2. Kerangka Teoritis
2.3. Perumusan Hipotesis
2.3.1. Pengaruh Efisiensi Operasi terhadap Kinerja Keuangan
efisiensi operasi, risiko kredit, dan modal pada laporan keuangan perbankan. Efisiensi operasi merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk menilai apakah suatu bank telah menggunakan faktor produksinya secara efisien. Efisiensi operasi ini berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank. Semakin kecil tingkat rasio efisiensi operasi, maka semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan perbankan, dimana hal tersebut dapat berarti bahwa kinerja keuangan bank baik. Tetapi apabila tingat efisiensi operasi memiliki rasio yang besar, maka biaya operasional yang dikeluarkan tidak efisien (Nursatyani, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) menyatakan bahwa efisiensi operasi (BOPO) memiliki pengaruh negative dan signifikan terhadap ROA pada perusahaan perbankan tahun 2005. Selain variabel efisiensi operasi, dalam penelitian ini juga menilai dengan variabel-variabel lain, yaitu capital adequacy ratio (CAR), non performing loan (NPL), net interest margin (NIM), dan loan to deposit ratio (LDR). Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1: Efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
2.3.2. Pengaruh Risiko Kredit terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Risiko kredit merupakan hal yang harus diperhatikan oleh pihak perbankan, dimana dalam risiko ini, pihak perbankan mengalami gagal bayar dari pihak debitur.
9
Untuk menilai risiko ini dapat dilihat pada nilai non performing loan (NPL). Apabila rasio NPL menunjukkan nilai yang besar, maka pihak perbankan memiliki rasio kredit yang besar, dimana hal ini dapat membuat kinerja keuangan bank memburuk.
Sebaliknya, apabila nilai rasio NPL tersebut kecil, maka pihak perbankan memiliki rasio kredit gagal bayar yang kecil, dimana hal ini dapat membuat kinerja keuangan bank baik (Nursatyani, 2011). NPL yang baik adalah NPL yang memiliki dibawah 5 persen (Mawardi, 2005).
Hasil dari peneletian yang dilakukan oleh Mulatsih (2014) dengan menggunakan metoda analisis regresi linier berganda, menyatakan bahwa variabel net performing loan (NPL) memberikan pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap ROA. Penelitian ini juga menilai ROA dari beberapa variabel lain, yaitu CAR, LDR, BOPO, NPL, NIM, dan return on investment (ROI). Berdasarkan argumen tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H2: Risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
2.3.3. Pengaruh Modal terhadap Kinerja Keuangan Perbankan
Capital adequacy ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung resiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank (Yuniar, 2013).
Semakin tinggi rasio CAR maka kinerja keuangan bank akan meningkat karena kerugian-kerugian yang ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki bank tersebut (Nursatyani, 2011). CAR dengan nilai dibawah 8 persen, bank tersebut tidak mempunyai peluang untuk dapat memberikan kredit (Mawardi 2005).
Hasil dari penelitian Karunia (2013) menunjukkan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA. Selain CAR, penelitian ini juga mengukur kinerja keuangan dengan variabel lainnya, yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Pemenuhan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Berdasarkan argumen tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H3: Modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
10 3.
METODA PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan sekelompok orang, kejadian atau gejala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu (Sidik dan Saludin 2009: 103). Populasi dalam penelitian ini yaitu 4 Bank milik Pemerintah Pusat, 26 Bank milik Pemerintah Daerah, 25 Bank Domestik, dan 23 Bank Asing yang tercatat pada Direktori Perbankan Indonesia, selama tahun 2009-2014. Bank pemerintah merupakan bank yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah, dimana di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu bank yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan bank yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Bank domestik yang ada di Indonesia merupakan bank yang kepemilikannya dimiliki oleh swasta. Sedangkan untuk bank asing yaitu bank yang sahamnya atau kepemilikannya dimiliki oleh pihak asing.
Sampel merupakan sebagian informasi yang diambil dari elemen-elemen populasi (Sidik dan Saludin 2009: 103). Dalam penelitian ini, metode pemilihan sampel yaitu menggunakan purposive sampling, dimana sampel diambil berdasarkan kriteria tertentu, yaitu perbankan yang memiliki laporan keuangan lengkap dan perbankan tersebut masih terdaftar dalam direktori perbankan Indonesia 2009-2014.
