• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam melakukan penelitian, peneliti mencoba untuk melakukan pendekatan dan membangun rapport kepada masyarakat Desa Sei Mangkei.Dalam tiga bulan pertama penelitian pertama, peneliti hanya bermodalkan pendekatan secara kekeluargaan yang dibantu seorang masyarakat tetangga desa lokasi penelitian. Bapak Tuan Saragih, yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan peneliti tinggal di desa Dolok Sinumba yang tidak jauh dari lokasi penelitian.

Peneliti bersama Bapak Tuan Saragih, sebut saja rekan dalam penelitian, bersama memasuki tempat-tempat istirahat (warung) yang ada di sekitaran lokasi penelitian dalam beberapa waktu secara bergantian.Ini dilakukan peneliti dalam upaya mencari kenalan/informan dan membangun rapport di lokasi penelitian.

Mengamati pergeseran budaya Etnis Simalungun di Desa Sei Mangkei, peneliti tidak memberikan batasan hanya berdasasrkan pada bahasa.Jelas selama beberapa hari pertama peneliti dilapangan sangat sulit mencari seseorang yang bisa berbahasa Simalungun dan memang tidak ditemukan satu orangpun di Desa Sei Mangkei yang fasih berbahasa Simalungun.

Marjinalisasi dalam hal ini beralih pada jangkauan yang lebih luas mengacu pada pengetahuan masyarakat desa Sei Mangkei tentang

mencari tahu peralihan kebudayaan, peneliti melakukan pengamatan terhadap Etnis Simalungun (asli) dalam kebiasaan-kebiasaan dan keseharian kehidupan mereka. Peneliti memang tidak lama stay (tinggal) bersama dirumah informan, dikarenakan ketidak bersediaan informan. Tetapi setiap hari peneliti sudah melakukan pengamatan dengan mengikuti beberapa informan sejak pagi hingga malam hari.

Pada penelitian di bulan kedua, peneliti mulai melakukan pengamatan pada proses interaksi sosial di desa Sei Mangkei. Berdasarkan pengamatan dan participant observation peneliti di Desa Sei Mangkei, peneliti mengamati kebudayaan yang paling berpengaruh di Sei Mangkei.Peneliti melihat tidak ada satu orang pun yang berbicara dan melakukan aktivitas berdasarkan kebudayaan Etnis Simalungun.

Kebiasaan yang paling dominan lebih mengarah kepada kebudayaan Etnis Jawa dan Batak Toba.Di setiap warung-warung dan tempat perkumpulan masyarkat Sei Mangkei, selalu ada menemukan bahasa Jawa dengan logatnya yang khas, bahasa Batak Toba juga dengan logatnya yang khas.Kemudian selebihnya menggunakan bahasa Nasional yaitu bahasa Indonesia.

Mengingat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap harinya dalam setiap minggu di Sei Mangkei begitu-begitu saja, peneliti mulai mencari informasi lebih dengan mertanya kepada siapa saja yang di temui dan mau di wawancara tentang upacara adat yang pernah dilakukan masyarakat Desa. Hasilnya nihil, hanya ada kegiatan gotong royong yang tidak menentu waktunya dan acara pernikahan atau ucapan syukur yang dengan instrument musik

Simalungun.Namun setelah di telusuri kembali, bahwa memang bukan adat Simalungun yang dipergunakan, tetapi hanya terdapat gondrang dan seruling pada beberapa acara-acara masyarkat seperti pesta pernikahan, sunatan, dan syukuran.

Pada hari minggu dalam penelitian di Gereja, peneliti mendapatkan tambahan faktor yang mempengaruhi pudarnya kebudayaan Simalungun.Dalam hal ini kegiatan-kegiatan agama juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi eksis atau tidaknya kebudayaan Simalungun di Sei Mangkei.

Pada kegiatan-kegiatan agama, kelompok masyarakat islam semakin dipertajam dengan kebiasaan islamik, menggunakan bahasa arab, dan berinteraksi dengan bahasa jawa. Sedangkan di Desa Sei Mangkei hanya terdapat satu gereja saja dan gereja tersebut tidak berasal dari etnis manapun dengan megatas namakan Gereja Nasionalis.Dalam kebiasaan di gereja juga tidak menggunakan bahasa dan kebiasaan tradisi dari Etnis Simalungun.Berbeda dengan gereja yang mengatasnamakan Etnis Simalungun yaitu GKPS, yang setiap kegiatan ibadahnya pasti menggunakan bahasa dan tradisi Etnis Simalungun.

