• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.7 Pemanfaatan Tumbuhan berdasarkan Kelompok Kegunaan

Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane, dapat dikelompokan ke dalam beberapa kelompok kegunaan diantaranya, pangan, obat, kayu bakar, hias, pakan ternak, upacara adat dan bahan bangunan. Banyakanya spesies yang dimanfaatkan dalam masing-masing kelompok kegunaan tersebut ditunjukan oleh Gambar 8.

Gambar 8 Jumlah spesies tumbuhan berdasarkan kelompok kegunaan.

Jumlah spesies yang paling banyak digunakan adalah untuk kebutuhan pangan yaitu sebanyak 31 spesies. Hal tersebut dikarenakan spesies tersebut banyak dibudidayakan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane dan menjadi salah satu komoditas ekonomi masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. 0 5 10 15 20 25 30 35 31 30 15 4 3 3 3 Ju m lah Kelompok kegunaan

5.7.1 Tumbuhan pangan

Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pangan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sebanyak 31 spesies yang terdiri dari 18 famili. Spesies tumbuhan yang sering dimanafaatkan sebagai pangan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane umumnya berupa sayur-sayuran baik hasil budidaya maupun spesies tumbuhan yang berasal dari hutan atau pekarangan. Adapun spesies tanaman sayuran yang dibudidayakan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Beberapa Spesies tumbuhan pangan yang dibudidayakan

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Kubis Brassica oleracea Daun

2 Kentang Solanum tuberosum Umbi

3 Bawang merah Allium cepa Umbi dan daun

5 Bawang putih Allium sativum Umbi

6 Ketumbar Coriandrum sativum Biji

7 Labu siam Sechium edule Buah

8 Jagung Zea mays Buah

(a) (b) (c)

Gambar 9 Spesies tumbuhan pangan yang banyak dibudidayakan : (a) kubis (Brassica oleracea), (b) bawang merah (Allium cepa), (c) kentang (Solanum tuberosum).

Gambar 9. Merupakan gambar beberapa spesies tanaman sayur yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Ketiga Spesies tersebut juga merupakan komoditas ekonomi utama bagi masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane biasanya menjual hasil ladangnya yaitu sayur-sayuran pada tengkulak yang datang langsung kepada petani. Sayur-sayuran tersebut diangkut dengan menggunakan truk dan dibawa guna dijual di pasar, biasanya para tengkulak tersebut sudah mempunyai pelanggan yang siap menampung dan menjual kembali di pasar.

Selain memanfaatkan sayur-sayuran yang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi masyarakat juga biasa memanfaatkan beberapa spesies tumbuhan yang berasal dari hutan atau pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Beberapa spesies tumbuhan yang biasa dimanfaatkan sebagai pangan dan berasal dari hutan atau pekarangan tersaji pada Tabel 8.

Tabel 8 Spesies tumbuhan pangan yang berasal dari hutan/pekarangan

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Tiwu Sonchus malaianus Daun

2 Semanggi Hydrocotyle sibthorpiodes Daun

3 Permenan Mentha sp. Daun

4 Ranti Physalis nigrum Daun, buah

5 Loba Nasturtium sp. Buah/biji

Kebiasaan masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane mengkonsumsi sayur-sayuran sehari-hari dapat berefek positif pada kesehatan masyarakat hal tersebut karena menurut Suwahyono (2011) sayur-sayuran mengindikasikan adanya semacam senyawa yang mempunyai sifat menstimulasi tubuh memproduksi senyawa, yang diistilahkan dengan TNF (Tumor Necrosis Factor). TNF adalah senyawa aktif dalam tubuh yang dapat berfungsi untuk meluruhkan sel-sel tumor. Selain itu juga sayuran mempunyai kemampuan menstimulasi daya tahan tubuh atau kekebalan tubuh yang diistilahkan dengan immunopotentiator. Salah satu jenis sayuran tersebut adalahkubis dan bayam, dimana kedua spesies tersebut mempunyai aktivitas stimulan yang kuat sepadan dengan interferon dan OK-432 serum. Hal tersebut terbukti dari 7 dari 10 responden yang berusia di atas 50 tahun masih memiliki fisik yang bugar dan masih dapat bekerja di ladang.

Selain tumbuhan, masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane juga sering memanfaatkan jamur sebagai salah satu pangan sehari-hari. Salah satu jamur yang biasa dikonsumsi adalah jamur kuping (Auricularia auricula) dari famili Auriculariaceae.

Gambar 10 Jamur kuping (Auricularia auricula).

Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane biasanya memperoleh jamur kuping (Auricularia auricula) pada pohon-pohon yang telah mati atau tumbang di hutan. Pengambilan jamur kuping (Auricularia auricula) dari hutan dilakukan sengaja ataupun ketika mencari kayu bakar. Pemanfaatan jamur kuping oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sebagai pangan juga karena masyarakat mempercayai kandungan dari jamur kuping yang memiliki khasiat tersendiri bagi tubuh. Menurut Crisan et al. (1978) dalam Susilawati et al. (2010), rata-rata kandungan protein dari jamur kuping (%berat kering) sebesar 49%. Bahkan menurut Susilawati et al. (2010) jamur kuping selain memilki senyawa penting bagi tubuh juga dapat memerankan peranan penting dalam pengobatan masyarakat. Adapun khasiat dari jamur kuping tersebut diantaranya, menormalkan tekanan darah dan menurunkan kolesterol darah, (Chang et al. 1978) dalam Susilawati et al. (2010).

Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu jamur yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran. Oleh karena itu selain untuk konsumsi rumah tangga, jamur kuping yang diperoleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pani dari hutan, sebagian juga biasanya dijual.

5.7.2 Tumbuhan obat

Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sebanyak 30 spesies yang termasuk ke dalam 17 famili. Beberapa spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Beberapa spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane

No Nama Lokal Nama Ilmiah Kegunaan Bagian yang

Digunakan

1 Adas Foeniculum vulgare Obat batuk dan obat

demam

Daun

2 Sempretan Eupatorium inofolium Luka luar dan

Jantung

Akar dan daun

3 Suri pandak Plantago major Obat luka, kurang

darah dan nyeri otot

Seluruh bagian

4 Jenggot besi Usnea barbata Nyeri otot Seluruh bagian

5 Ampet Pilea melastomoides Sakit perut Kulit

6 Jahe wono/

purwoceng

Pimpinella pruatjan Perut kembung Daun

7 Alang-alang Imperata cilyndrica Nyeri otot Akar

8 Dringu Acorus calamus Pencegah perut

kembung pada bayi

Daun, buah, umbi

9 Kecubung Datura fastuosa Obat mata Buah

10 Tepung otot Stellaria saxatilis Obat keseleo Seluruh bagian

Spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat biasanya digunakan untuk mengobati penyakit ringan seperti, pegal linu/nyeri otot dan perut kembung. Perut kembung merupakan penyakit yang paling sering diderita oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sehari-hari. kebiasaan masyarakat Suku tengger Desa Ranu Pani, yaitu makan atau merokok sambil mengobrol, sehingga masyarakat banyak menelan udara.

Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat pada umunya diolah dengan cara yang sederhana yaitu dengan cara merebusnya dalam air. Pemanfaatan tumbuhan untuk obat tidak hanya terbatas pada bagian tumbuhan yang masih segar, beberapa masyarakat juga menyimpanya dalam bentuk kering/simplisia maupun ramuan yang siap digunakan. Salah satu ramuan yang sering disimpan oleh masyarakat adalah sempretan (Eupatorium inofolium)

yang berkhasiat untuk mengobati luka luar pada kulit. Cara pengolahan dari sempretan (Eupatorium inofolium) tergolong mudah yaitu hanya perlu melumat daun segarnya dan menambahkan air, kemudian diambil airnya.

Menurut salah satu dukun di Desa Ranu Pane, menyatakan bahwa abu dari hasil pembakaran edelweis (Anaphalis longifolia) juga dapat dimanfaatkan sebagai obat pelangsing, yaitu dengan cara abu tersebut ditambahkan air, lalu diminum. Beberapa spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat dapat dilihat pada Gambar 11.

(a) (b) (c)

Gambar 11 Spesies tumbuhan yang sering digunakan sebagai obat : (a) suri pandak (Plantago major), (b) ampet (Pilea melastomoides.), (c) jenggot besi (Usnea barbata).

Berdasarkan Gambar 10, ketiga spesies tumbuhan tersebut merupakan spesies tumbuhan berkhasiat obat yang tumbuh liar di pekarangan ataupun hutan. suri pandak (Plantago major) dan jenggot besi (Usnea barbata) biasa dimanfaatkan untuk mengobati nyeri otot, sedangkan ampet (Pilea

melastomoides.) biasa dimanfaatkan untuk mengobati sakit perut. Bagian yang

dimanfaatkan dari ampet (Pilea melastomoides.) adalah kulit kayunya. Sedangkan suri pandak (Plantago major) bagian yang digunakan adalah daunnya. Ketiga spesies tumbuhan tersebut cukup diolah dengan cara direbus dan diminum airnya guna mengobati penyakit tersebut.

Pemanfaatan jenggot besi (Usnea barbata) kini telah dilarang oleh pihak TNBTS, karena tempat tumbuh dari jenggot besi (Usnea barbata) sendiri yang menempel pada pohon inang, biasanya yang menjadi pohon inang dari jenggot besi (Usnea barbata) adalah pohon Acacia decurens. Sehingga untuk mengambilnya perlu memotong cabang dan bahkan menebang pohon inangnya.

Umumnya masyarakat Suku Desa Ranu Pane memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat sebagai pertolongan pertama sebelum dibawa ke dukun atau Puskesmas yang terdapat di Desa tersebut. Kebanyakan masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane memilih untuk berobat pada seorang seorang dukun. Selain lebih percaya, alasan lainnya adalah karena minimnya sarana kesehatan di Desa Ranu Pane. Sehingga harus pergi ke luar Desa bila ingin berobat ke Rumah Sakit. Di Desa Ranu Pane terdapat dua orang dukun. Kedua dukun ini tidak hanya menggunakan berbagai spesies tumbuhan sebagai obat, pengobatan

juga disertai dengan jampi-jampi sebagai sarana memohon kesembuhan bagi orang yang sakit.

Salah satu spesies tumbuhan obat yang berkhasiat dan bernilai ekonomi tinggi adalah purwoceng (Pimpinella pruatjan) atau spesies yang biasa masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sebut dengan jahe wono. habitat dari purwoceng yang tumbuh pada ketinggian 2000-3000 m dpl (Darwati et al.

2006). Ketinggian tempat tumbuh purwoceng (Pimpinella pruatjan) tersebut memungkinkan purwoceng (Pimpinella pruatjan) dapat tumbuh dengan baik di kawasan Resort Ranu Pane yang terletak pada ketinggian 2200 m dpl.

Pemanfaatan purwoceng (Pimpinella pruatjan) oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sendiri umunya untuk mengobati penyakit ringan seperti perut kembung. Adapun Cara penggunaan purwoceng (Pimpinella

pruatjan) tersebut adalah dengan melumatkan akarnya kemudian dibalurkan

pada perut.

Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane belum mengetahui bahwa purwoceng (Pimpinella pruatjan) ini merupakan salah satu spesies tumbuhan obat yang memilki nilai ekonomi tinggi dan memiliki khasiat lebih dari sekedar obat perut kembung yaitu untuk diuretic (melancarkan saluran air seni), tonikum (meningkatkan stamina tubuh) dan afrodisiak (meningkatkan gairah seksual dan ereksi) (Darwati et al. 2006). Kurangnya informasi akan khasiat dan nilai ekonomi yang tinggi dari spesies purwoceng (Pimpinella pruatjan) ini membuat tidak banyak masyarakat yang membudidayakannya.

5.7.3 Tumbuhan hias

Spesies tumbuhan yang biasa dimanfaatkan sebagai hiasan baik yang ditanam dalam suatu pot dan ditaruh di teras rumah maupun ditanam langsung di pekarangan terdapat 15 spesies yang termasuk dalam 11 famili. Adapun spesies yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan berasal dari luar Resort Ranu Pane dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Lima spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan berasal dari luar Resort Ranu Pane

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Anting-anting Fuchsia hybryda Bunga

2 Euphorbia Euphorbia mili Bunga

3 Tiris Kalanchoe pinnata Seluruh bagian

4 Lidah mertua Sansevieriatrifasciata Daun

5 Dahlia Dahlia pinnata Bunga

Spesies tumbuhan yang umumnya dijadikan tamanan hias merupakan spesies tumbuhan yang memiliki nilai estetika baik bunga maupun bagian tumbuhan lainnya. Salah satu spesies yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias adalah dahlia (Dahlia pinnata). Pemanfaatan dahlia (Dahlia pinnata) sebagai tanaman hias dikarena dahlia (Dahlia pinnata) memiliki bunga yang indah dengan warna yang menarik. Umumnya masyarakat memanfaatkan dahlia (Dahlia

pinnata) sebagai tanaman hias berdasarkan nilai estetisnya, namun disamping itu

dahlia (Dahlia pinnata) memiliki kemampuan dalam mengakumulasi dan menyaerap logam Cu dengan efisiensi sebesar 3, 73% (BBPK 2009).

Gambar 12 Dahlia (Dahlia pinnata)

Spesies tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias kebanyakan bukan merupakan tumbuhan asli dari hutan Resort Ranu Pane, Masyarakat kebanyakan membawanya dari luar Desa Ranu Pane. Oleh sebab itu kebanyakan masayarakat menanamnya di pot dan di taruh di pekarangan rumah mereka. Sedangkan beberapa spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias yang bersal dari hutan atau pekarangan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Beberapa spesies tumbuhan hias yang bersal dari hutan/pekarangan

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Edelweis Anaphalis longifolia Bunga

2 Mentigi Vaccinium varingifolium Bunga

3 Jogoran Hyptis suaveolens Seluruh bagian

4 Peron Anamirta cocculus Daun

Edelweis (Anaphalis longifolia) merupakan salah satu spesies tumbuhan yang banyak dimanfaatkan untuk untuk berbagai keperluan disamping dimanfaatkan sebagai hiasan di rumah-rumah masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Walaupun pengambilannya di larang oleh pihak TNBTS karena edelweis (Anaphalis longifolia) merupakan spesies tumbuhan yang dilindungi.

5.7.4 Tumbuhan kayu bakar

Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane dalam kehidupan sehari-harinya memanfaatkan kayu bakar guna memenuhi kebutuhannya dalam memasak dan terutama untuk perapian guna menghangatkan diri dari udara dingin. Spesies yang sering dimanfaatkan sebagai kayu bakar dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai kayu bakar oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Acacia Acacia decurrens Kayu

2 Cemara gunung Casuarina junghuhniana Kayu

3 Kemlandingan Albizzia lophanta Kayu

Ketiga spesies tersebut biasa masyarakat peroleh dari hutan sekitar desa. Kegiatan masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane dalam menanfaatkan kayu bakar dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian hutan TNBTS, terutama Resort Ranu Pane. Masyarakat mengaku bahwa kayu bakar yang mereka gunakan diperoleh dari pohon yang telah mati dan tumbang.

Untuk memenuhi kebutuhan akan kayu bakar setiap saat baik untuk memasak maupun untuk meghangatkan tubuh dari udara dingin, masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane biasanya menyimpannya di dapur dekat dengan tungku, selain untuk memudahkan dalam pengambilannya, penyimpanan dekat tungku juga dimaksudkan untuk mengeringkan kayu tersebut. Penyipanan kayu

bakar dilakukan sebagai persediaan untuk kapan saja dapat digunakan, dengan kata lain di setiap rumah masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane selalu tersedia kayu bakar.

Tingginya penggunaan kayu bakar oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane, yaitu setiap kepala keluarga dapat menghabiskan 1 gelondong pohon berdiameter 10-20 cm perharinya. Walaupun telah ada larangan oleh pihak TNBTS untuk tidak mengambil kayu bakar, khususnya pohon untuk kayu bakar, tidak menutup kemungkinan terjadi pelanggaran mengingat besarnya kebutuhan masyarakat akan kayu bakar guna menghangatkan tubuh dari udara dingin. Pelanggaran tersebut terjadi berupa pencurian kayu bakar, dan Resort Ranu Pane merupakan Resort yang paling tinggi tingkat pencurian kayu bakarnya yaitu sebanyak 24 kasus pada tahun 2002-2003 dibandingkan dengan Resort lainnya. Lokasi pencurian kayu bakar di Resort Ranu Pane diantaranya, Bantengan, Pusung Bingung, Krepelan dan Besaran (Nugroho et al. 2007).

Berikut gambar mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai kayu bakar di salah satu rumah masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane, tersaji pada Gambar 13.

Gambar 13 Pemanfaatan tumbuhan untuk kayu bakar.

Untuk menanggulangi masalah tingginya kebutuhan masyarakat akan kayu bakar pihak TNBTS SPTN 3, Resort Ranu Pane berencana untuk membuat lumbung kayu bakar, dan masyarakatlah yang berperan untuk mengelola lumbung tersebut guna digunakan bersama untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Adapun

spesies yang menjadi unggulan dalam pembutan lumbung kayu bakar tersebut adalah akasia gunung (Acacia decurrens) dan cemara gunung (Casuarina junghuhniana).

