juga merupakan tahap pemberian aksen pada gulungan benang agar terlihat lebih indah dan proporsional pada bentuk lampu hias yang akan dihasilkan sekaligus menjadi dudukan bagi lampu pijar yang akan di pasangkan pada tahapan finising (akhir).

Gambar 3.5 Proses melepaskan balon dari gulungan benang dan pemberian leher (dudukan bola benang).

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) d) Pembuatan pola karakter

Lampu hias benang obras, akan terlihat kurang menarik tanpa tambahan aksen yang dapat meningkatkan nilai estetis atau keindahan dari lampu hias itu sendiri, oleh sebab itu dibutuhkan suatu bahan yang

dapat memperindah gulungan benang. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah kain flannel. dimana kain flannel dapat digunakan untuk menciptkan desain atau pola karakter yang unik sesuai dengan ketertarikan siswa misalnya karakter kartun atau objek-objek yang menjadi fokus perhatian saat ini, dimana desain karakter akan dibentuk dan diggambar di atas kain flannel.

Gambar 3.6 Membuat pola karakter Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) e) Proses pembentukan karakter

Media kain flannel yang beragam dari sisi pewarnaan memudahkan siswa untuk menciptakan karakter atau tokoh-tokoh kesenangan mereka. Kain flannel dapat dikombinasikan dalam berbagai warna sehingga tercipta suatu karakter tokoh yang menarik. Setelah pembuatan pola karakter maka pola akan dibentuk mengikuti pola dasar yang telah dibuat sebelumnya yang akan ditempelkan pada bagian dasar gulungan benang.

Gambar 3.7 Proses pembentukan karakter.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016) f) Dudukan lampu dan finishing

Bola benang yang telah dibuat dengan aksen pola karakter yang unik akan hanya menjadi hiasan atau pajangan yang tidak memiliki fungsi pakai jika tidak dilengkapi dengan dudukan lampu. Dalam mengembalikan fungsi atau tujuan awal pembuatannya yaitu sebagai lampu hias yang dapat digunakan maka harus dibuat sebuah tempat pemasangan lampu pada gulungan bola benang, selain itu dudukan lampu juga dapat memberikan kesan proporsional pada bagian gulungan benang yang berbentuk bulat dikarenakan gulungan benang akan susah mendapatkan keseimbangan jika ditempatkan pada tempat tertentu, oleh sebab itu dibuat dudukan lampu sebagai dasar untuk memudahkan penempatan lampu hias jika ingin di tempatkan dimana saja.

Gambar 3.8 Dudukan lampu dan Finishing Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016)

2. Kualitas Lampu Hias dengan Menggunakan Benang Obras.

Manusia telah diciptakan dengan kelengkapan lima panca indera yang membuat manusia mampu menelaah dan menerjemahkan nilai-nilai yang ada. Salah satu nilai dan bahasa yang mampu diterjemahkan oleh lima panca indera kita adalah keindahan (estetika), jadi secara tidak lansung ketika kita ingin menciptakan suatu karya seni, nilai keindahan (estetika) menjadi salah satu patokan dan pertimbangan utama.

Berdasarkan hal tersebut lahirlah kata apresiasi. Apresiasi sendiri dapat disimpulkan sebagai sebuah penilaian terhadap kualitas karya seni dengan sisi keindahan sebagai unsur penilaian utamanya. Namun sebuah penilaian tidak hanya dapat diukur dari sisi kualitas keindahanya saja tapi juga dapat dinilai dari beberapa aspek penunjang lainnya. Kualitas sendiri merupakan sebuah ukuran akan tingkat baik buruknya sesuatu atau dengan kata lain dapat diartikan sebagai taraf atau kadar dalam sebuah penilaian.

Di dalam pembuatan lampu hias ini, benang obras memiliki tingkat kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan benang-benang pada umumnya, yaitu terdapat 3 jenis benang yang biasa digunakan dalam pembuatan lampu hias dengan media benang, contohnya lampu hias benang wol, lampu hias benang jahit dan lampu hias benang obras.

