• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pembahasan Concept Journaling

Proses pembelajaran concept journaling melibatkan siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Pada setiap pertemuan siswa akan dibagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berisi tentang masalah dan juga tahapan bagaimana siswa dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dengan ide, hasil pikir maupun dari sumber-sumber lain seperti hal ya buku dan internet atau juga melalui bertanya kepada nara sumber.

Tahapan pertama yang dilakukan siswa adalah perencana, pada tahapan ini siswa diberikan masalah dan juga diberikan analisis untuk bagaimana menyelesaikannya. Pada tahap ini, indikator komunikasi matematik yang dilihat adalahmathematical expressionyaitu kemampuan untuk mengekspresikan konsep matematika dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika. Siswa menganilisis tentang menyelesaian masalah dari apa yang sudah diketahui dalam soal.

Tahap kedua dariconcept journalingadalah pengumpulan data. Pada tahapan ini siswa menganalisis dan juga mengumpulkan data tentang berbagai informasi untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dalam bentuk gambar maupun rumus atau juga argumen dari teman-teman sekelompok. Indikator yang diukur pada tahapan ini adalahmathematical expression, written text,dandrawing.

Gambar 4.3

Tahapan selanjutnya adalah intervensi. Pada tahapan ini siswa diminta untuk membuat jurnal dari hasil pengumpulan data pada tahapan sebelumnya. Indikator komunikasi matematik yang diukur pada tahap ini adalah mathematical expression, written text,dandrawing.

Gambar 4.4 Rangkuman siswa

Tahapan keempat adalah refleksi dan penyesuaian intervensi. Pada tahap ini siswa mempresentasikan hasil intervensi di depan kelas. Pada tahap ini guru menanyakan kepada siswa mengenai masalah yang diberikan untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi yang disampiakan dibalik masalah yang diberikan. Indikator komunikasi matematik yang dinilai pada tahap ini adalah

Gambar 4.5

Siswa mempresentasikan jurnalnya

Tahap terakhir pada concept journalingadalah siklus refleksi. Pada tahap ini guru memberikan soal kepada siswa untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa mengenai materi yang diberikan. Indikator komunikasi matematik yang dinilai pada tahap ini adalahmathematical expression, written text,dandrawing.

Gambar 4.6 Siswa mengerjakan soal

2. Analisis Kemampuan Komunikasi Matematik

Berdasarkan hasil posttest kemampuan komunikasi matematik kelas eksperimen dan kelas kontrol, terlihat adanya nilai rata-rata, median, modus,

varians, simpangan baku, tingkat kemiringan dan ketajaman. Deskripsi data perbedaan kemampuan komunikasi atematik disajikan pada Tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5

Perbedaan Hasil Tes Kemampuan Komunikasi Matematik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Banyak sampel 42 42 Nilai terendah 18 3 Nilai tertinggi 100 94 Mean 62,5 43,26 Median 66,5 34,5 Modus 91,25 26,88 Varians 729,3659 611,3078 Simpangan baku 27,01 24,72 Kemiringan -1,06 0,66 Ketajaman/Kurtosis 0,364 0,292

Tabel 4.8 menunjukkan perbandingan kemampuan komunikasi matematik siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, yaitu perolehan nilai rata-rata kemampuan komunikasi matematik siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol yang selisihnya sebesar 19,24 artinya rata-rata nilai kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Perbandingan median dan modus pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Tingkat kemiringan di kelompok eksperimen -1,06. Karena bernilai negatif, maka kecenderungan data mengumpul di atas nilai rata-rata, sedangkan pada kelompok kontrol memperoleh tingkat kemiringan 0,66. Karena bernilai positif, maka kecenderungan data mengumpul di bawah rata-rata.

Secara visual perbedaan penyebaran data di kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang menggunakan strategi pembelajaranConcept Journalingdengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran ekspositori dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.7

Kurva Perbandingan Nilai Kemampuan Komunnikasi Siswa Pada Kelas Eksperimen dan Kontrol

Dilihat dari Gambar 4.7, bahwa model kurva dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol memiliki model kurva yang sama, yaitu runcing (leptokurtis) karena berdasarkan perhitungan kurtosis dari kedua kelas lebih besar dari 0,263. Terlihat bahwa penyebaran data kurva pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol, karena kurva dikelas eksperimen memiliki kurva landai ke kiri yaitu ekor kiri lebih panjang dari ekor kanan artinya data yang diperoleh dari nilai tes kemampuan komunikasi matematik pada kelas eksperimen mengelompok diatas rata-rata dengan persentase siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 54,77% dan siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata sebanyak 45,23%. Maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata. Sedangkan pada kelas kontrol kurva memiliki landai ke kanan yaitu ekor kanan lebih panjang dibangkan dengan ekor kiri artinya data yang diperoleh dari nilai tes kemampuan komunikasi matematik pada kelas kontrol mengumpul dibawah rata-rata dengan persentase siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 28,57% dan siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata sebanyak 71.43%. maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata.

