• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemangku Reog dari Kleco

Dalam dokumen Mereka yang Melampaui Waktu Waktu (Halaman 180-186)

Kirman, mantan penjudi yang anti politik.

S

ebagai manusia Jawa, lelaki 78 tahun ini adalah sosok

yang sempurna. Laki-laki ini memenuhi syarat: kukila,

curiga, wisma, wanita, dan turangga dalam budaya Jawa.

Dia selalu memiliki waktu luang untuk segala kesenangannya: seni, rokok dan kopi. Nama laki-laki itu adalah Kirman atau biasa disebut sebagai Mbah Jito.

Kirman adalah seorang petani, juragan kayu jati, penyiar agama, pesilat, pemaju tari, penjudi, seniman dan pengorganisasi

masyarakat. Dan tentu saja, dia adalah kepala rumah tangga sukses, dengan 6 anak yang berpendidikan sarjana. Beberapa anak dan cucunya, mewarisi kecintaannya pada seni. Ya, seni, apapun jenisnya.

***

Ponorogo medium 1964. Kirman muda yang telah berumah tangga memulai hidup baru di sebuah dusun bernama Kleco. Tahun itu adalah tahun-tahun awal menapaki jenjang rumah tangga. Berbagai godaan dan ujian hidup datang silih berganti. Namun Kirman adalah pelopor pemuda desa yang pemberani.

Keberaniannya termasuk menolak tawaran menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal pada zaman itu, PKI adalah partai berpengaruh dan penunjang kekuasaan Orde Lama. Dia tidak gentar.

Berulangkali dia memperingatkan para kerabat dan

temannya untuk tidak peduli pada politik. Ia ingat betul peristiwa Madiun. Ia memperingatkan jangan berlebihan berhubungan dengan partai. Terlebih pada bujuk rayu sekelompok orang beridentitas PKI yang bergerilya mencari dukungan.

Demi menggalang dukungan, partai berlambang palu arit itu rajin menggelar berbagai pertemuan beriming-iming pembagian sembako. Begitu juga dengan berbagai pertemuan mirip dengan pola yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang penduduk yang ada. Janji ekonomi dan reformasi agraria menjadi magnet populer. Pun dengan model intimidasi menjadi hal jamak dalam penggalangan massa ketika itu.

Sebagian warga desa terpesona dengan janji-janji partai. Tak berselang lama, peristiwa G30S terjadi. Kondisi berbalik arah.

Dar

Mereka yang dicap sebagai PKI diburu. Di Desa Kleco beberapa pemuda akhirnya dijemput oleh kelompok massa. Tahun-tahun ini situasinya begitu mencekam. Siapa kawan dan siapa lawan, begitu tipis bedanya.

Belajar dari peristiwa buruk tersebut, Kirman, tokoh pemuda Kleco, semakin giat mengorganisir para pemuda desanya

untuk berkegiatan. Kirman mengorganisir warga desanya untuk

mendirikan musala kecil, yang kini telah berubah menjadi masjid.

Walaupun bukan seorang muslim yang taat, Kirman menjadi pelopor Islam di desanya.

Waktu berlalu, kegiatan pemuda juga didorong tidak hanya bermasyarakat, gotong-royong tetapi juga melestarikan budaya

Jawa Panaragan seperti reog, jathilan dan tayub. Kelompok reog

pun mulai hidup kembali. Kegiatan pemuda di Desa Kleco mengeliat lagi.

Dalam setiap festival reog di Ponorogo, pertunjukan reog dari Kleco selalu dinanti. Jika belum muncul, maka dianggap belumlah semarak. Cerita seperti itu membuat bangga Kirman, terlebih

secara langsung dia terlibat sebagai pemangku uri-uri reog dari

desa perbukitan jati itu. Jabatan pemangku reog baru diletakannya pada 2000. Kini, dia berada di balik layar secara finansial dan pemikiran. Selain lebih banyak mendorong anak-anak muda desanya untuk mencintai dan memajukan kesenian ini.