Peneliti sendiri tertarik untuk mengaplikasikan proses pembuatan lampu hias benang pada siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga, dengan bahan dasar benang obras, dikarenakan benang obras memiliki tekstur halus dan tipis sehingga gulungan benang yang dihasilkan juga akan halus dan terlihat lebih rapi. Penilaian akan kualitas lampu hias benang obras ini pun akan dipaparkan dalam bentuk penjabaran angka-angka yang berpatokan pada penilaian yang telah mereka dapatkan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang terdiri atas penilaian ide atau gagasan, penguasaan teknis, penguasaan bahan, kegunaan, wujud, kreatifitas, dan tempat. Untuk mengetahui proses pembuatan lampu hias benang obras yang terjadi di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga berdasakan aspek-aspek penilaian kualitas penjelasannya dapat dipaparkan sebagai berikut:

a) Aspek Ide atau Gagasan

Berdasarkan dari hasil proses pembelajaran yang terjadi di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga dapat dinyatakan ide dan gagasan yang terlahir dari pemikiran siswa, memiliki tingkat keunikan yang berbeda beda dari sisi krativitas, hal ini dapat terlihat dari berbagai

pemilihan karakter tokoh atau objek yang dipilih yang dapat menggambarkan ketertarikan dan kecenderungan siswa secara personal. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga lebih tertarik memikirkan ide dan gagasan untuk membuat karakter yang sering mereka lihat seperti karakter tokoh kartun atau objek-objek yang mereka senangi, dimana sekitar 95% siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga yang didominasi oleh siswa perempuan lebih dominan memikirkan ide dan gagasan untuk membuat karakter tokoh kartun yang mereka sukai dan 5% diantaranya lebih memilih membuat objek-objek abstrak yang tidak memiliki konsep yang jelas dimana siswa hanya berusaha menciptakan ide dan gagasan dengan memanfaatkan bahan dan alat yang tersedia.

Gambar 3.9 Karakter tokoh kartun Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) b) Aspek penguasaan teknis

Penguasaan teknis merupakan sesuatu yang sangat penting karena teknik adalah cara untuk mewujudkan ide menjadi hal-hal yang kongkrit dan punya nilai, selain itu ketidakterampilan dalam

penggunaan teknik akan berdampak pada karya yang akan dihasilkan.

Berdasarkan hal tersebut dominan penguasaan teknik yang terjadi pada siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga cukup sesuai dengan aturan atau tahapan yang benar, hal ini dikarenakan dengan pemberian pemahaman terlebih dahulu kepada siswa secara teori sebelum memasuki tahap praktek yang sesungguhnya, yaitu sekitar 70% siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga dapat mengerjakan pembuatan lampu hias tersebut dengan penguasaan teknis yang baik karena telah mengikuti aturan dan arahan yang diberikan. Walaupun tetap terdapat sekitar 30% siswa yang didominasi siswa laki-laki memperoleh halangan atau hambatan di dalam proses pembuatan lampu hias dari benang, dikarenakan tidak mengikuti aturan dan tahapan yang tepat, baik dalam kesalahan memanfaatkan bahan, proses pengerjaan yang terlalu terburu buru, serta kesalahan awal memulai dengan tahap yang kurang tepat.

Gambar 4.1 Penguasaan teknis Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016)

c) Aspek penguasaan bahan

Bahan merupakan media untuk mewujudkan ide dan gagasan menjadi sebuah karya seni, begitupun dengan bahan yang disiapakan oleh siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga telah sesuai dengan tuntunan yang tepat untuk membuat lampu hias dari benang obras, dimana sekitar 85% siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga telah menyiapkan bahan dan alat yang benar yang terdiri atas kain flannel, balon tiup, lem fox, kabel set, fitting lampu, bohlam lampu 5 watt, potongan kayu, bekas gulungan lakban, gunting, serta kuas.

Berdasarkan bahan dan alat tersebut proses pembuatan lampu hias di kelas XI IPA 7 dapat berjalan dengan cukup lancar. Walaupun masih ada sekitar 15% siswa yang membawa bahan dan alat yang salah, seperti benang wol untuk membantu memudahkan siswa di dalam proses pengulungan serta masih ada beberapa siswa yang tidak melengkapi lampu hias benangnya menggunakan lampu pijar sebagai salah satu media utamanya.

d) Aspek kegunaan

Berdasarkan hakekatnya sebagai bagian dari seni rupa terapan, lampu hias benang obras memiliki kegunaan sebagai alat penerangan yang diperindah dengan aksen pola karakter yang menarik. Kegunaan lampu hias yang di buat oleh siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga sekitar 95% lampu hias benang obras digunakan sebagai lampu tidur oleh siswa sendiri dimana siswa telah memahami

kegunaan utama dalam pembuatan lampu hias ini dan 5% diantaranya tidak dapat menggunakan lampu hias benang ini karena tidak dilengkapi lampu pijar sebagai salah satu media utama. Selain kegunaan utamanya sebagai alat penerangan lampu hias benang obras juga dapat memberikan unsur kenyamanan dari sisi keindahan orang yang melihatnya serta dari sisi keamanan pemakaipun, telah dipertimbangkan sejak awal pembuatannya.