0 2 4 6 8 10 12 0 20 40 60 80 100 F r e k ue nsi Nilai Eksperimen Kontrol

Tabel 4.6

Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Berdasarkan Indikator

No Indikator N Skor Ideal Ekperimen Kontrol 1. Mathematical Expression 42 30 47 28 2. Drawing 42 20 71 52 3. Written Text 42 15 63 49 Rata-rata 61 43

Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi kelas eksperimen berdasarkan indikator written text, drawing, dan mathematical expression lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Jika diakumulasi pada masing-masing kelompok diperoleh rata-rata persentase kelas eksperimen sebesar 61 sedangkan rata-rata kelas kontrol sebesar 43 dengan selisih 18. Persentase rata-rata indikator kemampuan komunikasi matematik kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kemampuan komunikasi matematik kelas kontrol. Dari deskripsi data diatas dapat disimpulkan bahwa hasil jawaban siswa pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol.

Perbandingan persentase indikator kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam grafik berikut ini:

Gambar 4.8

Perbandingan Rata-rata Indikator Kemampuan Komunikasi Matematik Kelas Eksperimen dan Kontrol

Dari Gambar 4.8, terlihat mathematical expression yang paling rendah. Masalah yang terjadi adalah kurangnya pemahaman siswa pada bagaiamana membuat model matematika, hal ini menyebabkan banyak siswa yang masih bertanya kepada peneliti untuk menyelesaikan soal kedalam bentuk simbol atau model matematika. Dan juga terlihat written text dan drawing pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini disebabkan bahwa dalam pembelajaran dengan Concept Journaling selalu memberikan masalah yang membuat siswa dengan siswa lainnya aktif menjelaskan argumen jawaban mereka dengan penyelesaian berupa gambar atau pun dengan rumus yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, internet dan nara sumber.

Perbedaan kemampuan komunikasi matematik dalam penelitian ini juga terlihat dari hasil jawaban posttest yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut ini adalah analisis hasil jawaban tes kemampuan komunikasi matematik berdasarkan indikator-indikatornya.

a. IndikatorWritten Text

Soalposttestuntuk mengukur indikator ini terdapat pada nomor 1, 2b, 3b, 4c, 5b, 6c. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai kemampuan

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% Mathematical Expression

Drawing Written Text

Ra ta -Ra ta Eksperimen Kontrol

komunikasi matematik siswa, berikut ini akan ditampilkan soal/masalah beserta jawaban posttestsiswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil kerja siswa berdasarkan jawaban terbanyak yang diberikan sebagai berikut:

Soal nomor 5b

Diketahui limas segiempat beraturan T.ABCD dengan AB = 16 cm, tinggi limas = 15 cm. Tentukan luas permukaan limas T.ABCD!

Pada Gambar 4.9, dapat dilihat bahwa jawaban terbanyak yang diberikan siswa untuk menyelesaikan masalah yang diberikan belum mencakup semua indikator padawritten textseperti yang diinginkan peneliti. Dalam penjabarannya, siswa sudah dapat menentukan dengan benar rumus apa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, tetapi penurunan rumusnya masih belum tepat. Siswa masih belum paham betul bagaimana penurunkan rumus tersebut sehingga dapat diketahui hasilnya. Pada rumus jelas harus dicari terlebih dahulu luas alas dari limas tersebut. Setelahnya dicari berapa luas bidang bidang tegaknya. Sehingga dapat dihasilkan jawaban yang tepat dengan m engalikan hasil dari luas alas dengan jumlah dari luas bidang tegaknya. Hal ini menyebabkan kemampuan menjawab yang diberikan siswa dengan menggunakan tulisan konkrik berupa penempatan rumus dan menurunkan rumus yang digunakan masih rendah. Hal ini berarti dalam proses pembelajaran denganConcept Journalingpada tahapan yang berhubungan dengan written text seperti pengumpulan data, intervensi, refleksi dan penyesuaian intervensi, serta siklus refleksi, tidak dapat terpresentasi dengan baik oleh siswa. Sedangkan jawaban terbanyak yang diberikan siswa pada kelompok kontrol seperti yang dapat dilihat dari Gambar 4.10 juga tidak jauh berbeda denga jawaban yang diberikan pada kelompok eksperimen.