5.7.5 Tumbuhan untuk upacara adat

Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane memanfaatkan tumbuhan untuk melangsungkan upacara adat, salah satunya adalah upacara adat pernikahan dan kematian masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Spesies tumbuhan yang biasa digunakan dalam upacara adat Suku Tengger Desa Ranu Pane terdiri dari 3 spesies dari 3 famili. Spesies tumbuhan tersebut dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kegiatan upacara adat masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Edelweis Anaphalis longifolia Bunga

2 Pampung Macropanax dispermus Daun

3 Genjret Pytholacca dioica Daun

Pampung (Macropanax dispermus) dan genjret (Pytholacca dioica) merupakan spesies pelengkap dalam upacara adat masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Lain halnya dengan Edelweis (Anaphalis longifolia) yang memiliki arti penting tersendiri dalam setiap upacara adat, khususnya upacara adat pernikahan masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane. Pentingnya Edelweis

(Anaphalis longifolia) dalam upacara adat pernikahan karena melambangkan

keabadian, dimana diharapkan pasangan yang melaksanakan upacara adat pernikahan tersebut dapat menjadi pasangan yang abadi atau langgeng dalam membina rumah tangga.

5.7.6 Tumbuhan pakan ternak

Spesies tumbuhan yang biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak tediri dari 4 spesies dan termasuk dalam 4 famili. Spesies tumbuhan tersebut dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh masyarakat suku Tengger Desa Ranu Pane

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Kubis Brassica oleracea Daun

2 Kemlandingan Albzzia lophanta Daun

3 Rumput gajah Pennisetum purpureum Daun

4 Greges otot Equisetum debile Seluruh bagian

Pemberian pakan berupa kubis (Brassica oleracea L.) pada ternak merupakan salah satu tindakan dalam memanfaatkan limbah sayuran, khususnya kubis (Brassica oleracea). Limbah kubis (Brassica oleracea)

memiliki kadar protein yang tinggi, yaitu 1,4 g per 100 g berat basah. Limbah kubis (Brassica oleracea) dapat di olah menjadi tepung untuk pakan ternak. Sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pakan bagi ternak (Wibawa 2009).

Selain memanfaatkan limbah kubis, masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane juga biasanya memperoleh pakan untuk ternaknya dari hutan atau pekarangan. Adapun pakan ternak yang biasa diperoleh dari hutan yaitu, kemlandingan dan greges otot (Equisetum debile). Kemlandingan (Albzia lophanta) dimanfaatkan daunnya untuk pakan ternak setelah kayunya diambil untuk kayu bakar. Greges otot (Equisetum debile) selain dimanfaatkan sebagai pakan ternak, masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane juga biasa memanfaatkannya sebagai obat untuk mengobati wasir, rematik dan radang usus. Sedangkan rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan salah satu pakan yang sengaja masyarakat tanam guna memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

5.7.7 Tumbuhan bahan bangunan

Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane sebanyak 3 spesies. Ketiga spesies tersebut dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Digunakan

1 Cemara gunung Casuarina junghuhniana Kayu

2 Bambu tali Gigantochloa apus Kayu

Masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane lebih banyak menggunakan kayu dan bambu untuk membangun kandang ternak dan gubuk-gubuk kecil di ladang dibandingkan dengan rumah mereka. Hal tersebut dikarenakan rumah masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane merupakan bangunan permanen yang terbuat dari batu bata, pasir dan semen (Gambar 14).

Gambar 14 Salah satu rumah masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane.

Pemanfaatan tumbuhan untuk bahan banguan digunakan untuk sebagain kecil dari rumah mereka misalnya untuk plafon, reng, kusen, pintu dan bingkai jendela. Adanya larangan oleh pihak TNBTS dalam pengambilan kayu atau hasil hutan lainnya telah mendesak masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane untuk membeli kayu sebagai bahan bangunan di pasar dan jarang mengambilnya dari hutan. Pada umunya masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane hanya memanfaatkan kayu dari pohon atau bambu yang roboh.

Bambu yang terdapat di Resort Ranu Pane merupakan spesies yang sengaja ditanam oleh pihak taman nasional dan merupakan habitat dari lutung

(Trachypihecus auratus) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Spesies bambu tersebut terdapat di Blok Ireng-ireng Resort Ranu Pane dan berlokasi jauh dari Desa Ranu Pane.

Selain dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, masyarakat Suku Tengger Desa Ranu Pane juga memanfaatkan bambu tali dan bambu petung sebagai pangan. Adapun bagian yang dimanfaatkan adalah rebung atau anakan bambu yang masih muda. Menurut Batubara (2002), Rebung mengandung HCN yang sangat kecil bahkan tidak ada. Rebung memiliki rasa yang memenuhi selera, lunak dan warna menarik. Serta memilki kandungan gizi yang cukup memadai sebagai sumber mineral dan vitamin.

Dokumen terkait