Namun malang bagi Kirman, kesenangannya pada seni dan hiburan rakyat memiliki konsekuensi beragam baginya. Terlebih kesenangan pada seni ini secara langsung menyeretnya ke dunia

judi dan minum minuman keras.

beralkohol dan judi. Kedua hal itu seolah sudah menjadi kesepakatan bersama. Kirman acapkali tidak pulang ke rumah sampai 3 hari demi judi, arak dan kehidupan seni.

Kirman tidak menyesal pernah menjadi peminum alkohol dan penjudi. Yang disesalkannya saat ini malah perkembangan reog. Di desanya, Kleco dan Ponorogo umumnya, reog sudah tidak berkembang seperti halnya zaman mudanya dulu. Ritual- ritual sesajen sebelum mementaskan reog kini telah tiada. Begitu juga, dengan permohonan doa restu pada leluhur pembuka

hutan, sing mbaureksa dan bupati pertama Ponorogo, Bathara

Katong. Kirman tidak rela, reog tersungkur menjadi pertunjukan tanpa makna dan tercerabut ritualitasnya.

Bersama istri tercinta. Enam anaknya telah dia sekolahkan hingga sarjana.

Barisan pepohonan jati menggugurkan daunnya menjadi penanda puncak kemarau di Kleco. Dari depan rumah berkayu jati Kirman, barisan pepohonan jati yang meranggas itu bisa dinikmati lebih intim. Gugusan pohon jati dan Kirman memiliki riwayat khusus yang saling menghidupi.

Dari tangannya ribuan pohon jati itu tumbuh dan

berkembang kokoh. Di perbukitan itu pula, setiap hari dari pagi sampai sore, dia menghabiskan harinya dengan bekerja sebagai petani. Dari sana pula ia menggantungkan hidup, menumbuhkan harapan anak-anaknya sekaligus reog yang dicintainya.

Dari hasil pepohonan jati dan budidaya ketimun, kacang- kacangan, jagung di perbukitan Kleco ini Kirman mampu membiayai pendidikan keenam anaknya. Kepada anak-anaknya dia selalu bercerita bagaimana susahnya membiayai kuliah mereka. Dengan cerita ini, ia ingin anaknya memiliki motivasi kuat untuk sekolah setinggi-tingginya. Kunci rahasia keberhasilan membesarkan anak-anaknya, menurutnya adalah membiarkan begitu saja anaknya berkembang, tidak pernah anak-anaknya ditekan dengan kewajiban-kewajiban tertentu. Satu yang dia minta, anak-anaknya menyelesaikan kuliah.

Kirman mengirim jatah uang kuliah anak-anaknya dengan rutin. Dia tidak peduli kakinya menjadi kepala, kepalanya menjadi kaki; semua untuk pendidikan terbaik dan tertinggi bagi mereka. Kirman ingin membalas dendam nasibnya yang hanya sekolah apa adanya. Ia tidak ingin nasibnya terulang. Padahal ayahnya seorang yang berpendidikan tinggi di zaman Belanda.

Hari-hari ini Kirman telah merdeka. Tugasnya sebagai orang tua hampir tuntas. Satu persatu anaknya telah selesai kuliah dan memeroleh pekerjaan. Kesempurnaannya sebagai orang tua,

memang akan baru tuntas ketika semua anaknya sudah menikah. Untuk urusan itu, ia hanya menunggu waktu. Kebahagian

baginya adalah melihat anak-anak dan cucunya berhasil, dadi

wong!

Hari-harinya kini diisi dengan membebaskan diri dari segala pikiran. Berumur panjang, bahagia dan bebas dari penyakit merupakan bonus dari kebiasaan Kirman membebaskan diri segala beban pikiran. Dia menyadari, membebaskan pikiran inilah jurusnya sedari muda tetap berpikir positif dan selalu bersyukur.

Kirman sekarang selalu memiliki waktu luang untuk segala kesenangannya: seni, rokok dan kopi. Ini merupakan rezeki terbaik baginya. Meski tergolong sebagai seorang perokok dan penikmat kopi, Kirman yang sepuh ini merasakan badannya baik-baik saja. Bahkan jika mengurangi kebiasaan merokok dan menikmati kopi, ia justru lesu dan kehilangan semangat. []

Jurus Bahagia

Dalam dokumen Mereka yang Melampaui Waktu Waktu (Halaman 180-186)