KINERJA OPERASIONAL
4.3.1. PEMANTAUAN DAERAH SEBAR HPHK
Pemantauan daerah sebar HPHK pada tahun 2017 berpedoman Nomor. 1531/Kpts /KR.110/10/2016 tentang Pedoman Pemantauan Daerah Sebar HPHK Tahun 2017 menyatakan cakupan informasi yang diamati sebagai data sekunder yakni Data Temuan Gejala Klinis, Data Hasil Uji Laboratorium Pasif,
Data Surveilens, dan Data hasil Penelitian. Dimana dalam pedomannya tertuang bahwa berdasarkan Pasal 11 PP Nomor 82 Tahun 2000 bahwa selain pengamatan dilakukan di tempat pemasukan selama media pembawa diasingkan untuk mengamati timbulnya gejala Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), pengamatan juga memiliki makna mengamati situasi hama penyakit hewan karantina pada suatu negara, area, atau tempat.
Pengamatan terhadap situasi HPHK dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu secara langsung dan/atau secara tidak langsung. Pengamatan secara langsung dilakukan di tempat pemasukan, tempat pengeluaran, instalasi karantina, tempat transit, dan diatas alat angkut.Pengamatan secara tidak langsung dilakukan ditempat lainnya dengan melibatkan atau memperoleh informasi dari pihak yang berwenangdalam kegiatan tersebut.
Berdasarkan Permentan Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian, maka UPTKP menyelenggarakan fungsi yaitu Pelaksanaan Pemantauan Daerah Sebar HPHK. Fungsi pemantauan UPTKP tersebut selanjutnya dilaksanakan dengan melakukan pengamatan status dan situasi HPHK pada area dimana UPTKP berada. Pengamatan status dan situasi HPHK dilakukan secara tidak langsung, dengan memperoleh informasi dari instansi berwenang yaitu Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner, dan Dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan di Provinsi, Kabupaten dan/atau Kota mulai dari tahun 2014, 2015 , 2016 dan 2017. Dengan dilaksanakannya kegiatan pengamatan ini, maka kegiatan
pemantauan daerah sebar HPHK dengan metode pengambilan sampel tidak dilakukan.
Pengamatan Status dan Situasi HPHK dilaksanakan di 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel yang merupakan wilayah kerja SKP Kelas 1 Merauke. Pelaksanaan kegiatan dari bulan Februari dan Maret 2017. Materi yang digunakan dalam kegiatan kemantauan ini yaitu berupa format matriks kuisioner yang berisi penyakit HPHK Golongan I dan II, sedangkan pengumpulan informasi penyakit HPHK dilakukan dengan memberikan format matriks kuisioner serta perjalanan dinas ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Dinas Peternakan Kabupaten Boven Digoel dan Dinas Pertanian Kabupaten Mappi. Karena keterbatasan anggaran, data penyakit hewan pada Balai Besar Veteriner Maros, diperoleh dengan cara menyurat format matriks kuisioner. Informasi data yang diperoleh kemudian diolah oleh tim pemantauan malalui tabulasi, verifikasi dan analisis kualitatif terhadap data informasi status dan situasi HPHK tersebut. Sampai laporan dibuat, tercatat ketiga kabupaten tersebut telah menyampaikan kuesioner dan telah diperoleh data pendukung juga dari Balai Besar Veteriner Maros dan hasil pemantauan yang telah dilakukan SKP Kelas I Merauke selama ini.
