• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Limbah Tanaman Pangan sebagai Pakan Ternak Ruminansia

Keadaan Umum Peternak

Berdasarkan survei terhadap 396 responden (Lampiran 18) di empat kabupaten lokasi penelitian meliputi kabupaten Bantaeng (95 peternak), Wajo (96 peternak), Polmas (100 peternak), dan Barru (105 peternak) dapat diketahui keadaan umum peternak responden yaitu umur peternak, tingkat pendidikan, pekerjaan utama, dan pengalaman beternak, seperti disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22 Keadaan umum peternak responden

Jumlah

Uraian Responden

(orang) %

Tingkatan umur (tahun)

<20 0 0.00

21-30 17 4.29

31-40 113 28.54

41-50 183 46.21

>50 83 20.96

Tingkat pendidikan

Tidak tamat SD 88 22.22

Tamat SD 131 33.08

Tamat SLTP 110 27.78

Tamat SLTA 61 15.40

Tamat Perguruan tinggi 6 1.52

Pekerjaan utama

Petani 335 84.60

Pegawai 14 3.54

Pensiunan 7 1.77

Pedagang 31 7.83

Ibu rumah tangga 9 2.27

Pengalaman beternak (tahun)

<10 85 21.46

10-20 228 57.58

21-30 68 17.17

>30 15 3.79

Ditinjau dari karakteristik umur, peternak berada pada kisaran umur 21-65 tahun dengan rata-rata berumur 44.6 tahun. Tabel 22 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok tingkatan umur peternak, sebanyak 46.21% atau 183 responden berumur antara 41-50 tahun, 28.54% berumur 31-40 tahun, 4.29%

berumur 4.29%, serta sebanyak 20.96% berumur diatas 50 tahun dan tidak ada peternak yang berumur dibawah 20 tahun. Bila dikaji dari karakteristik umur di atas, sebagian besar peternak dalam kategori usia yang produktif. Faktor umur biasanya lebih diidentikkan dengan produktivitas kerja, dan jika seseorang masih tergolong usia produktif ada kecenderungan produktivitasnya juga tinggi. Chamdi (2003) mengemukakan, semakin muda usia peternak (usia produktif 20-45 tahun) umumnya rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan minat untuk mengadopsi terhadap introduksi teknologi semakin tinggi.

Sementara itu, ditinjau dari tingkat pendidikan formal terdapat variasi dari yang terendah tidak tamat sekolah dasar dan tertinggi tamat perguruan tinggi.

Tingkat pendidikan peternak didominasi oleh tidak tamat dan tamat sekolah dasar (55.30%), selebihnya tamat sekolah lanjutan pertama dan atas masing-masing 27.78% dan 15.40%, dan hanya 1.52% yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang ditempuh peternak relatif masih rendah, sehingga dapat menyebabkan adopsi teknologi peternakan yang dapat diserap oleh peternak tidak maksimal. Syafaat et al. (1995) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan peternak maka akan semakin tinggi kualitas sumberdaya manusia, yang pada gilirannya akan semakin tinggi pula produktivitas kerja yang dilakukannya. Oleh karena itu, dengan semakin tingginya pendidikan peternak maka diharapkan kinerja usaha peternakan akan semakin berkembang.

Hal yang cukup menarik untuk dikemukakan adalah masih tingginya jumlah peternak yang tidak menyelesaikan pendidikan formal sekolah dasar yaitu 22.22% atau 88 responden. Dilain pihak, hanya 1.52% peternak yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang demikian dapat diasumsikan bahwa kemampuan peternak untuk mengetahui dan mengadopsi suatu keterampilan dalam rangka pengembangan usaha ternak akan mengalami kendala dan kesulitan. Chamdi (2003) menyatakan bahwa dengan

tingkat pendidikan akan menambah pengetahuan dan keterampilan sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja dan akan menentukan keberhasilan usaha ternak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemeliharaan ternak masih menjadi usaha sambilan bagi para peternak. Hal ini terbukti berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar peternak mempunyai status pekerjaan tetap sebagai petani (84.60%) yaitu sebanyak 335 responden, sedangkan selebihnya berstatus non petani jumlahnya sebanyak 15.40% dengan status pekerjaan utama sebagai pegawai, pensiunan, pedagang, dan ibu rumah tangga. Namun demikian, berdasarkan hasil penelitian Munier (2003) menunjukkan, umumnya usaha utama peternak adalah sebagai petani dengan bertanam padi, palawija, sayuran dan lainnya, tetapi kenyataannya ditingkat peternak bahwa hasil penjualan ternak cukup memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarganya terutama untuk menyekolahkan anak. Soedjana (1993) menyatakan, umumnya penduduk pedesaan mencurahkan perhatiannya pada usaha pokoknya yaitu sebagai petani sehingga pemeliharaan ternaknya kurang diperhatikan. Hal ini disebabkan karena sebagian usaha peternakan dilakukan sebagai usaha sambilan sehingga perhatian peternak terhadap usaha peternakannya kurang baik. Dilain pihak, Priyanti et al.

