i
ANALISIS PENGARUH EFISIENSI OPERASI, RISIKO KREDIT, DAN MODAL TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERBANKAN
(Studi pada Bank Pemerintah, Bank Domestik, dan Bank Asing Periode 2009-2014)
OLEH :
Nama : Desiana Nur Hendrayanti
NIM : 232012253
KERTAS KERJA
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS: EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI: AKUNTANSI
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2016
ii
i
i
i
ii
HALAMAN MOTTO
“if you can’t fly, then run. If you can’t run, then walk. If you can’t walk, then crawl. But whatever you do, you have to keep moving forward.”
(Marthin Luther King, Jr.)
“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Siapa yang bersabar pasti beruntung. Siapa yang menapaki jalan-Nya akan sampai ke tujuan.”
(Unknown)
iii
ABSTRACT
The global financial crisis that occurred in US on 2008 affected many countries including Indonesia. The crisis largely influenced the financial sector including banks in Indonesia. The decreasing public creadibility level to the banks made the banks made tighten its liquidity. This research aimed to analyze the impact of BOPO, NPL, and CAR on ROA for the Government Bank, Domestic Bank, and Foreign Bank in 2009-2014. This research used multiple linier regression analyzed technique. The results showed that operational efficiency (BOPO) and credit risk (NPL) had negative and significant influence to the financial performance (ROA) of Government Banks.
BOPO had negative and significant influence to ROA of Domestic Bank. Bank capital (CAR) had positive and significant influence to ROA of Domestic Bank. While the Foreign Banks, BOPO and CAR had negative and significant effect on ROA. For this research is expected to become a consideration for government, shareholder, and other stakeholders.
Keywords: global financial crisis, financial performance, BOPO, NPL, CAR
iv
SARIPATI
Krisis keuangan global yang melanda Amerika tahun 2008 berpengaruh terhadap banyak negara termasuk Indonesia. Krisis tersebut berdampak luas pada sektor keuangan, termasuk perbankan di Indonesia. Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan akibat krisis, menjadikan perbankan memperketat likuiditasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel BOPO, NPL, dan CAR terhadap ROA pada Bank Pemerintah, Bank Domestik, dan Bank Asing pada tahun 2009-2014. Hasil dari penelitian yang menggunakan teknik analisis regresi linier berganda menunjukkan efisiensi operasi (BOPO) dan risiko kredit (NPL) memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan (ROA) Bank Pemerintah. Variabel BOPO memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA Bank Domestik. sedangkan modal (CAR) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA Bank Domestik. Pada Bank Asing, variabel BOPO dan CAR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hasil dari penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, pemegang saham, investor, dan masyarakat.
Kata Kunci: krisis keuangan global, kinerja keuangan, efisiensi operasi, risiko kredit, modal
v
KATA PENGANTAR
Krisis keuangan global yang melanda Amerika tahun 2008 berpengaruh terhadap banyak negara termasuk Indonesia. Krisis tersebut berdampak luas pada sektor keuangan, termasuk perbankan di Indonesia. Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan akibat krisis, menjadikan perbankan memperketat likuiditasnya, agar tingkat kepercayaan masyarakat meningkat. Selain itu, rasio yang ada pada perbankan juga dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai kinerja keuangan perbankan tersebut.
Kertas kerja berjudul “Analisis Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Perbankan: Studi Analisis Pada Bank Pemerintah, Bank Domestik, dan Bank Asing Periode 2009-2014” ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh efisiensi operasi, risiko kredit, dan modal terhadap kinerja keuangan pada sektor perbankan. Penelitian ini memberikan kontribusi yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya, oleh pengkritisi, maupun pengguna standar yang berkaitan dengan pengaruh efisiensi operasi, risiko kredit, dan modal terhadap kinerja keuangan.
Beberapa kekurangan terdapat dalam kertas kerja ini, sehingga kritik, saran, dan komentar yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan kertas kerja ini.
Kiranya kertas kerja ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.
Penulis
vi
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat yang dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proses perkuliahan dan penulisan tugas akhir ini. Pada kesempatan ini, penulis hendak mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung, membantu, serta memberikan doa dan semangat. Terimakasih sedalam-dalamnya penulis ucapkan kepada:
1. Ayah Hendro Bagus Nugroho dan Ibu Nur Neni Rastiyanti, serta saudara tercinta, Rizki Bagus dan Sefiana Nur Restiasih yang telah banyak memberikan dukungan, semangat, serta doa kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas akhir ini tepat pada waktunya.
2. Ibu Apriani Dorkas Rambu Atahau, SE., M.Com., PhD, selaku Dosen Pembiming yang dengan sabar membimbing penulis, memberikan masukan dan saran dalam tugas akhir ini, sehingga tugas akhir ini dapat selesai. Terimakasih banyak Ibu.
3. Eyang Putri dan Eyang Kakung saya, yang memberikan pelajaran, semangat dan motivasi kepada penulis sedari kecil hingga dewasa.
Memberikan doa sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Keluarga besar Bapak Suhartoyo dan Bapak Alibasah yang selalu memberikan dukungan, doa, dan perhatian kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Adik perempuan tercinta, Martiana Nur Nugraheni yang selalu menghibur penulis saat jenuh mengerjakan tugas akhir ini.
6. Sahabat seperjuangan dan seperbimbingan penulis, Andriani Grace Irene Nomleni, serta sahabat penulis yang lain Agung Setiabudi, Maria Christy, Gracia Beta, Kelvin Herka, Sara Theresa, terimakasih buat persahabatan, kebersamaan, suka, duka, dan support kalian selama 4 tahun ini. Terimakasih untuk semuanya.
vii
7. Sahabat semasa SMA penulis, Widya Kusuma Dewi, Priesta Tunjungsari, dan Nastiti Widianti yang memberikan dukungan kepada penulis, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu memberikan bantuan, motivasi, doa, semangat sehingga penulis dapat menyelesaiakan tugas akhir ini.
