BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Dari deskripsi subjek penelitian telah didapat bahwa subjek penelitian berjumlah 344 mahasiswa yang terdiri dari 99 mahasiswa laki-laki dan 245 mahasiswa perempuan. Kemudian, subjek merupakan mahasiswa yang berada di angkatan 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 yang rentang usianya dimulai dari 17-23 tahun.
Selanjutnya hasil analisa data yang telah dijelaskan adalah persepsi iklim kelas mempengaruhi secara signifikan terhadap student engagement. Adanya pengaruh tersebut dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0.00 (<0.05) sehingga menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga penelitian ini menyatakan adanya pengaruh persepsi iklim kelas terhadap student engagement pada mahasiswa USU.
Persepsi iklim kelas mempengaruhi sebesar 21.2 %. Artinya persepsi iklim kelas memberikan sumbangan efektif sebesar 21.2 % dalam meningkatkan student engagement pada mahasiswa USU sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Pengaruh sebesar 21.2 % merupakan sumbangan yang cukup besar dalam meningkatkan student engagement. Hal ini dikarenakan student engagement itu sendiri dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari diri individu dan faktor yang berasal dari lingkungan. Faktor lain yang berasal dari individu yang tidak diteliti dalam penelitian ini adalah perceived control and autonomy dan motivasi berprestasi mahasiswa. Sedangkan, faktor lingkungan yang mempengaruhi student engagement adalah diversity experience, shared learning opportunities, student faculty interaction, active learning dan high expecatation (Miller, 2011).
Kemudian, persepsi iklim kelas mampu mempengaruhi sebesar 21.2 % terhadap student engagement dikarenakan persepsi iklim kelas merupakan prediktor utama dari partisipasi di dalam kelas. Hal ini didukung oleh pernyataan Fassinger (1995) yang menjelaskan bahwa iklim kelas sangat penting bagi suatu institusi karena dapat mempengaruhi keterlibatan mahasiswa. Untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa di dalam kelas, mahasiswa harus mempersepsikan iklim kelasnya secara positif. Pada iklim kelas yang positif, mahasiswa akan merasa nyaman ketika memasuki ruang kelas, mereka mengetahui bahwa akan ada yang memperdulikan dan menghargai mereka sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif di dalam kelas, serta mereka percaya bahwa akan mempelajari sesuatu yang berharga. Namun sebaliknya, pada iklim kelas negatif, siswa akan merasa takut apabila berada di dalam kelas dan ragu apakah mereka akan mendapat pengalaman yang berharga.
Terdapat beberapa alasan mengapa persepsi iklim kelas dapat mempengaruhi student engagement. Pertama, iklim kelas mempengaruhi student engagement melalui respon yang dihasilkan saat berinteraksi ketika di dalam kelas. Respon ini akan memunculkan penilaian yang berbeda pada tiap-tiap mahasiswa yang disebut dengan persepsi. Jika mahasiswa mendapatkan respon yang negatif ketika berinteraksi di dalam kelas dengan mahasiswa lainnya atau dengan dosen maka ia akan memiliki persepsi yang negatif terhadap iklim kelasnya. Sebaliknya, jika mahasiswa mendapatkan respon positif ketika berinteraksi di dalam kelas maka ia akan memiliki persepsi yang positif terhadap iklim kelasnya. Hal ini didukung oleh pernyataan Andriani (2004) yang
menyatakan bahwa seberapa jauh akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi tergantung pada bagaimana cara individu mempersepsikannya. Kemudian, ditambahkan oleh Ormrod (2003) dan Walker (2008) yang mengatakan bahwa ketika mahasiswa merasa sebagai bagian dalam kelompok belajar maka mereka akan memperlihatkan perilaku prososial, mengerjakan tugas, antusias terhadap aktivitas-aktivitas kelas, menunjukkan prestasi yang tinggi dan terlibat dalam aktivitas kelas.