Tabel 1.
Sampel Penelitian Perusahaan Perbankan Perbankan yang terdaftar pada Direktori
Perbankan Indonesia 2009-2014
119
Perbankan Syariah (12)
Perbankan yang mempunyai data tidak lengkap pada tahun 2009-2014
(29) Jumlah Sampel tahun 2009-2014 78 Sumber: Direktori Perbankan Indonesia
Dari tabel diatas, maka dapat dijabarkan untuk sampel penelitian sebagai berikut.
Tabel 2.
Bank Pemerintah 30
Bank Domestik 25
Bank Asing 23
Jumlah Sampel Penelitian 78
11 3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan jenis data kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka hasil pengukuran atau perhitungan (Juanda 2007: 76). Dalam penelitian ini, data tersebut berasal dari perhitungan BOPO, NPL, CAR, dan ROA pada laporan keuangan perbankan.
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini berupa data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi berupa publikasi atau dalam bentuk digital (Juanda 2007, 75). Dalam penelitian ini, data diambil dari laporan keuangan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun 2009-2014.
3.3. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah:
1. Variabel dependen
Variabel dependen merupakan sebuah ukuran yang dianggap sebagai akibat atau konsekuensi atas terjadinya variabel independen (Sidik dan Saludin 2009: 169). Variabel dependen yang ada pada penelitian ini adalah variabel ROA. ROA yang ada dalam penelitian ini mengacu pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004 yang dirumuskan sebagai berikut.
π ππ΄ = ππππ π πππππ’π πππππ πππ‘π β πππ‘π π‘ππ‘ππ ππ π ππ‘
2. Variabel Independen
Variabel independen merupakan sebuah ukuran yang menyatakan sejauh mana sebuah variabel dapat dipandang sebagai yang bertanggung jawab atas timbulnya variabel dependen (Sidik dan Saludin 2009, 169). Variabel independen dalam penelitian ini adalah BOPO, NPL, dan CAR. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004, dapat dirumuskan sebagai berikut.
12
π΅πππ = π‘ππ‘ππ πππππ ππππππ πππππ π‘ππ‘ππ ππππππππ‘ππ ππππππ πππππ
πππΏ =ππππππ‘ ππππππ πππβ, ππππππ’πππ, ππππππππ‘ π‘ππ‘ππππππππ‘
πΆπ΄π = πππππ
πππ‘ππ£π π‘πππ‘ππππππ ππππ’ππ’π‘ πππ πππ
3.4. Metoda Analisis
Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan diatas, maka alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Perhitungan dilakukan dengan metoda statistik yang dibantu program SPSS 20.0. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh BOPO, NPL, dan CAR terhadap ROA dengan model regresi yang dapat dirumuskan seperti berikut.
Y1G = Ξ± + Ξ²1X1G + Ξ²2X2G + Ξ²3X3G + e Y2D = Ξ± + Ξ²1X1D + Ξ²2X2D + Ξ²3X3D + e Y3F = Ξ± + Ξ²1X1F + Ξ²2X2F + Ξ²3X3F + e Keterangan :
Y1G = Kinerja Keuangan Bank Pemerintah Y2D = Kinerja Keuangan Bank Domestik Y3F = Kinerja Keuangan Bank Asing
Ξ²1 = Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Ξ²2 = Non Performing Loan (NPL)
Ξ²3 = Capital Adequacy Ratio (CAR) e = error
3.5. Pengujian Asumsi Klasik
Dikarenakan data dalam penelitian ini merupakan data sekunder, maka untuk ketepatan model perlu dilakukan uji asumsi klasik yang mendasari model regresi. Uji asumsi klasik yang dilakukan pada penelitian ini antara lain.
13 1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model memiliki data yang telah terdistribusi normal. Uji normalitas ini dilakukan dengan melihat data histogram atas nilai residual. Uji ini dilakukan dengan mencari model regresi yang terbaik, kemudian diuji nilai residualnya (Sidik dan Saludin 2009: 192).
2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya suatu hubungan linear yang sempurna antara beberapa atau semua variabel bebas. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dapat diteksi dengan MicroTSP. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen (Sidik dan Saludin 2009: 193).
3. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya. Artinya, setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Sidik dan Saludin 2009: 193).
4. Uji Autokorelasi
Autokorelasi ini timbul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Masalah ini sering kali ditemukan ketika menggunakan data runtut waktu (Sidik dan Saludin 2009: 192).
3.6. Pengujian Hipotesis
Untuk melakukan pengujian hipotesis, dilakukan dengan melakukan uji t (parsial), uji F (simultan), dan uji koefisien determinasi.
1. Uji t (Parsial)
Uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali dalam Nursatyani, 2011).
2. Uji Goodness of Fit (Uji F)
14
Uji F menunjukkan apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali dalam Nursatyani, 2011).
3. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada dasarnya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi pada variabel dependen. Nilai
koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (Prasnanugraha, 2011).
4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Statistik Deskriptif
Berikut ini hasil pengolahan uji statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian. Dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 3. Sumber : Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Berdasarkan tabel diatas, bank pemerintah memiliki kinerja keuangan yang lebih baik daripada bank domestik maupun bank asing. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ROA dalam tabel, dimana bank pemerintah memiliki nilai rata-rata-rata-rata sebesar
15
3,38, sedangkan untuk bank domestik dan bank asing memiliki nilai rata-rata sebesar 1,76 dan 2,14. Tingginya nilai rata-rata ROA pada bank pemerintah juga mencerminkan bahwa bank pemerintah memiliki posisi yang baik dalam segi penggunaan aset.
Efisiensi operasi pada suatu perusahaan perbankan juga termasuk salah satu variabel yang dapat digunakan untuk melihat bagaimana kinerja keuangan perbankan.
Dalam tabel 2, yang diproksikan dalam BOPO menunjukkan bahwa, bank pemerintah memiliki nilai rata-rata efisiensi operasi 72,42, dimana perbankan tersebut tidak dapat menekan beban dari pendapatan pada bank pemerintah sehingga mencapai prosentase efisiensi operasi sebesar 99,56 persen. Prosentase tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bank domestik yang tidak dapat menekan beban dari pendapatan perbankan tersebut sehingga menghasilkan prosentase mencapai 100,51 persen, dimana nilai rata-rata efisiensi operasi bank domestik sebesar 85,54 persen. Sedangkan bank asing memiliki nilai rata-rata efisiensi operasi dan 77,27 persen dan tidak dapat menekan beban dari pendapatan, sehingga mencapai prosentase efisiensi operasi sebesar 101,28 persen. Hal ini menunjukkan bahwa bank pemerintah lebih efisien disbanding bank domestik maupun bank asing, dimana hal terseut membuktikan bahwa bank pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk terus secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi.
Nilai kredit yang diproksikan dalam NPL untuk bank pemerintah memiliki nilai rata-rata 0,90 dengan kredit bermasalah dari total kredit pada bank pemerintah mencapai prosentase maksimal sebesar 10,00 persen dibandingkan bank domestic yang memiliki nilai rata-rata 1,21 persen yang memiliki kredit bermasalah dari total kredit perbankan tersebut mencapai nilai maksimal sebesar 5,00 persen dan nilai NPL sebesar 1,06 persen pada bank asing yang memiliki kredit bermasalah dari total kredit bank asing tersebut dengan prosentase maksimal mencapai 7,38 persen. Nilai NPL bank pemerintah yang lebih rendah menunjukkan bahwa bank pemerintah memiliki kemampuan dalam meminimalkan kredit bermasalah, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah.
16
Bank asing memiliki penyediaan modal minimum yang diproksikan dalam CAR dengan nilai rata-rata 26,64 dengan memiliki modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 105,00 persen lebih tinggi dibandingkan dengan bank pemerintah yang memiliki nilai rata-rata CAR sebesar 18,73 persen, dimana prosentase modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 49,73 persen dan bank domestik yang memiliki nilai rata-rata CAR 17,52 persen dengan maksimal prosentase modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 36,45 persen. Tingginya rata-rata CAR pada bank asing menunjukkan bahwa bank asing memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menanggung risiko kerugian yang dapat timbul dibandingkan bank pemerintah maupun bank domestik.
