• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.5 Penggunaan Dana Hasil Ganti Rugi

4.5.2 Pemanfaatan Dana yang Konsumtif Untuk Digunakan

Tidak semuanya masyarakat Desa Simpang Kopi yang mendapat ganti rugi mengguinakan uangnya untuk yang produktif saja, sebagian masyarakat yang terkena pengadaan tanah menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang untuk digunakan sendiri, bukan dimanfaatkan untuk dijadikan penambahan penghasilan.

Contohnya seperti Nenek Amila: Nenek Amila adalah salah satu warga Desa Simpang Kopi yang rumah yang di huninya terkena pembangunan jalur kereta api. Rumahnya berukuran 11×10 dan tanahnya selebar 180 meter, per meter dibayar dengan jumlah Rp 3000.000.00,-. Uang dari tanahnya senilai Rp. 540.000.000.00-, dan rumahnya dibayar secara global, yaitu pihak PT KAI melihat dari kondisi rumah

dan seberapa lama bangunan itu dihuni.Rumah Nenek Amila adalah bangunan semi permanen rumahnya setengah batu dan setengahnya lagi papan, rumah Nenek Amila sudah lama dihuni sejak beliau menikah dengan suaminya. Rumah beliau dihargai dengan harga senilai Rp. 320.000.000.00,-. Rumah beliau telah lama dihuni, dan beliau mendapatkan dana konpensasi senilai Rp. 200.000.000.00,-, dan adapun tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang dihargai oleh pihak PT KAI yaitu:

1. Pohon Jambu 2 Pohon : Setiap pohonnya dihargai Rp. 80.000.00,-. Jadi, Rp. 80.000.00,-×2 = Rp. 160.000.00,-

2. Pohon Rambutan 1 Pohon : Setiap pohonnya dihargai Rp. 450.000.00,- Total dari uang tanamannya senilai Rp. 610.000.00,-. Jadi, Nenek Amila mendapatkan uang dari proses ganti rugi rumahnya, tanahnya, dan tanamannya adalah senilai Rp. 1.060.610.000.00,-. Nenek Mila telah menggunakan uang dari proses ganti rugi tersebut. Adapun perincian pengeluaran uangnya yaitu sebagai berikut:

Tabel 10

Jumlah Uang dan Uang yang Dipergunakan No Uang yang Digunakan Jumlah Uang Peruntukan

1. Membangun Rumah Rp. 200.000.000.00,- Konsumtif 2. Memberi Anaknya Rp. 400.000.000.00.- Konsumtif

Jumlah Rp. 600.000.000.00,- Sumber : Data Primer 2016

Uang yang digunakan Nenek Mila tidak terlalu banyak untuk membeli barang- barang, Nenek Mila hanya membangun rumah sebagai pengganti dari rumahnya yang terkena pembangunan jalur kereta Bandar Tinggi Kuala Tanjung, Nenek Mila memberi uang kepada anak-anaknya sebanyak 8 orang dengan, uang yang diberikan beliau untuk anak-anaknya senilai Rp. 50.000.000.00,- perorangnya. Dan selebih uangnya ditabung dan untuk pengobatan masa tuanya yang sekarang sakit-sakitan karena umurnya sudah cukup tua.Beliau mengatakan bahwa beliau bersyukur mendapatkan uang ini karena umurnya sudah tua dan sering sakit-sakitan, beliau tidak ingin menyusahkan anak-anaknya jika beliau sakit, jadi dengan menabung uang inilah jika beliau sakit. Seperti yang dikatakan beliau:

“allhamduliullah tenan nak, deloklah nenek wes tuek nenek orak kepengen nyusahke anak-anak nenek, duet ikulah nenek simpen gawe berobat nek nenek saket (artinya: allhamdullilah sekali nak, lihatlah nenek sudah tua gak ingin nyusahkan anak-anak nenek, uang itulah nenek simpan untuk berobat nenek sakit).

(Sumber: Wawancara Tanggal 1 Agustus 2016)

Selanjutnya yaitu Ibuk Asni yang hanya menggu nakan uangnya untuk seperlunya saja, beliau tidak berusaha dengan uang ganti rugi atas rumahnya untuk menambah penghasilannya. Ibuk Asni adalah salah satu warga Desa Simpang Kopi yang rumah yang di huninya terkena pembangunan jalur kereta api. Rumahnya berukuran 11×10 dan tanahnya selebar 270 meter per meter dibayar dengan jumlah Rp 3000.000.00,-. Uang dari tanahnya senilai Rp. 810.000.000.00,-, dan rumahnya dibayar secara global, yaitu pihak PT KAI melihat dari kondisi rumah dan seberapa lama bangunan itu dihuni. Rumah Ibuk Asni adalah bangunan permanen tetapi

didapurnya setengah batu dan atasnya papan, rumah Ibuk Asni sudah lama dihuni karena rumah beliau merupakan rumah warisan dari Almarhum orang tuanya, dan adapun tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang dihargai oleh pihak PT KAI yaitu:

1. Pohon Sawo 1 Pohon : Satu pohonnya dihargai Rp. 250.000.00,- 2. Pohon Asam Belimbing 1 Pohon : Satu pohonnya dihargai Rp. 40.000.00,- 3. Pohon Jambu 1 Pohon : Satu pohonnya dihargai Rp. 80.000.00,-

Jadi pihak PT KAI membayar rumahnya sebesar Rp. 450.000.000.00,- dan dana kompensasi sebesar Rp. 200.000.000.00,-. Dari harga tanaman mendapatkan Rp. 370.000.00,-. Jadi jumlah keseluruhan yang didapat Ibuk Asni adalah senilai Rp 1.460.370.000.00,-. Karena tanah dan rumah tersebut adalah tanah milik dari Almarhum orang tuanya, maka uang tersebut harus dibagi lagi dengan saudar-saudara kandungnya yang sebanyak 10 orang, jadi uang tersebut harus dibagi 11.Karena Ibuk Asni yang mengurus rumah warisan Almarhum orang tuanya, maka Ibuk Asni mendapatkan uang yang lebih banyak dari saudara-saudaranya. Jadi jumlah uang yang ibuk Asni dapatkan adalah Rp. 250.000.000.00,- Adapun uang dari ganti rugi atas rumah dan tanahnya yang telah digunakan untuk keperluan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 11

Jumlah Uang dan Uang yang Dipergunakan No Uang yang Digunakan Jumlah Uang Peruntukan

1. Membangun Rumah Rp. 150.000.000.00,- Konsumtif 2. Memberi Anaknya Rp. 60.000.000.00,- Konsumtif

Jumlah Rp. 210.000.000.00,- Sumber : Data Primer 2016

Uang yang digunakan Ibuk Asni dari proses ganti rugi yaitu Ibuk Asni membangun rumah kembali di daerah Tebing Tinggi yang jaraknya tidak jauh dari rumah beliau sebelumnya, beliau juga memberi anak-anaknya uang dari ganti rugi tanah. Sisa uangnya ditabung oleh beliau untuk kehidupannya kedepan. Uang beliau hanya digunakan sebatas ini saja, beliau lebih mengutamakan untuk menabung uangnya untuk kehidupannya kelak. Seperti yang beliau katakan:

“ibuk gak mau yang macem-macem dek, Cuma untuk bangun rumah ibuk lagi terus ngasig sedikit-sedikit untuk anak ibuk aja uda. Selebihnya ibuk tabung aja duitnya dek untuk kehidupan ibuk kedepan dek”

(Sumber: Wawancara Tanggal 23 Juli 2016)

Dan yang terakhir bapak Suparman yang uangnya juga hanya digunakan untuk dikonsumsi sendiri.Bapak Suparman adalah salah satu warga Desa Simpang Kopi yang rumah yang di huninya terkena pembangunan jalur kereta api. Rumahnya berukuran 20×12 dan tanahnya selebar 500 meter per meter dibayar dengan jumlah Rp 3000.000.00,-. Uang dari tanahnya senilai Rp. 1.500.000.000.00,-, dan rumahnya dibayar secara global, yaitu pihak PT KAI melihat dari kondisi rumah dan seberapa

lama bangunan itu dihuni. Rumah beliau cukup besar, dan rumah beliau bangunan permanen keseluruhannya.Rumah Beliau bisa dikatakan kondisi yang cukup mewah. Pihak PT KAI membayar ganti rugi rumahnya sebesar Rp. 692.000.000.00,- . dan dana kompensasi senilai Rp. 200.000.000.00,-. Adapun tanaman yang terdapat diatas tanah rumah Bapak Suparman yaitu:

1. Pohon Mangga 1 pohon : Setiap pohonnya dihargai Rp. 250.000.00,- 2. Pohon Jambu 1 Pohon : Setiap pohonnya dihargai Rp. 40.000.00,-

Total keseluruhan yang Bapak Suparman dapatkan dari tanamannya adalah senilai Rp. 290.000.00,-. Jadi, total keseluruhan yang Bapak Suparman terima adalah senilai Rp. 2.392.290.000.00,-. Adapun pengeluaran yang Bapak Suparman dari uang ganti rugi atas tanah dan rumahnya yang digunakan keperluannya, dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 12

Jumlah Uang dan Uang yang Dipergunakan

No Uang yang

Digunakan

JumlahUang Peruntukan

1 Membangun Rumah Rp. 450.000.000.00,- Konsumtif

2 Umroh Rp. 53.000.000.00,- Konsumtif

3 Memberi Anaknya Rp. 500.000.000.00,- Konsumtif Jumlah Rp. 1.003.000.000.00,-

Uang Bapak Suparman dari proses ganti rugi atas tanah dan rumahnya digunakan untuk membangun rumahnya kembali. Keadaan rumah beliau sekarang semakin membaik atau dapat dikatakan cukup mewah dari sebulumnya, dan bagi beliau ini kesempatan beliau untuk membangun rumah yang mewah karena uangnyapu sangat-sangat mencukupi.Beliau juga pergi Umroh bersama isterinya, karena beliau berangan-angan ingin berangkat umroh, dan dengan kesempatan inilah beliau bisa mencapai keinginannya yaitu berangkat umroh dengan isterinya. Seperti yang dikatakan beliau:

“dulu bapak dan ibuk pingin kali pergi umroh tapi uang kami belum ada dek, sekarang bisalah kami pergi karena ada uang kami dari ganti rugi rumah kami sampai-sampai kami bisa sekaligus pergi sama-sama, memang rezeki mendadaklah dek”.

(Sumber: Wawancara Pada Tanggal 4 Agustus 2016)

Selanjutnya, beliau memberikan sebagian anaknya sebanyak 5 orang.perorang anaknya diberi senilai Rp. 100.000.000.00,-. Uangnya digunakan oleh anaknya ada yang untuk membangun rumah, karena sebelumnya anak beliau masih ada yang menyewa rumah untuk tempat tinggalnya, selebih uangnya ditabung untuk kehidupan kedepan keluarganya.Dan dengan kesimpulannya, pembangunan ganti rugi sangat menguntungkan bagi bapak Suparman dan keluarganya. Beliau sama sekali tidak keberatan dengan diadakannya pembangunan jalur kereta api yang mengorbankan rumahnya, karena nilai ganti rugi jauh lebih menguntungkan baginya, beliau bisa membangun rumahnya kembali, beliau bisa pergi Umroh bersama isterinya, beliau bisa membeli tanah yang dapat menambah penghasilan ekonomi keluarganya, bahkan beliau juga bisa membantu kehidupan anak-anaknya.

4.6 Perubahan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pembangunan Jalur Kereta

Dokumen terkait