Kedua, Miller (2011) menyatakan bahwa mahasiswa yang memiliki hubungan yang baik dengan fakultas akan lebih meningkatkan keterlibatan dalam proses belajar di dalam kelas. Hubungan yang baik dengan fakultas salah satu contohnya adalah setiap prestasi baik akademik dan non akademik yang di hasilkan oleh mahasiswa tersebut akan mendapatkan penghargaan. Ketika mahasiswa merasa dihargai maka ia akan meningkatkan prestasinya dan salah satu caranya adalah dengan terlibat aktif ketika berada di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Mustaji (2005) yaitu adanya penghargaan dosen terhadap partisipasi aktif mahasiswa dalam proses kegiatan pembelajaran akan mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran, berani mengemukakan pendapatnya, dan berani mengkritisi materi pembelajaran yang sedang dibahas. Dengan demikian mahasiswa akan terbiasa untuk berpikir kritis, kreatif, dan terlatih untuk mengemukakan pendapatnya tanpa adanya perasaan minder atau rendah diri.
Ketiga, persepsi iklim kelas merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sehingga, mahasiswa memiliki kontrol pribadi yang lebih tinggi
terhadap keinginan untuk menyelesaikan tugas agar memuaskan dirinya. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Macaskill dan Taylor (2010) yang menyatakan bahwa pada tingkat pendidikan di universitas, mahasiswa dituntut menjadi pemelajar yang autonomous atau pemelajar yang melakukan proses belajar berdasarkan keputusannya sendiri. Hal ini wajar mengingat dunia perkuliahan sangat berbeda dengan dunia sekolah. Sistem akademik hingga proses interaksi sosial di perkuliahan menuntut kemandirian dari para mahasiswa jenis pembelajaran yang dilakukan mahasiswa.
Tingkat student engagement dan persepsi iklim kelas dapat dilihat melalui perbandingan mean hipotetik dan mean empirik. Perbandingan mean hipotetik dan mean empirik menunjukkan bahwa mahasiswa USU memiliki persepsi yang positif terhadap iklim kelasnya. Hal ini dapat dilihat melalui skor mean empirik yang lebih besar daripada mean hipotetik (63.6 > 44). Persepsi mahasiswa USU yang positif terhadap iklim kelas harusnya mampu mempengaruhi keterlibatan mahasiswa di dalam kelas. Hal ini didukung oleh pernyataan Fassinger (1995) yang mengatakan bahwa mahasiswa akan terlibat jika mempersepsikan iklim kelasnya secara positif.
Untuk variabel student engagement, perbandingan mean hipotetik dan mean empirik menunjukkan bahwa secara keseluruhan, subjek penelitian memiliki keterlibatan di atas rata-rata (95.9 > 66). Hal tersebut didapatkan melalui perbandingan dimana mean empirik lebih besar dari mean hipotetik. Dan pada hasil kategorisasi variabel student engagement ditemukan bahwa subjek dengan kategori tinggi sebanyak 52 mahasiswa,artinya sebanyak 15.1 % mahasiswa
terlibat secara aktif di kelas, datang tepat waktu, mengerjakan tugas yang diberikan, bertanya ketika tidak mengerti dan memberikan pendapat saat diskusi serta mampu mengingat pelajaran yang telah lewat. Kategori non engagement sebanyak 247 (71.8%), artinya mahasiswa tidak terlibat dalam perkuliahan dan tidak juga bolos perkuliahan. Mahasiswa hanya datang ke kelas tetapi tidak terlibat dalam aktivitas pembelajaran, dan kategori rendah sebanyak 45 mahasiswa (13.1%), artinya mahasiswa sama sekali tidak perduli dengan perkuliahan yang sedang dijalani. Mahasiswa sering bolos kuliah, tidak mengerjakan tugas, mengganggu teman di kelas dan tidak mampu mengingat materi yang telah lewat.
Berdasarkan data di atas, dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa USU memiliki persepsi yang positif terhadap iklim kelasnya dan keterlibatan mahasiswa USU masuk dalam kategori sedang. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan teori Trowler (2010) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang memiliki persepsi yang positif terhadap iklim kelas nya tetapi masuk dalam kategori sedang karena mahasiswa hanya tertarik pada kehidupan sosial dari universitas tersebut, komunitas yang ada di universitas dan aktivitas yang berhubungan dengan kesenangan serta berinteraksi dengan mahasiswa lain dan staf yang ada di universitas.
