HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan Hasil Analisi Data 1. Hipotesis Pertama
Hasil uji hipotesis pada Tabel 15 diperoleh Fhitung A = 0,25 < Ftabel (0.05:1.34) = 4,12 sehingga keputusan uji H0 diterima. Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan efek yang diberikan bahasa pengantar terhadap hasil belajar biologi pada ranah kognitif. Hasil uji Scheffe menjelaskan tidak terdapat perbedaan rataan nilai kognitif pada penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Rata-rata nilai kognitif siswa pada penggunaan bahasa Indonesia adalah 70,4762, sedangkan rata-rata nilai kognitif siswa pada penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar adalah 69,0476. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada nilai kognitif siswa, dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Berdasarkan hipotesis di atas dapat dijelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidak mempunyai peran yang berarti terhadap pencapaian hasil belajar ranah kognitif. Hasil belajar pada ranah kognitif siswa didapat dari hasil pengukuran melalui tes hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran menunjukkan bahwa sebagian besar siswa pada kelas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pasif dalam kegiatan diskusi. Siswa yang aktif dalam kegiatan diskusi adalah siswa yang mampu manggunakan bahasa Inggris secara efektif dalam suatu percakapan.
Hasil observasi proses pembelajaran pada kelas yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan diskusi. Hal ini disebabkan karena siswa lebih menguasai bahasa Indonesia, sehingga dapat menggunakan secara efektif dalam kegiatan diskusi.
52
Uraian di atas tidak mempunyai peran yang berarti dalam pencapaian hasil belajar ranah kognitif. Hal ini disebabkan karena hasil belajar ranah kognitif diperoleh melalui tes obyektif yang lebih membutuhkan kemampuan bahasa Inggris secara pasif. Hal tersebut tidak berpengaruh terhadap ranah kognitif karena siswa imersi pada dasarnya telah memiliki kemampuan bahasa Inggris. Hal tersebut dapat diketahui karena siswa telah mengikuti beberapa tes seleksi sebelum belajar pada kelas imersi, diantaranya adalah tes seleksi kemampuan bahasa Inggris.
Hasil uji hipotesis pada Tabel 16 diperoleh Fhitung A = 6,02> Ftabel (0.05:1.34) = 4,12 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan efek yang diberikan bahasa pengantar terhadap hasil belajar pada ranah afektif. Dari uji Scheffe menunjukkan ada beda rerata antara bahasa pengantar terhadap ranah afektif. Rata-rata nilai afektif siswa pada penggunaan bahasa Indonesia adalah 75,3333, sedangkan rata-rata nilai afektif siswa pada penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar adalah 69,7. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai afektif siswa yang menggunakan bahasa Indonesia lebih tinggi daripada nilai afektif siswa yang menggunakan bahasa Inggris, sehingga dapat disimpulkan penggunaan bahasa Indonesia lebih efektif daripada bahasa Inggris untuk ranah afektif.
Hasil belajar pada ranah afektif siswa didapat dari hasil pengukuran melalui angket yang diberikan kepada siswa. Hasil belajar ranah afektif pada dasarnya mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa. Berdasarkan hasil hipotesis uji dapat dijelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai peran yang berarti terhadap pencapaian hasil belajar ranah afektif. Rataan nilai afektif siswa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar lebih rendah jika dibandingkan dengan rataan nilai afektif pada siswa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Siswa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai minat yang rendah dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap siswa dalam mengikuti
53
kegiatan diskusi dalam bahasa Inggris yang cenderung pasif. Siswa tidak dapat mengungkapkan pendapat mereka dalam kegiatan diskusi, sehingga kagiatan diskusi hanya bisa dilakukan dengan baik oleh siswa yang mampu menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap kemampuan afektif siswa.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada kelas yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, kegiatan diskusi dapat berlangsung dengan baik. Sebagian besar siswa dapat mengikuti kegiatan diskusi kerena siswa dapat dengan mudah mengungkapkan pendapat mereka dalam bahasa Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa pengantar mempunyai efek yang berbeda terhadap hasil belajar ranah afektif. Hasil belajar ranah afektif berhubungan dengan perasaan, minat, sikap, dan emosi seseorang. Ketrampilan penggunaan bahasa pengantar dapat berpengaruh terhadap ranah afektif tersebut. Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia memberi efek yang lebih baik terhadap ranah afektif, karena siswa dapat menggunakan secara efektif.
