• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran

Dapat dilihat pada tabel 4.5 bahwa nilai probabilitas t-Statistic pada variabel pertumbuhan ekonomi (PE) yaitu sebesar 0.0401. Karena nilai probabilitas t-Statistic lebih kecil dari alpha (α) 0,05 (0.0401 < 0,05), artinya pertumbuhan ekonomi (PE) berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran. Kemudian untuk nilai Koefisien variabel pertumbuhan ekonomi (PE) yaitu sebesar -0.000148. Artinya setiap peningkatan satu satuan pada pertumbuhan ekonomi (PE) maka akan menurunkan tingkat pengangguran sebesar 0.000148 satu satuan dan sebaliknya setiap penurunan satu satuanpada pertumbuhan ekonomi (PE) maka akan meningkatkan tingkat pengangguran sebesar 0.000148 satu satuan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang dibuat oleh peneliti yaitu terdapat pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran di Indonesia pada tahun 1989-2018. Ditemukan bahwa

77

pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap pengangguran di Indonesia pada tahun 1989-2018.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Isnayanti dan Arnah Ritonga (2017), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran. Artinya semakin meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan tingkat pengangguran menurun dan sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi menurun maka dapat menyebabkan tingkat pengangguran meningkat.

Hal ini sesuai dengan teori hukum Okun (Okun’s Law) yaitu hukum yang diperkenalkan oleh Arthur Okun pada tahun 1962. Hasil penelitian yang diperoleh oleh Arthur Okun adalah adanya hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran: 1% kenaikan pada tingkat pengangguran maka akan menyebabkan penurunan pada pertumbuhan ekonomi sebesar 2% (Mudrajat Kuncoro, 2018).

Maksud dari hukum Okun tersebut yaitu dalam suatu perekonomian untuk menurunkan tingkat pengangguran adalah dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurut Keynes alasan lain yang menyebabkan PDB lebih cepat mengalami peningkatan atau penurunan dibandingkan dengan pengangguran adalah meningkatnya pengangguran disebabkan oleh minimnya permintaan agregat selama periode tertentu sehingga menyebabkan sulitnya menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak (Khem Chand, dkk., 2017: 135).

78

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator terpenting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, seperti melakukan penelitian tentang pembangunan ekonomi yang dilaksanakan di suatu Negara ataupun wilayah. Ekonomi mengalami pertumbuhan apabila di tahun sebelumnya produksi barang dan jasa mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya produksi barang dan jasa, maka otomatis perusahaan akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Sehingga kesempatan untuk angkatan kerja untuk memperoleh pekerjaan menjadi meningkat, yang pada akhirnya tingkat pengangguran menjadi berkurang. Artinya dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi maka akan meningkatkan outpul yang dihasilkan, sehingga penyerapan tenaga kerja tinggi dan tingkat pengangguran menjadi menurun (Isti Qomariyah, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh M Amirul Muminin dan Wahyu Hidayat R (2017), Isti Qomariyah (2013), serta Khem Chand, Rajesh Tiwari, dan Manish Phuyal (2017) juga menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran.

2. Hubungan Inflasi Terhadap Pengangguran

Dapat dilihat pada tabel 4.5 bahwa nilai probabilitas t-Statistic pada variabel inflasi (INF) yaitu sebesar 0.8031. Karena nilai probabilitas t-Statistic lebih besar dari alpha (α) 0,05 (0.8031 > 0,05), artinya inflasi (INF) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat

79

pengangguran. Kemudian untuk nilai Koefisien variabel inflasi (INF) yaitu sebesar -0.000608. Artinya setiap peningkatan 1% pada inflasi (INF) maka akan menurunkan tingkat pengangguran sebesar 0.000608 % dan sebaliknya setiap penurunan 1% pada inflasi (INF) maka akan meningkatkan tingkat pengangguran sebesar 0.000608 %. Secara umum, dalam penelitian ini hasilnya menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh secara negatif terhadap pengangguran di Indonesia pada tahun 1989-2018.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rubaiya Tanha (2018), yang menyatakan bahwa inflasi memiliki nilai koefisien negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran.

Hal ini sesuai dengan teori yang pernah dijelaskan oleh AW Phillips pada tahun 1958, teori tersebut adalah kurva Phillips. Pada teori tersebut, mendeskripsikan tentang hubungan inflasi dengan tingkat pengangguran dalam jangka pendek. Phillips menjelaskan terdapat hubungan negatif antara inflasi dengan pengangguran. Artinya ketika tingkat inflasi meningkat maka dapat menurunkan tingkat pengangguran dan sebaliknya ketika tingkat inflasi menurun maka dapat menaikkan tingkat pengangguran (Susan A. Yehosua, dkk., 2019: 29). Kurva Phillips ini hanya berlaku pada saat tingkat inflasi ringan dan dalam jangka pendek. Hal tersebut dikarenakan adanya kenaikan harga yang membuat suatu perusahaan meningkatkan jumlah produksinya untuk

80

mendapatkan laba. Namun apabila yang terjadi adalah hyper inflation, maka kurva Phillips tidak berlaku lagi.