Alasan lain mengapa mahasiswa USU yang memiliki persepsi yang positif terhadap iklim kelasnya tetapi masuk dalam kategori sedang yaitu mahasiswa tidak memiliki tujuan yang spesifik dan harapan yang tinggi dalam menjalankan proses belajar di universitas. Sehingga mahasiswa hanya datang ke kelas, bermain
gadget di dalam kelas dan keluar kelas tanpa mangingat apapun. Hal ini didukung oleh pernyataan Miller (2011) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang tidak memiliki tujuan yang spesifik dan harapan yang tinggi akan kurang terlibat di dalam kelas daripada yang memiliki harapan yang tinggi dalam menjalankan proses belajarnya. Mahasiswa yang tidak memiliki tujuan yang spesifik memiliki usaha yang kurang dalam proses belajar, aktivitas yang dilakukan bukan aktivitas yang meningkatkan kecerdasan dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan.
Berdasarkan persamaan regresi didapat bahwa setiap penambahan skor persepsi iklim kelas maka student engagement mengalami penambahan sebesar adalah 43.088 + 0.831X dengan kata lain semakin baik persepsi iklim kelas maka semakin tinggi student engagement. Hal ini berarti bahwa semakin positif persepsi mahasiswa terhadap kelasnya maka keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas juga ikut meningkat. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Miller (2011) bahwa timbulnya student engagement dipengaruhi oleh faktor internal yakni persepsi iklim kelas dan juga pendapat dari Fassinger (1995) bahwa iklim kelas yang dipersepsikan secara positif oleh mahasiswa akan menentukan perilaku mahasiswa di dalam kelas salah satunya adalah student engagement.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa USU maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh persepsi iklim kelas terhadap student engagement pada mahasiswa USU
2. Pengaruh persepsi iklim kelas terhadap student engagement adalah sebesar 21.2 %. Artinya, persepsi iklim kelas memberikan sumbangan efektif sebesar 21.2 % dalam memunculkan student engagement. Kemudian sisanya sebesar 78.8% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, maka peneliti mencoba memberikan beberapa saran yang perlu diperhatikan. Saran-saran ini diharapkan berguna bagi perkembangan studi ilmiah mengenai persepsi iklim kelas dan student engagement.
1. Saran Penelitian
a. Untuk penelitian dengan tema student engagement dikarenakan variabel ini masih jarang diteliti maka diharapkan peneliti selanjutnya terus mengembangkan variabel ini.
b. Selanjutnya, dalam pengambilan data kepada mahasiswa sebaiknya peneliti mempertimbangkan untuk menggunakan semua mahasiswa yang ada di populasi sehingga hasil penelitian dapat lebih menggambarkan populasi.
2. Saran Praktis
a. Berdasarkan hasil penelitian ini di dapat bahwa persepsi iklim kelas mempengaruhi student engagement. Oleh karena itu, diharapkan pihak universitas terus melakukan evaluasi dan peningkatan dalam menciptakan iklim kelas yang lebih positif lagi agar membangun student engagement yang positif pada mahasiswa.
b. Persepsi iklim kelas yang positif dapat dikembangkan misalnya dengan meminta feedback dari mahasiswa dan seluruh anggota yang ada di kelas, memperbaiki fasilitas yang ada di dalam kelas, serta mempererat hubungan antar mahasiswa dan dosen dan antar mahasiswa dan mahasiswa. Hal ini berguna bagi mahasiswa baik secara akademis maupun emosional.