Selain mengamati interaksi sosial masyarakat Sei Mangkei, peneliti menyempatkan menyinggahi tempat-tempat pemerintahan, kantor-kantor, sekolah dan kelembagaan lainnya guna melihat design setiap bangunannya.Hal ini dilakukan peneliti karena setelah diamati, tidak ada penanda wilayah atau sedikitpun ukiran dan gambar khas dari Simalungun.seperti gorga Simalungun pada ucapan Selamat datang, pahatan Cicak, dan sebagainya.

Tetapi setelah penelitian bulan ke empat (terakhir) peneliti melihat ada perubahan terjadi.Peneliti melihat sudah ada pengecatan gorga-gorga pada setiap

bangunan pemerintah, termasuk sekolah di Sei Mangkei. Pengecatan tidak merata selesai serentak tetapi bergiliran da nada dalam proses pengerjaan.

Sebelum kembali ke Desa Sei Mangkei, peneliti sempat menemui penatua adat Simalungun yaitu Bapak Drs. Djoman Purba, dan kantor Disporabudpar Simalungun. peneliti tidak mengetahui apakah pengecatan itu berkaitan dengan kunjungan peneliti ke kantor pemerintahan dan yayasan Museum Simalungun tersebut. Dari perbincangan peneliti dengan Bapak Edi Susanto (kepala desa Sei Mangkei):

”Kami sendiri juga terkejut, tiba-tiba kemarin itu waktu sore-sore. Bapak

Rahmat (staff di kantor camat) bawa surat isinya itu untuk melakukan rehap bangunan. Sekalian juga itu dibawa sama tukang-tukangnya yang mau kerja. Sudah saya terima, sudah kemudian besoknya langsung itu dikerjakan mereka, ada empar (4) orang yang kerja. Itu mulai dari sekolah SD depan, yang pas pintu masuk Desa, itu di pinggir jalan besar, terus ini SD yang di perumahan perkebunan blakang masjid. Abis itu nanti ke sini juga. Terakhir kurasa di kantor ini, karena kan disini banyak surat-surat,atau memang udah gitu darisananya”.

Terkait dengan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sei Mangkei, penulis mengambil data dasar hukum pembangunan KEK yang mengacu pada Undang-Undang Repunlik Indonesianomor 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Dalam pasal tersebut dijelaskan bagaimana berdirinya sebuah Kawasan Ekonomi Khusus baik dari tahap pengusulan, perencanaan, penetapan, pembangunan, hingga pada pengoperasian dan seterusnya.

Dari pasal tentang pengusulan hingga perencanaan dikatakan bahwa proses tersebut hanya dilakukan oleh badan usaha, pemerintah daerah, pemerintah provinsi secara langsung ke pemerintah pusat. Jadi jelas bahwa tidak ada peran dari masyarakat setempat. Dengan demikian keadaan baru setelah pembangunan KEK akan semakin

menambah banyaknya pendatang dan kemungkinan akan memberikan rasa takut kepada Etnis Simalungun terhadap keutuhan budayanya.

Hal ini serupa dengan contoh kasus di Papua dimana pada tahun 1959 persentase pendatang masih kurang dari 2%, menjadi 4% pada tahun 1971, dan menjadi lebih dari 35% pada tahun 2000. Pada tahun 2005 diperkirakan penduduk pendatang menjadi 41% dan melonjak menjadi 53,3% pada tahun 2011. Pada masa depan atau masa akan datang, dikhawatirkan orang asli Papua akan menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri. Sebagai akibatnya adalah adanya kekhawatiran orang asli Papua akantermarjinalisasi. Dengan banyaknya pendatang, misalnya: posisi politik orang asli Papua melemah karena suara mereka bisa jadi lebih kecil daripada pendatang dalam pemilihan umum atau pemillihan kepada daerah56