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Pernyataan Keaslian Karya Tulis Kertas Kerja ... ii
Halaman Persetujuan Kertas Kerja ... iii
Halaman Motto ... iv
Abstract ... v
Saripati ... vi
Kata Pengantar ... vii
Ucapan Terima Kasih ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xi
Daftar Lampiran ... xii
1. Pendahuluan ... 1
2. Kerangka Teoritis ... 4
2.1.Karakteristik Bank Pemerintah, Domestik, dan Asing ... 4
2.1.1. Bank Pemerintah ... 5
2.1.2. Bank Domestik ... 5
2.1.3. Bank Asing ... 6
2.2.Kinerja Keuangan Perbankan... 7
2.3.Perumusan Hipotesis ... 8
2.3.1. Pengaruh Efisiensi Operasi terhadap Kinerja Keuangan ... 8
2.3.2. Pengaruh Risiko Kredit terhadadap Kinerja Keuangan ... 8
2.3.3. Pengaruh Modal terhadap Kinerja Keuangan ... 9
3. Metoda Penelitian ... 10
3.1.Populasi dan Sampel ... 10
3.2.Jenis dan Sumber Data ... 11
3.3.Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 11
3.4.Metoda Analisis ... 12
3.5.Pengujian Asumsi Klasik ... 13
3.6.Pengujian Hipotesis ... 14
ix
4. Hasil dan Pembahasan ... 14
4.1.Statistic Deskriptif ... 14
4.2.Uji Asumsi Klasik ... 16
4.3.Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Pemerintah ... 16
4.4.Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Domestik ... 18
4.5.Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Asing ... 19
4.6.Pembahasan ... 20
4.6.1. Pengujian Hipotesis Pertama ... 20
4.6.2. Pengujian Hipotesis Kedua ... 22
4.6.3. Pengujian Hipotesis Ketiga ... 23
5. Simpulan, Keterbatasan, dan Saran... 25
5.1.Simpulan ... 25
5.2.Keterbatasan ... 26
5.3.Saran ... 26
Daftar Pustaka ... 27
Lampiran-Lampiran ... 29
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sampel Penelitian Perusahaan Perbankan... 11
Tabel 2. Sampel Penelitian Bank Pemerintah, Domestik, dan Asing ... 11
Tabel 3. Statistik Deskriptif ... 15
Tabel 4. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Pemerintah ... 17
Tabel 5. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Domestik ... 18
Tabel 6. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Asing ... 19
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Variabel Efisiensi Operasi Bank Pemerintah 2009-2014 ... 30
Lampiran 2. Variabel Risiko Kredit Bank Pemerintah 2009-2014 ... 31
Lampiran 3. Variabel Modal Bank Pemerintah 2009-2014 ... 32
Lampiran 4. Variabel ROA Bank Pemerintah 2009-2014 ... 33
Lampiran 5. Variabel Efisiensi Operasi Bank Domestik 2009-2014... 34
Lampiran 6. Variabel Risiko Kredit Bank Domestik 2009-2014 ... 35
Lampiran 7. Variabel Modal Bank Domestik 2009-2014... 36
Lampiran 8. Variabel ROA Bank Domestik 2009-2014 ... 37
Lampiran 9. Variabel Efisiensi Operasi Bank Asing 2009-2014... 38
Lampiran 10. Variabel Risiko Kredit Bank Asing 2009-2014 ... 39
Lampiran 11. Variabel Modal Bank Asing 2009-2014 ... 40
Lampiran 12. Variabel ROA Bank Asing 2009-2014 ... 41
Lampiran 13. Hasil Pengujian Pada Bank Pemerintah ... 42
Lampiran 14. Uji Asumsi Klasik pada Bank Pemerintah ... 44
Lampiran 15. Hasil Pengujian pada Bank Domestik ... 46
Lampiran 16. Uji Asumsi Klasik pada Bank Domestik ... 48
Lampiran 17. Hasil Pengujian pada Bank Asing ... 50
Lampiran 18. Uji Asumsi Klasik pada Bank Asing ... 52
1 1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perbankan merupakan industri yang hingga sekarang masih bersaing dalam perekonomian suatu negara. Namun, persaingan dalam industri perbankan ini, memberikan beberapa dampak positif, berupa peningkatan kualitas pelayanan, kualitas produk, dan efisiensi yang baik (Angel dan Rudy, 2014). Persaingan makin ketat terutama karena perbankan di Indonesia sendiri tidak hanya beroperasi dengan skala lokal, melainkan juga beroperasi skala internasional. Selain itu, adanya perbankan asing yang beroperasi di Indonesia, membuat persaingan berbagai bank ini semakin ketat. Pasalnya, dikarenakan krisis yang pernah melanda Indonesia, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1999 Pasal 3, dimana pihak asing dapat memiliki saham bank tersebut sebesar 99 persen (Infobank 2009 dalam Nursatyani 2011).
Persaingan dalam bidang perbankan ini memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan. Apabila suatu bank memiliki kondisi internal yang buruk, hal tersebut dapat membuat kinerja keuangan bank melemah. Kondisi kinerja keuangan bank ini dapat dilihat dan dinilai dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh bank tersebut. Laporan keuangan bank ini digunakan baik untuk pihak internal maupun pihak eksternal perbankan. Pihak internal yang dimaksud adalah manajemen bank itu sendiri. Sedangkan untuk pihak eksternal adalah pemerintah, investor, masyarakat luas, dan sebagainya (Nursatyani, 2011).
Selain kondisi internal bank yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank, kondisi eksternal bank juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja keuangan dan tingkat kesehatan perbankan tersebut. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 merupakan contoh dari kondisi eksternal yang sangat berpengaruh terhadap perbankan.
. Lemahnya prinsip good cotrporate governance diyakini sebagai penyebab utama kerawanan ekonomi yang menyebabkan memburuknya kondisi perekonomian di beberapa Negara Asia termasuk Indonesia. Krisis tersebut bukan hanya karena diakibatkan krisis ekonomi, tetapi juga diakibatkan karena belum dilaksanakannya good corporate governance dan etika yang melandasi perbankan (Rusmaryati 2012).
2
Terjadinya krisis tersebut menjadi suatu pelajaran bagi Indonesia dalam menghadapi krisis keuangan global yang melanda pada tahun 2008 (LIPI, 2012).
Krisis keuangan yang melanda dunia pada tahun 2008 ini disebabkan oleh negara yang memiliki pengaruh besar dalam perekonomian dunia yaitu Amerika Serikat (BBC, 2009). Krisis keuangan yang melanda Amerika ini disebabkan kerugian yang terjadi di pasar perumahan. Lembaga-lembaga keuangan raksasa mulai mengalami kemerosotan akibat nilai investasi mereka yang menurun. Krisis yang melanda pada tahun 2008 berdampak pada negara lain termasuk Indonesia. Krisis tersebut berdampak pada perbankan asing, dimana beberapa bank asing mulai menampakkan tingkat kerugian akibat krisis tersebut. Terjadinya penarikan uang dalam skala besar pada Bank of England, membuat bank tersebut melakukan injeksi likuiditas. Selain itu, dampak dari krisis yang terjadi di Amerika, berimbas juga kepada bank di beberapa negara, dimana bank tersebut sudah meminta suntikan dana dari IMF.
Terjadinya krisis keuangan ini, membuat The Fed selalu menurunkan tingkat suku bunga yang ada (BBC, 2009).
Dampak dari krisis keuangan global tersebut tidak hanya dirasakan oleh bank asing yang berada di negara asalnya saja, tetapi bank asing yang beroperasi di negara- negara berkembang khususnya di Indonesia juga terkena dampak dari krisis keuangan yang tengah melanda kantor pusat bank tersebut. Krisis tersebut membuat bank asing yang beroperasi di Indonesia menurunkan angka pinjaman internasionalnya kepada pihak debitur (Tumpak et al., 2012). Di Indonesia sendiri, dampak dari krisis keuangan global pada tahun 2008 tidak memiliki dampak yang besar. Hal ini disebabkan karena Indonesia tidak memiliki hutang pada negara Amerika maupun Eropa (ICN, 2011).
Akan tetapi, kesulitan likuiditas dialami oleh 3 bank besar milik Pemerintah yakni Bank BNI, Bank Mandiri, dan Bank BRI, dimana bank-bank tersebut meminta bantuan likuiditas dari Pemerintah dengan masing-masing sebesar Rp 5 Triliun. Dimana bantuan ini akan digunakan untuk memperkuat cadangan modal atau memenuhi kredit infrastruktur tanpa mengganggu likuiditas yang ada (Putra, 2013). Dalam menangani krisis yang terjadi pada tahun 2008 ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah mengambil kebijakan terhadap sektor perbankan, dimana kebijakan ini diarahkan pada
3
upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan, khususnya dalam upaya persiapan implementasai Basel II. Basel II ini bertujuan meningatkan keamanan dan kesehatan system keuangan, dengan menitikberatkan pada perhitungan permodalan berbasis risiko, supervisory review rocess dan market dicipline (Sekretariat Negara RI, 2009).