c. Student engagement dapat dikembangkan lebih baik dengan lebih sering melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan berkomunikasi secara terbuka antar mahasiswa dengan mahasiswa dan antar mahasiswa dengan dosen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. STUDENT ENGAGEMENT
Student engagement merupakan faktor prediktor penting dalam keberhasilan pembelajaran karena memperlihatkan tingkat perhatian, usaha, emosi positif dan komitmen dari seorang mahasiswa dalam proses belajarnya. Mahasiswa cenderung lebih sukses dalam proses pembelajaran jika ia memiliki keterlibatan secara aktif di dalam proses pembelajaran (Skinner et al, 1990). 1. Definisi Student Engagement
Student Engagement diartikan sebagai keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas secara afeksi, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan mahasiswa (Trowler, 2010). Reeve (2005) mengemukakan student engagement sebagai intensitas tingkah laku, kualitas emosi, dan usaha pribadi dari keterlibatan mahasiswa secara aktif dalam aktifitas pembelajaran. Student engagement tidak hanya melibatkan mahasiswa tetapi juga institusi tempat mereka belajar. Higher Education Funding Council for England (HEFCE) mendefinisikan student engagement sebagai proses dimana institusi, dosen dan staf institusi membuat suatu usaha yang melibatkan dan memberdayakan mahasiswa sebagai proses membentuk pengalaman belajar.
Konsep lain yang serupa dan sudah sering diteliti memberikan istilah sebagai school engagement. Akan tetapi, student engagement memiliki perbedaan
dengan konsep tersebut. Reeve (2005) menjelaskan bahwa student engagement memiliki cakupan daerah yang lebih sempit. Pada konsep student engagement keterlibatan hanya pada proses pembelajaran di dalam kelas. Sedangkan pada konsep school engagement, keterlibatan terjadi pada aktivitas di sekolah. Konsep lain yang berlawan dengan student engagement adalah student alienation. Mann (2001) menjelaskan bahwa student alienation merupakan konsep yang menggambarkan ketidakperdulian mahasiswa terhadap proses pembelajaran yang ada di dalam kelas.
Kuh et al (2007) yang menyatakan bahwa student engagement sebagai partisipasi aktif di dalam kelas, yang mampu mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai. Student engagement digunakan sebagai prediktor hasil pembelajaran yang baik jika mahasiswa terlibat dalam aktivitas di dalamnya (Krause dan Coates, 2008). Hu dan Kuh (2001) mendefinisikan hal yang sama yaitu student engagement adalah kualitas usaha mahasiswa untuk tekun terhadap aktivitas yang bertujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Kuh (2009) sendiri mendefinisikan student engagement sebagai waktu dan usaha mahasiswa yang disediakan untuk aktivitas yang berhubungan dengan hasil yang diinginkan di perkuliahan dan apa yang institusi lakukan untuk membuat mahasiswa berpartisipasi di dalam aktivitas tersebut.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa student engagement adalah keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas baik secara tingkah laku, kognisi dan emosi untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan mahasiswa.
2. Dimensi-Dimensi Student Engagement
Dimensi student engagement dapat dilihat dalam definisi yang dikemukakan oleh Trowler (2010) yang mengatakan bahwa student engagement terdiri dari tiga dimensi. Dimensi yang pertama ialah behavioral engagement. Mahasiswa menunjukkan behavioral engagement-nya dengan tingkah laku-tingkah laku yang bertujuan untuk melatih atau mengembangkan kemampuannya, baik yang bersifat pemahaman maupun yang bersifat keterampilan. Seorang mahasiswa dengan behavioral engagement yang baik, akan mematuhi norma, hadir tepat waktu, tidak pernah absen dari kelas dan tidak menganggu proses pembelajaran. Contoh tingkah laku dari behavioral engagement adalah mahasiswa hadir tepat waktu dan memiliki absen tidak lebih dari 3 kali dalam satu semester.
Dimensi yang kedua yaitu emotional engagement. Mahasiswa menunjukkan student engagement-nya dengan melibatkan emosinya dalam proses belajar. Mahasiswa dengan emotional engagement yang baik akan tertarik secara pribadi menjalani proses belajar, menikmati proses pembelajaran dan memiliki sense of belonging. Contoh tingkah laku yang mencerminkan emotional engagement adalah mahasiswa bersemangat dalam mempelajari mata kuliah.
