BAB IV. PERANAN DAN KEDUDUKAN ANAK
1. Pembagian Tugas Dalam Keluarga
Perbedaan manusia yang dibuat berdasarkan kategori jenis, perempuan dan laki-laki, selalu mengundang praduga tertentu. Di dalam masyarakat yang sudah mengakar suatu pranata, pembagian tugas dan tanggung jawab dalam masyarakat sangat erat dikaitkan dengan jenis kelamin. Seolah pembagian tugas dan tanggung jawab ini sudah terkunci mati dan tidak dapat dibuka. Akibatnya, masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa pembagian tugas dan tanggung jawab berdasarkan jenis kelamin ini telah menghasilkan ketidakadilan di berbagai bidang.Ki Hadjar dalam Notopuro memberikan nama seorang perempuan (ibu) adalah sebagai “ratu keluarga”. Oleh karena seorang perempuan (ibu) mempunyai tugas-tugas yang tak kalah pentingnya dengan tugas soerang laki-laki sebagai bapak. Seorang perempuan (ibu) adalah pemelihara rumah tangga, dan juga ia sebagai pengasuh serta pendidik terhadap anak-anaknya, mulai bayi itu dikandungannya sampai usia dewasanya, bahkan sampai pada waktu kawinnya, sampai beranak cucu, cinta seorang ibu pada anaknya tak akan kunjung henti dan habisnya.
Memang benar bahwa sementara kalangan dalam masyarakat tidak jarang menyatakan secara sinis bahwa seorang ibu hanya sekedar sebagai perempuan yang tidak jauh sebagai seorang yang fungsinya, manak (beranak), macak (bersolek, berdandan, berhias), masak (memasak). Hal ini bukannya di Indonesia saja, oleh karena kita juga menjumpai keadaan yang demikian di dunia Barat, yang mengibaratkan seorang perempuan (ibu) dan memberinya predikat: ibu yang hanya mengurusi, kinder (anak), kleider (pakaian), kuche (dapur), kuchen (roti, makanan) (1983:45).
Adanya perbedaan kerja menurut seks, hanyalah buatan manusia yang sudah terstruktur menjadi suatu kebudayaan manusia. Kebudayaan inilah yang menciptakan perbedaan pekerjaan perempuan dan laki-laki. Lebih parah lagi, jika diteliti pekerjaan perempuan selalu memberikan gambaran pekerjaan yang membantu kaum laki-laki dalam menunaikan tugasnya, misalnya :
1. Perempuan mengurus rumah dan anak-anaknya, supaya laki-laki dapat bekerja.
2. Perempuan adalah perawat, supaya dokter dapat melakukan seni penyembuhan
3. Perempuan mengurus kantor, menjawab telpon, mengatur surat- surat, arsip, agar laki-laki dapat melakukan tugas mengambil keputusan.Perempuan menyajikan makanan untuk santapan bisnis laki-laki (Murniati, 2004:217-218).
Pada masyarakat desa Lingga pembagian tugas dalam keluarga sealalu menurut jenis kelamin seperti tugas ibu dalam keluarga yaitu merawat anak, mengerjakan pekerjaan rumah, membantu suami di ladang. Pekerjaan seorang ayah yaitu mencari nafkah untuk kebutuhan hidup dan tugas anak dalam keluarga yaitu membantu meringankan beban orang tua misalnya seperti anak perempuan mengerjakan pekerjaan rumah, berjualan sayur-sayuran, menjaga adik, dan pekerjaan anak laki-laki yaitu mengambil makanan ternak, mengambil air minum, terkadang menjaga adik. Pembagian tugas yang diberikan orang tua terhadap anak selalu didasarkan pada jenis kelamin seperti anak perempuan selalu mengerjakan pekerjaan domestik yaitu memasak, menyuci, membersihkan rumah, mengangkat air minum, menjaga adik, membantu orangtua di ladang, dan lain sebagainya. Sedangkan anak laki- laki hanya mengambil makanan ternak, menjaga adik, mengangkat air minum. Jika seorang anak perempuan menyuruh saudara laki-lakinya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah misalnya seperti menyapu rumah maka orangtua akan berkata kepada anak perempuannya “labo dahin dilaki ena, ena dahin anak diberu ula pagi ulihken bibikena kena adi la anggakaindu dahin rumah, adi dahin anak dilaki muat gagaten ras ngurupi ijuma, ula sekali-sekali pe suruh kena turang kena ndauh pagi rejekindu” (itu bukan pekerjaan anak laki-laki, itu pekerjaan anak perempuan jangan nanti kamu dipulangkan mertuamu kalau tidak tau pekerjaan rumah, kalau pekerjaan anak laki-laki hanya mengambil makanan ternak dan membanti pekerjaan di ladang, jangan sekali-
sekalipun suruh saudara laki-lakimu jauh nanti rejekimu), (Meta br Tarigan: 35 tahun).