Gambar 4.9

Jawaban terbanyak yang diberikan siswa kelas eksperimen

Gambar 4.10

Jawaban terbanyak yang diberikan siswa kelas kontrol Namun pada sebagian jawaban lain ditemukan, hasil jawaban yang diberikan siswa sudah sesuai indikatorwritten textyang diingkan dan ini dapat dilihat pada Gambar 4.11, yaitu siswa sudah mampu memberikan jawaban dengan menggunakan tulisan konkrik berupa penempatan rumus dan penurunan rumus yang benar, bahkan siswa mampu mengkomunikasikan jawabannya dengan sangat baik. Hanya saja pada Gambar 4.12 jawaban terbaik yang juga diinginkan peneliti pada kelompok kontrol tidak sejelas denga apa yang diberikan pada kelas eksperimen.

Gambar 4.11

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas eksperimen

Gambar 4.12

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas kontrol

Hal ini berarti dalam proses pembelajaran dengan Concept Journaling

pada tahapan yang berhubungan dengan written text seperti pengumpulan data, intervensi, refleksi dan penyesuaian intervensi, serta siklus refleksi, sudah terpresentasi dengan baik oleh siswa kelompok eksperimen.

b. IndikatorDrawing

Soal posttest untuk mengukur indikator ini terdapat pada nomor 2a, 4b, 5a, 6b. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai kemampuan komunikasi matematik siswa, berikut ini akan ditampilkan soal/masalah beserta jawaban

posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil kerja siswa adalah sebagai berikut:

Soal nomor 4b

Sisi-sisi alas prisma tegak segitiga ABC.DEF adalah 9cm, 15cm, dan 12cm. Jika tinggi prisma adalah 20cm, gambarkan prisma tegak segitiga ABC.DEF!

Pada Gambar 4.13, dapat dilihat bahwa jawaban terbanyak yang diberikan siswa untuk menyelesaikan masalah yang diberikan belum mencakup semua indikator pada drawing seperti yang diinginkan peneliti, yaitu merefleksikan gambar ke dalam ide matematika. Jawaban yang diberikan siswa pada Gambar 4.9 ini sudah benar, hanya saja siswa tidak menempatkan label untuk berapa sisi- sisi dari prisma tegak segitiga yang sudah diketahui pada soal. Sedangkan jawaban terbanyak yang diberikan siswa pada kelompok kontrol seperti yang dapat dilihat dari Gambar 4.14 juga tidak jauh berbeda denga jawaban yang diberikan pada kelompok eksperimen.

Gambar 4.13

Jawaban terbanyak yang diberikan siswa kelas eksperimen

Gambar 4.14

Jawaban terbanyak yang diberikan siswa kelas kontrol

Hal ini menyebabkan kemampuan siswa dalam menggambar masih rendah. Ini berarti dalam proses pembelajaran denganConcept Journalingpada tahapan yang berhubungan dengan drawing seperti perencanaan, pengumpulan data, refleksi

dan penyesuaian intervensi, serta siklus refleksi, tidak dapat terpresentasi dengan baik oleh siswa.

Gambar 4.15

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas eksperimen

Gambar 4.16

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas kontrol

Namun pada sebagian jawaban lain ditemukan, hasil jawaban yang diberikan siswa sudah sesuai indikator drawing yang diingkan dan ini dapat dilihat pada Gambar 4.15, yaitu siswa sudah mampu memberikan jawaban dengan menggambarkan prisma tegak segitiga, bahkan siswa mampu mengkomunikasikan jawabannya dengan menempatkan label panjang sisi dan label titik sudut dengan sangat baik. Hanya saja pada Gambar 4.16 jawaban terbaik yang juga diinginkan peneliti pada kelompok kontrol tidak sejelas denga apa yang diberikan pada kelas eksperimen.

Hal ini berarti dalam proses pembelajaran dengan Concept Journaling pada tahapan yang berhubungan dengan drawing seperti perencanaan, pengumpulan data, refleksi dan penyesuaian intervensi, serta siklus refleksi, sudah terpresentasi dengan baik oleh siswa kelompok eksperimen.

c. IndikatorMathematical Expression

Soalposttestuntuk mengukur indikator ini terdapat pada nomor 3a, 4a, 6a. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai kemampuan komunikasi

matematik siswa, berikut ini akan ditampilkan soal/masalah beserta jawaban

posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil kerja siswa adalah sebagai berikut:

Soal nomor 6a

Panjang rusuk kubus ABCD.EFGH adalah 6cm. Jika volume kubus PQRS.TUVW adalah 8 kali volume kubus ABCD.EFGH, maka tentukan yang diketahui berdasarkan informasi soal diatas!