(1989) menyatakan bahwa meskipun usaha ternak sebagai usaha penunjang tetapi kenyataannya memberikan sumbangan yang besar bagi pendapatan peternak.

Hasil penjualan produk-produk pertanian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sebagian untuk kebutuhan konsumsi.

Berdasarkan tingkat pengalaman peternak, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki pengalaman beternak 10-20 tahun (57.58%) dari total responden, dengan rata-rata pengalaman beternak sekitar 14.5 tahun. Selain itu, sebanyak 21.46% yang berpengalaman dalam beternak kurang dari 10 tahun, 17.17% berpengalaman beternak 21-30 tahun, dan yang berpengalaman diatas 30 tahun hanya 3.79%. Umumnya pengalaman beternak diperoleh dari orang tuanya secara turun-temurun. Dengan pengalaman beternak yang cukup lama memberikan indikasi bahwa pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak mempunyai kemampuan yang lebih baik.

Pemeliharaan Ternak dan Pemberian Pakan

Hasil penelitian mengenai pemeliharaan ternak (Tabel 23) menunjukkan bahwa pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh peternak sebagian besar (71.21%) dengan cara tradisional. Cara pemeliharaan tradisional adalah ternak dilepas sepanjang hari, dan dilepas siang hari kemudian diikat pada malam hari, masing-masing proporsi peternak yang melakukan cara pemeliharaan demikian masing-masing 38.63% dan 32.58%. Menurut Davendra dan Burns (1994), bahwa sistem pemeliharaan ternak di pedesaan pada umumnya secara tradisional dan belum menggunakan teknologi dalam manajemen pemeliharaannya.

Tingginya jumlah peternak melepas ternaknya sepanjang hari (38.63%) dilakukan dengan beberapa alasan, seperti lahan masih tersedia untuk tempat melepas ternak dan hijauan masih tersedia terutama dimusim penghujan, dan keamanan ternak lebih terjamin jika dilepas (berpencar), termasuk di malam hari daripada jika dikandangkan. Alasannya, jika pada malam hari ternak dikandangkan pencurian ternak lebih mudah dan memungkinkan pencurian dalam jumlah yang lebih banyak. Berbeda jika dilepas begitu saja, pencurian akan sulit dilakukan karena membutuhkan waktu untuk mengumpulkan ternak. Sembiring et al. (2002) memberikan solusi untuk mengatasi pencurian ternak adalah peternak mengupayakan adanya kandang kelompok (kolektif), yaitu sistem pemeliharaan dengan membuatkan kandang secara berkelompok dalam suatu areal. Dalam penerapan sistem kandang kelompok, peternak tidak hanya memperoleh rasa aman dalam beternak tetapi manajemen pemeliharaan ternak akan lebih mudah.

Jumlah peternak yang mengandangkan ternak jumlahnya lebih rendah yaitu 28.79% (114 peternak), dengan cara dikandangkan pada malam hari saja (semi intensif) sebanyak 66 peternak, dan ternak dikandangkan sepanjang hari (intensif) sebanyak 48 peternak atau 12.12% dari seluruh responden. Namun ada persepsi yang berbeda dengan peternak yang melepas ternaknya sepanjang hari.

Bagi peternak yang mengandangkan ternak sepanjang hari, dilakukan dengan alasan bahwa dengan dikandangkan sepanjang hari akan mempermudah dalam pemberian pakan dan perawatan ternak, sedangkan bagi peternak yang mengkandangkan ternaknya hanya pada malam hari saja beralasan bahwa ternak lebih aman dari pencurian karena akan lebih mudah dalam pengawasannya.

Pandangan peternak dalam melihat dan mengantisipasi resiko pencurian ternak berbeda-beda, namun masing-masing peternak memiliki keyakinan dengan cara pemeliharaan yang dilakukan.

Tabel 23 Cara pemeliharaan ternak dan pemberian pakan

Jumlah

Dilepas sepanjang hari 153 38.63

Dilepas siang hari dan diikat malam hari 129 32.58

Dikandangkan sepanjang hari 48 12.12

Dikandangkan pada malam hari saja 66 16.67

Sistem pemberian pakan

Merumput di sawah, kebun, pekarangan 150 37.88

Merumput di padang penggembalaan 32 8.08

Merumput di sawah, kebun, pekarangan, diberi

rumput potongan 214 54.04

Jenis hijauan pakan yang diberikan

Hanya rumput 191 48.23

Rumput dan daun-daunan 55 13.89

Rumput dan limbah tanaman pangan 113 28.54

Rumput, daun-daunan, limbah tanaman pangan 37 9.34

Jenis pakan tambahan yang diberikan

Dedak 184 46.46

Garam 71 17.93

Dedak dan garam 69 17.42

Tidak menggunakan pakan tambahan 72 18.18

Ketersediaan hijauan pakan

Selalu tersedia 151 38.13

Fluktuasi atau musiman 245 61.87

Cara pemeliharaan ternak yang telah disebutkan di atas, sangat terkait dengan sistem pemberian pakan. Sebagian besar peternak yaitu 91.92% atau 364 responden melepas ternak untuk memperoleh pakan di sawah, kebun dan pekarangan. Peternak yang memberikan pakan bagi ternaknya dengan mengarit

rumput atau memberi rumput potongan adalah peternak yang melakukan pengandangan ternak sebanyak 114 responden (28.79%). Hal di atas menunjukkan bahwa lahan garapan yaitu sawah dan kebun menjadi basis ekologis bagi ternak sebagai penyedia hijauan dan tempat pemeliharaan ternak, sementara lahan padang penggembalaan terdapat indikasi berkurang ditunjukkan dengan rendahnya peternak yang melepas ternaknya di pandang penggembalaan yaitu hanya 8.08%. Terdapat kecenderungan ketersediaan hijauan pakan di padang penggembaalan sangat terbatas dan keberadaannya di pedesaan jauh dari pemukiman penduduk (Setiadi et al. 1995). Kristanto (1982) menyatakan bahwa masalah utama pengembangan ternak khususnya sapi potong di Sulawesi Selatan adalah semakin menyempitnya padang penggembalaan alam, sehingga sumber hijauan umumnya diperoleh dari pinggir jalan, pinggir sungai, pematang sawah, dan tanah kosong yang tidak digunakan untuk tanaman pangan.

Pola pemberian pakan oleh peternak memperlihatkan cukup bervariasi dan Tabel 23 menunjukkan bahwa seluruh peternak memberikan hijauan pakan berupa rumput. Dalam pemberian hijauan pakan, peternak yang memberikan hijauan berupa rumput saja jumlahnya lebih tinggi yaitu 48.23%, dibandingkan dengan peternak yang memberikan rumput dan limbah tanaman pangan (28.54%), rumput dan daun-daunan (13.89%), hanya 9.34% responden yang memberikan rumput, daun-daunan dan limbah tanaman pangan.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ternak, peternak melakukan upaya dengan memberikan pakan tambahan berupa dedak dan garam.

Penggunaan dedak paling banyak digunakan peternak sebagai pakan tambahan yaitu 63.89% (253 responden), dimana dedak digunakan sebagai pakan tambahan lebih banyak diberikan dengan mencampur dengan hijauan pakan seperti rumput.

Jumlah peternak yang menggunakan garam sebagai pakan tambahan sebanyak 140 responden, dan yang memberikan keduanya (dedak dan garam) hanya 17.42%. Dilain pihak, jumlah peternak yang tidak memberikan pakan tambahan sebanyak 72 responden (18.18%), dengan alasan menambah biaya karena harga dedak mahal dan ketersediaannya fluktuatif.

Ketersediaan hijauan pakan menurut peternak adalah tidak tetap atau fluktuatif. Sebanyak 61.87% responden menyatakan ketersediaan pakan bersifat

150

246 62,12%

37,88%

0 50 100 150 200 250 300 350

Menggunakan Tidak Menggunakan

musiman dan 28.38% responden menyatakan pakan tersedia sepanjang tahun.

Ketersediaan pakan sangat dipengaruhi oleh musim, dimana saat musim penghujan atau panen komoditi tanaman pangan jumlahnya melimpah, sementara saat musim kemarau/peceklik ketersediaannya berkurang.

Penggunaan Limbah Tanaman Pangan sebagai Pakan

Penggunaan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak ruminansia di tingkat peternak masih rendah. Hal ini terlihat masih banyaknya peternak yang tidak menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan yaitu 62.12% dari total 396 responden, dan sebanyak 37.88% responden menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan (Gambar 19).

Gambar 19 Jumlah peternak yang menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan.

Beberapa faktor yang menyebabkan limbah tanaman pangan tidak digunakan sebagai pakan oleh peternak seperti dikemukakan berikut ini.

a. Umumnya petani membakar limbah tanaman pangan terutama jerami padi karena secepatnya akan dilakukan pengolahan tanah untuk penanaman kembali khususnya pada lahan sawah beririgasi (intensif) dengan pola tanam lebih dari sekali dalam setahun.

b. Limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak sehingga membutuhkan biaya dalam pengangkutan

c. Tidak tersedianya tempat penyimpanan limbah tanaman pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di sekitar rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran.

d. Peternak menganggap bahwa ketersediaan hijauan di lahan pekarangan, kebun, sawah masih mencukupi sebagai pakan ternak.

Dilain pihak, dari sejumlah peternak yang menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan yaitu sebanyak 150 responden (37.88%), hanya 39 responden atau 9.85% dari seluruh responden yang menggunakannya setiap saat dalam jumlah terbatas, selebihnya sebagian besar digunakan tidak setiap saat.

Beberapa hal berikut yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil wawancara, sehubungan dengan penggunaan limbah tanaman pangan sebagai pakan oleh peternak.

a. Limbah tanaman pangan digunakan sebagai pakan saat panen dimana ketersediaanya melimpah dan umumnya diberikan dalam bentuk segar.

b. Limbah tanaman pangan dapat digunakan sebagai stok pakan yang disimpan dalam jumlah terbatas dalam karung atau diikat. Penggunaan sebagai pakan dilakukan saat musim kemarau dimana terjadi kesulitan atau kekurangan hijauan, atau saat aktivitas pengolahan tanah dan penanaman di lahan pertanian (sawah) dimana ternak tidak dapat dilepas.

c. Penggunaan limbah sebagai pakan umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki lahan dan mengusahakan (menanam) komoditi tanaman pangan.

Gambar 20 memperlihatkan bahwa dari sejumlah peternak yang menggunakan limbah sebagai pakan, sebagian besar menggunakan jerami padi dan jerami jagung sebagai pakan masing-masing sebanyak 124 dan 100 responden atau 31.31% dan 25.25% dari seluruh responden. Tingginya jumlah peternak yang menggunakan jerami padi dan jerami jagung sebagai pakan dibandingkan dengan limbah yang lain disebabkan karena jumlah produksi dan luas areal penanaman

Keterangan : persentase terhadap jumlah seluruh responden

komoditi tersebut lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan komoditi yang lain.

Disamping menggunakan jerami padi dan jagung, limbah yang lain juga digunakan sebagai pakan. Jumlah responden yang menggunakan limbah jerami kedelai, jerami kacang tanah, dan jerami kacang hijau masing-masing 15.91%, 12.12%, dan 4.55% dari total responden. Untuk jerami ubi jalar dan pucuk ubi kayu, responden yang menggunakan sedikit jumlahnya hanya 3.03% dan 2.53%.

Rendahnya jumlah peternak yang menggunakan jerami ubi jalar dan pucuk ubi kayu berhubungan dengan rendahnya jumlah areal penanaman komoditi tersebut sehingga ketersediaan limbahnya kurang.

Gambar 20 Jumlah peternak yang menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan berdasarkan jenis limbah.

Dari paparan di atas, dapat dikemukan bahwa salah satu penyebab peternak tidak menggunaan limbah sebagai pakan dengan optimal karena produksi limbah yang hanya melimpah saat panen, sehingga tidak tersedia setiap saat.

Zulbardi et al. ( (2001) menyatakan, masalah utama yang ditemui pada usaha peternakan khususnya ternak ruminansia adalah tidak tersedianya pakan yang kontinyu dengan kualitas yang baik. Upaya yang dilakukan adalah melakukan penyimpanan, pengawetan dan peningkatan kualitas nilai nutrisi melalui sentuhan teknologi pakan. Aryogi et al. (2001) menyatakan, teknologi pakan untuk ternak ruminansia mencakup dua hal, yaitu a) teknologi pengolahan bahan pakan untuk

217

179 54,80%

45,20%

0 50 100 150 200 250 300

Mengetahui Tidak Mengetahui

meningkatkan kualitas zat-zat nutrisinya, dan b) teknologi penyiapan bahan pakan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan zat-zat nutrisinya.