Dimensi yang terakhir adalah cognitive engagement. mahasiswa menunjukkan student engagement-nya dengan menggunakan kognitif nya. Mahasiswa dengan cognitive engagement yang baik akan lancar dalam mengerjakan ujian pelajaran yang dihadapinya, mengevaluasi pemahaman melalui nilai yang ia dapat ujian pelajaran, percaya diri untuk menghadapi ujian pelajaran dan akan menikmati tantangan. Contoh tingkah laku yang mencerminkan
cognitive engagement adalah ketika ujian, mahasiswa belajar sampai larut malam untuk mendapatkan nilai yang diinginkan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Student engagement
Berbagai penelitian menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi student engagement pada mahasiswa. Karena sampel yang akan digunakan dalam penelitian adalah mahasiswa, sehingga perlu untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi student engagement pada mahasiswa. Miller et al (2011) menjelaskan bahwa student engagement pada mahasiswa dapat dipengaruhi oleh faktor individu dan faktor pendidikan.
a. Faktor Individu
Faktor individu yang berkontribusi dalam meningkatkan student engagement terdiri dari tiga faktor. Faktor pertama yaitu perceived control and autonomy dimana mahasiswa merasa memiliki kemampuan untuk mempengaruhi hasil sosialnya. Mahasiswa dengan persepsi kontrol pribadi yang lebih tinggi memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas agar memuaskan dirinya.
Faktor kedua yaitu persepsi terhadap lingkungan belajar. Lingkungan yang berkontribusi dalam meningkatkan student engagement yaitu jenis ruangan kelas, mahasiswa, dan karakteristik fakultas. Suasana lingkungan dimana pengajar berperilaku dengan mendukung mahasiswanya berhubungan positif dengan jumlah mahasiswa yang berpartisipasi selama didalam kelas. Selanjutnya, fakultas dapat meningkatkan engagement pada mahasiswa dengan menujukkan pencapaian dari mahasiswa.
Faktor yang terakhir adalah motivasi berprestasi dan tujuan mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung terlibat dan mencari aktifitas yang berorientasi pada prestasi. Selanjutnya, mahasiswa yang memiliki tujuan dalam akademik akan memiliki pola pemikiran yang berbeda dari mahasiswa lain yang tidak memiliki tujuan.
Porter (2006) memberikan penekanan lebih pada faktor dari lingkungan kampus. Ia menjelaskan bahwa struktur institusi juga dapat mempengaruhi student engagement pada mahasiswa. Struktur institusi ini mempengaruhi student engagement pada mahasiswa dari tiga sisi, yaitu : size yang mengacu pada jumlah murid per setting, mission yang mengacu pada jumlah mahasiswa yang lulus dan selectivity mengacu pada kemampuan rata-rata peer grup.
b. Faktor Educational Practices
Sebagai tambahan untuk meningkatkan student engagement pada mahasiswa yaitu adanya faktor educational practice yang terdiri dari lima faktor, yaitu : 1. Diversity experiences
Dimana budaya, ras, dan agama yang berbeda dapat meningkatkan partisipasi dan kesempatan belajar yang lebih luas. Mahasiswa-mahasiswa dengan budaya, ras dan agama yang berbeda akan berinteraksi dan memiliki kesempatan belajar lebih luas dan memandang persoalan dengan secara lebih terbuka.
2. Shared learning opportunities
Gabungan dari student engagement dan shared learning opportunities memiliki dampak yang positif. Hal ini disebabkan karena ketika satu masalah dibahas dengan berbagai pandangan maka dapat meningkatkan hubungan yang
lebih luas dan menumbuhkan pengetahuan baru serta meningkatkan hasil dan keterlibatan mahasiswa.
3. Student faculty interaction
Tingkat interaksi antara mahasiswa dan fakultas mempengaruhi hasil pembelajaran yang penting termasuk student engagement. terdapat 2 jenis hubungan antara mahaisswa dan fakultas. Hubungan yang perrtama adalah hubungan formal dimana interaksi yang sebatas berdiskusi mengenai pelajaran sedangkan hubungan yang kedua adalah hubungan secara informal dimana fakultas terbuka dalam menghadapi perubahan dan perkembangan yang terjadi pada mahasiswa.
4. Active learning
Kegiatan yang penting untuk menghasilakan nilai yang baik. contoh dari active learning adalah menulis catatan- catatan penting, mencari referensi baik online maupun tulisan, menyelesaikan ujian yang mengukur kemampuan, minat atau sikap dan membaca artikel-artikel yang penting.