Selain kebijakan tersebut, perbankan di Indonesia juga berupaya untuk mengembalikan kembali tingkat kepercayaan masyarakat, dengan meningkatkan kinerja keuangannya agar semakin baik. Indikator yang digunakan dalam menilai kinerja keuangan bank, yaitu efisiensi operasi, risiko kredit 2004) menujukkan bahwa indikator paling penting dalam mengukur kinerja keuangan perbankan pasca krisis adalah return on asset, cost-to-income ratio, dan problems loan ratios.
Masih banyak kalangan menilai perbankan kurang optimal dalam menjalankan fungsi intermediasi pada tahun 2009. Meskipun demikian, kinerja keuangan perbankan pada tahun 2009 mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang menurun dan peningkatan pada rasio capital adequacy ratio (CAR) dari tahun 2008-2009. Akan tetapi, rasio non performing loan (NPL) pada tahun 2008-2009 mengalami kenaikan, dimana hal ini dapat mengakibatkan kinerja keuangan menurun (P. Adhi Basar dan Ihsan Ismady P, 2009).
Pertanyaan yang timbul pada penelitian ini adalah “Bagaimana kinerja keuangan bank pemerintah, bank domestik, dan bank asing dilihat dari efisiensi operasi, risiko kredit, dan modal pada tahun 2009-2014?”
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja keuangan pada bank pemerintah, bank domestik, dan bank asing dengan menggunakan rasio analisis, dan modal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak, antara lain :
1. Bagi calon investor, diharapkan penelitian ini mampu menjadi acuan bagi para investor yang ingin menanamkan modal pada bank pemerintah, bank domestik, atau bank asing dengan melihat kinerja keuangan perbankan pada tahun 2009-2014.
4
2. Bagi masyarakat, diharapkan penelitian ini dapat menjadi sebuah gambaran mengenai kinerja keuangan pada bank pemerintah, bank domestik, dan bank asing periode 2009-2014.
3. Bagi manajemen, diharapkan penelitian ini mampu digunakan dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan kinerja perbankan dengan melihat kinerja keuangan pada periode 2009-2014.
2.
KERANGKA TEORITIS
2.1. Karakteristik Bank Pemerintah, Domestik, dan Asing
Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Kegiatan pokok dalam perbankan ini hanya dalam menghimpun dan menyalurkan dana. Sedangkan memberikan jasa bank lainnya merupakan kegiatan pendukung pada bidang perbankan. Dalam dunia perbankan, bank diklasifikan menjadi beberapa jenis, salah satunya yaitu diklasifikasikan berdasarkan jenis kepemilikannya.
Jenis bank menurut klasifikasinya adalah sebagai berikut (Suyatno et al, 1991) : 1. Bank Pemerintah
Bank pemerintah adalah bank dimana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank dimiliki oleh pemerintah.
2. Bank Domestik
Bank jenis ini merupakan bank-bank yang seluruh saham-sahamnya dimiliki warga negara Indonesia dan atau badan-badan hukum yang peserta dan pimpinannya terdiri atas warga negara Indonesia.
3. Bank Asing
5
Bank jenis ini merupakan bank-bank yang seluruh saham-sahamnya dimiliki oleh warga negara asing dan atau badan-badan hukum yang peserta dan pimpinannya terdiri atas warga negara asing.
2.1.1. Bank Pemerintah
Teori yang mendasari kepemilkan pemerintah dalam sektor perbankan adalah teori sosial dan teori politik (La-Porta et al., Sapienza, 2004 dalam Atahau 2014).
Menurut Shleifer dan Vishny (1994) dikutip dalam Atahau (2014), menyatakan bahwa perusahaan milik negara, termasuk bank milik pemerintah, digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan individu dalam hal politik, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja baru. Studi empiris pada kinerja keuangan bank pemerintah menunjukkan bahwa kinerja keuangan bank tersebut buruk, yang dapat dilihat dari efisiensi yang rendah, tingginya non performing loan (NPL), pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat (Clarke et al.,2001a, La-Porta et al., 2002, Barth et al., 2004, Berger et al., 2005 dalam Atahau 2014).
Menurunnya kinerja keuangan bank pemerintah disebabkan karena aspek politik, dimana bank pemerintah digunakan untuk memberikan dukungan terhadap politik negara (La-Porta et al., 2002 dan Sapienza 2004, dalam Atahau 2014). Kinerja bank pemerintah terlihat membaik setelah dilakukan privatisasi, dimana hal ini membuat nilai NPL rendah dan adanya efisiensi dalam pengalokasian modalnya (Berger et al. 2005 dan Taboada 2011, dalam Atahau 2014).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Putra (2013), Bank Pemerintah memiliki tingkat efisiensi operasi yang rendah. Hal ini disebabkan karena kantor cabang Bank Pemerintah tersebar hampir di berbagai daerah di Indonesia, dimana hal tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja yang berakibat pada efisiensi biaya tenaga kerja yang membengkak.
2.1.2. Bank Domestik
Bank domestik merupakan bank dimana dalam menjalankan bisnisnya menerapkan prinsip pemaksimalan keuntungan. Di negara-negara transisi, bank domestik biasanya memiliki kinerja yang efisien, agresif dalam penyaluran kredit, memiliki nilai NPL yang lebih rendah dibandingkan bank-bank milik asing (Bonin et
6
al. 2005 dalam Atahau 2014). Menurut Mian (2003) dalam Atahau (2014) menunjukkan bahwa risiko pada bank domestik lebih tinggi dibandingkan pada bank asing, dimana hal ini dikarenakan bank domestik tidak memiliki akses likuiditas eksternal seperti bank asing yang dalam hal penambahan dana dapat didukung dari bank induknya.
Penelitian yang dilakukan pada perusahaan perbankan di Amerika yang telah melakukan merger dan akuisisi menunjukkan bahwa pada tahun 1980-an terdapat sedikit atau tidak adanya efisiensi biaya setelah adanya merger dan akuisisi. Namun, hasil tersebut berubah pada tahun 1990-an dimana beberapa penelitian menemukan bahwa adanya peningkatan efisiensi biaya setelah adanya konsolidasi (Berger et al., 2005 dalam Atahau 2014).
2.1.3. Bank Asing
Dewasa ini banyak bank asing yang mulai memperluas kehadiran di luar wilayah geografis negara tersebut. Perbankan tersebut dapat mendirikan kantor perwakilan, cabang, atau anak perusahaan. Dalam beberapa negara, bank yang mendirikan cabangnya tidak diijinkan untuk menjalankan semua bisnisnya, akan tetapi diijinkan hanya untuk perusahaan anak. Mobilitas modal yang dihasilkan dari integrasi keuangan akan memungkinkan lembaga-lembaga keuangan dari negara-negara maju untuk memberi pinjaman langsung kepada negara berkembang (Gianneti dan Ongena, 2005 dalam Atahau 2014).
Sehubungan dengan kinerja keuangan, Mian (2003) dalam Atahau (2014) menemukan bahwa bank-bank yang dimiliki oleh asing kurang efisien dibandingkan dengan bank domestik dalam hal profitabilitas. Namun, pada negara-negara berkembang, kinerja keuangan bank asing lebih unggul jika dibandingkan dengan bank domestik dan bank pemerintah (Clarke et al., 2001a dalam Atahau 2014).