4.2. Uji Asumsi Klasik
Untuk memperoleh model regresi yang baik, data harus lolos uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi (Ghozali dalam Prasnanugraha, 2007). Hasil uji normalitas dengan menggunakan analisis grafik menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal, dimana data menyebar mengikuti garis normalitas. Hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance di atas 0,10. Hasil uji heterokedastisitas dengan uji scatterplot menunjukkan bahwa data menyebar secara merata di atas dan di bawah garis nol, tidak berkumpul di satu tempat, dan tidak membentuk pola tertentu. Demikian juga dengan uji autokorelasi, dengan menggunakan uji Durbin-Watson yang menunjukkan bahwa data masih dalam range aman, sehingga tidak terjadi autokorelasi. Output uji asumsi klasik dapat dilihat pada lampiran. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian lolos uji asumsi klasik.
4.3. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Pemerintah
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
17 Tabel 4.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Pemerintah
Variabel Koefisien
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Dari hasil analisis regresi diatas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:
YG = 6,831 β 0,050 BOPO β 0,183 NPL + 0,017 CAR
Hasil analisis data menunjukkan nilai konstanta sebesar 6,831. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR dianggap konstan, maka ROA adalah sebesar 6,831. Nilai BOPO sebesar -0,050 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen biaya operasional, maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah sebesar 0,050. Koefisien regresi NPL sebesar -0,183 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen nilai kredit macet akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank pemerintah sebesar 0,183. Sedangkan nilai koefisien regrasi CAR sebesar 0,017 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 persen modal maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah sebesar 1,7 persen.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen untuk menjelaskan variabel dependen pada bank pemerintah sebesar 26,9 persen (adjust R2), sedangkan 73,1 persen dijelaskan oleh variabel lainnya. Dari hasil analisis ANOVA, variabel-variabel independen, yaitu BOPO, NPL, dan CAR secara simultan
18
memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sign. sebesar 0,000 pada bank pemerintah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) dan Nursatyani (2011) bahwa BOPO, NPL, dan CAR secara simultan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap ROA.
4.4. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Domestik
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Tabel 5.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Domestik
Variabel Koefisien
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Dari hasil regresi diatas, maka dapat disuusn untuk persamaan regresi pada bank domestik sebagai berikut:
YD = 9,921 β 0,099 BOPO β 0,057 NPL + 0,023 CAR
Konstanta sebesar 9,921 pada persamaan regresi diatas menunjukkan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR konstan, maka variabel dependen ROA adalah sebesar 9,921. Nilai koefisien regresi BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) sebesar -0,099 menunjukkan bahwa penurunan 1 persen biaya operasional akan meningkatkan kinerja keuangan bank domestik sebesar 9,9 persen.
Koefisien regresi NPL -0,057 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen kredit
19
macet, akan meningkatkan kinerja keuangan sebesar 5,7 persen pada bank domestik.
Nilai koefisien regresi CAR sebesar 0,023 menunjukkan bahwa setiap terjadi peningkatan modal sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank domestik sebesar 2,3 persen.
Dari tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen BOPO, NPL, dan CAR untuk menjelaskan variabel dependen ROA pada bank domestik sebesar 74,7 persen (adjust R2), sedangkan 25,3 persen dijelaskan oleh variabel lain. Dari hasil uji ANOVA, dapat dilihat bahwa variabel independen BOPO, NPL, CAR secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA pada bank domestik.
Hal ini dapat dilihat dari hasil sig. yang menunjukkan nilai 0,000, dimana nilai tersebut kurang dari 0,05.
4.5. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Asing
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Tabel 6.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Asing
Variabel Koefisien
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Berdasarkan hasil analisis regresi linier pada tabel diatas, maka dapat dirumuskan untuk persamaan regresi pada bank asing sebagai berikut:
YF = 6,947 β 0,057 BOPO - 0,001 NPL β 0,015 CAR
20
Berdasarkan persamaan regresi diatas, dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta sebesar 6,947 menunjukkan bahwa jika variabel independen BOPO, NPL, dan CAR dianggap konstan, maka variabel dependen ROA adalah sebesar 6,947. Nilai koefisien regresi BOPO sebesar -0,057 menunjukkan bahwa penurunan biaya operasional sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan ROA sebesar 5,7 persen pada bank asing.
