BAB V ANALISIS DATA
C. Pembahasan
1. Penggunaan Sumber Dana PT. Primissima pada tahun 1999-2003 dibuat untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan bagaimana kebutuhan dana tersebut dibelanjai. Pembelanjaan dana jangka panjang didanai dengan sumber dana jangka panjang dan pembelanjaan jangka pendek didanai dengan sumber dana jangka pendek atau jangka panjang, hal tersebut berdasarkan pada pendekatan konservatif. PT Primissima pada tahun 2003 terjadi penggunaan sumber dana yang tidak tepat karena penggunaan sumber dana jangka pendek untuk menutup kekurangan pembelanjaan jangka panjang, dan tahun 1999 juga terjadi penggunaan sumber dana yang tidak tepat karena adanya dana kas yang terlalu besar sehingga kas menganggur. Untuk tahun 2000, 2001 dan 2002 PT Primissima telah melakukan pembelanjaan yang tepat, hal ini terjadi karena adanya kelebihan dana jangka panjang walaupun ada sebagian dana jangka panjang digunakan untuk menutup kekurangan pembelanjaan jangka pendek. Kelebihan atau kekurangan dana baik jangka panjang maupun jangka pendek akan mengakibatkan kenaikan atau penurunan pada rekening kas dan bank.
2. Kecukupan arus kas PT. Primissima pada tahun 1999-2003 mencerminkan kemampuan internal dalam mencukupi kebutuhan pengembangan usaha dan pembayaran kewajiban kepada pihak eksternal
dalam wujud pembayaran cicilan bunga atau hutang jangka panjang jatuh tempo. Dari persamaan trend kecukupan sumber dan penggunaan dana atau arus kas menunjukkan lereng yang positif (nilai b positif). Hal ini berarti bahwa nilai X (kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pengembangan dan pembayaran kewajiban) mengakibatkan nilai Y (kecukupan arus kas) bertambah. Ini berarti bahwa kemampuan PT Primissima dalam memenuhi kebutuhan pengembangan dan pembayaran kewajiban dalam tahun 1999 – 2003 mempunyai kecenderungan meningkat dimana penggunaan sumber dana kas jadi semakin efisien. Namun tahun 1999, 2000, dan 2003 mengalami penurunan, hal ini dikarenakan adanya penurunan yang tajam kas dari aktivitas operasi. Rasio kecukupan arus kas tahun 2001 mengalami kenaikan. Meningkatnya ratio kecukupan arus kas tahun 2001 dikarenakan adanya penerimaan arus kas operasi yang lebih besar yang kemudian digunakan untuk pembelian aktiva tetap dan pembayaran hutang jangka panjang. Tahun 2002 penerimaan dari arus kas operasi juga meningkat yang dilakukan hanya untuk pembelian aktiva tetap. Arus kas operasi merupakan kegiatan utama yang memegang peranan penting dan kontribusinya terhadap arus kas secara keseluruhan. Untuk menghasilkan laba yang memuaskan maka perusahaan harus memanfaatkan aktiva yang ada yaitu yang menghasilkan laba dan arus kas dan juga memanfaatkan kesempatan untuk mengadakan investasi baru guna memperbesar laba dan arus kas dimasa akan datang.
3. Perkembangan rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas PT. Primissima pada tahun 1999-2003 sebagai berikut:
a. Pembelanjaan yang dilakukan oleh PT Primissima mempunyai hubungan yang positif terhadap likuiditas keuangan PT Primissima. Hal ini berarti bahwa kemampuan aktiva lancar di luar persediaan mempunyai kecenderungan meningkat atau menaik. Pada tahun 1999 dan 2003 mengalami ketidaktepatan dalam pembelanjaan mengakibatkan penurunan ratio likuiditas dilihat dari segi current ratio. Pada saat pembelanjaan mengalami ketepatan, current ratio
meningkat yaitu tahun 2000, 2001, dan 2002. Hal ini menyebabkan
trend atau kecenderungan current ratio menurun. Likuiditas keuangan PT Primissima dilihat dari quick ratio dari tahun 1999-2003 mengalami trend atau kecenderungan menaik. Hal ini berarti bahwa kemampuan PT Primissima untuk membayar hutang dengan aktiva lancar diluar persediaan mempunyai kecenderungan menaik.
Dari perhitungan rasio likuiditas ditinjau dari current ratio dan quick ratio diatas dapat disimpulkan bahwa ada ketidaktepatan pembelanjaan yang dilaksanakan PT. Primissima yaitu tahun 2003. Ketidaktepatan pembelanjaan didasarkan pada ketentuan bahwa dana yang dibutuhkan hendaknya ditarik untuk jangka waktu yang sesuai dengan jangka waktu penggunaan dana di dalam perusahaan. Ketidaktepatan pada tahun 2003 mengakibatkan turunnya rasio likuiditas, dimana PT. Primissima menggunakan sumber dana jangka
pendek untuk pembelanjaan jangka panjang. Turunnya rasio likuiditas PT. Primissima tahun 2003 diakibatkan pula pemakaian dana untuk pemakaian aktiva tetap yang melebihi dari sumber dana jangka panjang, turunnya rasio likuiditas dapat diatasi dengan menambah dana jangka panjang untuk menutup penambahan aktiva yang meningkat.
