Tinjauan Penelitian Terdahulu
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan dan Hasil Penelitian
Tingkat kemandirian keuangan daerah adalah kemampuan pemerintah daerah dalam menggali dan mengelola sumber daya atau potensi daerah yang dimilikinya secara efektif dan efisien sebagai sumber utama keuangan daerah yang berguna untuk membiayai kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah, yang diformulasikan sebagai berikut:
Hasil dari perhitungan tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten/Kota Provinsi Riau yang menjadi pengamatan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam table berikut:
Tabel 4.5
Rata-Rata Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten/Kota yang diamati
No Kabupaten/Kota Tahun
2012 2013 2014 2015
Pola hubungan Instruktif Instruktif Instruktif Instruktif Sumber: Data Olahan Lampiran 1
Menurut dari hasil perhitungan pada tabel diatas, dapat disimpulkan rasio tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten/Kota yang dijadikan sampel selama 4 tahun memiliki rata- rata rasio tingkat kemandirian keuangan daerah yang masih rendah yaitu pada tahun 2012 (6,80), tahun 2013(7,83), tahun 2014(7,95), tahun 2015 (10,67). Dalam hal ini tingkat kemandirian keuangan daerah masih kurang dengan pola hubungan Instruktif yaitu berarti peranan pemerintah pusat masih lebih dominan dari pada kemandirian pemerintah daerah (daerah tidak dapat melaksanakan otonomi daerah secara finansial), hal tersebut
dapat dilihat dari hasil rasio kemsandirian masih diantara 0-25%. Tingkat kemandirian keuangan daerah yang masih rendah hal ini dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan keuangan pemerintah daerah Kabupaten/Kota dalam membiayai pelaksanaan pemerintahan serta pembangunan masih sangat tergantung terhadap pemerintah pusat.
Hasil perhitungan dari rata-rata rasio tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Riau yang rendah disebabkan oleh sumber penerimaan (pendapatan) yang masih rendah sehingga pendapatan asli daerah belum dapat diandalkan daerah untuk membiayai semua kegiatan pelaksanaan pemerintahan.
Dalam hal ini pemerintahan Kabupaten/Kota di rovinsi Riau seharusnya dapat membiayai sendiri kegiatan pemerintahannya, karena dari sektor sumber daya alammya seharusnya bisa menjadi daerah yang mandiri, agar bisa meningkatkan pendapatan asli daerahnya, serta harus meningkatkan pemeratan pertumbuhan ekonomi di berbagi daerah di Kabupaten, untuk mengoptimalkan potensi daerah – daerah penghasil.
Hasil nilai Adjusted R2 dalam penelitian ini didapat sebesar 0,502 yang berarti variabilitas dari tingkat kemandirian keuangan daerah dapat dijelaskan oleh variabelitas pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dan dana bagi hasil sebesar 50,2% sedangkan sisanya 49,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini.
Berdasarkan Uji hipotesis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa secara simultan variabel pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dan dana bagi hasil mempengaruhi tingkat kemandirian keuangan daerah pada Kabupaten/Kota di provinsi Riau karena hasil Uji F menunjukkan nilai Fhitung (9,836) > Ftabel (2,612306) dan tingkat signifikansi penelitian 5% (0,001 < 0,05).
4.3.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
Berdasrkan pengujian statistik dengan uji t menggunakan LISREL, nilai thitung < t table ( 2,24 > 1,96), dan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,031 <
0,05). Dimana pengujian ini telah membuktikan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah sehingga sesuai dengan dengan teori yang diyakini, hasil penelitian ini juga sesuai dengan hipotesis di awal, maka disimpulkan apabila variabel pertumbuhan ekonomi naik maka tingkat kemandirian keuangan daerah akan naik.
Dengan adanya kegiatan ekonomi daerah yang meningkat maka pendapatan asli daerah (PAD) juga akan meningkat yang pada akhirnya dengan meningkatnya PAD maka kemandirian keuangan daerah juga akan meningkat karena PAD merupakan indikator untuk mengukur tingkat kemandirian keuangan daerah.