Berdasarkan data penyakit hewan (selama tahun 2016) yang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Dinas Pertanian Kabupaten Boven Digoel, Balai Besar Veteriner Maros, maupun Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua, didapatkan data
kompilasi status dan situasi HPHK di wilayah kerja SKP Kelas I Merauke yang
dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel.19 . Data Penyakit Hewan di Wilayah kerja SKP Kelas I Merauke
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 1531/Kpts /KR.110/10/2016 tentang Pedoman Pemantauan Daerah Sebar HPHK Tahun 2017 menyatakan cakupan informasi yang diamati sebagai data sekunder yakni Data Temuan Gejala Klinis, Data Hasil Uji Laboratorium Pasif, Data Surveilens, dan Data hasil Penelitian. Data gejala klinis dan data hasil penelitian dijadikan sebagai acuan “Kewaspadaaan Dini (early warning)”, sedangkan data hasil uji laboratorium pasif dan data surveilens sebagai No. HPHKJenis
Informasi Status dan Situasi HPHK
Ket. Lokasi Data Data Gejala Klinis (GK) Data Uji Lab Pasif Data HasilSurveilans
Ditemukan DitemukanTidak Jenis Uji &Jumlah Positif Jenis Uji & Jumlah Negatif Jenis Uji & Jumlah Positif Jenis Uji & Jumlah Negatif 1 New Castle’s Disease (ND) √ - - - - -Distrik Merauke,Distri k Kepi, Distrik Emete, Distrik Obaa Distrik dan Distrik Boven Digoel 2 Bovine Viral Diarrhea (BVD)
referensi status dan situasi HPHK. Hal tersebut pada Tabel 5, terlihat bahwa hanya terdapat 2 dari 56 HPHK Golongan II dan tidak ditemukan HPHK Golongan I yang terdapat di wilayah kerja SKP Kelas I Merauke yakni
New Castle’s Disease (ND) dan Bovine Viral Diarrhea (BVD). Penyakit ND
merupakan penyakit pada ternak unggas yang sebelumnya sudah terdapat di wilayah kerja SKP Kelas I Merauke, berdasarkan data informasi penyakit pada tahun 2011-2016 dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, dinas tanaman pangan, Hortikultura dan peternakan Kabupaten Boven Digoel dan Dinas pertanian Kabupaten Mappi. Sedangkan berdasarkan data dari Balai Besar Veteriner Maros menyatakan bahwa Kabupaten Merauke, Maapi dan Boven Digoel Bebas dari penyakit tersebut. Hal ini disebabkan perbedaan metode dalam identifikasi penyakit tesebut. Adapun perbandingan jumlah HPHK yang teridentifikasi pada tahun 2014 (Pengamatan HPHK tahun 2015) dan 2015 (Pengamatan HPHK tahun 2016) serta 2016 ( Pengamatan HPHK Tahun 2017) dapat terlihat pada Diagram 1 berikut :
Berdasarkan Diagram 1 tersebut terlihat terjadi penurunan jumlah HPHK yang teridentifikasi yang cukup besar dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2015. Adapun 11 jenis HPHK yang teridentifikasi pada tahun 2014 (pengamatan HPHK tahun 2015) yakni Avian Mycoplasmosis,Cysticercosis,Brucellosis,
CPV, Orf, Eggs Down Syndrome, Fowl Pox,Fowl Cholera, Marek’s Disease,ND
dan Scabies, sedangkan pada tahun 2015 (pengamatan HPHK tahun 2016) hanya teridentifikasi ND. Namun pada tahun 2016 ( Pengamatan tahun 2017) terjadi kenaikan jumlah HPHK dari 1 HPHK tahun 2015 yakni New Castle’S
Disease, pada tahun 2016 ditemukan 2 HPHK yakni New Castle’S Disease dan Bovine Viral Diarrhea. Dinamika kenaikan ini merupakan langkah kewaspadaan
dini (Early Warning) dalam pencegahan penyebaran HPHK di wilayah kerja SKP Kelas I Merauke. Peningkatan jumlah temuan HPHK ini juga sebagai
pencegahan keluar, masuk dan tersebarnya HPHK. Temuan HPHK Bovine Viral
Diarrhea dari data surveillens Balai Besar Veteriner Maros di Distrik Tanah
Miring, Merauke dapat juga menjadi acuan peningkatan koordinasi dan kerjasama dengan Dinas yang menbidangi kesehatan hewan di kabupaten Merauke untuk peningkatan pengawasan di tempat- tempat pemasukan dan pengeluaran yang belum ditetapkan. Selain itu, koordinasi dan pertukaran informasi dengan dinas yang membidangi kesehatan hewan di Kabupaten Boven Digoel dan Mappi juga sangat diperlukan karena jarak dan akses yang sulit sehingga pengawasan di daerah tersebut sukar dilakukan.
Adapun penyebaran temuan HPHK tahun 2014, 2015, dan 2016 dapat dilihat pada peta berikut
Gambar 1. Peta Penyakit Hewan Tahun 2014, 2015 dan 2016 di Wilayah Kerja SKP Kelas I Merauke