b. Pembelanjaan yang dilakukan oleh perusahaan berpengaruh pada solvabilitas keuangan. Hal ini dapat dilihat jelas apabila pembelanjaan atas aktiva tidak mampu dipenuhi dengan modal yang dimiliki, akibat kekurangan tersebut harus dipenuhi dengan hutang kepada pihak luar. Dari persamaan trend rasio solvabilitas di atas menunjukkan lereng yang positif (nilai b positif). Hal ini berarti bahwa nilai X (kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansiilnya apabila pada saat dilikuidasi atau dibubarkan) mengakibatkan nilai Y (rentabilitas) meningkat atau menaik. Rasio solvabilitas dari tahun 1999-2003 mengalami trend atau kecenderungan meningkat. Ini berarti bahwa kemampuan PT. Primissima untuk memenuhi segala kewajiban finansiilnya apabila pada saat dilikuidasi atau dibubarkan mempunyai kecenderungan atau trend yang meningkat atau menaik. Rasio solvabilitas PT Primissima untuk tahun 2001 dan 2002 cukup solvabel, namun untuk tahun 1999, 2000, dan 2003 rasio solvabilitas tidak solvabel. Hal ini terjadi karena pada tahun tersebut ada kenaikan hutang jangka panjang. Dengan
bertambahnya hutang berarti tanggungan yang ditanggung PT. Primissima lebih besar. Oleh karena solvabilitas itu perbandingan antara jumlah aktiva dengan jumlah hutang maka setiap penambahan jumlah hutang akan menurunkan tingkat solvabilitasnya. Untuk meningkatkan solvabilitas, perusahaan dapat melakukan dengan dua cara yaitu menambah aktiva tanpa menambah hutang atau mengurangi hutang tanpa mengurangi aktiva. Hal ini tak lain mengharuskan tambahan modal sendiri, karena untuk menambah aktiva atau mengurangi hutang dengan menggunakan tambahan modal sendiri. c. Pembelanjaan yang dilakukan oleh perusahaan juga berpengaruh pada
rentabilitas keuangan. Dimana rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif. Rasio rentabilitas PT Primissima untuk tahun 2000, 2001, dan 2002 cukup rendabel, namun untuk tahun 1999 dan tahun 2003 rasio rentabilitas tidak rendabel. Hal ini terjadi karena pada tahun tersebut ada over investment dalam aktiva yaitu pembelian aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Rasio rentabilitas dari tahun 1999-2003 mengalami trend atau kecenderungan meningkat. Ini berarti mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan PT Primissima tanpa mengingat dari mana sumber modal dan untuk menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan PT Primissima dalam melaksanakan operasi sehari-hari pada saat menghasilkan laba mempunyai kecenderungan atau trend yang meningkat atau menaik.
Yang menunjukkan bahwa walaupun keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan merupakan ukuran bahwa perusahaan tersebut rendabel, sehingga bagi mangement atau pihak-pihak lain, rentabilitas yang tinggi lebih penting daripada keuntungan yang besar.
4. Hubungan Kecukupan Arus Kas Dengan Rentabilitas Keuangan PT. Primissima.
Hasil perhitungan di atas dapat di intrepretasikan bahwa analisis korelasi digunakan untuk mengetahui apakah antara kecukupan arus kas dengan rentabilitas terdapat hubungan dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi. Dari hasil analisis korelasi product moment diperoleh nilai r sebesar 0,67. Nilai tersebut berarti bahwa hubungan antara kecukupan arus kas dengan rentabilitas adalah positif dan memiliki hubungan yang sangat kuat. Artinya, semakin tinggi kecukupan arus kas semakin tinggi pula rentabilitas perusahaan.
Untuk membuktikan apakah antara kecukupan arus kas dengan rentabilitas terdapat hubungan yang signifikan, maka dilakukan uji signifikansi. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai probabilitas >
α
= (5%), artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecukupan arus kas (X) dengan rentabilitas (Y). Untuk menghitung besarnya pengaruh kecukupan arus kas terhadap rentabilitas dilakukan dengan menghitung koefisien determinasinya. Hasil perhitungan koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0,446, atau 44,60%. Hal ini berarti bahwa besarnya kontribusi kecukupan arus kas dengan peningkatan rentabilitasadalah sebesar 44,60%, sedangkan faktor lain yang turut berpengaruh terhadap rentabilitas adalah 55,40%.
Hubungan kecukupan arus kas dengan rentabilitas tidak signifikan yang artinya tidak ada hubungan antara kecukupan arus kas dengan rentabilitas karena dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian ini. Adapun variabel lain tersebut merupakan tidak adanya data mengenai biaya non operasional, yang merupakan pengurang laba usaha untuk mendapatkan laba bersih sebelum pajak.
Adanya kontribusi kecukupan arus kas terhadap rentabilitas tergolong besar, maka dapat dilihat ada indikasi bahwa kecukupan arus kas pada perusahaan ini sudah efisien. Hal ini ditunjukkan dengan perhitungan tingkat rentabilitas berturut-turut dari periode 1999 sampai dengan 2003 yang meningkat, yaitu -0,04 (-4%); 0,20 (20%); 0,30 (30%); 0,36 (36%); dan 0,16 (16%). Kriteria tersebut didasarkan pada hasil perbandingan antara hasil perhitungan rentabilitas perusahaan dengan suku bunga simpanan rata-rata (deposito berjangka 1 tahun). Jika nilai rentabilitas kurang dari suku bunga simpanan rata-rata maka terkategorikan rendah, dan sebaliknya jika nilai rentabilitas lebih dari suku bunga simpanan rata- rata maka terkategorikan tinggi.
Tabel 53 Daftar Kriteria ROI
Periode ROI Suku Bunga Simpanan Rata-Rata * Kriteria
1999 -4% 26,01 (%) Rendah
2000 20% 18,33 (%) Tinggi
2001 30% 10,89 (%) Tinggi
2002 36% 12,17 (%) Tinggi