Ada beberapa keuntungan pada bank milik asing dibandingkan dengan bank domestik dan bank asing, dimana bank asing memiliki akses yang lebih baik ke pasar modal (Berger et al., 2005 dalam Atahau 2014). Selain itu, ketika krisis melanda, bank asing juga masih mendapatkan akses likuiditas dari perusahaan induk sehingga selama krisis tidak mengurangi pasokan kredit ke tingkat yang sama seperti bank domestik
7
(de-Haas dan Van Lelyveld, 2003 dalam Atahau 2014). Bank asing juga memiliki kemampuan yang unggul dalam manajemen risiko, teknologi, dan inovasi (Berger et al., 2005 dalam Atahau 2014).
Kepemilikan bank asing merupakan kepemilikan yang dikendalikan oleh pemilik tunggal dan mayoritas milik asing, dimana hal ini memberikan keuntungan seperti biaya yang lebih efisien dan pelayanan yang baik (Bonin et al., 2005 dalam Atahau 2014). Bank asing dapat membantu mengurangi masalah terkait dengan pinjaman, dikarenakan bank asing memiliki koneksi yang lebih sedikit pada sektor politik. Kepemilikan bank asing mengalokasikan modal untuk lebih mengefisiensikan kinerja keuangannya. Selain itu, bank asing tersebut jugamengurangi pinjaman untuk bisinis yang sedang kronis (Giannetti dan Ongena, 2005 dalam Atahau 2014).
2.2 Kinerja Keuangan
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, bank mempunyai tujuan yaitu memperoleh keuntungan optimal dengan memberikan layanan jasa keuangan kepada masyarakat. Pengukuran kinerja keuangan perbankan menjadi sangat penting dilakukan karena operasi perbankan sangat peka terhadap maju mundurnya perekonomian suatu negara. Kinerja keuangan perbankan dapat dinilai dengan pendekatan analisis rasio keuangan (Setiyani 202, dalam Prasnanugraha 2007).
Tingkat kesehatan bank diatur oleh Bank Indonesia dalam Surat Edaran Bank Indonesia 6/23/DPNP 31 Mei 2004 tanggal 12 April 2004 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum, bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan untuk posisi bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Penting bagi bank untuk selalu menjaga kinerjanya dengan baik. Penilaian tingkat kesehatan bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas.
Salah satu indikator naiknya kepercayaan masyarakat kepada bank yaitu kenaikan nilai saham dan kenaikan jumlah dana dari pihak ketiga. Loyalitas bank dinilai rendah jika para pemilik dana kurang menaruh kepercayaan terhadap bank tersebut. Hal seperti ini, membuat perbankan berada pada posisi tidak menguntungkan,
8
karena para pemilik dana dapat sewaktu-waktu memindahkan dananya ke bank lain (Alifah, 2015).
Penilaian terhadap kinerja keuangan perbankan dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan perbankan. Laporan keuangan perbankan berupa neraca dapat memberikan informasi kepada pihak luar bank.
Laporan keuangan perbankan dapat digunakan pihak ekternal untuk menilai besarnya resiko yang ada pada suatu bank.
2.3. Perumusan Hipotesis
2.3.1. Pengaruh Efisiensi Operasi terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Untuk menilai kinerja keuangan perbankan, dapat digunakan dengan melihat efisiensi operasi, risiko kredit, dan modal pada laporan keuangan perbankan. Efisiensi operasi merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk menilai apakah suatu bank telah menggunakan faktor produksinya secara efisien. Efisiensi operasi ini berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank. Semakin kecil tingkat rasio efisiensi operasi, maka semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan perbankan, dimana hal tersebut dapat berarti bahwa kinerja keuangan bank baik. Tetapi apabila tingat efisiensi operasi memiliki rasio yang besar, maka biaya operasional yang dikeluarkan tidak efisien (Nursatyani, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) menyatakan bahwa efisiensi operasi (BOPO) memiliki pengaruh negative dan signifikan terhadap ROA pada perusahaan perbankan tahun 2005. Selain variabel efisiensi operasi, dalam penelitian ini juga menilai dengan variabel-variabel lain, yaitu capital adequacy ratio (CAR), non performing loan (NPL), net interest margin (NIM), dan loan to deposit ratio (LDR). Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1: Efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
2.3.2. Pengaruh Risiko Kredit terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Risiko kredit merupakan hal yang harus diperhatikan oleh pihak perbankan, dimana dalam risiko ini, pihak perbankan mengalami gagal bayar dari pihak debitur.
9
Untuk menilai risiko ini dapat dilihat pada nilai non performing loan (NPL). Apabila rasio NPL menunjukkan nilai yang besar, maka pihak perbankan memiliki rasio kredit yang besar, dimana hal ini dapat membuat kinerja keuangan bank memburuk.
Sebaliknya, apabila nilai rasio NPL tersebut kecil, maka pihak perbankan memiliki rasio kredit gagal bayar yang kecil, dimana hal ini dapat membuat kinerja keuangan bank baik (Nursatyani, 2011). NPL yang baik adalah NPL yang memiliki dibawah 5 persen (Mawardi, 2005).
Hasil dari peneletian yang dilakukan oleh Mulatsih (2014) dengan menggunakan metoda analisis regresi linier berganda, menyatakan bahwa variabel net performing loan (NPL) memberikan pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap ROA. Penelitian ini juga menilai ROA dari beberapa variabel lain, yaitu CAR, LDR, BOPO, NPL, NIM, dan return on investment (ROI). Berdasarkan argumen tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H2: Risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
2.3.3. Pengaruh Modal terhadap Kinerja Keuangan Perbankan
Capital adequacy ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung resiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank (Yuniar, 2013).
Semakin tinggi rasio CAR maka kinerja keuangan bank akan meningkat karena kerugian-kerugian yang ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki bank tersebut (Nursatyani, 2011). CAR dengan nilai dibawah 8 persen, bank tersebut tidak mempunyai peluang untuk dapat memberikan kredit (Mawardi 2005).
Hasil dari penelitian Karunia (2013) menunjukkan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA. Selain CAR, penelitian ini juga mengukur kinerja keuangan dengan variabel lainnya, yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Pemenuhan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Berdasarkan argumen tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H3: Modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
10 3.
METODA PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan sekelompok orang, kejadian atau gejala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu (Sidik dan Saludin 2009: 103). Populasi dalam penelitian ini yaitu 4 Bank milik Pemerintah Pusat, 26 Bank milik Pemerintah Daerah, 25 Bank Domestik, dan 23 Bank Asing yang tercatat pada Direktori Perbankan Indonesia, selama tahun 2009-2014. Bank pemerintah merupakan bank yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah, dimana di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu bank yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan bank yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Bank domestik yang ada di Indonesia merupakan bank yang kepemilikannya dimiliki oleh swasta. Sedangkan untuk bank asing yaitu bank yang sahamnya atau kepemilikannya dimiliki oleh pihak asing.
Sampel merupakan sebagian informasi yang diambil dari elemen-elemen populasi (Sidik dan Saludin 2009: 103). Dalam penelitian ini, metode pemilihan sampel yaitu menggunakan purposive sampling, dimana sampel diambil berdasarkan kriteria tertentu, yaitu perbankan yang memiliki laporan keuangan lengkap dan perbankan tersebut masih terdaftar dalam direktori perbankan Indonesia 2009-2014.