4.3.2 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
Berdasrakan hasil pengujian statistik dengan uji t menggunakan LISREL.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah karena thitung < t tabel (5,41 > 1,96), dan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 ( 0,001 < 0,05). Dimana pengujian ini membuktikan bahwa variabel pendapatan asli daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah sehingga sesuai dengan teori yang diyakini, sehingga disimpulkan apabila variabel PAD naik maka tingkat kemandirian keuangan daerah naik.
Berdasarkan data yang diperoleh, pertumbuhan PAD Kabupaten/Kota Provinsi Riau selama periode 2012 - 2015 mengalami pertumbuhan yang berfruktuasi setiap tahunnya. PAD yang tertinggi pada kurun 2011-2015 diperoleh Kota Pekanbaru sebesar 492,511 Miliar dan PAD yang terendah diperoleh oleh Kabupaten Kep. Meranti sebesar 32,270 Miliar.
Hasil dari pengujian pendapatan asli daerah (PAD) terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah ini sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan bahwa variabel pendapatan asli daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, karena pendapatan asli daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal atau digali dari daerahnya sendiri, maka ketika pendapatan asli daerah ini semakin tinggi maka kemandirian daerah akan tinggi yang pada akhirnya menurunkan dana transfer dari pemerintah pusat.
Dengan semakin tingginya perolehan pendapatan asli daerah dan semakin
turunnya dana transfer pemerintah pusat ini akan mewujudkan tujuan otonomi daerah yaitu kemandirian keuangan daerah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Muliana (2009) dan Marizka (2013) yang berkesimpulan bahwa pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
4.3.3 Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
Berdasarkan pengujian statistik dengan uji t menggunakan LISREL, Dana Alokasi Umum berpengaruh positif tetapi tidak siginifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan karena nilai thitung < ttabel (1,25 < 1,96), dan nilai signifikan lebih besar dari 0,05 (0,219 > 0,05), yang berarti kenaikan atau penurunan dana alokasi umum mempengaruhi tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sehingga sesuai dengan teori yang diyakini. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis awal yang meyakini bahwa dana alokasi umum memiliki pengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
Dana alokasi umum Kabupaten/Kota Provinsi Riau selama periode 2012 - 2015 mengalami pertumbuhan yang berfruktuasi setiap tahunnya. DAU yang tertinggi pada kurun 2012-2015 diperoleh Kabupaten Indragiri Hilir sebesar 847,8611 Miliar dan DAU yang terendah diperoleh oleh Kabupaten Siak sebesar 167,312 Miliar
Hasil dari pengujian dana alokasi umum (DAU) terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan bahwa variabel dana alokasi umum berpengaruh negatif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah. Tetapi tidak sejalan dengan penelitian Marizka (2013) yang memberikan hasil bahwa dana alokasi umum tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
4.3.4 Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
Berdasarkan pengujian statistik dengan uji t menggunakan LISREL, dana bagi hasil berpengaruh positif tetapi tidak siginifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah nilai thitung < ttabel (0,40 < 1,96), dan nilai signifikan lebih besar dari 0,05 (0,693 > 0,05), yang berarti kenaikan atau penurunan dana bagi hasil akan mempengaruhi tingkat kemandirian keuangan daerah tetapi tidak signifikan pengaruhnya, sehingga sesuai dengan teori yang diyakini. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis awal yang meyakini bahwa dana bagi hasil memiliki pengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
Berdasarkan data yang diperoleh dalam kurun waktu 2012-2015 dana bagi hasil kabupaten/kota terbesar terdapat pada Kabupaten Siak sebesar 1.807 Triliun sedangkan daerah terendah berada di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 238,954 Miliar. Seharusnya pemerintahan Daerah Kabuaten/Kota di Provinsi Riau lebih memperhatikan dan mengoptimalkan daerah – daerah penghasil sumber daya alam agar dapat dikelola dengan baik, karena jika pemeritah daerah
menginginkan transfer bagi hasil yang tinggi maka pemerintah daerah harus dapat mengoptimalkan potensi pajak dan sumber daya alam yang dimiliki, sehingga konstribusi yang diberikan dana bagi hasil terhadap pendapatan daerah dapat meningkat
Hasil penelitian ini sejalan dengan Penelitian sebelumnya Marizka (2013) menunjukkan bahwa DBH tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
BAB V