• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh lewat kuesioner dan yang telah dianalisis, menunjukkan bahwa uji prasyarat analisis regresi terpenuhi yakni: uji normalitas, uji linieritas, uji homoskedastisitas, dan uji homogenitas. Hasil uji normalitas dengan menggunakan Normal Probability Plot menunjukkan bahwa samp le data berasal dari populasi yang terdistribusi normal. Sebaran data terletak disekitar garis lurus dan titik-titik data membentuk pola linier sehingga konstan dengan distribusi normal. Maka dapat dikatakan bahwa persyaratan normalitas terpenuhi. Hasil uji kelinieran data kedewasaan kristiani (Y) untuk tiap kelompok berdasarkan kegiatan rekoleksi (X) terpenuhi, karena taraf signifikansi yang diperoleh adalah 0,000, dengan demikian 0,000 < 0,05 maupun 0,01, menunjukkan bahwa kelinieran terpenuhi. Hasil uji homoskedastisitas menunjuk bahwa uji homoskedastisitas terpenuhi, dimana

Scatterplot antara standardized residual *ZRESID dan standardized predicted value

*ZPRED tidak membentuk suatu pola tertentu, sehingga bisa dianggab residual mempunyai variance konstan (Homoscedasticity). Hasil pengujian homogenitas sample kedewasaan kristiani (Y) untuk tiap kelompok berdasarkan tingkat pendidikan terpenuhi. Uji kehomogenan terpenuhi dimana hasil nilai P-value

(signifikansi) = 0,218, karena nilai signifikansi lebih besar dari suatu taraf signifikansi tertentu 0,05 maupun 0,01 maka sample rekoleksi dan kedewasaan kristiani berasal dari populasi yang memiliki ragam (variance) yang sama, karena signifikansi yang diperoleh 0,218 > 0,01 maupun 0,05.

Dari hasil deskripsi data menunjukkan bahwa kegiatan rekoleksi yang pernah diikuti oleh para siswi asrama telah berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi kehidupan mereka. Manfaat yang diperoleh para siswi asrama ditinjau dari empat unsur, antara lain: suasana rekoleksi, pendamping, materi dan metode rekoleksi.

Suasana rekoleksi yang disenangi oleh para siswi asrama adalah suasana yang hening dan tenang. Kategori yang menyatakan sangat hening dan hening ada 110 orang (89%) dari 124 orang, yang menyatakan kurang hening ada 5 orang (4%) dari 124 orang, dan yang menyatakan tidak hening ada 9 orang (7%) dari 124 orang. Yang menyatakan sangat hening dan hening tergolong besar, suasana hening dan tenang ini merupakan sarana masuk dalam refleksi guna melihat pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui, dan dalam keheningan lebih cepat menemukan Tuhan, disinilah para siswi asrama merasakan manfaat dari kegiatan reoleksi tersebut.

Pendamping rekoleksi yang diidolakan oleh para siswi asrama putri adalah pendamping ya ng mengenal peserta rekoleksi. Pendamping yang mengenal peserta menunjukkan bahwa pendamping itu memberi hati dalam pendampingan selama proses rekoleksi berlangsung, artinya pendamping paham apa yang paling dibutuhkan oleh peserta dari kegiatan rekoleksi tersebut, dan pendamping sudah mencari informasi mengenai situasai peserta. Para siswi asrama putri merasakan manfaat bila pendamping mengenal peserta dalam kegiatan rekoleksi, tampak dari respon mereka dimana 87 orang (70%) dari 124 orang menyatakan sangat mengenal peserta, 26 orang (21%) dari 124 orang menyatakan mengenal peserta, 4 orang (3%) dari 124 orang menyatakan kurang mengenal peserta, dan 7 orang (6%) dari 124 orang menyatakan tidak mengenal peserta. Persentase ini menunjukkan bahwa pendamping sangat mengenal peserta rekoleksi. Oleh karena itu pendamping yang tepat dalam suatu kegiatan rekoleksi pertama-tama mengenal peserta, mengenal berarti tahu apa yang paling dibutuhkan peserta, dan menyentuh hati peserta dengan sapaan-sapaan lembut. Maka diharapkan pendamping rekoleksi seorang yang mengenal peserta dan memberi hati dalam pendampingan tersebut.

