BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan uji pendahuluan menunjukkan bahwa P. aduncum lebih aktif mematikan serangga dibanding E. tirucalli. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan kandungan senyawa aktif di antara buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli yang diuji. Perbedaan senyawa aktif dapat disebabkan oleh perbedaan sifat genetik tanaman, umur tanaman, sifat fisiologi biji, kondisi tanah, jenis vegetasi, dan iklim di lokasi tempat tumbuh tanaman (Kaufman et al., 2006). Uji ekstrak tunggal menunjukkan bahwa tingkat kematian meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi yang diberikan. Buah P. aduncum aktif dalam mematikan larva. Senyawa yang dikandung dalam buah P. aduncum seperti sianida, saponin, tanin, flavonoid, steroid, alkaloid dapat mengendalikan larva dan cocok dijadikan sebagai insektisida nabati. Ekstrak ranting E. tirucalli mematikan larva lebih sedikit dibanding buah P. aduncum. Dilihat pada LC masing-masing ektrak. LC50 dan LC95 buah
P. aduncum lebih rendah dibandingkan dengan ranting E. tirucalli. Prijono (1999) menyatakan bahwa ekstrak yang diperoleh dengan pelarut organik dengan konsentrasi tertinggi yaitu 0,5% dikatakan efektif, apabila perlakuan dengan ekstrak tersebut dapat mengakibatkan tingkat kematian besar dari 90%. Tingginya konsentrasi E. tirucalli pada LC50 dan LC95 disebabkan karena senyawa yang terdapat di dalam ranting E. tirucalli mungkin kurang aktif, atau senyawa tersebut aktif tetapi kandungannya rendah.
Ketika ekstrak dicampur dalam 3 perbandingan konsentrasi, tingkat mortalitas larva semakin menurun, campuran ekstrak P. aduncum dan E. tirucalli dengan perbandingan konsentrasi (6:1) dan (1:1) mematikan larva lebih sedikit dibandingkan dengan perbandingan konsentrasi (1:6). Perbedaan tersebut memiliki selisih 53,33% dan 56%. Semakin tinggi konsentrasi E. tirucalli yang digunakan dalam pencampuran maka semakin banyak jumlah larva yang mati. Berbeda dari itu semakin tinggi konsentrasi P. aduncum yang digunakan pada pencampuran maka semakin sedikit pengaruhnya terhadap kematian larva. Dalam perbandingan konsentrasi yang setara maka tidak terjadi kenaikan mortalitas larva.
22
Aktivitas senyawa yang terdapat pada campuran eksrak P. aduncum
dan E. tirucalli (1:6) mulai terlihat sejak hari pertama perlakuan. Hari pertama perlakuan mengalami mortalitas Larva. Pada konsentrasi tertinggi tingkat kematian lebih sedikit dibanding dengan konsentrasi dibawahnya. Pengamatan hari ke kedua merupakan hari tertinggi kematian larva, baik pada konsentrasi tertinggi maupun konsentrasi terendah. Setelah daun perlakuan diganti dengan daun tanpa perlakuan, larva mati tidak bertambah secara signifikan (Gambar 1). Kematian larva disebabkan oleh adanya senyawa yang terkandung dalam campuran ekstrak buah P. aduncum dan E. tirucalli yang dapat cepat mematikan larva. (Van damme, 2010) mengungkapkan bahwa getah yang dikandung oleh ranting E. tirucalli dapat membunuh dengan cepat, dalam jangka waktu 12 jam mematikan larva nyamuk Anopheles sebanyak 80%. Senyawa aktif piperamidin seperti guaninsis, piperlonguminin, piperaduncin, dan piperisida yang berasal dari genus piper telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai racun kontak dan racun syaraf terhadap hama sasaran, sehingga jika diaplikasikan maka aktivitas insektisidanya menjadi lebih tinggi karena banyak senyawa aktif yang masuk kedalam tubuh serangga dan mengganggu aliran impuls syaraf pada akson (Miyako et al., 1989 dalam Zarkani, 2008).
Pengujian campuran ekstrak buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli
(1:1), (6:1) dan (1:6) menunjukkan aktivitas mortalitas larva C. pavonana.