Gambar 4.2 Kegunaan sebagai lampu hias.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016) e) Aspek wujud

Aspek wujud berhubungan erat dengan prinsip-prinsip komposisi yang meliputi proporsi, keseimbangan, irama, kontras, klimaks dan kesatuan. Berdasarkan hal tersebut bentuk lampu hias yang dihasilkan oleh siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga sebagian besar memiliki kecenderungan terhapat prinsip-prinsip komposisi yang telah ada sehingga tercipta lampu hias yang menarik dan indah dimana sekitar 90% siswa telah membuat lampu hias yang memiliki prinsip-prinsip komposisi seperti proporsi, keseimbangan, irama, kontras, klimaks dan kesatuan yang cukup baik hal ini dapat dilihat dari bentuk

gulungan bola benang yang rapi, pola karakter yang menarik dan yang terpenting adalah lampu hias dapat digunakan sebagai alat penerangan sebagaimana tujuan awal pembuatannya. Walaupun demikian masih terdapat beberapa siswa yang kurang menerapkan prinsip-prinsip komposisi yaitu sekitar 10% siswa memiliki bentuk lampu hias yang kurang baik dari sisi gulungan benang yang kurang rapi, pola karakter yang tidak terkonsep serta lampu hias yang tidak dlengkapi dengan dudukan lampu (leher lampu) dan lampu pijar.

Gambar 4.3 Bentuk lampu hias yang baik dan kurang baik Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016)

f) Aspek kreatifitas

Banyak cara untuk menemukan kreatifitas baik dalam penggunaan bahan, alat dan teknik yang berbeda dari yang lainnya. Kreatifitas yang terjadi pada siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga dapat dilihat dari sisi pembentukan karakter yang unik dengan memadukan berbagai macam warna kain flannel untuk menciptakan karakter-karakter tokoh yang siswa senangi selain itu kreatifitas siswa juga dapat dilihat dari sisi penggunaan teknik yang mereka laksanakan dimana siswa mencoba mencari alternatif lain yang dapat

memudahkan disaat proses pembuatannya, pemikiran seperti inilah yang disebut dengan kreatifitas, yaitu sekitar 85% siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga memiliki tingkat kreatifitas yang cukup baik hal ini dapat dilihat dari pengolahan bahan, pengunaan teknik serta penciptaan ide dan gagasan yang cukup baik, selain itu sekitar 15% siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga kurang termotifasi untuk mengembankan kreatifitasnya dalam proses pembuatan lampu hias benang ini sehingga lampu hias yang dihasilkan menjadi kurang menarik dari berbagai sisi.

Gambar 4.4 Kreatifitas siswa dalam menggunakan bahan dan alat Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016)

g) Aspek tempat

Lampu hias benang merupakan lampu hias yang menarik walaupun demikian kebanyakan yang tertarik terhadap lampu hias benang ini adalah kalangan remaja dikarenakan bentuk lampunya yang unik dengan desain pola karakter yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini oleh sebab itu lampu hias benang tidak cocok ditempatkan ditempat-tempat formal seperti ruang tamu dan ruang keluarga dan lebih pantas diletakkan di dalam kamar sebagai lampu tidur yang unik.

Oleh karenanya kebanyakan siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga membuat lampu hias benang obras untuk dijadikan sebagai lampu tidur yang ditempatkan di dalam kamar. Melalui tahap wawancara terhadap siswa sekitar 97% siswa telah memahami dan cukup mengerti tentang tata cara penempatan objek yang benar begitupun dengan penempatan lampu hias benang obras, dan sekitar 3% siswa masih ada yang kurang memahami tata cara penempatan lampu hias ini dengan benar hal ini diketahui berdasarkan pengakuan siswa yang meletakkan lampu hias yang mereka buat di ruang-ruang formal seperti ruang tamu dan ruang keluarga.

Selain hasil aspek penilaian kualitas yang telah dilaksanakan oleh siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga, hasil penilaian akan kualitas lampu hias dari benang obras dengan berpatokan pada indikator pencapaian kompetensi dapat dipaparkan dalam tabel sebagai berikut, adapun Fasiltator yang ditunjuk untuk untuk memfasildasi kriteria pada tugas siswa yaitu:

Nama : Taslim, S.Pd.

