• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Analisis 1. Analisis Efisiensi Pengendalian Piutang

HASIL PENELITIAN

H. Pembahasan Hasil Analisis 1. Analisis Efisiensi Pengendalian Piutang

a. Days Sales Outstanding (DSO)

Days Sales Outstanding (DSO) menunjukkan berapa lama rata–rata uang hasil penjualan akan diterima sejak penjualan dilakukan. DSO sedapat mungkin semakin mengecil, atau setidak-tidaknya dalam keadaan tetap. DSO berkaitan dengan jangka waktu pembayaran sejak terjadi transaksi kredit. Jika DSO semakin tinggi, maka perusahaan akan rugi dari sisi waktu. Artinya, uang yang seharusnya sudah dapat diterima dan dipergunakan untuk melakukan kegiatan usaha, tidak dapat berkembang. DSO yang semakin tinggi menunjukkan bahwa tingkat pengembalian uang menjadi terlambat. Karena itu, perusahaan harus mencari penggantinya dahulu agar dapat tetap beroperasi. Dengan demikian, jika DSO semakin tinggi, perusahaan akan menderita kerugian di berbagai hal antara lain waktu menunggu, uang tidak dapat berputar dan berkembang, serta perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk memperoleh modal pengganti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa DSO dari tahun 2005-2007 semakin tinggi. Hal ini berarti tingkat pengembalian piutang semakin lama. Kondisi yang demikian ini kurang baik bagi perusahaan, karena perusahaan semakin merugi, meskipun agak kurang dirasakan. Kerugian terutama dalam hal waktu dan kegiatan lain untuk mencari pengganti uang yang berhenti di pihak lain.

b. Account Receivable Turnover

Account Receivable Turnover adalah tingkat perputaran piutang. Semakin tinggi perputaran berarti semakin cepat pengembalian modal dalam bentuk kas atau makin tinggi turnover yang rendah berarti over invesment (kelebihan investasi) dalam piutang. Account Receivable Turnover perusahaan sedapat mungkin tinggi, karena dengan tingginya Account Receivable Turnover, maka perputaran uang semakin cepat. Dengan semakin cepatnya perputaran uang, maka uang akan berkembang dengan lebih cepat juga.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat Account Receivable Turnover dari tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi. Tahun 2005, tingkat Account Receivable Turnover

sebesar 33,12%. Kemudian tahun berikutnya menurun menjadi 29,7%. Tahun berikutnya yaitu tahun 2007 naik lagi tetapi tidak setinggi tahun 2005. Hal ini berarti ada kecenderungan menurun. Jika kondisi tersebut terus menerus seperti itu, maka lama-kelamaan tingkat

Account Receivable Turnover semakin menurun. Jika semakin lama semakin menurun, berarti tingkat perputaran uang semakin melambat. Semakin lambatnya tingkat perputaran piutang, maka perkembangan uang juga semakin lambat dan dapat mengancam eksisteni perusahaan. Karena pendapatan juga akan semakin berkurang, padahal kebutuhan operasional semakin lama semakin tinggi.

c. Average Collection Period

Average Collection Period pada suatu perusahaan menunjukkan resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk membandingkan antara rata-rata waktu pengumpulan piutang dengan syarat pembayaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Apabila rata-rata waktu pengumpulan piutang selalu lebih besar dari pada batas waktu pembayaran yang telah ditetapkan berarti cara pengumpulan kurang efisien.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Average Collection Period berfluktuasi. Dari tahun 2005 tingkat Average Collection Period sebesar 3,019 kemudian meningkat pada tahun 2006 menjadi 3,362 dan menurun lagi pada tahun 2007 menjadi 3,081. Terjadinya peningkatan dan penurunan dalam kurun waktu tiga tahun menunjukkan bahwa pengumpulan piutang juga naik turun. Dalam hal ini belum dapat disimpulkan permasalahannya, dan juga belum memerlukan kebijakan khusus. Namun jika keadaan terus menurun dalam waktu beberapa tahun, diperlukan kebijakan baru agar pengumpulan piutang menjadi lancar. Kebijakan-kebijakan baru yang diambil harus didasarkan pada informasi yang benar. Karena

itu, diperlukan informasi tentang keadaan perekonomian baik secara global maupun regional, sehingga informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan penjualan kredit. Dengan pertimbangan yang matang, maka tingkat resiko yang mungkin dihadapi oleh perusahaan dapat diperkecil.

2. Analisis Profitabilitas

a. Gross Profit Margin

Gross Profit Margin adalah rasio untuk mengukur tingkat laba kotor dibandingkan dengan volume penjualan. Laba kotor dapat mengambarkan penghasilan bruto perusahaan. Dengan mengetahui penghasilan bruto, maka perusahaan dapat memperhitungkan biaya operasional yang harus dikeluarkan agar laba tersebut tidak habis untuk operasional saja, akan tetapi masih ada sisa sebagai penghasilan bersih perusahaan.

