• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka .1 Stewardship Theory .1 Stewardship Theory

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka .1 Stewardship Theory .1 Stewardship Theory

”Teori Stewardship mempunyai akar psikologi dan sosiologi yang didesain untuk menjelaskan situasi dimana manajer sebagai steward dan bertindak sesuai kepentingan pemilik‟‟ (Raharjo, 2007 : 39). Teori ini mengambarkan tentang adanya hubungan yang kuat antara kepuasan dan kesuksesan organisasi, menurut Murwaningsari (2009 : 31), “Teori stewardship berdasarkan asumsi filosofis mengenai sifat manusia bahwa manusia dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan manusia merupakan individu yang berintegritas‟‟.

Pemerintah selaku steward dengan fungsi pengelola sumber daya dan rakyat selaku principal pemilik sumber daya. Terjadi kesepakatan yang terjalin antara pemerintah (steward) dan rakyat (principal) berdasarkan kepercayaan, kolektif sesuai tujuan organisasi. Organisasi sektor publik memiliki tujuan memberikan pelayanan kepada publik dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (publik). Sehingga dapat diterapkan dalam model kasus organisasi sektor publik dengan teori stewardship. Teori stewardship mengasumsikan hubungan yang kuat antara kesuksesan organisasi dengan kepuasan pemilik.

Pemerintah akan berusaha maksimal dalam menjalankan pemerintahan untuk tujuan pemerintah yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Apabila tujuan ini mampu tercapai oleh pemerintah maka rakyat selaku pemilik akan merasa puas dengan kinerja pemerintah.

2.1.2 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan PDB/PNB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak yang dinyatakan dalam persen (%). Pertumbuhan ekonomi lebih menunjukkan pada perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif dan biasanya diukur dengan data produk domestik bruto GDP). Menurut Nanga (2001 : 274), „‟Produk domestik bruto adalah total nilai pasar dari barang-barang akhir dan jasa-jasa yang dihasilkan di dalam suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu‟‟.

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara/daerah secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila jumlah balas jasa riil terhadap penggunaan faktor-faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar dari pada tahun sebelumnya

Produk Domestik Bruto merupakan indikator makro ekonomi yang pada umumnya digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi di suatu Negara/Daerah, untuk tingkat wilayah, provinsi maupun Kabupaten/Kota, digunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara teori dapat dijelaskan bahwa PDRB merupakan bagian dari PDB, sehingga dengan demikian perubahan yang terjadi di tingkat regional akan bepengaruh terhadap PDB atau sebaliknya. Dalam penyajian angka – angka dalam PDRB dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Produk Domestik Regional Bruto atas harga dasar berlaku 2. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan

PDRB atas harga berlaku menunjukkan nilai tambah dari barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku pada tahun berjalan sebagai dasar. PDRB atas harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan harga yang berlaku pada tahun tertentu sebagai dasar.

PDRB atas harga konstan digunakan untuk mengetahui petumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Saat ini Badan Pusat Statistik (BPS) sudah menetapkan perubahan tahun dasar PDB dari tahun 2000 ke 2010 perubahan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, telah terjadi banyak perubahan pada tatanan perekonomian lokal, regional, dan global, dimana munculnya kegiatan ekonomi baru seperti berkembangnya kegiatan ekonomi kreatif.

Dalam penelitian ini saya menggunakan Produk Domestik Bruto atas dasar harga konstan 2010. PDRB menurut harga konstan banyak digunakan untuk menganalisis suatu perkembangan, karena data ini memberikan informasi yang lebih rill setelah dikoreksi atas pengaruh inflasi.

Tingkat PDRB belum menjamin peningkatan kesejahteraan bagi setiap individu dalam masyarakat. Bahkan mungkin sekali yang meningkat pendapatannya justru pada sekelompok orang tertentu saja sedangkan yang lainnya relatif tetap atau menurun. PDRB merupakan total nilai tambah kotor (bruto) yang dihitung dari jumlah gaji/upah, keuntungan-keuntungan perusahaan, sewa lahan, bunga, penyusutan dan pajak-pajak tidak langsung neto, dengan demikian tingginya PDRB suatu daerah belum menjamin tingginya pendapatan

masyarakat dan kesejahteraan masyarakat suatu daerah. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dapat di ukur dengan rumus sebagai berikut:

( )

Keterangan:

PDRB = Produk Domestic Regional Bruto n = Tahun ke n

2.1.3 Pendapatan Asli Daerah

2.1.3.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah

Menurut undang-undang No. 33 tahun 2004, „‟pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber didalam daerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku‟‟. Pendapatan asli daerah merupakan sumber penerimaan daerah yang asli digali didaerah yang digunakan untuk modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat.

Menurut Mardiasmo (2002 : 132), „‟Pendapatan asli daerah adalah penerimaan daerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, hasil perusahaan milik daerah, dan lain-lain pendapatan yang sah”. Sedangkan menurut Menurut Abdul Halim (2004 : 94),

„‟Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan

daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku‟‟. Sektor pendapatan daerah memegang peranan yang sangat penting, karena melalui sektor ini dapat dilihat sejauh mana suatu daerah dapat membiayai kegiatan pemerintah dan pembangunan daerah.

Penerimaan daerah adalah semua penerimaan daerah dalam bentuk peningkatan aktiva atau penurunan utang dari berbagai sumber dalam periode tahun anggaran bersangkutan. Pendapatan asli daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang mempunyai peranan penting dalam pembangunan. Pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan daerah dan dikelola sendiri oleh pemerintah daerah.

Pendapatan asli daerah merupakan tulang punggung pembiayaan daerah, oleh karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh pendapatan asli daerah terhadap APBD, semakin besar kontribusi yang dapat diberikan oleh pendapatan asli daerah terhadap APBD berarti semakin kecil ketergantungan pemerintah daerah terhadap bantuan pemerintah daerah.

Pendapatan asli daerah hanya merupakan salah satu komponen sumber penerimaan keuangan negara disamping penerimaan lainnya berupa dana perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah juga sisa anggaran tahun sebelumnya dapat ditambahkan sebagai sumber pendanaan penyelenggaraan pemerintahan didaerah. Keseluruhan bagian penerimaan tersebut setiap tahun tercermin dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah.

2.1.4 Dana Alokasi Umum

2.1.4.1 Pengertian Dana Alokasi Umum

Menurut Halim (2004 : 160), “Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi‟‟.

Menurut Mardiasmo (2007 : 157), “tujuan Dana Alokasi Umum (DAU) terutama adalah untuk horizontal equity dan sufficiency”. Tujuan horizontal equity merupakan kepentingan pemerintah pusat dalam rangka melakukan distribusi pendapatan secara adil dan merata agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah. Sementara itu, yang menjadi kepentingan daerah adalah kecukupan (sufficiency), terutama adalah untuk menutup fiscal gap.

DAU merupakan block grant yang diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antara kapasitas dan kebutuhan fiskalnya, dan didistribusikan dengan formula berdasarkan perinsip tertentu yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan terbelakang harus menerima lebih banyak daripada daerah yang kaya.

Dengan adanya DAU diharapkan perbedaan kemampuan keuangan antar daerah yang maju dengan daerah yang belum berkembang dapat diperkecil.

Sebagaimana diketahui dana bagi hasil berdassarkan daerah penghasil cenderung menimbulkan ketimpangan antar daerah , dimana daerah yang memiliki potensi pajak dan SDA yang besar akan mempunyai kapasitas fiscal yang relative besar dibandingkan daerah lain. Jika suatu daerah sudah menerima transfer dana alokasi

umum dari pemerintah pusat , diwajibkan pemerintah daerah dapat mengelolanya dengan baik, karena hal ini berdampak pada perkembangan pembangunan dan kemajuan daerah tersebut. Sebaliknya jika pemerintah daerah tidak bisa memaksimalkan dana tersebut maka masyarakat lah yang dirugikan.

Penggunaan DAU diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana Alokasi Umum (DAU) memberikan pendapatan dalam jumlah besar untuk sebagian besar pemerintah daerah. Dana Alokasi Umum mempunyai bagian-bagian. Bagian-bagian tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut.

1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi.

2. Dana Alokasi Umum untuk daerah Kabupaten/Kota.

DAU ditetapkan minimal 25% dari penerimaan dalam negeri. 10% untuk DAU daerah provinsi, 90% untuk DAU daerah kabupaten/kota.

2.1.5 Dana Bagi Hasil

2.1.5.1 Pengertian Dana Bagi Hasil

Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. “Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagi hasilkan kepada daerah berdasarkan angka presentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil” ( penjelasan pp no 55 tahun 2005).

Dana bagi hasil merupakan komponen dana perimbangan yang memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan otonomi daerah karena penerimaannya didasarkan atas potensi daerah penghasil sumber pendapatan daerah yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja daerah yang bukan berasal dari pendapatan asli daerah selain dana alokasi umum dan dana alokasi khusus.

Dalam, apabila pemerintah daerah menginginkan transfer bagi hasil yang tinggi maka pemerintah daerah harus dapat mengoptimalkan potensi pajak dan sumber daya alam yang dimiliki oleh masing-masing daerah, sehingga kontribusi yang diberikan dana bagi hasil terhadap pendapatan daerah dapat meningkat.

2.1.5.2 Sumber- Sumber Dana Bagi Hasil

Berikut dalah sumber – sumber dana bagi hasil yaitu

1. Pajak terbagi menjadi Pajak bumi dan bangunan (PBB), Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dan Pajak penghasilan pph pasal 25 dan

pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan pph pasal 21 (WPOPDN)

2. Sumber daya alam yang bersumber dari Kehutanan, Pertambangan umum, Periklanan, Pertambangan minyak bumi, Pertambangan gas bumi dan Pertambangan panas bumi.

2.1.6 Kemandirian Keuangan Daerah

2.1.6.1 Pengertian Kemandirian Keuangan Daerah

Kemandirian keuangan adalah dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 bahwa “kemandirian keuangan daerah berarti pemerintah dapat melakukan pembiayaan dan pertanggungjawaban keungan sendiri,melaksanakan sendiri, dalam rangka asas desentralisasi”.

Halim ( 2008: 232), “Kemandirian keuangan daerah adalah kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah”.

Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang komponen PAD. Semakin tinggi masyarakat yang membayar pajak

dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi.

2.1.6.2 Tingkat Kemandirian Keuangan

Halim (2008 : 232), mengemukakan bahwa “Kemandirian keuangan daerah ditunjukan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal daeri sumber lain, misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman”.

Indikator kemandirian keuangan daerah dapat diukur dengan menggunakan rasio pendapatan asli daerah dibagi dengan total pendapatan daerah.

Mengetahui kemandirian keuangan daerah ini menunjukkan seberapa besar local taxing power suatu daerah, serta seberapa besar kemampuan PAD dalam mendanai belanja daerah yang dianggarkan untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat.

Rasio kemandirian dapat pula untuk menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Apabila semakin tingggi rasio kemandirian, maka semakin tinggi pula partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah sehingga akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi.

2.1.6.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Keungan Daerah Tangkilisan (2007 : 82), mengemukakan terdapat beberapa faktor PAD masih belum dapat diandalkan sebagai sumber pembiayaan desentralisasi antara lain:

1. Relatif rendahnya basis pajak/retribusi daerah,

2. Perannya tergolong kecil dalam total penerimaan daerah,

3. Kemampuan administrasi pemungutan didaerah yang masih rendah,

4. Kemampuan perencanaan dan pengawasan yang masih rendah.

Tangkilisan (2007 : 89-92), mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian keuangan daerah, antara lain:

1. Potensi ekonomi daerah, indikator yang banyak digunakan sebagai tolak ukur potensi ekonomi daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),

2. Kemampuan Dinas Pendapatan Daerah, artinya kemandirian keuangan daerah dapat ditingkatkan secara terencana melalui kemampuan atau kinerja institusi atau lembaga yang inovatif dan pemanfaatan lembaga Dispenda untuk meningkatkan penerimaan daerah.

Dokumen terkait