Pada sebagian jawaban yang diberikan siswa ditemukan, hasil jawaban yang diberikan siswa sudah sesuai indikator mathematical expression yang diinginkan dan ini dapat dilihat pada Gambar 4.17, yaitu siswa sudah mampu mengekspresikan konsep matematika dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.

Gambar 4.17

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas eksperimen

Gambar 4.18

Jawaban terbaik yang diberikan siswa kelas eksperimen

Hanya saja pada Gambar 4.18 jawaban terbaik yang juga diinginkan peneliti pada kelompok kontrol tidak sejelas dengan apa yang diberikan pada kelas eksperimen. Hal ini berarti dalam proses pembelajaran dengan Concept Journaling pada tahapan yang berhubungan dengan mathematical expression

intervensi, serta siklus refleksi, sudah terpresentasi dengan baik oleh siswa kelompok eksperimen.

C. Keterbatasan Penelitian

Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Berbagai upaya telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini agar diperoleh hasil yang optimal. Namun demikian, masih ada beberapa faktor yang sulit dikendalikan sehingga membuat penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya:

1. Concept Jounaling cenderung masih baru sehingga siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran yang diajarkan, hal ini menyebabkan peneliti harus lebih membimbing setiap kelompok agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

2. Pembelajaran dengan Concept Journaling membutuhkan waktu yang cukup banyak, namun waktu yang tersedia terbatas sehingga diperlukan persiapan dan pengaturan kelas yang baik.

3. Sebaiknya tekankan kembali kepada siswa bahwa jurnal yang dibuat haruslah mengunakan bahasa sendiri, baik dalam menulisan rumus maupun definisi-definisi, sehingga siswa akan memahami dengan baik apa yang menjadi poko bahasan.

4. Pada indikator mathematical expression ditemukan banyak siswa tidak menjawab soal yang diberikan, hal ini menyebabkan kemampuan siswa dalam menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol masih rendah. Ini berarti dalam proses pembelajaran dengan Concept Journaling pada tahapan yang berhubungan dengan mathematical expression seperti pengumpulan data, intervensi, refleksi dan penyesuaian intervensi, serta siklus refleksi, tidak dapat terpresentasi dengan baik oleh siswa. Dugaan peneliti, hal ini terjadi karena faktor ketepatan waktu yang tidak cukup banyak sehingga siswa tidak mampu menyelesaikannya.

62

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan mengenai pembelajaran matematika dengan Concept Journaling terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa di SMP Negeri 23 Tangerang diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan denganConcept Journaling memiliki nilai rata-rata perindikator dari yang paling baik adalah indikator drawing dengan nilai rata-rata 71, indikator written text

dengan nilai rata-rata 63, dan indikator mathematical expression dengan nilai rata-rata 47. Kemampuan komunikasi matematik yang dalam pembelajarannya diterapkan dengan Concept Journaling memiliki kemampuan drawing yang lebih tinggi dibandingkan kemampuan komunikasi pada indikator yang lainnya. Hal ini terjadi karena siswa lebih mampu merefleksikan soal kedalam bentuk gambar.

2. Kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan dengan pembelajaran ekspositori memiliki nilai rata-rata perindikator dari yang paling baik adalah indikator drawing dengan nilai rata-rata 52, indikator

written text dengan nilai rata-rata 49, dan indikator mathematical expression dengan nilai rata-rata 28. Kemampuan komunikasi matematik yang dalam pembelajarannya diterapkan dengan ekspositori memiliki kemampuan drawing yang lebih tinggi dibandingkan kemampuan komunikasi pada indikator yang lainnya. Hal ini terjadi karena siswa lebih lebih mampu merefleksikan soal kedalam bentuk gambar.

3. Kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan dengan Concept Journaling berbeda dibandingan dengan kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan dengan pembelajaran ekspositori, terlihat dari pengujian hipotesis Mann-Whitney Zhitung=2,9 dan Ztabel=1,65 dengan taraf signifikan 5% sehingga Zhitung=2,9 > Ztabel=1,65. Dengan demikian

kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran Concept Journaling lebih tinggi dibandingkan dengan strategi pembelajaran ekspositori.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Dengan adanya beberapa keterbatasan dalam melaksanakan penelitian ini, sebaiknya dilakukan penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran

Concept Journaling pada pokok bahasan lain dan pada jenjang sekolah yang berbeda.

