• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil pengujian secara parsial (uji t) diketahui bahwa variabel Nomor Pokok Wajib Pajak yang terdaftar (NPWP) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Penerimaan PPh 25 dengan tingkat signifikansi variabel independen sebesar 0,002 lebih kecil dari 0,005. Surat Setoran Pajak (SSP PPh 25) juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Penerimaan PPh 25 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,034 lebih kecil dari 0,005. Hal ini dapat menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah wajib pajak yang mendaftar dalam bentuk NPWP juga sejalan dengan meningkatnya SSP PPh 25 yang disetor. Maka akan mempengaruhi jumlah Penerimaan Pajak Penghasilan, khususnya PPh 25.

Dapat disimpulkan dalam penelitian ini pelaksanaan self assessment system di KPP Pratama Medan Petisah sudah berjalan dengan baik. Dilihat dari adanya kesadaran bagi masyarakat yang memiliki penghasilan untuk melakukan

kewajiban perpajakannya dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak yang tercermin dalam NPWP, kemudian melakukan pembayaran atau penyetoran pajak melalui media Surat Setoran Pajak (SSP) untuk dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Hal ini juga didukung oleh diberlakukannya

sunset policy yakni kebijakan pemberian fasilitas perpajakan dalam bentuk

penghapusan sanksi administrasi perpajakan. Direktorat Jenderal Pajak memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mulai memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela dan melaksanakannya dengan benar. Otomatis dengan kebijakan ini semakin mempermudah Wajib Pajak yang belum melaksanakan kewajiban pajak untuk segera mendaftarkan diri dan memperoleh NPWP, serta secara sukarela melunasi pajak yang belum dibayarkan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).

Dari uji ANOVA (Analysis of Variance) atau uji F diperoleh signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05 yang berarti secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh signifikan positif terhadap variabel Penerimaan PPh 25. Hal ini didukung dari nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,215 yang menunjukkan bahwa variabel independen NPWP dan SSP PPh 25 mampu menjelaskan sebanyak 21,5% variasi atau perubahan dari variabel dependen yaitu Penerimaan PPh 25 . Sedangkan sisanya sebesar 78,5 % dijelaskan oleh variasi atau faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini. Pembahasan mengenai perbandingan tentang hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu dan teori yang ada akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Perbandingan hasil penelitian dengan penelitian terdahulu

Jika dibandingkan dengan peneliti sebelumnya yakni Tarjo (2005) menyatakan bahwa variabel Self Assessment System berpengaruh signifikan negatif terhadap variabel Wajib Pajak Orang Pribadi. Begitupula halnya dengan penelitian Admin (2007), meskipun tidak memiliki kesamaan dari variabelnya, namun ada unsur yang sama yaitu adanya kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan diri, mengitung, serta menyetorkan kewajiban pajaknya. Menurut Admin variabel independen yakni PKP terdaftar, SPT Masa PPN, serta SSP PPN secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap Penerimaan PPN, namun hanya variabel PKP terdaftar yang memiliki arah negatif. Penelitian ini meskipun memiliki kesamaan variabel dengan peneliti sebelumnya Sari (2009) tetapi memiliki hasil penelitian yang berbeda. Penelitian Sari menunjukkan bahwa secara simultan variabel NPWP dan Jumlah Surat Setoran Pajak (SSP PPh 25) memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh 25). Hanya saja NPWP memiliki arah yang negatif artinya setiap peningkatan NPWP, akan mengakibatkan penurunan Penerimaan PPh 25. Sedangkan secara parsial, NPWP tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Penghasilan, sementara SSP PPh 25 memiliki pengaruh signifikan. Berbeda dengan penelitian ini, hasil pengujian menunjukkan bahwa baik variabel NPWP maupun SSP PPh 25 sama-sama memiliki pengaruh secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependennya yaitu Penerimaan PPh 25.