Nilai koefisien regresi NPL sebesar -0,001 menunjukkan bahwa penurunan kredit macet sebesar 1 persen pada bank asing, akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank asing sebesar 0,1 persen. Nilai koefisien regresi CAR sebesar -0,015 menunjukkan bahwa, setiap penurunan modal pada bank asing sebesar 1 persen, akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank asing sebesar 1,5 persen.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR untuk menjelaskan variabel dependen ROA adalah sebesar 39,1 persen, sedangkan 60,9 persen dijelaskan oleh variabel lainnya. Dari uji ANOVA, dapat dilihat bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR secara simultan memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig. sebesar 0,000, dimana nilai tersebut kurang dari 0,05.
4.6. Pembahasan
4.6.1. Pengujian Hipotesis Pertama 4.6.1.1.Bank Pemerintah
Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai uji t pada variabel BOPO untuk bank pemerintah menunjukkan nilai sebesar -5,895, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif. Sedangkan untuk nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa variabel BOPO bank pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan dikarenakan nilai sig. kurang dari 0,05. Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikansi BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank pemerintah memiliki efisiensi dalam menjalankan operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha
21
(2007) yang menyatakan bahwa berpengaruhnya variabel BOPO terhadap ROA menandakan bahwa meningkatnya BOPO pada perusahaan perbankan memperlihatkan bahwa perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya operasional dalam menghasilkan laba.
2.6.1.2.Bank Domestik
Pada tabel 4, uji t untuk bank domestik, menunjukkan nilai sebesar -18,608, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif terhadap ROA. Nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO pada bank domestik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05).
Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Sama halnya dengan bank pemerintah, bank domestik yang juga memiliki pengaruh signifikan pada variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank domestik memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyatakan bahwa variabel BOPO memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, dimana hal ini disebabkan setiap peningkatan biaya operasi bank, yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan operasi akan berakibat berkurangnya laba sebelum pajak, yang pada akhirnya akan menurunkan kinerja keuangan (ROA).
4.6.1.3.Bank Asing
Nilai uji t pada variabel BOPO bank asing menunjukkan nilai sebesar -9,535, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap ROA pada bank asing. Nilai pada sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO memilik pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05). Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikan variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan kesimpulan yang sama halnya dengan bank pemerintah maupun bank domestik, dimana bank asing
22
juga memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya.
Hasil dari pengujian ini, sejalan dengan pengujian yang telah dilakukan oleh Chaidir (2015), dimana variabel BOPO memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini menandakan bahwa rasio BOPO yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya. Semakin kecil BOPO berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan.
4.6.2. Pengujian Hipotesis Kedua 4.6.2.1.Bank Pemerintah
Pada tabel 3, uji t pada bank pemerintah, menunjukkan nilai NPL sebesar -2,886, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa NPL pada bank pemerintah memiliki pengaruh negatif terhadap ROA. Sedangkan nilai sig. pada variabel NPL bank pemerintah sebesar 0,004 menunjukkan bahwa variabel NPL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hasil tersebut mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank pemerintah, diterima. Semakin tinggi risiko kredit, menunjukkan bahwa semakin tinggi pula adanya kredit bermasalah pada bank pemerintah, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja keuangan bank pemerintah. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyebutkan bahwa NPL memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap ROA, dimana hal ini terjadi karena peraturan Bank Indonesia perihal NPL mengatur bahwa setiap kenaikan outstanding pinjaman diberikan, harus dicover dengan cadangan aktiva produktif. Dengan demikian, proses ini akan membantu menjaga perbankan agar nilai NPL maksimal 5 persen.
4.6.2.2.Bank Domestik
Nilai uji t pada variabel NPL bank domestik sebesar -1,299 menunjukkan bahwa NPL memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank domestik.
Sedangkan, nilai sig. sebesar 0,196 menunjukkan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik (pada tingkat
23
sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada bank domestik, ditolak. Variabel NPL tidak dominan berpengaruh terhadap ROA pada bank domestik. Hal ini sejalan
sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada bank domestik, ditolak. Variabel NPL tidak dominan berpengaruh terhadap ROA pada bank domestik. Hal ini sejalan