Pembagian tugas yang tidak seimbang ini sering membuat anak perempuan bersungut-sungut, dan kecewa terhadap orangtuanya, namun karena ia sebagai anak harus menghormati dan menghargai orangtua maka ia hanya diam dan melaksanakan semua pekerjaan itu. Oleh karena itu tidak jarang sekali kita ketemui anak perempuan sering bersungut- sungut kepada saudara laki-lakinya ketika orangtua tidak di rumah apalagi kalau saudara laki-lakinya sering mengejeknya seperti yang dituturkan (Sartika br tarigan: 16 tahun), “cuci bajum nah, nokoh ka koje adi la kucuci bajum labo lit sinucisa, aku ban merawa usur bapa ras nande ah adi la kucuci bajum labanci bage erturang nina” (cuci bajumu ini, nokoh pula kau kalau ga aku yang menyuci bajumu mana ada yang mau, aku karena marah bapak sama mamak itu sering kalau enggak kucuci bajumu, tidak bisa gitu sama saudara kita katanya).
Bagi anak perempuan yang menyuruh saudara laki-lakinya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tidak hanya mendapat teguran dari orangtua saja tetapi dari semua sanak saudara seperti bibinya (tantenya, baik dari sudara perempuan ayah maupun dari saudara perempuan ibu), maminya (tantenya, istri dari saudara laki-laki ibu), dan nininya (nenek, baik dari ibu atau dari ayah), bahkan terkadang dari kilanya (pamannya, suami dari saudara perempuan ayah) semuanya ini akan memberikan nasihat dan pengajaran bahwa anak perempuan itu harus menghormati saudara laki-lakinya, karena anak laki-laki ini kelak
akan menjadi pengganti ayah ketika ayah telah tiada atau telah meninggal, dan sebagai penerus marga ayah.
Melihat pembagian tugas yang terjadi pada masyarakat desa Lingga telah terjadi ketimpangan di mana anak perempuan selalu dibebankan dengan pekerjaan yang lebih banyak, selain itu akibat dari pembagian tugas yang tak seimbang ini mengakibatkan anak laki-laki selalu menganggap saudara perempuannya itu adalah makhluk yang lemah, tak berdaya. Sehingga mudah terjadi tindak kekerasan terhadap saudara perempuannya seperti membentak atau memukul ketika saudara perempuannya terlambat selasai memasak makanan atau tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan baik.
Relasi subordinat perempuan telah menempatkan kaum laki-laki sebagai pemimpin. Dalam kenyataan hidup, kondisi ini menghasilkan berbagai macam ketidakadilan gender lainnya, seperti stereotipe, beban ganda perempuan, marginalisasi, dan kekerasan terhadap perempuan. Ketidakadilan yang berlanjut dengan penindasan dan kekerasan, karena posisi ordinat bermuatan kekuasaan (Murniati, 2004:23).
Engels (1972:149) dalam Moore mengatakan bahwa pembagian kerja adalah sesuatu yang murni dan sederhana, yang tumbuh dari alam semesta, dan hanya berlaku antara jenis kelamin. Kaum laki-laki berperang, berburu, menangkap ikan, mencari bahan baku untuk makanan dan menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk keperluan ini. Kaum perempuan mengurus rumah, dan menyiapkan makanan serta pakaian; mereka memasak, menenun, dan menjahit. Setiap golongan
menjadi tuan di bidang atau kegiatannya masing-masing. Kaum laki-laki di hutan, kaum perempuan di rumah. Semua memiliki peralatan yang mereka bikin dan gunakan; kaum laki-laki, senjata, serta alat berburu dan menangkap ikan, kaum perempuan, barang-barang dan peralatan rumah tangga (1998:89).
Selain Engels, Fruzztti (1985) dalam studinya tentang petani-petani perempuan di propinsi Nil Biru di Sudan, bahwa perempuan dianggap bekerja di rumah, dan hanya pada “kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan rumah tangga”. Hasilnya adalah seluruh perempuan yang diteliti oleh Fruzztti menyatakan bahwa mereka tidak memiliki pekerjaan karena mereka adalah istri atau anak perempuan. Dari tujuh belas pekerjaan yang dirancang sebagai pekerjaan laki-laki, tidak ada yang dapat dikatakan secara terbuka dilakukan perempuan, meskipun sesungguhnya mereka juga mengerjakan beberapa dari pekerjaan-pekerjaan ini (Moore, 1998:342).
Penelitian yang dilakukan Sukesi pada masyarakat perkebunan tebu di daerah Malang Selatan yang mengatakan bahwa pada petani menengah, petani sempit, dan buruh tani, keharusan kerja perempuan tidak hanya di rumah tangga, tetapi juga mencari nafkah. Pada rumah tangga ini anak perempuan lebih cepat membantu pekerjaan ibunya, mengerjakan pekerjaan rmah tangga, sementara anak laki-laki seusianya masih bermain-main. Pada keluarga buruh tani, anak perempuan seringkali mengambil alih pekerjaan ibunya pada saat si ibu berkerja di kebun.
Pola pembagian kerja di rumah tangga yang domina bagi perempuan dianggap sebagai kewajiban dan kodrat perempuan. Anggapan tersebut pada kenyataannya tidak selalu benar. Ada dua kemungkinan dampak yang timbul pada perempuan. Pertama, perempuan ‘kebal’ (resisten) terhadap lingkungannya dan dalam proses adaptasi telah menerima pembagian kerja tersebut; akibatnya menjadi statis atau apatis dalam menghadapi program-program pembangunan. Kedua, dalam situasi tersebut perempuan mempunyai strategi ‘perlawanan’ dengan jalan menyerahkan sepenuhnya urusan nafkah kepada suami atau mempertahankan tanahnya untuk tanaman pangan (Ihromi, 1995:364).
2. Akses Terhadap Sumber Daya