Secara umum aktivitas ekstrak tunggal lebih aktif mematikan larva C. pavonana dibandingkan dengan ekstrak campuran. Bisa dilihat pada nilai LC50 ekstrak campuran lebih tinggi dibandingkan LC50 ekstrak tunggal (Tabel 6). Campuran ekstrak buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli pada perbandingan konsentrasi (1:6) bersifat aditif pada taraf LC50, dan antagonis pada taraf LC95. Sifat aditif menunjukkan bahwa tingkat mortalitas serangga uji akibat perlakuan campuran ekstrak tidak berbeda secara signifikan dengan jumlah tingkat mortalitas akibat perlakuan kedua ekstrak tunggal secara terpisah (Kosman dan Cohen, 1996). Veterinary (2003) melanjutkan bahwa sifat aditif adalah kondisi tidak ada interaksi antara campuran atau toksisitas campurannya cenderung sama dengan toksisitas ekstrak tunggal. sifat antagonis berkemungkinan terjadi karena enzim sitokrom P450 pada larva dirangsang
23
oleh senyawa aktif P. aduncum, akibatnya senyawa lain yang berasal dari E. tirucalli dapat diuraikan oleh enzim tersebut. Hal ini dirujuk dari hasil penelitian Santoso (2011), dengan mencampur antara P. aduncum dan Annona squamosa 10:1 bersifat antagonis pada LC95. Sifat antagonis terjadi akibat senyawa dilapiol ataupun senyawa lain yang dikandung oleh P. aduncum dapat merangsang kerja enzim sitokrom P450, sehingga banyak senyawa aktif A. squamosa yang dapat diuraikan oleh enzim detoksifikasi.
Aplikasi campuran dua atau lebih insektisida nabati dapat meningkatkan efisiensi aplikasi insektisida, apabila campuran bersifat sinergis (Prijono, 1992), namun pada penelitian aktifitas insektisida campuran Buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli (1:6) pada LC50 dan LC95 bersifat aditif dan antagonistik. Insektisida buah P. aduncum dan E. tirucalli lebih baik digunakan dalam bentuk tunggal dibandingkan dengan dicampur.
Campuran ekstrak buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli (1:6) mempunyai efek antifeedant. Efek antifeedant ikut menyumbang terhadap kematian larva C. pavonana. Efek antifeedant meningkat sejalan dengan meningkatnya konsentrasi, semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin tinggi efek antifeedant yang ditimbulkan. Pengamatan memperlihatkan gejala menurunnya aktifitas makan larva C. pavonana
sehingga larva menjadi lemah, tidak dapat bergerak aktif dan akhirnya mati. Larva yang mati tubuhnya mengerut, berwarna coklat kemudian berubah menjadi hitam dan kaku (Lampiran 3). Larva yang mati disebabkan oleh efek racun yang terdapat pada daun perlakuan ekstrak campuran buah P. aduncum
dan ranting E. tirucalli yang dimakan oleh larva C. pavonana. Scott et al,.
(2004) menjelaskan bahwa senyawa sekunder yang berasal dari spesies
Piperaceae bersifat antifeedant terhadap serangga. Senyawa dilapiol mengganggu metabolisme di dalam sel pada proses oksidasi senyawa racun (Scott Et al,. 2008). Ranting E. tirucalli memiliki kandungan senyawa soponin. Menurut (Wina, 2012) Saponin merusak membran sel, kebocoran sel dan gangguan metabolisme pada sel-sel saluran pencernaan makanan sehingga dapat mengakibatkan penurunan aktivitas makan dan pertumbuhan serangga. Ranting E. tirucalli juga mengandung senyawa terpenoid. Lebih lanjut
24
dijelaskan bahwa senyawa terpenoid yang terdapat pada tanaman berfungsi sebagai zat penolak, akibat adanya senyawa penghambat makan, akan mempengaruhi lama perkembangan serangga (Prijono, 2003).
Lebih lamanya stadia larva C. pavonana pada perlakuan campuran ekstrak buah P. aduncum dan ranting E. tirucalli (1:6) dapat disebabkan oleh menurunnya aktifitas makan serangga ataupun gangguan pada metabolisme tubuh serangga yang mengakibatkan tertundanya perkembangan larva. Perkembangan larva yang diperlakukan dengan ekstrak campuran menjadi lebih lama dibandingkan dengan kontrol (Tabel 8). Konsentrasi tertinggi menyebabkan larva menjadi lemah dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memasuki stadia berikutnya. Penambahan konsentrasi akan meningkatkan kandungan toksik atau penghambat makan yang mempengaruhi larva, sehingga proses fisiologi larva terganggu dan perkembangan larva terhambat. Sejalan dengan itu bahwa faktor yang paling menentukan potensi bahaya atau amannya suatu senyawa adalah hubungan antara zat kimia dengan efek yang ditimbulkannya. Interaksi suatu bahan racun dengan sistem hayati berhubungan lansung dengan banyaknya kandungan bahan racun. Senyawa kimia yang termakan oleh serangga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva, gagalnya larva menjadi pupa, pupa menjadi imago (Watuguly, 2003). Hambatan perkembangan larva yang memakan daun berperlakuan disebabkan oleh adanya alokasi energi untuk detoksifikasi senyawa toksik. Dalam kondisi makanan tanpa adanya toksik maka akan digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Adanya senyawa toksik dalam tanaman maka sebagian energi dari makanan yang seharusnya dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan akhirnya dimanfaatkan untuk detoksifikasi senyawa racun (Parkinson dan Oligilvie., 2008)