Tabel 1.
Sampel Penelitian Perusahaan Perbankan Perbankan yang terdaftar pada Direktori
Perbankan Indonesia 2009-2014
119
Perbankan Syariah (12)
Perbankan yang mempunyai data tidak lengkap pada tahun 2009-2014
(29) Jumlah Sampel tahun 2009-2014 78 Sumber: Direktori Perbankan Indonesia
Dari tabel diatas, maka dapat dijabarkan untuk sampel penelitian sebagai berikut.
Tabel 2.
Bank Pemerintah 30
Bank Domestik 25
Bank Asing 23
Jumlah Sampel Penelitian 78
11 3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan jenis data kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka hasil pengukuran atau perhitungan (Juanda 2007: 76). Dalam penelitian ini, data tersebut berasal dari perhitungan BOPO, NPL, CAR, dan ROA pada laporan keuangan perbankan.
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini berupa data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi berupa publikasi atau dalam bentuk digital (Juanda 2007, 75). Dalam penelitian ini, data diambil dari laporan keuangan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun 2009-2014.
3.3. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah:
1. Variabel dependen
Variabel dependen merupakan sebuah ukuran yang dianggap sebagai akibat atau konsekuensi atas terjadinya variabel independen (Sidik dan Saludin 2009: 169). Variabel dependen yang ada pada penelitian ini adalah variabel ROA. ROA yang ada dalam penelitian ini mengacu pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004 yang dirumuskan sebagai berikut.
𝑅𝑂𝐴 = 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡
2. Variabel Independen
Variabel independen merupakan sebuah ukuran yang menyatakan sejauh mana sebuah variabel dapat dipandang sebagai yang bertanggung jawab atas timbulnya variabel dependen (Sidik dan Saludin 2009, 169). Variabel independen dalam penelitian ini adalah BOPO, NPL, dan CAR. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004, dapat dirumuskan sebagai berikut.
12
𝐵𝑂𝑃𝑂 = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙
𝑁𝑃𝐿 =𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ, 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑔𝑢𝑘𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛𝑚𝑎𝑐𝑒𝑡 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡
𝐶𝐴𝑅 = 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙
𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜
3.4. Metoda Analisis
Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan diatas, maka alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Perhitungan dilakukan dengan metoda statistik yang dibantu program SPSS 20.0. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh BOPO, NPL, dan CAR terhadap ROA dengan model regresi yang dapat dirumuskan seperti berikut.
Y1G = α + β1X1G + β2X2G + β3X3G + e Y2D = α + β1X1D + β2X2D + β3X3D + e Y3F = α + β1X1F + β2X2F + β3X3F + e Keterangan :
Y1G = Kinerja Keuangan Bank Pemerintah Y2D = Kinerja Keuangan Bank Domestik Y3F = Kinerja Keuangan Bank Asing
β1 = Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) β2 = Non Performing Loan (NPL)
β3 = Capital Adequacy Ratio (CAR) e = error
3.5. Pengujian Asumsi Klasik
Dikarenakan data dalam penelitian ini merupakan data sekunder, maka untuk ketepatan model perlu dilakukan uji asumsi klasik yang mendasari model regresi. Uji asumsi klasik yang dilakukan pada penelitian ini antara lain.
13 1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model memiliki data yang telah terdistribusi normal. Uji normalitas ini dilakukan dengan melihat data histogram atas nilai residual. Uji ini dilakukan dengan mencari model regresi yang terbaik, kemudian diuji nilai residualnya (Sidik dan Saludin 2009: 192).
2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya suatu hubungan linear yang sempurna antara beberapa atau semua variabel bebas. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dapat diteksi dengan MicroTSP. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen (Sidik dan Saludin 2009: 193).
3. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya. Artinya, setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Sidik dan Saludin 2009: 193).
4. Uji Autokorelasi
Autokorelasi ini timbul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Masalah ini sering kali ditemukan ketika menggunakan data runtut waktu (Sidik dan Saludin 2009: 192).
3.6. Pengujian Hipotesis
Untuk melakukan pengujian hipotesis, dilakukan dengan melakukan uji t (parsial), uji F (simultan), dan uji koefisien determinasi.
1. Uji t (Parsial)
Uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali dalam Nursatyani, 2011).
2. Uji Goodness of Fit (Uji F)
14
Uji F menunjukkan apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali dalam Nursatyani, 2011).
3. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada dasarnya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi pada variabel dependen. Nilai
koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (Prasnanugraha, 2011).
4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Statistik Deskriptif
Berikut ini hasil pengolahan uji statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian. Dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 3.
Statistik Deskriptif
Variabel Jenis Bank N Min Max Mean Std.
Deviation
Std.
Error Mean
ROA
Pemerintah 180 0.01 7.44 3.386 1.154 0.086 Domestik 150 0.12 4.71 1.769 1.030 0.084 Asing 138 -0.62 5.74 2.145 1.260 0.107 BOPO
Pemerintah 180 0.65 99.56 72.428 9.475 0.706 Domestik 150 56.04 100.51 85.545 8.589 0.701 Asing 138 30.18 101.28 77.272 14.986 1.276 NPL
Pemerintah 180 -1.81 10.00 0.903 1.220 0.091 Domestik 150 0.00 5.00 1.215 1.046 0.085
Asing 138 0.00 7.38 1.062 1.049 0.089
CAR
Pemerintah 180 2.29 49.73 18.735 5.457 0.407 Domestik 150 10.87 36.45 17.528 4.753 0.388 Asing 138 10.35 105.00 26.644 18.601 1.583 Sumber : Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Berdasarkan tabel diatas, bank pemerintah memiliki kinerja keuangan yang lebih baik daripada bank domestik maupun bank asing. Hal ini dapat dilihat dari rata- rata nilai ROA dalam tabel, dimana bank pemerintah memiliki nilai rata-rata sebesar
15
3,38, sedangkan untuk bank domestik dan bank asing memiliki nilai rata-rata sebesar 1,76 dan 2,14. Tingginya nilai rata-rata ROA pada bank pemerintah juga mencerminkan bahwa bank pemerintah memiliki posisi yang baik dalam segi penggunaan aset.
Efisiensi operasi pada suatu perusahaan perbankan juga termasuk salah satu variabel yang dapat digunakan untuk melihat bagaimana kinerja keuangan perbankan.
Dalam tabel 2, yang diproksikan dalam BOPO menunjukkan bahwa, bank pemerintah memiliki nilai rata-rata efisiensi operasi 72,42, dimana perbankan tersebut tidak dapat menekan beban dari pendapatan pada bank pemerintah sehingga mencapai prosentase efisiensi operasi sebesar 99,56 persen. Prosentase tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bank domestik yang tidak dapat menekan beban dari pendapatan perbankan tersebut sehingga menghasilkan prosentase mencapai 100,51 persen, dimana nilai rata- rata efisiensi operasi bank domestik sebesar 85,54 persen. Sedangkan bank asing memiliki nilai rata-rata efisiensi operasi dan 77,27 persen dan tidak dapat menekan beban dari pendapatan, sehingga mencapai prosentase efisiensi operasi sebesar 101,28 persen. Hal ini menunjukkan bahwa bank pemerintah lebih efisien disbanding bank domestik maupun bank asing, dimana hal terseut membuktikan bahwa bank pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk terus secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi.
Nilai kredit yang diproksikan dalam NPL untuk bank pemerintah memiliki nilai rata-rata 0,90 dengan kredit bermasalah dari total kredit pada bank pemerintah mencapai prosentase maksimal sebesar 10,00 persen dibandingkan bank domestic yang memiliki nilai rata-rata 1,21 persen yang memiliki kredit bermasalah dari total kredit perbankan tersebut mencapai nilai maksimal sebesar 5,00 persen dan nilai NPL sebesar 1,06 persen pada bank asing yang memiliki kredit bermasalah dari total kredit bank asing tersebut dengan prosentase maksimal mencapai 7,38 persen. Nilai NPL bank pemerintah yang lebih rendah menunjukkan bahwa bank pemerintah memiliki kemampuan dalam meminimalkan kredit bermasalah, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah.
16
Bank asing memiliki penyediaan modal minimum yang diproksikan dalam CAR dengan nilai rata-rata 26,64 dengan memiliki modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 105,00 persen lebih tinggi dibandingkan dengan bank pemerintah yang memiliki nilai rata-rata CAR sebesar 18,73 persen, dimana prosentase modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 49,73 persen dan bank domestik yang memiliki nilai rata-rata CAR 17,52 persen dengan maksimal prosentase modal dari aktiva tertimbang menurut risiko sebesar 36,45 persen. Tingginya rata-rata CAR pada bank asing menunjukkan bahwa bank asing memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menanggung risiko kerugian yang dapat timbul dibandingkan bank pemerintah maupun bank domestik.
4.2. Uji Asumsi Klasik
Untuk memperoleh model regresi yang baik, data harus lolos uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi (Ghozali dalam Prasnanugraha, 2007). Hasil uji normalitas dengan menggunakan analisis grafik menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal, dimana data menyebar mengikuti garis normalitas. Hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance di atas 0,10. Hasil uji heterokedastisitas dengan uji scatterplot menunjukkan bahwa data menyebar secara merata di atas dan di bawah garis nol, tidak berkumpul di satu tempat, dan tidak membentuk pola tertentu. Demikian juga dengan uji autokorelasi, dengan menggunakan uji Durbin-Watson yang menunjukkan bahwa data masih dalam range aman, sehingga tidak terjadi autokorelasi. Output uji asumsi klasik dapat dilihat pada lampiran. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian lolos uji asumsi klasik.
4.3. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Pemerintah
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
17 Tabel 4.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Pemerintah
Variabel Koefisien Unstandardized
Standard Error
Koefisien
Standardized t
Tingkat Signifik
an (P- value)
(Constant) 6,831** 0,728 9,383 0,000
BOPO -0,050** 0,008 -0,408 -5,895 0,000
NPL -0,183** 0,063 -0,193 -2,886 0,004
CAR 0,017 0,014 0,081 1,192 0,235
F 22,932**
Sig. 0,000
R2 0,281
Adjust R2 0,269
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Dari hasil analisis regresi diatas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:
YG = 6,831 – 0,050 BOPO – 0,183 NPL + 0,017 CAR
Hasil analisis data menunjukkan nilai konstanta sebesar 6,831. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR dianggap konstan, maka ROA adalah sebesar 6,831. Nilai BOPO sebesar -0,050 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen biaya operasional, maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah sebesar 0,050. Koefisien regresi NPL sebesar -0,183 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen nilai kredit macet akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank pemerintah sebesar 0,183. Sedangkan nilai koefisien regrasi CAR sebesar 0,017 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 persen modal maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank pemerintah sebesar 1,7 persen.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen untuk menjelaskan variabel dependen pada bank pemerintah sebesar 26,9 persen (adjust R2), sedangkan 73,1 persen dijelaskan oleh variabel lainnya. Dari hasil analisis ANOVA, variabel-variabel independen, yaitu BOPO, NPL, dan CAR secara simultan
18
memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sign. sebesar 0,000 pada bank pemerintah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) dan Nursatyani (2011) bahwa BOPO, NPL, dan CAR secara simultan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap ROA.
4.4. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Domestik
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Tabel 5.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Domestik
Variabel Koefisien Unstandardized
Standard Error
Koefisien
Standardized t
Tingkat Signifikan
(P-value)
(Constant) 9,921** 0,500 -18,608 0,000
BOPO -0,099** 0,005 -0,826 -18,608 0,000
NPL -0,057 0,044 -0,058 -1,299 0,196
CAR 0,023** 0,009 0,105 2,459 0,015
F 147,849
Sig. 0,000
R2 0,752
Adjust R2 0,747
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Dari hasil regresi diatas, maka dapat disuusn untuk persamaan regresi pada bank domestik sebagai berikut:
YD = 9,921 – 0,099 BOPO – 0,057 NPL + 0,023 CAR
Konstanta sebesar 9,921 pada persamaan regresi diatas menunjukkan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR konstan, maka variabel dependen ROA adalah sebesar 9,921. Nilai koefisien regresi BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) sebesar -0,099 menunjukkan bahwa penurunan 1 persen biaya operasional akan meningkatkan kinerja keuangan bank domestik sebesar 9,9 persen.
Koefisien regresi NPL -0,057 menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen kredit
19
macet, akan meningkatkan kinerja keuangan sebesar 5,7 persen pada bank domestik.
Nilai koefisien regresi CAR sebesar 0,023 menunjukkan bahwa setiap terjadi peningkatan modal sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank domestik sebesar 2,3 persen.
Dari tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen BOPO, NPL, dan CAR untuk menjelaskan variabel dependen ROA pada bank domestik sebesar 74,7 persen (adjust R2), sedangkan 25,3 persen dijelaskan oleh variabel lain. Dari hasil uji ANOVA, dapat dilihat bahwa variabel independen BOPO, NPL, CAR secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA pada bank domestik.
Hal ini dapat dilihat dari hasil sig. yang menunjukkan nilai 0,000, dimana nilai tersebut kurang dari 0,05.
4.5. Pengaruh Efisiensi Operasi, Risiko Kredit, dan Modal terhadap Kinerja Keuangan Bank Asing
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (20.0), diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Tabel 6.
Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Bank Asing
Variabel Koefisien Unstandardized
Standard Error
Koefisien
Standardized t
Tingkat Signifikan
(P-value)
(Constant) 6,947** 0,538 12,914 0,000
BOPO -0,057** 0,006 -0,681 -9,535 0,000
NPL -0,001 0,083 0,001 -0,016 0,987
CAR -0,015** 0,005 -0,224 -3,054 0,003
F 30,358
Sig. 0,000
R2 0,405
Adjust R2 0,391
**Significant at the 0,05 level.
Sumber: Output SPSS, data sekunder diolah (2016)
Berdasarkan hasil analisis regresi linier pada tabel diatas, maka dapat dirumuskan untuk persamaan regresi pada bank asing sebagai berikut:
YF = 6,947 – 0,057 BOPO - 0,001 NPL – 0,015 CAR
20
Berdasarkan persamaan regresi diatas, dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta sebesar 6,947 menunjukkan bahwa jika variabel independen BOPO, NPL, dan CAR dianggap konstan, maka variabel dependen ROA adalah sebesar 6,947. Nilai koefisien regresi BOPO sebesar -0,057 menunjukkan bahwa penurunan biaya operasional sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan ROA sebesar 5,7 persen pada bank asing.
