• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Hasil dan Pembahasan

4.6. Pembahasan

4.6.1. Pengujian Hipotesis Pertama 4.6.1.1.Bank Pemerintah

Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai uji t pada variabel BOPO untuk bank pemerintah menunjukkan nilai sebesar -5,895, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif. Sedangkan untuk nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa variabel BOPO bank pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan dikarenakan nilai sig. kurang dari 0,05. Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikansi BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank pemerintah memiliki efisiensi dalam menjalankan operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha

21

(2007) yang menyatakan bahwa berpengaruhnya variabel BOPO terhadap ROA menandakan bahwa meningkatnya BOPO pada perusahaan perbankan memperlihatkan bahwa perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya operasional dalam menghasilkan laba.

2.6.1.2.Bank Domestik

Pada tabel 4, uji t untuk bank domestik, menunjukkan nilai sebesar -18,608, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif terhadap ROA. Nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO pada bank domestik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05).

Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Sama halnya dengan bank pemerintah, bank domestik yang juga memiliki pengaruh signifikan pada variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank domestik memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyatakan bahwa variabel BOPO memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, dimana hal ini disebabkan setiap peningkatan biaya operasi bank, yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan operasi akan berakibat berkurangnya laba sebelum pajak, yang pada akhirnya akan menurunkan kinerja keuangan (ROA).

4.6.1.3.Bank Asing

Nilai uji t pada variabel BOPO bank asing menunjukkan nilai sebesar -9,535, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap ROA pada bank asing. Nilai pada sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO memilik pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05). Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikan variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan kesimpulan yang sama halnya dengan bank pemerintah maupun bank domestik, dimana bank asing

22

juga memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya.

Hasil dari pengujian ini, sejalan dengan pengujian yang telah dilakukan oleh Chaidir (2015), dimana variabel BOPO memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini menandakan bahwa rasio BOPO yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya. Semakin kecil BOPO berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan.

4.6.2. Pengujian Hipotesis Kedua 4.6.2.1.Bank Pemerintah

Pada tabel 3, uji t pada bank pemerintah, menunjukkan nilai NPL sebesar -2,886, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa NPL pada bank pemerintah memiliki pengaruh negatif terhadap ROA. Sedangkan nilai sig. pada variabel NPL bank pemerintah sebesar 0,004 menunjukkan bahwa variabel NPL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hasil tersebut mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank pemerintah, diterima. Semakin tinggi risiko kredit, menunjukkan bahwa semakin tinggi pula adanya kredit bermasalah pada bank pemerintah, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja keuangan bank pemerintah. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyebutkan bahwa NPL memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap ROA, dimana hal ini terjadi karena peraturan Bank Indonesia perihal NPL mengatur bahwa setiap kenaikan outstanding pinjaman diberikan, harus dicover dengan cadangan aktiva produktif. Dengan demikian, proses ini akan membantu menjaga perbankan agar nilai NPL maksimal 5 persen.

4.6.2.2.Bank Domestik

Nilai uji t pada variabel NPL bank domestik sebesar -1,299 menunjukkan bahwa NPL memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank domestik.

Sedangkan, nilai sig. sebesar 0,196 menunjukkan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik (pada tingkat

23

sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada bank domestik, ditolak. Variabel NPL tidak dominan berpengaruh terhadap ROA pada bank domestik. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004), dimana variabel NPL tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini terjadi karena peraturan Bank Indonesia perihal NPL mengatur bahwa setiap kenaikan outstanding pinjaman diberikan, harus dicover dengan cadangan aktiva produktif. Dengan demikian, proses ini akan membantu menjaga perbankan agar nilai NPL maksimal 5 persen.

4.6.2.3.Bank Asing

Nilai uji t pada variabel NPL bank asing sebesar -0,016 menunjukkan bahwa NPL bank asing memiliki pengaruh yang negatif terhadap ROA bank asing. Nilai sig.

NPL pada bank asing sebesar 0,987 menunjukkan bahwa variabel NPL tidak memiliki pengaruh pada ROA bank asing (pada tingkat sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank asing, ditolak. Selain itu, NPL yang tinggi bisa terjadi bukan karena debitur tidak sanggup untuk membayar, akan tetapi ketatnya peraturan Bank Indonesia dalam hal penggolongan kredit yang mengakibatkan debitur yang pada mulanya ada pada kategori lancar bisa turun menjadi kurang lancar (Prasnanugraha, 2007).

4.6.3. Pengujian Hipotesis Ketiga 4.6.3.1.Bank Pemerintah

Nilai uji t pada variabel CAR pada bank pemerintah sebesar 1,192 menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memiliki pengaruh positif terhadap ROA bank pemerintah. Sedangkan nilai sig. sebesar 0,235 pada bank pemerintah menunjukkan bahwa CAR bank pemerintah memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05). Hasil ersebut tidak mendukung hipotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank pemerintah, ditolak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) yang menyatakan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan pada ROA. Penelitian yang dilakukan oleh Chaidir (2015) menyebutkan

24

bahwa tidak berpengaruhnya CAR terhadap ROA dikarenakan adanya peraturan BI yang mengharuskan standar CAR berada pada nilai 8 persen, dimana hal tersebut menjadikan perbankan menjaga nilai CAR agar tidak lebih dan tidak kurang dari 8 persen.

4.6.3.2.Bank Domestik

Pada tabel 4, nilai uji t variabel CAR sebesar 2,459, menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memilik pengaruh positif terhadap ROA bank domestik. Sedangkan untuk nilai sig. sebesar 0,015 pada bank domestik, menunjukkan bahwa CAR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik (pada tingkat sig.

0,05). Hasil tersebut mendukung hipotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik, diterima.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyono (2005) yang menyebutkan bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA dimana hal ini terjadi karena kondisi bank umum yang ada di Indonesia mulai membaik akibat krisis ekonomi yang terjadi sehingga semakin efisien modal bank yang digunakan untuk aktivitas operasionalnya mampu menghasilkan laba yang tinggi.

4.6.3.3.Bank Asing

Nilai uji t pada variabel CAR pada bank asing sebesar -3,054 menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memiliki pengaruh negatif terhadap ROA bank asing. Nilai sig. sebesar 0,002 menunjukkan bahwa variabel CAR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA bank asing (pada tingkat sig. 0,05).hasil tersebut tidak mendukung hopotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap bank asing, ditolak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nursatyani (2011) yang menyatakan bahwa CAR memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan pada bank asing. Penelitian Chaidir (2015) menyatakan bahwa CAR tidak memiliki pengaruh terhadap ROA disebabkan peraturan BI yang mengharuskan standar CAR berada pada nilai 8 persen, dimana hal tersebut menjadikan perbankan menjaga nilai CAR agar tidak lebih dan tidak kurang dari 8 persen.

25

Dokumen terkait