Dalam teori kurva Phillips tersebut dijelaskan bahwa meningkatnya inflasi disebabkan oleh meningkatnya permintaan agregat. Hal tersebut kemudian akan mendorong tingginya harga barang dan diikuti dengan menurunnya persediaan barang di perusahaan. Oleh karena itu, agar permintaan pasar tersebut terpenuhi maka jumlah produk yang diproduksi oleh produsen perlu ditingkatkan atau ditambahkan dan untuk melakukan penambahan kapasitas produksi, maka produsen juga perlu melakukan penambahan pada jumlah tenaga kerja. Sehingga semakin tingginya permintaan akan tenaga kerja maka tingkat pengangguran cenderung semakin berkurang (Nur Fitri Yanti, dkk., 2019).

Pengaruh inflasi yang tidak signifikan terhadap pengangguran di Indonesia disebabkan karena tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia tidak disebabkan oleh peningkatan permintaan agregat (Demand Pull Inflation) yang bermultiplier efek terhadap peningkatan kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja sehingga jumlah pengangguran berkurang. Namun, tingkat inflasi yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor-faktor lain yang mana tidak berdampak pada pengurangan tenaga kerja, yaitu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada melemahnya nilai tukar, perubahan iklim atau cuaca yang tidak menentu, biaya produksi meningkat, kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered price) seperti: kenaikan tarif angkutan, tarif

81

tol, harga rokok, dan harga gas LPG (Liquefied Petroleum Gas), serta tingginya inflasi bahan makanan (volatile foods) yang mengakibatkan kelangkaan pasokan dan gangguan distribusi di berbagai daerah.

Penelitian yang dilakukan oleh Susan A. Yehosua, Tri O. Rotinsulu, dan Audie O. Niode (2019) serta Nur Fitri Yanti, Haerul Anam, dan Harnida Wahyuni Adda (2017) juga menyatakan bahwa inflasi memiliki nilai koefisien negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran.

3. Hubungan Jumlah Penduduk Terhadap Pengangguran

Dapat dilihat pada tabel 4.5 bahwa nilai probabilitas t-Statistic pada variabel jumlah penduduk (PDDK) yaitu sebesar 0.0160. Karena nilai probabilitas t-Statistic lebih kecil dari alpha (α) 0,05 (0.0160 < 0,05), artinya jumlah penduduk (PDDK) berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran. Kemudian untuk nilai Koefisien variabel jumlah penduduk (PDDK) yaitu sebesar 0.009255. Artinya setiap peningkatan satu satuan pada jumlah penduduk (PDDK) maka akan diikuti dengan meningkatnya tingkat pengangguran sebesar 0.009255 satu satuan dan sebaliknya setiap penurunan satu satuan pada jumlah penduduk (PDDK) maka akan diikuti dengan menurunnya tingkat pengangguran sebesar 0.009255 satu satuan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang dibuat oleh peneliti yaitu terdapat pengaruh jumlah penduduk terhadap pengangguran di Indonesia pada tahun 1989-2018. Ditemukan bahwa jumlah penduduk

82

berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pengangguran di Indonesia pada tahun 1989-2018.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Shatha Abdul-Khaliq, Thikraiat Soufan, dan Ruba Abu Shihab (2014) yang menyatakan bahwa jumlah penduduk berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pengangguran. Artinya setiap peningkatan pada jumlah penduduk maka akan meningkatkan tingkat pengangguran dan sebaliknya setiap penurunan pada jumlah penduduk maka akan menurunkan tingkat pengangguran.

Hal ini sesuai dengan teori Malthus, diartikan bahwa pada masyarakat modern yaitu semakin meningkatnya jumlah penduduk maka akan meningkatkan tenaga kerja, namun hal ini tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang ada. Karena jumlah kesempatan kerja yang sedikit tersebut mengakibatkan manusia saling bersaing dalam memperoleh pekerjaan dan tenaga kerja yang tersisih dalam persaingan tersebut akan menjadi golongan penganggur (Dian Prastiwi dan Herniwato Retno Handayani, 2019: 166). Penelitian yang dilakukan oleh Niken Dwi Lestari dan Nenik Woyanti (2020) serta M. Amirul Muminin dan Wahyu Hidayat R. (2017) juga menyatakan bahwa jumlah penduduk berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pengangguran.

83 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait