• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan pada 25 orang yang memenuhi kriteria dari

penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal yang datang berobat ke

RSUP. H. Adam Malik Medan. Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal terbanyak pada penelitian ini adalah

pada kelompok umur 41 – 50 tahun yaitu 32,0%. Hal ini hampir sama dengan

penelitian sebelumnya yaitu oleh Mukaratirwa et al di Zimbabwe (2001)

mendapatkan rata-rata umur penderita karsinoma hidung dan sinus

paranasal adalah 50 tahun. Eviatar et al (2004) di Israel mendapatkan rata-

rata umur penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal adalah 59 tahun.

Isobe et al di Jepang (2005) mendapatkan rata-rata umur penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal adalah 60,8 (SD= 11,2) tahun.

Panchal et al di Mumbai (2005) mendapatkan rata-rata umur penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal adalah 55 tahun. Fasunla dan Lasisi

di Nigeria (2007) mendapatkan rata-rata umur penderita karsinoma hidung

dan sinus paranasal adalah 43,91 tahun dengan puncak usia adalah pada

dekade ke 5. Gabriele et al di Italia (2007) juga mendapatkan umur penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal terbanyak adalah pada kelompok

umur 40 – 60 tahun yaitu sebanyak 64%. Huang et al di Taiwan (2008)

mendapatkan rata-rata umur penderita karsinoma hidung dan sinus

Kepustakaan menyebutkan bahwa karsinoma hidung dan sinus

paranasal sering muncul pada usia 50 – 70 tahun (Wong dan Kraus, 2001;

Lund, 2003). Pada penelitian ini penderita karsinoma hidung dan sinus

paranasal terbanyak pada kelompok umur 41 – 50 tahun sebanyak 32,0%.

Pada tabel di atas juga dapat dilihat bahwa jenis kelamin terbanyak

penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal pada penelitian ini adalah

perempuan sebanyak 56,0% dengan perbandingan antara laki-laki dan

perempuan adalah 1 : 1,3. Hal yang berbeda didapat oleh Mukaratirwa et al

di Zimbabwe (2001) yang mendapatkan bahwa laki-laki lebih banyak

daripada perempuan dengan perbandingan antara laki-laki dengan

perempuan 1,4 : 1. Isobe et al di Jepang (2005) mendapatkan jenis kelamin

terbanyak penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal adalah laki-laki

yaitu sebanyak 77,4% dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan

adalah 3,4 : 1. Fasunla dan Lasisi di Nigeria (2007) juga mendapatkan bahwa

laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan perbandingan antara laki-

laki dan perempuan adalah 2,15 : 1. Gabriele et al di Israel (2007)

mendapatkan jenis kelamin terbanyak penderita karsinoma hidung dan sinus

paranasal adalah laki-laki sebanyak 74,2% dengan perbandingan antara laki-

laki dan perempuan adalah 2,9 : 1. Sementara itu Huang et al di Taiwan

(2008) juga mendapatkan laki-laki adalah jenis kelamin terbanyak pada

penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal dengan perbandingan

Kepustakaan menyebutkan bahwa penderita karsinoma hidung dan

sinus paranasal lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan

dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan sebesar 2 : 1

(Wong dan Kraus, 2001; Lund, 2003).

Pada tabel 5.2 dapat dilihat bahwa penderita karsinoma hidung dan

sinus paranasal terbanyak pada penelitian ini berasal dari suku Jawa yaitu

sebesar 48,0% diikuti oleh suku Batak sebanyak 40,0%.

Pada tabel 5.3 dapat dilihat bahwa jenis histopatologi terbanyak

penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal pada penelitian ini adalah

jenis non keratinizing squamous cell carcinoma. Hal ini berbeda dengan

penelitian sebelumnya yaitu Mukaratirwa et al di Zimbabwe (2001)

mendapatkan adeno karsinoma sebagai jenis histopatologi yang terbanyak

pada penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal sebanyak 34,0%.

Isobe et al di Jepang (2005) mendapatkan squamous cell carcinoma sebagai

jenis histopatologi yang terbanyak sebesar 79,0%. Panchal et al di Mumbai

(2005) mendapatkan squamous cell carcinoma sebagai jenis histopatologi

yang terbanyak sebesar 40,9%. Fasunla dan Lasisi di Nigeria (2007)

mendapatkan squamous cell carcinoma sebagai jenis histopatologi yang

terbanyak yaitu sebesar 69,0%. Gabriele et al di Israel (2007) juga

mendapatkan squamous cell carcinoma sebagai jenis histopatologi yang

Kepustakaan menyebutkan bahwa sebagian besar keganasan pada

hidung dan sinus paranasal berasal dari epitel dan jenis yang terbanyak

adalah squamous cell carcinoma (Zimmer dan Carrau, 2006).

Pada tabel 5.4 dapat dilihat bahwa sebagian besar penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal datang pada stadium lanjut (stadium

III dan IV) sebanyak 100,0%, dimana stadium IV paling banyak dijumpai yaitu

sebesar 60,0%. Penderita pada stadium dini (stadium I dan II) tidak dijumpai.

Hal ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya yaitu Strauss et al di

Jerman (2005) tidak mendapatkan penderita karsinoma hidung dan sinus

paranasal pada stadium I, namun pada stadium II didapatkan penderita

karsinoma hidung dan sinus paranasal sebanyak 17,8%. Sebagian besar

penderita datang pada stadium lanjut yaitu sebesar 82,2% (stadium III dan

IV). Fasunla dan Lasisi di Nigeria (2007) juga mendapatkan bahwa sebagian

besar penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal datang pada stadium

lanjut (stadium III dan IV) sebanyak 94,67% dimana stadium III paling banyak

dijumpai yaitu sebanyak 78,67%. Penderita pada stadium dini hanya

dijumpai sebanyak 5,33% dan seluruhnya pada stadium II.

Kepustakaan menyebutkan bahwa umumnya penderita karsinoma

hidung dan sinus paranasal datang pada keadaan stadium lanjut dan juga

terdiagnosa setelah stadiumnya lanjut. Hal ini dikarenakan gejala pada

karsinoma ini yang mirip dengan keadaan inflamasi pada stadium awal

Pada tabel 5.5 diperoleh hasil 100,0% penderita karsinoma hidung dan

sinus paranasal menunjukkan ekspresi VEGF yang positif (derajat 1,2 dan 3).

Dari penderita yang positif tersebut dijumpai 92,0% menunjukkan

overekspresi VEGF (derajat 2 dan 3). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian

sebelumnya yaitu Strauss et al di Jerman (2005) mendapatkan 83% ekspresi

VEGF pada karsinoma sinus maksila dari 56 penderita.

Pada tabel 5.6 dijumpai hubungan yang bermakna antara stadium

lanjut karsinoma hidung dan sinus paranasal dengan derajat ekspresi VEGF,

dimana nilai p = 0,003 (p < 0,005). Hal ini sesuai dengan penelitian

sebelumnya yaitu Strauss et al di Jerman (2005) melaporkan bahwa

overekspresi VEGF berkorelasi secara bermakna dengan stadium klinis

lanjut, rekurensi lokal dan metastasis jauh, serta prognosis yang jelek pada

penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal.

Overekspresi VEGF telah dihubungkan dengan progresivitas tumor

dan prognosis yang buruk dalam berbagai macam tumor, termasuk tumor

sinus maksila, tumor lidah, gingiva, dan mandibula, tumor kolorektal,

lambung, pankreas, payudara, paru dan melanoma, acute myeloid leukemia,

hepar dan ovarium (Rosen, 2002; Hicklin dan Ellis, 2005; Strauss et al,

2005). VEGF merupakan faktor proangiogenik yang berperan dalam

angiogenesis untuk pertumbuhan tumor, invasi dan metastasis tumor

(Agulnik dan Siu, 2005).

Pada tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dengan uji Chi Square tidak

ekspresi VEGF dimana nilai p = 0,587 (p > 0,005). Hasil ini sesuai dengan

penelitian sebelumnya yaitu Kyzas et al (2005) tidak menemukan hubungan

yang bermakna antara ekspresi VEGF dengan jenis histologi pada kanker

Dokumen terkait