2. Guru yang hendak menggunakan strategi Concept Journaling dalam pembelajaran matematika di kelas diharapkan mampu memberikan arahan yang baik di awal pembelajaran, supaya proses pembelajaran berjalan dengan baik dengan esensi waktu yang tepat.

3. Hendaknya guru mampu memberikan gambaran mengenai isi jurnal dan membuatkan contoh bentuk jurnal yang diharapkan guru untuk juga dapat dibuat oleh siswa.

64

Gurria, Angel. PISA 2012 Result in Focus: What 15-year-olds Know and What They Can Do Whit What They Know. US: OECD. 2014.

Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana PrenadamediaGroup. 2014

Saurino, Dan R. Concept Journaling to Increase Critical Thinking Dispositions and Problem Solving Skills in Adult Education. The Journal of Human Resource and Adult Learning. Vol. 4, Num. 1. June 2008.

Schwartz, David J. The Magic Of Thingking Big. Surabaya: PT Menuju Insan Cemerlang. 2014.

Cathcart, George. Dkk. Learning Mathematics. Canada: Canada International Development Agency. 2008

Satriawati, Gusni. Pembelajaran dengan Pendekatan Open-ended untuk Meningatkan Pemahaman dan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa SMP.Algoritma.Vol 1 No 1. 2006.

Husna, Ikhsan, Fatimah. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair-Share (TPS).Jurnal Peluang. Vol 1 No 2. April 2013.

Van de Walle, Jhon A.Matematika Sekolah Dasar dan Menengah Pengembangan Pengajaran. Jakarta: Erlangga. 2008.

Kadir. Statistika Terapan Konsep, Contoh dan Analisis Data dengan Program SPSS/Lisrel dalam Penelitian Edisi Kedua. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2015.

---. Statistika Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT Rosemata Sampurna. 2010.

Darkasyi, Muhammad., Johar, Rahmah., Ahmad, Anizar. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Motivasi Siswa dengan Pembelajaran Pendekatan Quantum Learning pada Siswa SMP Negeri 5 Lhokseumawe.Jurnal Didaktik Matematika. Vol. 1 No. 1. April 2014. Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja

Rosdakarya. 2009.

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2013.

Dahar, Ratna Wilis. Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga. 2011.

Natawidjaja, Rochman., dkk.Rujukan Filsafat Teori dan Praktis Ilmu Pendidikan. Bandung: UPI Press. 2008.

Amber, Steele. "Investigating Student Learning and Perceptions Through Concept Journaling: An Exploratory Case Study in Coordinate Algebra." Dissertation. Georgia State University. 2015. tidak dipublikasikan. Provasnik, Stephen. Highlight From TIMSS 011 Mathematics and Science

Achievment of U.S. Fourth-and Eight-Grade Student in a International Context. 2012.

Sugiyono.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2012.

---.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. 2015.

Arikonto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2013.

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara. 2013.

Surapranata, Sumarna. Analisis , Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006. Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010.

---. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010.

---. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2011.

Lampiran 1

Wawancara Guru Matematika SMPN 23 Kota Tangerang (Prapenelitian)

No. Pertanyaan Jawaban Guru

1. Apakah siswa menyukai pelajaran matematika? Mengapa demikian?

Tidak semua siswa menyukai pelajaran matematika, mungkin hanya seperempat bagian saja yang menyukai matematika di kelas 8 yang saya ajarkan ini. Masalahnya ada di materinya sulit sehingga menjadi satu beban bagi siswa dan yang sangat mendasar adalah masalah pada siswa yang kurang meningkatkan potensinya dalam belajar. Terlebih bagi siswa yang kemampuan daya tangkapnya kurang, maka mereka harus mengejar ketertinggalan mereka. Kesiapan mereka dalam belajar juga masih menjadi kendala, karena beberapa siswa bahkan tidak membawa buku pelajaran matematika yang semestinya mereka pada hari itu.

2. Apakah dalam menjelaskan materi, Anda menggunakan simbol-simbol matematika?

Iya, saya menggunakan simbol-simbol ketika mengajar, seperti pada pelajaran aljabar, fungsi, persamaan linear, bangun ruang, bangun datar, lingkaran, dan hampir semua materi saya menggunakan simbol.

3. Apakah penjelasan yang Anda sampaikan mengguakan benda- benda nyata, gambar, dan grafik untuk merefleksikannya ke dalam ide-ide matematika?

Iya, saya menggunakan contoh-contoh kehidupan sehari-hari dalam pembelajaran yang saya ajarkan.

4. Apakah siswa difasilitasi untuk mengeluarkan ide-ide matematika dalam belajar?

Difasilitasi seperti memberikan stimulus berupa pertanyaan-pertanyaan, namun

Dokumen terkait