Hasil uji hipotesis pada Tabel 17 diperoleh Fhitung A = 4,57 > Ftabel (0.05:1.34) = 4,12 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan efek yang diberikan bahasa pengantar terhadap hasil belajar pada ranah psikomotor. Dari uji Scheffe menunjukkan ada beda rerata antara bahasa pengantar terhadap ranah psikomotor. Rata-rata nilai psikomotor siswa pada penggunaan bahasa Indonesia adalah 76,36364, sedangkan rata-rata nilai psikomotor siswa pada penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar adalah 71,59091. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai psikomotor siswa pada penggunaan bahasa Indonesia lebih tinggi daripada nilai psikomotor siswa pada penggunaan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai peran yang berarti terhadap pencapaian hasil belajar ranah psikomotor.
Hasil belajar pada ranah psikomotor siswa didapat dari hasil pengukuran menggunakan lembar observasi ranah psikomotor. Hasil belajar ranah psikomotor pada dasarnya adalah kemampuan menangkap rangsangan dan menerima suatu isyarat kemudian mewujudkannya dalam suatu perbuatan nyata. Berdasarkan hasil
54
uji hipotesis dapat dijelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai peran yang berarti terhadap pencapaian hasil belajar ranah psikomotor.
Rataan nilai psikomotor siswa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar lebih rendah jika dibandingkan dengan rataan nilai psikomotor pada siswa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Siswa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai minat yang rendah dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap siswa dalam mengikuti kegiatan diskusi dalam bahasa Inggris yang cenderung pasif, sehingga dapat mempengaruhi psikomotor siswa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa pengantar pada program imersi berpengaruh terhadap hasil belajar pada ranah afektif dan psikomotor, tetapi tidak berpengaruh terhadap ranah kognitif. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar lebih efektif daripada penggunaan bahasa Inggris untuk ranah afekif dan psikomotor.
Program imersi merupakan inovasi program pendidikan yang diterapkan pemerintah. Kebijakan pemerintah terhadap suatu program pendidikan yang diterapkan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil studi banding Shen Qi (2009:118) menjelaskan bahwa bahasa Inggris sebagai bahasa internasional mempunyai dampak yang signifikan terhadap kebijakan beberapa negara. Kebijakan tersebut memutuskan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya terdapat banyak pertentangan.
Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mempunyai tujuan untuk menghasilkan out put yang siap menghadapi persaingan internasional. Hasil penelitian Shen Qi (2009:119) menjelaskan bahwa negara-negara di asia banyak menerapkan kebijakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran tanpa memperhatikan pencapaian hasil belajar siswa. Kebijakan beberapa negara dalam menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidak mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang rendah.
55
Kegagalan pencapaian tujuan pembelajaran dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar disebabkan oleh banyak faktor, diantarnya adalah faktor sumber daya manusia dalam negara tersebut. Slavin (2008: 151-152) mengemukakan bahwa orang yang mempunyai kemampuan bahasa Inggris terbatas membutuhkan waktu untuk mempelajari bahasa tersebut, sehingga dapat menggunakan secara efektif. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Elena Nicoladis (2008:168) bahwa siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perubahan bahasa pengantar yang digunakan, sehingga dapat digunakan secara efektif melalui suatu percakapan.
Uraian di atas menjelaskan bahwa siswa imersi membutuhkan waktu untuk dapat menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sehingga dapat digunakan secara komunikatif dan efektif dalam suatu percakapan. Lama waktu penyesuaian diri siswa tergantung pada sikap dan kemampuan masing-masing siswa terhadap penggunaan bahasa asing tersebut.
Sikap siswa terhadap penggunaan bahasa asing sangat berhubungan dengan hasil belajar siswa pada ranah afektif. Hasil penelitian Fenty Lidya Siregar (2010:87) menjelaskan bahwa sikap positif siswa terhadap penggunaan bahasa Inggris pada kelas imersi di Indonesia masih rendah. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap komunikasi siswa dalam pembelajaran kelas imersi. Komunikasi siswa merupakan salah satu contoh aktivitas belajar yang pelaksanaanya sangat berperan terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa sikap terhadap penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman peserta didik.
Kemampuan afektif dan kemampuan psikomotor membutuhkan sikap dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa yang belum dapat menggunakan bahasa Inggris secara efektif akan mengalami kesulitan dapat pencapaian kemampuan kedua ranah tersebut. Kemampuan kognitif dapat dilihat hasilnya melalui tes hasil belajar yang dalam pelaksanaannya, membutuhkan kemampuan penguasaan bahasa secara pasif. Hasil belajar siswa pada ranah kognitif tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini disebabkan karena siswa
56
dalam mengerjakan soal kognitif hanya membutuhkan kemampuan bahasa Inggris secara pasif.