Materi rekoleksi yang membawa manfaat bagi para siswi asrama putri adalah materi yang mendalam dan menarik. Mendalam berarti berisi dan berkualitas. Menarik berarti relevan dengan kehidupan remaja dan penyajian materi tersebut dikemas dengan metode yang bervariasi. Materi yang mendalam dan menarik merupakan yang tepat bagi siswi asrama putri, hal ini tampak dari respon mereka yang masuk dalam kategori sangat mendalam dan menarik 89 orang (70%) dari 124 orang, yang masuk dalam kategori mendalam dan menarik 27 orang (21%) dari 124 orang, yang me nyatakan kurang mendalam dan menarik 7 orang (6%) dari 124 orang, dan yang menyatakan tidak mendalam dan menarik ada 1 orang (3 %). Materi yang mendalam dan menarik ini merupakan materi yang paling mengena pada usia remaja. Metode rekoleksi yang relevan bagi para siswi asrama putri adalah metode yang bervariasi artinya dalam proses kegiatan rekoleksi menggunakan beberapa metode supaya tidak monoton. Para siswi asrama merasa tertarik mengikuti rekoleksi dan dari kegiatan rekoleksi tersebut memberi manfaat bagi mereka. Kenyataan ini tampak dari respon yang menunjuk pada kategori sangat me ndalam dan menarik sebanyak 87 orang (70%) dari 124 orang, yang menyatakan mendalam dan menarik ada 24 orang (19%) dari 124 orang, yang menyatakan kurang mendalam dan menarik ada 4 orang (3%) dari 124 orang, dan yang menyatakan kurang mendalam dan menarik ada 9 orang (7%). Dengan ini dapat dikatakan bahwa kegiatan rekoleksi yang diminati dan memberi manfaat adalah rekoleksi yang relevan dengan kehidupan remaja dengan memperhatikan unsur-unsur rekoleksi itu sendiri, dengan demikian tujuan rekoleksi tercapai dan inilah yang dikatakan rekoleksi yang berhasil.

Dari kegiatan rekoleksi tersebut membawa pengaruh terhadap kedewasaan kristiani para siswi asrama putri. Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap para siswi asrama putri di dalam Gereja saat mengikuti Perayaan Ekaristi adalah hormat, tenang

dan sopan. Sikap ini salah satu pertanda bahwa seseorang siap merayakan imannya. Hidup berliturgi tidak dapat dipisahkan dengan hidup sehari-hari (Martasudjita, 2002: 7-10). Iman diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Sebanyak 102 orang (82%) dari 124 orang, menunjukkan selalu dan sering bersikap tenang, hormat dan sopan di dalam Gereja. Sikap ini belum seutuhnya dikatakan telah masuk kategori iman yang dewasa, masih bisa ada kemungkinan karena sesuatu hal, takut ditegur orang lain dan lain sebagainya. Benarlah apa yang sudah dihayati diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Sebanyak 114 orang (92%) menyatakan selalu dan sering mengikuti kegiatan doa di asrama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memupuk relasi dengan Tuhan melalui doa-doa itu sendiri. Doa bersama di asrama sudah terjadwal sedemikian rupa, jadi para siswi sudah terkondisi dengan kebiasaan ini.

Keterlibatan dan keterbukaan para siswi asrama putri tergolong besar. Namun sikap terbuka kepada pembimbing asrama masih perlu ditingkatkan. Kenyataan ini ditunjukkan persentasi kategori jarang dan tidak pernah mau mengakui kesalahan atau terbuka kepada pembimbing sebanyak 40 orang (32%) dari 124 orang, jumlah ini tergolong besar. Melihat situasi remaja yang berada dalam tahap pencarian identitas diri, kemungkinan mempunyai pengaruh sehingga para siswi asrama sulit untuk terbuka. Oleh karena itu perlu pendampingan secara khusus, karena ada kemungkinan faktor yang mempengaruhi mereka untuk mau terbuka dan mengakui kesalahan. Disinilah kepekaan pembimbing mendekati remaja secara personal. Penerimaan yang hangat dan penghargaan yang diterima oleh remaja mempengaruhi perekembangan perkembangan dari segi yang lain (Hurlock, 2996: 213). Apalagi bila penerimaan dan penghargaan itu dari seorang pembimbing yang punya pengaruh terhadap perkembangan para remaja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar hubungan antara variable kegiatan rekoleksi dengan kedewasaan kristiani yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,332, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kegiatan rekoleksi dengan kedewasaan kristiani. Oleh karena signifikansi 0,000 jauh di bawah 0,05, maka jelaslah nyata korelasi antara kegiatan rekoleksi dengan kedewasaan kristiani. Semakin teratur secara periodik pelaksanaan kegiatan rekoleksi maka kedewasaan kristiani semakin meningkat juga.

