IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan Hasil Diseminasi
4.2.1. Penerapan inovasi teknologi dan gelar teknologi 1) Aplikasi gelar teknologi kompos
Demo inovasi teknologi pengolahan kompos dan aplikasi pupuk organik kompos berbahan baku kotoran ternak sapi pada padi sawah varietas Ciherang di Kabupaten Seluma, telah memperlihatkan perbaikan hasil produksi padi untuk pemberian kompos masing-masing; 3 ton/ha;
2,5 ton/ha; 2 ton/ha rata-rata mencapai 7,250 ton/ha; 6,333 ton/ha;
7,333 ton/ha dibandingkan dengan produksi padi tanpa pemberian kompos yang hanya 5,333 ton/ha. Hal ini telah membuktikan kepada petani, bahwa penggunaan kompos kotoran ternak untuk pemupukan
lahan sawah telah dapat meningkatkan produksi padi Ciherang antara 1–2 ton/ha GKP yang setara dengan 0,88 – 1,760 ton/ha GKG atau terjadi peningkatan hasil rata-rata mencapai 1,5 ton/ha GKP (28,12%) dan begitu juga untuk Kabupaten Bengkulu Utara menggunakan varietas Inpari 1 dengan input pemberian kompos pada lahan sawah, telah memperlihatkan perbaikan hasil produksi padi rata-rata mencapai 6,740 ton/ha dibandingkan dengan hasil tanpa pemberian kompos yang hanya 5,250 ton/ha atau meningkat sebesar 1,46 ton/ha GKP (27,81%). Kondisi ini sama halnya dengan hasil evaluasi 26 provinsi di Indonesia oleh Puslitbangtan (2006) menunjukan penggunaan bahan organik sebanyak 2 ton/ha melalui implementasi model pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) pada tingkat petani mampu meningkatkan hasil padi rata-rata GKG sebesar 1 ton/ha. Pirngadi dkk., (2002) menyampaikan hasil penelitian pemberian bahan organik dilahan sawah irigasi melalui pendekatan PTT mampu meningkatkan hasil padi 14,8%.
Hasil gelar teknologi kompos dan aplikasinya pada padi sawah menggambarkan pentingnya penggunaan bahan organik disamping pupuk anorganik pada berbagai varietas padi yang ditanam, karena dengan penggunaan pupuk organik untuk varietas Ciherang dan Inpari 1 pada lokasi berbeda (Seluma dan Bengkulu Utara) telah dapat meningkatkan produksi padi sawah irigasi antara 27,81 – 28,12%. Sama halnya dengan penelitian Zaini dkk., (2004) yang menekankan bahwa pentingnya penggunaan bahan organik disamping pemberian pupuk anorganik dalam usahatani padi sawah.
2). Aplikasi pengolahan biogas dan produksi pupuk cair
Demo inovasi teknologi pengolahan biogas memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi dan limbah buangan pengolahan biogas, telah dapat meningkatkan produktivitas hasil sampingan limbah ternak sapi untuk memproduksi pupuk organik cair. Keberhasilan mengoptimalkan manfaat dari pengolahan biogas, telah membuka wawasan peternak sapi dalam mengelola limbah kotoran ternak sapi yang selama ini sangat mengganggu lingkungan menjadi sumber energi dan sumber bahan organik cair untuk meningkatkan produksi dan kesuburan lahan tanaman
yang sekaligus dapat menciptakan kodisi lingkungan menjadi lebih ramah dari polusi bau kotoran sapi. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan limbah keluaran dari digester biogas secara rutin mampu meningkatkan produksi padi secara berkesinambungan (Wahyuni, S. 2009). Selain itu teknologi biogas merupakan salah satu teknologi tepat guna untuk mengubah limbah peternakan menjadi energi, baik limbah padat berupa kotoran ternak dan isi rumen maupun limbah cair berupa urine dan bekas air memandikan ternak yang sekaligus diharapkan dapat membantu mengatasi masalah lingkungan disekitar lokasi usaha ternak (Simamora dkk., 2008).
Disamping itu keberhasilan memproduksi pupuk cair limbah buangan biogas yang selama ini mengalami kegagalan bagi petani peternak yang memanfaatkan kotoran ternaknya untuk biogas, sudah dapat memahami dan menerapkan teknologi pengolahan limbah buangan pengolahan biogas berupa lumpur (sludge) menjadi pupuk organik padat dan cair melalui inovasi teknologi perbaikan saluran bak penampungan serta proses pengendapan dan penyaringan untuk memisahkan bahan organik padat dan cair.