Pekerjaan : Guru Seni Budaya SMA Negeri 1 Pallangga.

Alamat : Jln Baso Dg Ngawing kecamatan Manggali Kabupaten Gowa

Tabel 2.2 Penilaian kualitas pembuatan lampu hias kelas XI IPA 7

6.

Risky Awaliyah

80 70 70 80 75 80 75 75 Baik

7.

Muh Ulil Amri

75 90 80 75 90 80 70 80 Baik

8.

Tuti Awaliyah

80 65 75 75 80 85 80 77 Baik

9.

Febriyanti

90 95 80 85 80 95 75 85 Sangat baik

10.

Wahyuni

85 75 75 70 80 85 80 78 Baik

11.

Nurul Hasbi

80 75 75 80 80 85 75 78 Baik

12.

Wulan Mawardika

75 80 70 75 80 85 65 75 Baik

13.

Muh Nur Rahmat S.

65 60 60 80 65 60 70 65 Cukup

14.

Siti Sulaeha

75 70 70 70 80 80 65 72 Baik

15.

Munawir

75 70 80 75 75 88 75 76 Baik

16.

Adinda Lutfiah H.

65 68 70 75 80 75 75 72 Baik

17.

Ardiansyah

55 60 55 70 65 65 70 62 Cukup

18.

Nur Fajri Qadri H.

85 95 80 90 90 95 80 87 Sangat baik

19

Muh Ghalib

70 75 60 70 60 60 65 65 Cukup

20.

Alvira

75 70 65 80 75 80 70 73 Baik

21.

Nindyah Ariyani

75 80 70 75 75 85 70 75 Baik

22.

Ayu Istiawanti

75 90 70 80 80 90 70 79 Baik

23.

Indra Wira

75 65 65 70 65 65 70 67 Cukup

24.

Andi Supriadi

70 60 60 70 65 65 70 65 Cukup

25.

Rahmi

70 75 70 75 70 75 70 72 Baik

Tabel 3.1 Keterangan Gambar:

No Aspek-aspek penilan kualitas Keterangan 1. Aspek ide dan gagasan 1

3. Faktor-faktor yang Menghambat Proses Pemanfaatan Benang Obras dalam Pembuatan Lampu Hias.

Segala sisi kehidupan manusia tidak akan terlepas dari faktor penghambat yang harus dilewati dan diselesaikan. Begitupun dalam penciptaan sebuah karya seni biasanya terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat proses pengerjaan sebuah karya, baik dari sisi penggunaan bahan, kesalahan teknis atau hambatan lainnya. Kata faktor sendiri dapat diartikan sebagai hal atau kejadian yang ikut menyebabkan terjadinya

sesuatu, sedangkan kata menghambat adalah sesuatu yang membuat harus berlansung cukup lama dalam menemukan bentuk yang benar-benar mereka senangi, sehingga proses pengerjaan ke tahap selanjutkan menjadi tertunda .

b) Aspek penguasaan teknis

Siswa yang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda didukung dengan sifat dan karakter yang berbeda pula membuat proses pembelajaran menjadi begitu menarik walaupun demikian hal ini dapat menjadi suatu faktor yang menghambat di dalam proses pembelajaran, terkhusus dalam penciptaan sebuah karya seni rupa terapan, dimana sebagian siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga kurang memperhatikan aturan yang tepat di dalam membuat lampu hias dari benang ini. Siswa yang memiliki tingkat pemahaman

berbeda mencoba mencari alternatif lain di dalam proses pengerjaan lampu hias benang, sehingga hasil karya yang dihasilkan juga tidak terlalu baik dibandingkan siswa yang mengikuti tahapan dan arahan yang benar.

c) Aspek penguasaan bahan.

Ada beberapa hal yang terjadi pada siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga yang berhubungan dengan aspek penguasaan bahan yaitu antara lain:

1. Pemilihan balon yang salah dan kualitas benang obras yang tipis.

Balon sebagai cetakan utama dalam membuat gulungan benang terkadang memiliki tingkat kualitas yang tidak terlalu baik. Hal ini dapat terlihat dari permukaan balon yang sangat tipis dan tidak bulat sempurna sehingga disaat proses pengeringan, balon dengan kualitas seperti ini dapat dengan mudah pecah atau kempes dan membuat ukuran awal cetakan balon berubah mengecil yang mengakibatkan benang obras yang belum kering secara sempurna akan mengikuti ukuran balon yang berubah. Hal ini yang menyebabkan biasanya tekstur benang menjadi tidak rapi atau rusak.