5. High expectation
Mahasiswa akan lebih terlibat dalam proses pembelajaran jika mereka memiliki tujuan yang ingin dicapai dan harapan yang tinggi terhadap fakultas. 4. Strategi Meningkatkan Student engagement
Strategi meningkatkan student engagement dapat dikembangkan berdasarkan dimensi-dimensi serta faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement (Trowler, 2010). Ada 5 strategi-strategi yaitu:
Misalnya membangkitkan semangat untuk berdiskusi, eksplorasi dan menemukan hal yang baru.
b. Menilai pekerjaan dan tugas mahasiswa
Misalnya setiap tugas yang diberikan oleh dosen selalu dinilai sehingga membangkitkan semangat mahasiswa untuk membuat tugas lebih baik lagi.
c. Menyakinkan harapan mahasiswa
Misalnya mahasiswa mentapkan IPK yang harus dicapai setiap semester agar lulus tepat waktu.
d. Mengembangkan hubungan sosial antara mahasiswa dengan mahasiswa dan mahasiswa dengan dosen baik dengan media online, kelompok kecil dan dalam kuliah umum.
e. Mengembangkan strategi self management
Misalnya mahasiswa dan dosen berdiskusi mengenai cara mengatur yang baik dan meningkatkan motivasi mahasiswa khususnya ketika semester yang penuh dengan stress.
5. Kategori pada Student engagement
Trowler (2010) menjelaskan bahwa ada student engagement dikategorikan ke dalam 3 tingkatan yakni :
a. Positive Engagement
Kategori positive engagement adalah kategori yang paling tinggi. Pada kategori ini, mahasiswa terlibat secara aktif. Artinya, mahasiswa tertarik terhadap pelajaran, menghadiri perkuliahan dan mendapatkan hasil yang diinginkan.
b. Non Engagement
Kategori non engagement merupakan kategori yang lebih rendah dari positive engagement. pada kategori ini mahasiswa tidak terlibat dalam perkuliahan dan tidak juga bolos perkuliahan. Artinya, mahasiswa hanya duduk diam di dalam kelas, mengalami kebosanan dan mengumpulkan tugas secara terlambat.
c. Negative Engagement
Kategori yang terakhir adalah negative engagement. Pada kategori ini mahasiswa sama sekali tidak perduli dengan perkuliahan yang sedang dijalani. Mahasiswa tidak datang di setiap perkuliahan dan mengulang mata kuliah.
B. PERSEPSI TERHADAP IKLIM KELAS
1. Definisi Persepsi
Persepsi adalah pengamatan tentang obyek, peristiwa atau hubungan–
hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan penafsiran pesan (Sobur, 2003). Persepsi adalah proses yang terintegrasi mengenai perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir dan kerangka acuan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu objek. Proses ini akan memberikan informasi sehingga seseorang akan menyadari, mengerti dan memahami keadaan sekitarnya serta keadaan diri sendiri. Kondisi ini akan menolong individu untuk dapat bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan sosial (Davidoff dalam Lutfi dkk, 2009).
Selain itu Chaplin (2006) mendefinisikan persepsi kedalam lima hal yaitu:1) proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indra, 2) kesadaran dari proses-proses organis, 3) mengemukakan
persepsi adalah satu kelompok pengindraan dengan menambah arti-arti yang berasal dari pengalaman di masa lalu, 4) variabel yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari kemampuan organisme untuk melakukan pembedaan diantara perangsang-perangsang, 5) kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang serta merta mengenai sesuatu. Lahey (2007) juga mengartikan persepsi adalah pemberian arti stimulus yang berbeda dan mempunyai arti yang menimbulkan kesadaran, arti yang diberikan individu terhadap suatu stimulus berdasarkan cara orang tersebut mempolakannya. Persepsi juga dapat didefinisikan sebagai proses organisasi dan interpretasi informasi yang diterima dari dunia luar.
Jadi persepsi adalah suatu hasil dari proses organisasi dan interpretasi situasi yang ada di sekitar individu dan hasil dari proses ini akan berbeda beda antara individu yang satu dengan yang lainnya karena dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi persepsi.
a. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Irwanto (2002) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu:
1. Perhatian yang selektif