2. Hipotesis Kedua
Hasil uji hipotesis pada Tabel 15 diperoleh Fhitung B = 18,35 > Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan efek yang diberikan aktivitas belajar terhadap hasil belajar biologi pada ranah kognitif. Uji Scheffe menunjukkan ada beda rerata antara aktivitas belajar terhadap ranah kognitif. Rataan nilai kognitif untuk aktivitas belajar tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan rataan nilai kognitif pada aktivitas belajar sedang dan rendah, sehingga dapat disimpulkan aktivitas belajar tinggi lebih efektif daripada aktivitas belajar sedang dan rendah.
Hasil uji hipotesis pada Tabel 16 diperoleh Fhitung B = 8,77 > Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan efek yang diberikan aktivitas belajar terhadap hasil belajar pada ranah afektif. Hasil uji Scheffe menunjukkan ada beda rerata antara aktivitas belajar terhadap ranah afektif. Rataan nilai afektif untuk aktivitas belajar tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan rataan nilai afektif pada aktivitas belajar sedang dan rendah, sehingga dapat disimpulkan aktivitas belajar tinggi lebih efektif daripada aktivitas belajar sedang dan rendah.
Hasil uji hipotesis pada Tabel 17 diperoleh Fhitung B = 4,42 > Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan efek yang diberikan aktivitas belajar terhadap hasil belajar pada ranah psikomotor. Hasil uji Scheffe menunjukkan ada beda rerata antara aktivitas belajar terhadap ranah psikomotor. Rataan nilai psikomotor untuk aktivitas belajar tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan rataan nilai psikomotor pada aktivitas belajar rendah. Hipotesis yang lain menjelaskan bahwa aktivitas belajar tinggi dengan aktivitas belajar sedang tidak mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap nilai. Nilai psikomotor pada siswa dengan aktivitas sedang dan aktivitas rendah tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Hasil hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar pada ranah kognitif, afektif, dan
57
psikomotorik. Hal tersebut menjelaskan bahwa antara aktivitas belajar tinggi, sedang, dan rendah mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap masing-masing ranah pada hasil belajar.
Aktivitas belajar siswa terdiri dari visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, motor activities, mental activities, emotional activities. Jenis aktivitas tersebut sangat diperlukan dalam pembelajaran dengan bahasa asing sebagai pengantar. Aktivitas belajar yang tinggi dapat membantu siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas imersi, kerena siswa dapat melatih kemampuan bahasa Inggris mereka melalui aktivitas belajar yang dilakukan.
Peran aktivitas belajar menurut Sardiman A. M (2001: 95) bahwa aktivitas merupakan komponen utama terjadinya proses belajar, sehingga tanpa adanya aktivitas proses maka belajar tidak dapat berlangsung. Prinsip dari suatu proses pembelajaran adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku dan melakukan kegiatan. Perubahan tingkah laku merupakan tujuan dari proses pembelajaran, sehingga perbedaan aktivitas belajar siswa dapat mempengaruhi proses perubahan tingkah laku siswa.
Aktivitas belajar diperlukan untuk pencapaian hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar membutuhkan aktivitas belajar yang lebih tinggi. Hasil penelitian Kun-huei Wu (2010:184) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan bahasa asing sebagai bahasa pengantar membutuhkan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat menciptakan pembelajaran yang komunikatif sehingga siswa dapat berperan serta secara aktif. Hasil penelitian Osman Z. Barnawi (2009:79) menjelaskan bahwa diskusi adalah proses pembelajaran yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran dengan bahasa asing sebagai bahasa pengantar. Diskusi dalam proses pembelajaran akan menghasilkan pengalaman yang lebih berharga untuk menganalisis materi lebih mendalam. Diskusi juga dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas verbal dan nonverbal untuk berinteraksi dengan teman dan guru.
58
Uraian di atas menjelaskan bahwa dalam kegiatan diskusi sangat dibutuhkan adanya oral activity yang dapat dilihat dari kemampuan siswa berbicara untuk mengungkapkan pendapatnya. Aktivitas berbicara siswa pada kelas imersi ditentukan oleh kemampuan siswa dalam berbahasa asing.
Utami Widiati dan Bambang Yudi Cahyono (2006:287) menjelaskan bahwa faktor kemampuan berbahasa harus dipertimbangkan dalam penyelenggaraan kelas imersi. Hal tersebut karena bahasa asing pada kelas imersi merupakan alat komunikasi dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Zhu Liyong (2006:115) mengemukakan bahwa aktivitas berbicara dan mendengar sangat penting dalam pembelajaran kelas imersi. Penguasaan kemampuan berbicara dan mendengar dalam bahasa Inggris membutuhkan waktu agar dapat digunakan secara efektif dalam bentuk lisan dan tulisan, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan mereka dengan menggunakan bahasa Inggris secara komunikatif.