Hasil analisis dari tahun 2005-2007 menunjukkan bahwa Gross Profit Margin

cenderung menurun. Tahun 2005 Gross Profit Margin sebesar 92%, kemudian menurun pada tahun 2006 menjadi 82,63%. Penurunan tersebut dapat dikatakan cukup tajam. Namun tahun berikutnya yaitu tahun 2007 meningkat menjadi 90,14%. Jika keadaan terus meningkat, maka perusahaan dapat mempertahankan kebijakannya. Namun bila terjadi penurunan lagi, maka perusahaan perlu mengambil kebijakan baru yang dapat meningkatkan Gross Profit Margin.

b. Net Profit Margin

Net Profit Margin merupakan rasio laba bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjualan. Dapat dikatakan bahwa Net Profit Margin adalah penghasilan nyata yang dapat dinikmati semuanya. Net Profit Margin yang semakin meningkat menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Net Profit Margin tahun 2005 sebesar 15,27%. Kemudian meningkat pada tahun 2006 menjadi 23,33%. Kenaikan tersebut tentunya menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan selama tahun 2006 membawa hasil yang menggembirakan. Namun pada tahun 2007 berkurang menjadi 17,98%. Penurunan ini tentunya perlu diwaspadai dan dicari penyebabnya. Karena dengan menurunnya tingkat Net Profit Margin berarti usaha yang dilakukan selama ini kurang membawa hasil.

Operating Profit Margin menunjukkan rasio tingkat laba operasi sebelum bunga dan pajak dibandingkan dengan volume penjualan. Dengan mengetahui rasio laba sebelum bunga dan pajak, maka perusahaan dapat memperhitungkan hasil usahanya. Sementara itu, bunga dan pajak dapat diperhitungkan kemudian agar diperoleh pembayaran bunga dan pajak yang lebih menguntungkan.

Hasil penelitian tentang Operating Profit Margin dari data keuangan selama tahun 2005-2007 terjadi peningkatan. Tahun 2005 tingkat Operating Profit Margin sebesar 104,61%. Kemudian tahun berikutnya yaitu tahun 2006 meningkat menjadi 106,16%. Peningkatan tersebut mungkin tidak terlalu banyak, namun jelas menunjukkan bahwa usaha selama tahun 2006 mampu meningkatkan hasil usaha. Tahun 2007 meningkat tajam sebesar 117,78%. Hasil tersebut tentunya menguntungkan perusahaan. Adanya peningkatan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan kapan bunga dan pajak akan dibayarkan.

d. Return on Equity

Return on Equity menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Bagi perusahaan yang memperoleh modal dengan menjual saham, sangat penting untuk mengetahui keadaan ini. Perusahaan yang memiliki

Return on Equity tinggi akan memperoleh banyak manfaat, salah satunya akan dipercaya oleh masyarakat yang ingin meningkatkan partisipasinya. Dengan adanya kepercayaan dari masyarakat, maka perusahaan dapat memperoleh modal dengan mudah melalui penjualan saham.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Return on Equity selama tahun 2005-2007 mengalami fluktuasi. Tahun 2005 perusahaan memiliki tingkat Return on Equity sebesar 45,28%, kemudian meningkat pada tahun berikutnya menjadi 48,53%. Keadaan ini cukup menggembirakan yang berarti para pemegang saham akan memperoleh pembagian laba yang lebih banyak. Namun tahun 2007 tingkat Return on Equity menurun tajam menjadi 32,65%. Dengan menurunnya tingkat Return on Equity maka kemampuan perusahaan dalam membayar pembagian laba usaha kepada pemegang saham menjadi berkurang.

e. Earning Power

Earning Power adalah kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan laba dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia dalam perusahaan.

Earning Power dapat menggambarkan hasil usaha sesuai dengan seluruh investasi yang dimiliki perusahaan. Dengan mengetahui Earning Power ini, maka dapat mengetahui apakah seluruh nilai investasi menguntungkan atau tidak. Karena bagiamanapun, usaha akan dikatakan berhasil bila seluruh investasi yang ditanamkan dapat memperoleh hasil yang sepadan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari tahun 2005-2007 semakin menurun. Hal ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan dalam usaha selama ini mengalami penurunan.

f. Return on Investment

Return on Investment adalah kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasinya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Setiap perusahaan tentunya menggunakan seluruh dananya agar dapat memperoleh keuntungan yang besar. Namun perlu diketahui bahwa tidak seluruh dana yang ditanamkan dalam aktiva memberikan keuntungan yang optimal. Kegiatan usaha yang dilakukan dengan kelebihan dana dapat saja menimbulkan pemborosan. Karena itu, investasi dalam aktiva harus dicari perbandingan yang terbaik.

Hasil analisis berdasarkan data selama tahun 2005-2007 terlihat menurun. Tahun 2006, tingkat Return on Investment sebesar 16,39%. Kemudian tahun berikutnya yaitu tahun 2006 menurun menjadi 15,79%. Penurunan tersebut memang tidak terlalu banyak. Tahun 2007 tingkat Return on Investment menurun tajam menjadi 13,36%. Adanya penurunan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut harus segera dicari agar tingkat Return on Investment tidak selalu menurun.

BAB V

Dokumen terkait