Hasil penelitian menunjuk bahwa kegiatan rekoleksi benar-benar berpengaruh secara signifikan terhadap kedewasaan kristiani para siswi asrama putri. Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y= 254,304 + 0,574 X, dari persamaan ini bis a diramalkan atau diprediksi perubahan Y apabila X diketahui. Hipotesis ini diterima karena setiap variabel kegiatan rekoleksi (X) bertambah 1, maka nilai rata-rata kedewasaan kristiani akan memberikan penambahan ( peningkatan) sebesar 0,574. Berdasarkan hasil uji korelasi (r) dalam regresi linier sederhana dapat ditafsirkan bahwa besar sumbangan kegiatan rekoleksi (X) terhadap kedewasaan kristiani siswi asrama putri (Y) adalah sekitar 11,0%. Memang sumbangan ini masih tergolong kecil, namun masih menunjukkan adanya hubungan positif antara kegiatan rekoleksi dengan kedewasaan kristiani para siswi asrama putri. Data ini menunjukkan bahwa hipotesis awal yang telah dirumuskan pada Bab II dapat diterima sebagai jawaban yang mengungkapkan kegiatan rekoleksi berpengaruh terhadap kedewasaan kristiani asrama putri St. Theresia Kabanjahe.

Pengaruh ini lebih- lebih karena persentasi pelaksanaan kegiatan rekoleksi dan diikuti oleh komponen-komponen rekoleksi itu sendiri baik dari segi tujuan, materi, metode, pendamping dan suasana yang mendukung. Kegiatan rekoleksi yang dilaksanakan secara teratur ternyata memberikan sumbangan terhadap kedewasaan

kristiani. Subiyanto (2003: 6) menyatakan bahwa rekoleksi adalah salah satu cara untuk menyegarkan iman. Pembinaan iman melalui rekoleksi memberi semangat baru bagi peserta yang mengikuti. Tepat bahwa sekarang ini banyak cara yang dipilih untuk memperkembangkan kedewasaan iman. Dalam kegiatan rekoleksi selalu memperhatikan peserta dan komponen rekoleksi, maka wujud dari kedewasaan kristiani itu akan kelihatan. Jadi meningkatnya kedewasaan kristiani seseorang akan terwujud atau kelihatan dalam kehidupan sehari- hari, dalam bertingkah laku, dalam hidup beriman, baik keterlibatan di Gereja dan di lingkungan masyarakat. Dengan kata lain iman yang dewasa terwujud dalam hidup sehari- hari (Martasudjita, 2002: 18). Faustin Kalis dalam skripsinya yang berjudul “Pembinaan Iman Kaum Muda Katolik Paroki Hati Maria tak Bernoda Putussibau Kalimantan Barat Menuju Kedewasaan Kristiani” menyatakan pembinaan iman yang dilaksanakan berpengaruh terhadap kedewasaan Kristiani kaum muda tersebut. Dari hasil pene litian diperoleh kaum muda semakin memperkembangkan iman kepada Yesus Kristus, mau terlibat dalam kehidupan menggereja, juga mampu menemukan kepercayaan dan gambaran diri yang seimbang. Hal ini didukung jadwal pembinaan iman yang teratur, dukungan dari orang tua dan Pastor Paroki. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan rekoleksi berpengaruh positif terhadap kedewasaan kristiani dan diikuti meningkatnya kualitas kepribadian maupun kerohanian.

Dengan melihat hasil penelitian ini maka peneliti merasa terdorong untuk membuat program kegiatan rekoleksi bagi para siswi asrama putri St. Theresia Kabanjahe, sebagai sumbangan peneliti dan sekaligus sebagai upaya untuk membantu mengembangkan keteraturan jadwal pelaksanaan kegiatan rekoleksi di asrama tersebut. Kegiatan rekoleksi adalah salah satu bentuk pembinaan iman yang

membantu memperkembangkan kedewasaan kristiani para siswi asrama putri St. Theresia Kanbanjahe.

Dokumen terkait