2. Perbandingan hasil penelitian dengan teori yang ada

Secara nyata terlihat bahwa NPWP serta SSP sebagai media dalam melaksanakan kewajiban perpajakan akan senantiasa meningkatkan penerimaan pajak penghasilan.

a. NPWP menurut Waluyo (2006 : 24) “adalah nomor yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada wajib pajak sebagai sarana administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.” Khusus untuk sistem pemungutan Self Assessment ini, diharapkan kesadaran dari masyarakat itu sendiri untuk melaksanakan kewajibannya. Dalam hal ini sudah tercermin dari jumlah WP yang mendaftar diri untuk memperoleh NPWP sebagai syarat utama untuk melakukan kewajiban perpajakan.

b. SSP menurut Resmi (2005 : 31) “adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran kewajiban perpajakannya.” Salah satu dokumen pajak yang digunakan adalah Surat Setoran Pajak (SSP), untuk melaporkan serta menyetorkan berapa besar kewajibannya juga harus selalu mencantumkan NPWP. Otomtis setiap SSP yang disetor juga sejalan dengan NPWP yang terdaftar.

Kondisi seperti ini juga dapat didukung oleh adanya kecenderungan-kecenderungan dari adanya motif bisnis tertentu yang dimiliki oleh Wajib Pajak yang ingin mendapatkan NPWP, seperti agar dapat ikut tender pemerintah dan juga menjadi rekanan pemerintah, ataupun untuk kepentingan bisnis lainnya. Selain itu dengan adanya motif non bisnis yang meliputi perubahan dari

Undang-Undang dan peraturan pemerintah misalnya sunset policy, pengenaan denda fiskal bagi yang tidak memiliki NPWP untuk yang akan ke luar negeri dan pengenaan denda-denda serta kepentingan lainnya.

Penelitian ini memiliki keterbatasan hanya menfokuskan pada Wajib Pajak tanpa ada campur tangan fiskus, terlihat dari variabel yang diteliti oleh peneliti tidak ada satupun variabel yang berasal dari fiskus, sehingga dari penelitian ini peneliti berusaha melihat bagaimana kinerja Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Untuk hal ini juga dapat dilihat apakah sistem pemungutan pajak Sef Assessment yang dibuat oleh pemerintah telah sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh Wajib Pajak. Sehingga terlihat bahwa kondisi Wajib Pajak di wilayah kerja KPP Pratama Medan Petisah apabila diberi kepercayaan penuh dapat menyelesaikan kewajiban perpajakannya dengan baik.

Menurut Harahap (2004 : 31), “sikap mental yang berupa kepatuhan itu sulit sekali diwujudkan dalam kadar 100 persen, dalam arti Wajib Pajak itu mampu secara tulus ikhlas dan sadar sepenuhnya melaksanakan kewajibannya”. Namun bukan berarti hal tersebut tidak dapat dijalankan sepenuhnya. Terjalinnya hubungan yang interaktif antara Wajib Pajak dengan aparat setidaknya dapat meminimalisir kemungkinan terburuk dari pelaksanaan sistem ini. Maka kerjasama dari kedua belah pihak sangat dibutuhkan agar self assessment system dapat berjalan sebagaimana mestinya. Wajib Pajak akan lebih memahami dunia perpajakan dengan melakukan sistem pembayaran yang mandiri, tanpa harus merasa dipaksa atau dicampurtangani oleh fiskus. Sementara bagi fiskus, lebih mempermudah mereka dalam melaksanakan tugasnya. Setidaknya mereka tidak

perlu repot untuk menghitung, membayar, serta melaporkan hutang pajak setiap Wajib Pajak yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Kantor Pelayanan Pajak selaku fiskus hanya melakukan fungsi pengawasan dan pembinaan, melakukan monitoring masyarakat yang telah melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan Undang-Undang perpajakan. Kegiatan yang dilakukan diantaranya melalui pemeriksaan pajak yang bertujuan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Bila ada yang belum atau tidak sesuai, akan dihitung kembali besarnya pajak yang terutang, dan diterbitkan ketetapan pajak.

Harahap (2004 : 13) juga menyatakan, “bahwa diterapkannya sistem yang memberikan keprcayaan penuh kepada Wajib Pajak untuk melaksanakan kewajibannya adalah langkah yang berani dan penuh tantangan.” Tantangan inilah yang seharusnya dapat diatasi oleh pemerintah dalam upaya peningkatan pajak sebagai salah satu sumber penerimaan terbesar di negeri ini.

BAB V

Dokumen terkait