3). Aplikasi pakan untuk sapi penggemukan
Selain rumput lapangan, sumber pakan yang cukup potensial adalah hasil sisa (limbah) tanam maupun industri pertanian. Implementasi demo inovasi teknologi pakan untuk penggemukan memanfaatkan limbah industri pertanian berupa solid dan ampas tahu telah dapat membuktikan kepada peternak sapi dan kelompoknya, bahwa pemberian pakan tambahan pada ternak sapi Bali disamping pemberian hijauan mampu meningkatkan penambahan berat badan sapi Bali penggemukan yang sebelumnya diberi hijauan saja dengan PBBH hanya 0,275 kg/ekor/hari meningkat menjadi 0,390 - 0,483 kg/ekor/hari setelah diberi pakan tambahan solid dan ampas tahu memanfaatkan limbah industri pertanian yang ada disekitar lokasi usaha.
Gelar teknologi pakan untuk penggemukan sapi Bali telah dapat meningkatkan pengetahuan peternak sapi bahwa sumberdaya hasil pertanian yang terdapat disekitar lahan dan lokasi usaha, seperti halnya
solid dan ampas tahu dapat dimanfaatkan menjadi sumber pakan ternak sapi. Badan Litbang Pertanian (2005) melalui inovasi teknologi limbah dan sisa hasil ikutan agro maupun industri pertanian, dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan sapi yang potensial untuk usaha penggemukan dan pembibitan. Maryono dan Endang Romjali (2007) pengoptimalisasian penggunaan bahan pakan asal limbah pertanian, perkebunan maupun agroindustri diharapkan selain dapat menurunkan biaya ransum juga mampu menghasilkan produktivitas secara optimal.
4.2.2. Diseminasi hasil inovasi kegiatan gelar teknologi
Pelaksanaan diseminasi hasil inovasi teknologi aplikasi kompos, biogas dan pakan sapi untuk pengemukan sebagai rangkaian diseminasi teknologi peternakan, telah digelar teknologikan kepada lebih dari 90 kelompoktani di Kabupaten Seluma dan Kabupaten Bengkulu Utara melalui perwakilan kelompok peternak sapi dan petani padi sawah sekitar lokasi dan desa pelaksanaan kegiatan yang diundang untuk mengikuti gelar teknologi melalui pertemuan secara tatap muka, diskusi dan kunjungan lapangan untuk mengamati langsung hasil aplikasi inovasi teknologi yang digelar teknologi. Dimana untuk gelar teknologi kompos telah didiseminasikan kepada lebih dari 60 kelompoktani pelaksana SL-PTT padi sawah disekitar desa lokasi pelaksanaan pada 2 (dua) kabupaten (Seluma dan Bengkulu Utara). Untuk gelar teknologi biogas dan gelar teknologi pakan penggemukan untuk sapi, masing-masing telah didiseminasikan kepada lebih dari 30 kelompok peternak sapi di Kabupaten Seluma sebagai daerah sentra pengembangan ternak sapi yang diharapkan dapat mendukung program PSDS di Bengkulu. Karena Provinsi Bengkulu merupakan daerah penyangga pengembangan ternak sapi bagi pencapaian keberhasilan PSDS (BBPPTP, 2009).
Pemanfaatan solid dan ampas tahu untuk pakan sapi, juga memberi dampak bagi peternak sapi untuk mengatasi keterbatasan waktu dalam mencari hijauan serta dapat mengganti sebagian dari kebutuhan hijauan pakan. Terutama Solid berpeluang dikembangkan sebagai pakan sapi potong rakyat dan belum dimanfaatkan secara optimal, karena solid dapat mengurangi penggunaan rumput hampir separoh dari kebutuhan
ternak sapi selain dapat meningkatkan pertambahan berat badan harian sapi (Ruswendi dan Gunawan, 2007). Kondisi ini secara tidak langsung juga dapat memotivasi peternak untuk dapat meningkatkan populasi sapi yang dipeliharanya, akibat penggunaan waktu untuk mencari pakan ternak sapi menjadi semakin pendek dan dapat digunakan untuk melakukan aktivitas usaha lainnya yang sekaligus tentu akan dapat memacu peningkatan pendapatan masyarakat Kabupaten Seluma dari usaha ternak sapi.