Penggunaan bahasa pengantar yang kurang efektif dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Hal tersebut dapat mempengaruhi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas imersi. Rataan nilai aktivitas belajar siswa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar lebih tinggi jika dibandingkan dengan rataan nilai siswa yang menggunakan bahasa Inggris. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia lebih efektif terhadap bahasa Inggris dalam proses pembelajaran.
3. Hipotesis Ketiga
Hasil uji hipotesis pada Tabel 15 diperoleh Fhitung AB = 0,31 < Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji tidak ditolak. Hal ini berarti tidak ada pengaruh interaksi antara bahasa pengantar dengan aktivitas belajar terhadap terhadap hasil belajar biologi pada ranah kognitif. Hasil uji Scheffe menunjukkan tidak terdapat interaksi antara variabel bahasa pengantar dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar ranah kognitif. Hal ini menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan nilai kognitif antara aktivitas belajar tinggi, sedang, dan rendah pada setiap penggunaan bahasa pengantar.
59
Hasil uji hipotesis pada Tabel 16 diperoleh Fhitung AB = 4,28 > Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada pengaruh interaksi antara bahasa pengantar dengan aktivitas belajar siswa terhadap hasil belajar pada ranah afektif, sehingga paling sedikit terdapat dua rataan nilai afektif yang berbeda. Hasil belajar ranah afektif yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidak mempunyai perbedaan rataan pada setiap kriteria aktivitas belajar. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar mempunyai nilai afektif yang lebih tinggi daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi dan siswa dengan aktivitas belajar sedang tidak mempunyai perbedaan nilai afektif pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Siswa dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar rendah tidak mempunyai perbedaan nilai afektif pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Hasil uji Scheffe menunjukkan bahwa nilai afektif dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidak mempunyai perbedaan rataan untuk setiap kriteria aktivitas belajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efek penggunaan bahasa Inggris pada masing-masing aktivitas belajar terhadap hasil belajar ranah afektif, sehingga siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang, dan rendah mempunyai nilai afektif yang sama. Efek penggunaan bahasa Indonesia terhadap nilai afektif lebih efektif pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi. Nilai afektif siswa dengan aktivitas tinggi, sedang, dan rendah tidak mempunyai perbedaan yang signifikan pada masing-masing penggunaan bahasa pengantar.
Hasil uji hipotesis pada Tabel 17 diperoleh Fhitung AB = 6,28 > Ftabel (0.05:2.34) = 3,27 sehingga keputusan uji ditolak. Hal ini berarti ada pengaruh interaksi antara bahasa pengantar dengan aktivitas belajar siswa terhadap hasil belajar pada ranah psikomotor. Hasil belajar ranah psikomotor siswa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, tidak mempunyai perbedaan rataan untuk semua kriteria aktivitas belajar. Hasil belajar ranah psikomotor siswa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar,
60
mempunyai hasil yang lebih baik pada aktivitas belajar tinggi daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah. Siswa dengan aktivitas belajar sedang mempunyai nilai afektif yang lebih tinggi daripada siswa dengan aktivitas rendah. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi dan siswa dengan aktivitas sedang tidak mempunyai perbedaan nilai afektif. Hasil uji Scheffe menunjukkan bahwa nilai psikomotor dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidak mempunyai perbedaan rataan untuk setiap kriteria aktivitas belajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efek penggunaan bahasa Inggris pada masing-masing aktivitas belajar terhadap hasil belajar ranah psikomotor, sehingga siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang, dan rendah mempunyai nilai psikomotor yang sama. Efek penggunaan bahasa Indonesia terhadap nilai psikomotor lebih efektif pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi. Nilai psikomotor siswa dengan aktivitas tinggi, sedang, dan rendah tidak mempunyai perbedaan yang signifikan pada masing-masing penggunaan bahasa pengantar.
Bahasa pengantar dalam pembelajaran merupakan sarana yang menunjang interaksi di dalam kelas. Interaksi dalam pembelajaran dapat diwujudkan melalui aktivitas belajar. Pentingnya aktivitas belajar menurut Sardiman A. M (2001: 93) adalah merupakan komponen utama terjadinya proses belajar sehingga tanpa adanya aktivitas, proses belajar tidak dapat berlangsung.
Aktivitas siswa pada kelas imersi menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar. Elena Nicoladis (2008:168) mengemukakan bahwa siswa imersi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perubahan bahasa pengantar yang digunakan, sehingga dapat digunakan secara efektif melalui suatu percakapan. Bahasa pengantar yang tidak digunakan secara efektif dapat menghambat aktivitas belajar siswa. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa baik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
61
BAB V