Berhubungan dengan teknologi pakan, Gambar 21 menunjukan bahwa 217 responden atau 54.80% mengetahui tentang teknologi pakan, dan selebihnya tidak mengetahui teknologi pakan. Para peternak mengetahui teknologi pakan melalui berbagai sumber seperti penyuluhan, bimbingan, demonstrasi yang dilakukan aparat dinas peternakan atau instansi lainnya, serta media cetak dan elektronik.

Gambar 21 Jumlah peternak yang mengetahui teknologi pakan.

Dari sejumlah peternak yang mengetahui teknologi pakan (217 responden), terlihat pada Gambar 22 bahwa beberapa jenis teknologi pakan yang diketahui seperti amoniasi/fermentasi lainnya seperti penggunaan mikroba, silase, dan hay (pengeringan). Teknologi amoniasi/fermentasi lainnya adalah jenis teknologi pakan yang lebih banyak peternak mengetahuinya sebanyak 131 responden. Jika dikelompokkan dalam beberapa kategori maka kategori peternak yang mengetahui hanya satu jenis teknologi yaitu amoniasi, hay dan silase saja menunjukkan persentase masing-masing 20.71%, 18.18% dan 18.18% dari total responden.

Sementara kategori yang lain adalah mengetahui dua jenis teknologi, dengan jumlah peternak dalam kategori ini yaitu amoniasi+silase 0.76%,

Keterangan : persentase terhadap jumlah seluruh responden jumlah responden yang mengetahui

Amoniasi,Silase teknologi tersebut 6.31%. Hal ini memberikan gambaran bahwa tingkat pengetahuan peternak terhadap teknologi pakan cukup tinggi. Tingkat pengetahuan terkait dengan seberapa jauh peternak mampu memahami secara teroritis teknologi pakan dan memiliki keterampilan dalam menerapkan teknologi pakan tersebut.

Gambar 22 Jenis teknologi pakan yang diketahui peternak.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun jumlah peternak yang mengetahui teknologi pakan cukup tinggi jumlahnya (54.80%), namun tingkat penerapan teknologi pakan sangat rendah. Dari jumlah 217 responden yang mengetahui teknologi pakan, hanya 46 responden (21.19%) yang menerapkan dan melakukan teknologi tersebut atau 11.62% dari seluruh peternak (Gambar 23).

Kurangnya jumlah peternak yang melakukan teknologi pakan atau tingkat penerapan rendah, disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut.

a) Teknologi pakan dianggap tidak efektif untuk dilaksanakan karena membutuhkan curahan waktu (menghabiskan waktu), seperti dalam mengumpulkan dan mengangkut limbah, serta dalam proses pembuatannya.

Sementara waktu lebih banyak tercurah pada usaha tani tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena usaha ternak masih dianggap sebagai usaha sambilan sehingga perhatian dan curahan waktu kurang.

Menerapkan/

Melakukan 46 (11,62%)

Tidak Menerapkan/

Melakukan 171(43,18%)

b) Teknologi pakan dalam penerapannya membutuhkan bahan dan alat, seperti dalam amoniasi dan silase membutuhkan silo/tempat untuk penyimpanan, atau bahan lain seperti penambahan urea sehingga memberi konsekuensi adanya penambahan biaya. Sementara kebutuhan yang lain masih membutuhkan biaya terutama kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

c) Peternak kurang memahami bahwa teknologi pakan dapat meningkatkan kualitas limbah sebagai pakan sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak. Tanpa melakukan tenologi pakan pun, limbah masih dapat dikonsumsi oleh ternak.

Gambar 23 Jumlah peternak yang menerapkan teknologi pakan.

Dalam melihat keberadaan teknologi pakan, nampaknya peternak memandang secara holistik dengan meninjau dari berbagai aspek, bukan hanya secara teknis teknologi namun lebih jauh kepada aspek non teknis dari teknologi tersebut terutama adanya pertimbangan dalam hal waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi itu disamping adanya biaya yang harus dikeluarkan dalam melakukan teknologi pakan tersebut.

Pandangan tersebut di atas terjadi karena peternak belum mengetahui dengan baik manfaat yang diperoleh dari teknologi pakan, seperti meningkatnya kualitas nutrisi limbah sebagai pakan serta limbah yang telah diberi sentuhan teknologi seperti amoniasi atau fermentasi lainnya, dapat disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama sebagai stok pakan saat kondisi pakan kesulitan/kurang terutama di musim kemarau.

Strategi Pemanfaatan Limbah Tanaman Pangan