Nilai koefisien regresi NPL sebesar -0,001 menunjukkan bahwa penurunan kredit macet sebesar 1 persen pada bank asing, akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank asing sebesar 0,1 persen. Nilai koefisien regresi CAR sebesar -0,015 menunjukkan bahwa, setiap penurunan modal pada bank asing sebesar 1 persen, akan meningkatkan kinerja keuangan pada bank asing sebesar 1,5 persen.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR untuk menjelaskan variabel dependen ROA adalah sebesar 39,1 persen, sedangkan 60,9 persen dijelaskan oleh variabel lainnya. Dari uji ANOVA, dapat dilihat bahwa variabel independen BOPO, NPL, dan CAR secara simultan memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig. sebesar 0,000, dimana nilai tersebut kurang dari 0,05.
4.6. Pembahasan
4.6.1. Pengujian Hipotesis Pertama 4.6.1.1.Bank Pemerintah
Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai uji t pada variabel BOPO untuk bank pemerintah menunjukkan nilai sebesar -5,895, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif. Sedangkan untuk nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa variabel BOPO bank pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan dikarenakan nilai sig. kurang dari 0,05. Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikansi BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank pemerintah memiliki efisiensi dalam menjalankan operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha
21
(2007) yang menyatakan bahwa berpengaruhnya variabel BOPO terhadap ROA menandakan bahwa meningkatnya BOPO pada perusahaan perbankan memperlihatkan bahwa perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya operasional dalam menghasilkan laba.
2.6.1.2.Bank Domestik
Pada tabel 4, uji t untuk bank domestik, menunjukkan nilai sebesar -18,608, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh yang negatif terhadap ROA. Nilai sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO pada bank domestik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05).
Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan bahwa efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Sama halnya dengan bank pemerintah, bank domestik yang juga memiliki pengaruh signifikan pada variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan bahwa bank domestik memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyatakan bahwa variabel BOPO memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, dimana hal ini disebabkan setiap peningkatan biaya operasi bank, yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan operasi akan berakibat berkurangnya laba sebelum pajak, yang pada akhirnya akan menurunkan kinerja keuangan (ROA).
4.6.1.3.Bank Asing
Nilai uji t pada variabel BOPO bank asing menunjukkan nilai sebesar -9,535, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap ROA pada bank asing. Nilai pada sig. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa BOPO memilik pengaruh yang signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05). Dengan demikian, hasil tersebut mendukung hipotesis 1 yang menyatakan efisiensi operasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan, diterima. Pengaruh signifikan variabel BOPO terhadap ROA menunjukkan kesimpulan yang sama halnya dengan bank pemerintah maupun bank domestik, dimana bank asing
22
juga memiliki efisiensi pada operasionalnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja keuangannya.
Hasil dari pengujian ini, sejalan dengan pengujian yang telah dilakukan oleh Chaidir (2015), dimana variabel BOPO memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini menandakan bahwa rasio BOPO yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya. Semakin kecil BOPO berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan.
4.6.2. Pengujian Hipotesis Kedua 4.6.2.1.Bank Pemerintah
Pada tabel 3, uji t pada bank pemerintah, menunjukkan nilai NPL sebesar - 2,886, dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa NPL pada bank pemerintah memiliki pengaruh negatif terhadap ROA. Sedangkan nilai sig. pada variabel NPL bank pemerintah sebesar 0,004 menunjukkan bahwa variabel NPL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hasil tersebut mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank pemerintah, diterima. Semakin tinggi risiko kredit, menunjukkan bahwa semakin tinggi pula adanya kredit bermasalah pada bank pemerintah, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja keuangan bank pemerintah. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004) yang menyebutkan bahwa NPL memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap ROA, dimana hal ini terjadi karena peraturan Bank Indonesia perihal NPL mengatur bahwa setiap kenaikan outstanding pinjaman diberikan, harus dicover dengan cadangan aktiva produktif. Dengan demikian, proses ini akan membantu menjaga perbankan agar nilai NPL maksimal 5 persen.
4.6.2.2.Bank Domestik
Nilai uji t pada variabel NPL bank domestik sebesar -1,299 menunjukkan bahwa NPL memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank domestik.
Sedangkan, nilai sig. sebesar 0,196 menunjukkan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik (pada tingkat
23
sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada bank domestik, ditolak. Variabel NPL tidak dominan berpengaruh terhadap ROA pada bank domestik. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawardi (2004), dimana variabel NPL tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini terjadi karena peraturan Bank Indonesia perihal NPL mengatur bahwa setiap kenaikan outstanding pinjaman diberikan, harus dicover dengan cadangan aktiva produktif. Dengan demikian, proses ini akan membantu menjaga perbankan agar nilai NPL maksimal 5 persen.
4.6.2.3.Bank Asing
Nilai uji t pada variabel NPL bank asing sebesar -0,016 menunjukkan bahwa NPL bank asing memiliki pengaruh yang negatif terhadap ROA bank asing. Nilai sig.
NPL pada bank asing sebesar 0,987 menunjukkan bahwa variabel NPL tidak memiliki pengaruh pada ROA bank asing (pada tingkat sig. 0,05). Hasil tersebut tidak mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank asing, ditolak. Selain itu, NPL yang tinggi bisa terjadi bukan karena debitur tidak sanggup untuk membayar, akan tetapi ketatnya peraturan Bank Indonesia dalam hal penggolongan kredit yang mengakibatkan debitur yang pada mulanya ada pada kategori lancar bisa turun menjadi kurang lancar (Prasnanugraha, 2007).
4.6.3. Pengujian Hipotesis Ketiga 4.6.3.1.Bank Pemerintah
Nilai uji t pada variabel CAR pada bank pemerintah sebesar 1,192 menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memiliki pengaruh positif terhadap ROA bank pemerintah. Sedangkan nilai sig. sebesar 0,235 pada bank pemerintah menunjukkan bahwa CAR bank pemerintah memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA (pada tingkat sig. 0,05). Hasil ersebut tidak mendukung hipotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank pemerintah, ditolak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasnanugraha (2007) yang menyatakan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan pada ROA. Penelitian yang dilakukan oleh Chaidir (2015) menyebutkan
24
bahwa tidak berpengaruhnya CAR terhadap ROA dikarenakan adanya peraturan BI yang mengharuskan standar CAR berada pada nilai 8 persen, dimana hal tersebut menjadikan perbankan menjaga nilai CAR agar tidak lebih dan tidak kurang dari 8 persen.
4.6.3.2.Bank Domestik
Pada tabel 4, nilai uji t variabel CAR sebesar 2,459, menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memilik pengaruh positif terhadap ROA bank domestik. Sedangkan untuk nilai sig. sebesar 0,015 pada bank domestik, menunjukkan bahwa CAR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik (pada tingkat sig.
0,05). Hasil tersebut mendukung hipotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank domestik, diterima.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyono (2005) yang menyebutkan bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA dimana hal ini terjadi karena kondisi bank umum yang ada di Indonesia mulai membaik akibat krisis ekonomi yang terjadi sehingga semakin efisien modal bank yang digunakan untuk aktivitas operasionalnya mampu menghasilkan laba yang tinggi.