Selain itu petani dan peternak juga telah mengadopsi teknologi bagaimana memperbanyak aktifator atau mikrobia yang digunakan untuk dekomposisi bahan organik menjadi kompos, sehingga tidak lagi terjadi kendala ketergantungan aktifator kepada pihak lain sekaligus juga telah dapat memotivasi petani agar memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk diolah menjadi pupuk organik dan mendorong peningkatan maupun keharusan penggunaan pupuk organik pada padi sawah. Hal ini sesuai dengan harapan Sadirman (2001) dimana motivasi petani merupakan gambaran respon maupun sikap dari keuletan, percaya diri, bersaing minat dan konsentrasi maupun keinginan dalam memanfaatkan informasi inovasi teknologi untuk dapat didiseminasikan dan sampai kepada pangguna.
4.2.3. Dampak diseminasi gelar teknologi bagi masyarakat
Melalui pelaksanaan diseminasi inovasi teknologi peternakan berupa gelar teknologi kompos, biogas dan pakan untuk pengemukan sapi yang telah tersebar dan terdiseminasikan kepada lebih 90 kelompoktani dan peternak sapi di Kabupaten Seluma serta 30 kelompoktani di Kabupaten Bengkulu Utara, telah memberi dampak bagi masyarakat petani di wilayah pengembangan SL-PTT padi sawah dan peternak sapi sebagai penyangga PSDS di Provinsi Bengkulu khususnya Kabupaten Seluma dan Kabupaten Bengkulu Utara dalam hal pengolahan kompos dari kotoran ternak sapi, pemberian pupuk organik pada lahan sawah, tekhnik pengubinan untuk menghitung hasil panen padi sistem tanam jajar legowo, cara mengembangbiakan mikrobia sebagai aktifator, tekhnik pengolahan biogas dan pengolahan limbah buangannya menjadi pupuk
organik cair, pemanfaatan limbah industri pertanian berupa solid dan ampas tahu untuk pakan penggemukan sapi serta terbukanya peluang pegembangan usaha spesifik lokasi bagi petani dan peternak melalui peningkatan pemanfaatan sumberdaya disekitar lokasi usahatani.
Teknologi hasil penelitian dan pengkajian tidak bermanfaat jika tidak sampai, tidak diterima atau tidak diadopsi oleh petani dan langkah-langkah dalam proses adopsi sendiri merupakan suatu yang harus diterima petani beserta keluarganya mulai dari suatu hal baru diperkenalkan sampai diterapkan. Proses ini memerlukan waktu yang relatif lama, maka diperlukan upaya terus menerus dalam proses adopsi dengan memanfaatkan wadah diseminasi (BPTP Jawa Tengah, 2008).
Sehingga diperlukan usaha penyampaian teknologi secara informatif, aplikatif dan efektif dari hasil penelitian kepada petani untuk diterapkan yang salah satunya diadopsikan melalui gelar teknologi ini.
Berdasarkan hasil koordinasi dan identifikasi potensi ternak dan pengembangan inovasi diseminasi teknologi peternakan yang dibutuhkan, pelaksanaan kegiatan diseminasi gelar teknologi peternakan ini mendapat dukungan penuh dari stakeholder karena telah dapat mendorong keberhasilan pembangunan peternakan yang sudah diprogramkan daerah.
Hal ini dapat dilihat dari dukungan program pembangunan peternakan Provinsi Bengkulu yang diarahkan dan disinergikan dengan masing-masing program peternakan Kabupaten/Kota dalam mendukung program swasembada daging sapi nasional (Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu, 2009).
Hasil perkembangan pelaksanaan kegiatan demo lapangan gelar teknologi peternakan yang sudah dilaksanakan, memperlihatkan bahwa inovasi teknologi yang didiseminasikan sebagian besar telah sampai dan dikuasai oleh pengguna. Seperti halnya inovasi teknologi biogas, dimana peternak selama ini baru hanya dapat memanfaatkan sebatas produksi biogas dan belum menguasai inovasi teknologi produksi kompos dan pupuk cair dari hasil buangan biogas. Hal ini memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dihasilkan dan diimplementasikan BPTP selama ini masih belum termanfaatkan sepenuhnya, menurut Fawzia (2002) bahwa Rekomendasi paket teknologi yang sudah dihasilkan Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) akan memberikan manfaat apabila dapat diterapkan pengguna maupun pihak-pihak yang membutuhkannya. Oleh karena itu pengembangan informasi melalui aplikasi gelar teknologi ini dapat ditingkatkan, sehingga petani termotivasi mengadopsi dan menguasai teknologi yang sudah dihasilkan dan menjadi lebih tangguh dalam persaingan usahatani ternak yang semakin berkembang nantinya.