BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. Pengaruh Kenaikan atau Penurunan Kas Terhadap Likuiditas,
1. Likuiditas
Likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi (Bambang Riyanto, 2001:25). Jumlah alat pembayaran (alat likuid) yang dimiliki suatu saat merupakan kekuatan untuk membayar dari badan usaha yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang memiliki kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.
Untuk menilai posisi keuangan likuiditas ada empat ratio (Bambang Riyanto, 2001:26-28): a. Current ratio = lancar utang lancar aktiva
Yaitu kemampuan untuk membayar utang yang harus di penuhi dengan aktiva lancar
b. Cash ratio = lancar utang efek + kas
Yaitu kemampuan untuk membayar utang yang harus di penuhi dengan kas dan efek yang dapat segera diuangkan
c. Quick ratio = lancar utang persediaan lancar aktiva −
Yaitu kemampuan untuk membayar utang yang harus di penuhi dengan aktiva lancar yang likuid
d. Working capital to total assets ratio = aktiva jumlah lancar utang lancar aktiva −
Yaitu likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja.
Penelitian akan dilakukan pada current ratio yang dilengkapi dengan
quick ratio. Apabila dalam mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan menggunakan current ratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio suatu perusahaan dapat di pertinggi dengan jalan sebagai berikut:
a. Dengan utang lancar (current liabilities) tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva lancar (current assets)
b. Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah utang lancar
c. Dengan mengurangi jumlah utang lancar bersama-sama untuk mengurangi aktiva lancar.
Tingkat quick ratio menjadi pusat perhatian yang utama secara terus- menerus dari para kreditur, terutama bank-bank, dimana mereka menghendaki agar utang-utang perusahaan kepada para kreditur tersebut yang segera harus dibayar, haruslah tersedia alat-alat likuid yang cukup, sehingga pada waktunya kewajiban-kewajibannya akan dapat dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang bersangkutan.
2. Solvabilitas
Solvabilitas suatu perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya bila sekiranya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasikan.
Perusahaan yang solvabel adalah perusahaan yang mempunyai aktiva atau kekayaan cukup untuk membayar semua utang-utangnya. Dimana solvabilitas dapat diukur dengan membandingkan aktiva (total aktiva) dengan total utang yang di miliki. Atau dapat juga ditempuh dengan membandingkan modal sendiri yang merupakan kelebihan atas nilai dari aktiva di atas hutang disatu sisi dengan total utang dilain pihak.
Karena solvabilitas itu adalah angka perbandingan antara jumlah aktiva dengan jumlah utang, maka setiap penambahan jumlah utang akan menurunkan tingkat solvabilitasnya.
Jika dirumuskan akan tampak sebagai berikut (Bambang Riyanto, 2001:33-34): Solvabilitas = utang total aktiva total
Apabila jumlah utang bertambah, jumlah dari “excess value-nya” dalam angka absolut adalah tetap, karena bertambahnya utang disertai dengan bertambahnya aktiva, tetapi dalam angka relatif atau dalam persentasenya adalah makin kecil.
3. Rentabilitas
Bagi perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar saja belum tentu dapat digunakan sebagai ukuran dalam menilai efisiensi operasi perusahaan. Efisiensi baru dapat diketahui setelah membandingkan antara laba dengan aktiva (kekayaan) atau dengan modal yang digunakan untuk
menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain efisiensi bisa diketahui setelah menghitung rentabilitas.
Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak dengan aktiva atau modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Atau dapat dilihat (Bambang Riyanto, 2001:35): Rentabilitas = aktiva total pajak) (sebelum bersih laba
Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Bambang Riyanto, 2001:35).
Suatu pembelanjaan atas aktiva tertentu selain mempengaruhi struktur likuiditas dan solvabilitas juga berpengaruh pada rentabilitas. Maka suatu perusahaan dalam pengelolaan dana (kas) harus mengadakan perimbangan dari berbagai faktor di atas. Apabila perusahaan hanya mendasarkan pada pertimbangan likuiditas saja, maka makin panjang umur kredit yang di tarik adalah makin baik, karena makin panjangnya kesempatan untuk memperoleh aliran kas masuk, yang ini berarti makin besarnya kemampuan untuk membayar kembali utangnya. Makin pendek umur kredit maka besar resiko tidak dapat membayar kembali utangnya karena makin kecilnya kesempatan untuk mengumpulkan dan untuk membayar kembali utangnya. Tetapi dilain pihak ditinjau dari sudut rentabilitas, pembiayaan dana dengan kredit jangka panjang akan memperbesar biayanya, karena akan ada waktu-waktu atau periode dimana dana yang dipinjam itu akan menganggur sedangkan
perusahaan tetap harus membayar bunganya. Sedang, bila perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan dana mendasarkan pada tujuan solvabilitas, maka dapat dilihat kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Dimana para kreditur jangka panjang sangat menaruh perhatian, baik pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, yaitu kemampuan membayar bunga maupun jangka panjang, yaitu kemampuan membayar pokok pinjaman (Bambang Riyanto, 2001:191- 200).
I. Trend Sekular Dengan Least Square Method
Analisis trend adalah suatu analisis yang dilakukan dengan menggunakan data-data masa lalu perusahaan untuk tujuan komparasi. Dengan melihat kecenderungan (trend) angka-angka ratio tertentu, dapat diperoleh gambaran apakah ratio-ratio tersebut cenderung naik, turun, atau relatif konstan. Dari gambaran ini, akan dapat dideteksi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan dan dapat diobservasi baik buruknya pengelolaan perusahaan (Dwi Prastowo, 2002:54).
Dengan mempelajari trend kita juga dapat mengadakan proyeksi masa mendatang. Dengan mempelajari trend kita dapat memisahkan trend dari komponen time series (deret berkala) yang lain, sehingga dengan demikian kita akan mudah mempelajari komponen-komponen time series yang lain (Nugroho Budiyuwono, 2001:223).
Salah satu cara untuk menghitung trend adalah dengan menggunakan metode jumlah kuadrat terkecil (the least square method). Yang dimaksud
jumlah kuadrat terkecil adalah jumlah kuadrat penyimpangan (deviasi) nilai data terhadap garis trend minimum atau terkecil. Apabila syarat ini dipenuhi, maka garis trend tersebut akan terletak di tengah-tengah data asli. Persamaan garis trend linear tersebut dirumuskan sebagai berikut (Nugroho Budiyuwono, 2001:212): Y= a+ bX Dimana a = Ν ΣΥ dan b = 2 ΣΧ ΣΧΥ Keterangan:
Y = nilai variable yang akan ditentukan X = periode waktu dan tahun dasar a = nilai Y apabila X sama dengan nol
b = kemiringan (slope) garis trend atau perubahan nilai Y dari waktu ke waktu
N = banyaknya tahun yang digunakan.