4.6.3.3.Bank Asing
Nilai uji t pada variabel CAR pada bank asing sebesar -3,054 menunjukkan bahwa nilai CAR tersebut memiliki pengaruh negatif terhadap ROA bank asing. Nilai sig. sebesar 0,002 menunjukkan bahwa variabel CAR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA bank asing (pada tingkat sig. 0,05).hasil tersebut tidak mendukung hopotesis 3 yang menyatakan bahwa modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap bank asing, ditolak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nursatyani (2011) yang menyatakan bahwa CAR memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan pada bank asing. Penelitian Chaidir (2015) menyatakan bahwa CAR tidak memiliki pengaruh terhadap ROA disebabkan peraturan BI yang mengharuskan standar CAR berada pada nilai 8 persen, dimana hal tersebut menjadikan perbankan menjaga nilai CAR agar tidak lebih dan tidak kurang dari 8 persen.
25
5.
SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO, NPL, dan CAR secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA pada bank pemerintah, bank domestik, dan bank asing pada tahun 2009-2014.
Pada bank pemerintah, variabel efisiensi operasi dan risiko kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, dimana semakin rendah nilai BOPO dan NPL maka kinerja keuangan akan semakin meningkat. Sedangkan untuk variabel CAR, tidak berpengaruh terhadap ROA.
Variabel BOPO pada bank domestik memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Variabel CAR memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap ROA, hal ini berarti bahwa semakin tinggi modal yang dimiliki oleh bank domestik, maka akan meningkatkan kinerja keuangan perbankan. Sedangkan untuk variabel NPL pada Bank Domestik tidak berpengaruh terhadap ROA.
Pada bank asing, variabel BOPO dan CAR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti bahwa, semakin rendah rasio CAR dan rasio BOPO pada bank asing, maka akan meningkatkan kinerja keuangan bank asing.
Sedangkan untuk variabel NPL pada bank asing tidak berpengaruh terhadap ROA, dimana hal tersebut berarti bahwa semakin tinggi nilai NPL maka akan meningkatkan kinerja keuangan.
5.2. Keterbatasan
Keterbatasan dapat ditemukan pada penelitian ini, yaitu dimana pada penelitian ini, ketika penelitian dilakukan, penelitian ini belum melakukan analisis terhadap peratiran-peraturan yang dikeluarkan selama kurun waktu penelitian.
5.3. Saran
Saran bagi penelitian selanjutnya adalah dengan menambahkan data selain dari data sekunder agar dapat melihat bagaimana kinerja keuangan perbankan dilihat dari
26
beberapa aspek, misalnya pada aspek manajemen perbankan itu sendiri. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan mampu mengukur kinerja keuangan dengan menggunakan system penilaian tingkat kesehatan perbankan pada tahun 2011, sehingga dapat melihat perbedaan kinerja keuangan setelah adanya perubahan peraturan. Selain itu, pada penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan untuk menggunakan dummy variabel untuk variabel kepemilikan perbankan.
27 DAFTAR PUSTAKA
Alifah, Y.B. 2014. Pengaruh CAR, NPL, BOPO, dan LDR terhadap profitabilitas bank (ROA) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2009-2014. Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta.
Angel, C.G.,dan Rudy J. Pusung. 2014. Analisis perbandingan kinerja keuangan pada bank nasional dan bank asing dengan menggunakan analisis rasio keuangan.
Jurnal Accountability Universitas Sam Ratulangi. Vol. 3 No. 1.
Atahau, Apriani Dorkas Rambu. 2014. Loan portfolio structures, risk and performance of different bank ownership types: An Indonesian case. Tesis Curtin University.
Chaidir, L. 2015. Pengaruh kondisi permodalan, efisiensi operasional, likuiditas, risiko kredit, dan risiko pasar terhadap tingkat profitabilitas bank. Skripsi Universitas Brawijaya.
Bank Indonesia. 2009. Direktori Perbankan Indonesia.
Bank Indonesia. 2010. Direktori Perbankan Indonesia.
Bank Indonesia. 2011. Direktori Perbankan Indonesia.
Bank Indonesia. 2012. Direktori Perbankan Indonesia.
Bank Indonesia. 2013. Direktori Perbankan Indonesia.
Bank Indonesia. 2014. Direktori Perbankan Indonesia.
______. 2011. Ketahanan perbankan di Indonesia menghadapi krisis financial, Indonesian Commercial Newsletter. Available at www.datacon.co.id (diakses tanggal 12 November 2015).
Hadad, M.D., W. Santoso, D.S. Besar, I. Rulina, W. Purwanti dan R. Satria. 2004.
Fungsi intermediasi bank asing dalam mendorong pemulihan sector riil di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.
Juanda, B. 2007. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Bogor: IPB Press.
Kasmir. 2001. Edisi Revisi. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
Mawardi, W. 2004. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan bank umum di Indonesia. Tesis Universitas Diponegoro.
28
Mulatsih. 2014. Pengaruh rasio keuangan terhadap tingkat kinerja pada Bank Pembangunan Daerah. Jurnal Etikonomi. Vol.13 No.2.
Nursatyani, A. 2011. Analisis pengaruh efisiensi operasi, risiko kredit, risiko pasar, dan modal terhadap kinerja keuangan perbankan (studi perbandingan pada bank domestik dan bank asing di Indonesia periode 2004-2008). Skripsi Universitas Diponegoro.
______. 2009. Krisis ekonomi global dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, Outlook Ekonomi Indonesia.
Rusmaryati, D.F. 2012. Pengaruh penerapan good corporate governance terhadap kinerja keuangan perbankan konvensional yang terdaftar di bursa efek Indonesia 200-2011. Skripsi Uniersitas Negeri Yogyakarta.
P, Adhy Basar dan Ihsan Ismady P. 2009. Kondisi perbankan dan prospek 2010.
Economic Review, No.218.
Panky, T. dan Febiansyah. 2012. The Indonesian economy after the global financial crisis. Indonesian Institute of Sciencies. Available at http://ekonomi.lipi.go.id (diakses tanggal 12 November 2015).
Prasnanugraha, P. 2007. Analisis pengaruh rasio-rasio keuangan terhadap kinerja bank umum di Indonesia (Studi Empiris Bank-bank Umum yang Beroperasi di Indonesia). Tesis Universitas Diponegoro.
Priadana, S., dan S. Muis. 2009. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Putra, Indra Permana. 2013. Analisis tingkat ffisiensi perbankan BUMN dan bank asing di Indonesia. Skripsi Universitas Brawijaya.
Purna, I., Hamidi dan Prima. 2009. Pengaruh krisis keuangan global terhadap sektor financial di Indonesia. Available at www.setneg.go.id (diakses tanggal 4 November 2015).
Silalahi, T., W. A. Wibowo dan L. Nurliana. 2012. Impact of global financial shock to international bank lending in Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.
29
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001.
Lampiran pedoman perhitungan rasio keuangan. Bank Indonesia. Jakarta.
Suyatno, T., D.T. Marala, A. Abdullah, J.T. Aponno, C.T.Y. Ananda, dan H.A. Chalik.
1991. Kelembagaan Perbankan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suyono, A. 2005. Analisis rasio-rasio bank yang berpengaruh terhadap return on asset.
Tesis Universitas Diponegoro. Available at http://eprints.undip.ac.id/14659/
Yuniar, S. 2013. Analisis perbandingan kinerja keuangan pada perbankan konvensional dan syariah dengan menggunakan rasio keuangan bank (Studi kasus pada bank mandiri dan bank syariah mandiri). Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lampiran 1 – Variabel Efisiensi pada Bank Pemerintah Periode 2009-2014
NAMA BANK EFISIENSI OPERASI (BOPO)