Benang obras yang memiliki tekstur yang halus dan tipis juga ikut menyulitkan siswa di dalam proses pengerjaannya, disaat proses pengulungan, permukaan balon menjadi sangat licin dengan lumuran lem fox yang telah dicampur sedikit air. Tekstur

benang obras yang sangat tipis juga ikut mengecil setelah terkena lumuran lem yang semaking menyulitkan siswa. Selain itu waktu yang diperlukan untuk mengulung benang agar balon tertutupi secara sempurna juga memerlukan waktu yang relatif lama dan tidak dapat dikerjakan secara perseorangan.

Gambar 4.5 Motif Balon yang ikut menempel pada benang.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Maret 2016)

Gambar 4.6 Proses pengulungan yang relativ lama.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) 2. Kesalahan memadukan benang obras dan benang wol

Benang obras yang memiliki tekstur yang tipis dan halus membuat proses pengulungan benang menjadi cukup lama, sebagian siswa yang memiliki tingkat kejenuhan yang cukup tinggi membuat siswa mencari alternatif lain yang dapat membuat

mereka tidak harus mengulung benang terlalu lama salah satu alternatif yang bisa diambil adalah memadukan antara benang obras dan benang wol .

Benang wol yang memiliki serat yang cukup tebal membuat proses pengulungan menjadi cepat dan setelah dirasakan bahwa gulungan benang wol sudah tebal maka akan dilanjutkan proses pengulungan menggunakan benang obras pada permukaan luarnya. Tapi hal ini akan membuat persoalan baru dikemudian hari dikarenakan disaat lampu hias telah memasuki tahap finising dan dinyalakan maka akan nampak bayangan benang wol yang tebal disisi benang obras yang halus, sehingga tidak terlihat rapi.

Hal ini yang mengurangi sisi keindahan dari lampu hias benang.

Gambar 4.7 Benang Wol sebagai dasar lampu hias.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016)

Gambar 4.8 Benang wol ikut menempel pada permukaan balon.

Sumber: (Foto Delvika Dinri: Februari 2016) d) Aspek kegunaan

Hambatan yang terjadi sehubungan dengan aspek kegunaan pada siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga cenderung tidak memiliki hambatan yang terlalu berat, hal tersebut dikarenakan siswa sudah memahami sejak awal bahwa lampu hias benang obras merupakan lampu hias yang dapat digunakan sebagai penerangan dan juga dapat dinikmati keindahannya berdasarkan bentuk lampu hiasnya yang menarik dan unik.

e) Aspek wujud

Aspek wujud sangat berhubungan dengan prinsip-prinsip komposisi dimana aspek ini sangat memfokuskan pada bentuk keindahan luar dari sebuah karya seni. Hambatan yang terjadi dalam proses pembentukan lampu hias biasanya terjadi diawal proses pengerjaan yang membuat bentuk lampu hias menjadi tidak rapi. Hal ini lah yang terjadi pada beberapa siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1

Pallangga dikarenakan proses pengerjaan awal yang kurang tepat misalnya proses gulungan benang yang salah, balon yang tiba-tiba pecah mengakibatkan bentuk atau wujud gulungan benang menjadi rusak.

f) Aspek kreatifitas

Perkembangan zaman membuat siswa lebih berfikiran kreatif akan hal-hal yang akan mereka ciptakan, kaitannya dalam penciptaan lampu hias benang obras siswa yang telah mendapatkan ide dan gagasan akan karakter tokoh yang akan mereka buat dapat segera mengerjakan proses pembuatan lampu hias benang ini. Walaupun tidak terdapat hambatan yang cukup signifikan yang dihadapi oleh siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga namun kreatifitas

Perkembangan zaman membuat siswa lebih berfikiran kreatif akan hal-hal yang akan mereka ciptakan, kaitannya dalam penciptaan lampu hias benang obras siswa yang telah mendapatkan ide dan gagasan akan karakter tokoh yang akan mereka buat dapat segera mengerjakan proses pembuatan lampu hias benang ini. Walaupun tidak terdapat hambatan yang cukup signifikan yang dihadapi oleh siswa di kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Pallangga namun kreatifitas