Data kemampuan berpikir kreatif peserta didik dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik parametris. Statistik diskriptif digunakan untuk mempermudah dalam penyajian hasil analisis
commit to user
data sehingga informasi mudah dipahami. Sedangkan statistik parametris digunakan dalam pengujian hipotesis dengan analisis varian satu jalan (one way anova). Berdasarkan pada deskripsi data penelitian diperoleh skor rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang diperoleh dengan menggabungkan nilai tiga teknik pengambilan data (triangulasi teknik), yaitu angket, lembar observasi, dan tes kognitif.
Sebagai bahan perbandingan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik di Kelas Problem Based Instruction, Kelas Guided Discovery Learning, dan Kelas Ekspositori disajikan pada Tabel 4.24 berikut ini.
Tabel 4.24 Nilai rata-rata Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta didik Kelas Ekspositori, Kelas Problem Based Instruction, dan Kelas
Guided Discovery Learning
Kelas Mean
Kelas Ekspositori 23,33
Kelas Problem Based Instruction 24,42
Kelas Guided Discovery Learning 25,42 Sumber : Hasil Perhitungan Data, 2015 (Lampiran 32)
Untuk menguji hipotesis pertama dilakukan uji analisis varian (anava) satu arah. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui Fobs > Ftabel
(14,352 > 3,11). Keputusan uji anava satu arah adalah H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang dignifikan antara Model Problem
Based instruction, Model Guided Discovery Learning, dan Model
Ekspositori. Pernyataan tersebut sejalan dengan hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pembelajaran model Problem Based Instruction, model Guided
Discovery Learning, dan Ekspositori terhadap kemampuan berpikir
kreatif peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Magelang tahun ajaran 2014/2015 pada materi hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di
commit to user
muka bumi. Kemudian untuk mengetahui perlakuan mana yang lebih efektiv dari maisng-masing model maka dilakukan uji pasca anava.
Pengujian hipotesis kedua dilakukan dengan membandingkan rata-rata pada masing-masing perlakuan (model Problem Based Instruction dan model Ekspositori) secara signifikan. Pada hipotesis ini digunakan uji pasca anava dengan metode Schffe’ dan menggunakan SPSS 19 for
Windows. Hasil uji Scheffe’ menunjukan nilai probabilitas atau
signifikansi 0,024 < nilai α adalah 0,05. Berdasarkan perbandingan tersebut maka keputusan yang diambil adalah H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata kelas kontrol (menggunakan model Ekspositori) dan kelas eksperimen 1 (menggunakan model Problem Based Instruction) secara signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hipotesis kedua yang menyebutkan bahwa
Problem Based Instruction lebih baik dibandingkan dengan Model
Pembelajaran Ekspositori terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Magelang tahun ajaran 2014/2015 pada materi hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi. Selain itu berdasarkan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif, pada Kelas Problem Based Instruction memiliki rata-rata sebesar 24,42 sedangkan pada kelas Ekspositori nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif sebesar 23,33. Hal ini menunjukan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas Problem Based
Instruction lebih tinggi dibanding rata-rata nilai kemampuan berpikir
kreatif kelas Ekspositori. Dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas X-2 dengan menerapkan model Problem Based Instruction, guru membantu peserta didik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru dengan membentuk kelompok dengan anggota 5 – 6 peserta didik. Bersama dengan anggota kelompok lain, peserta didik diarahkan untuk berdiskusi, bertukar pikiran untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Peserta didik diberi kesempatan untuk merumuskan dan menganalisis, menemukan penyebab, dan menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Sehingga peserta didik ikut serta
commit to user
berperan dalam pembelajaran dan guru hanya membantu dan mengarahkan peserta didik agar dapat menemukan cara-cara memecahkan masalah yang diberikan guru. Diakhir pembelajaran, guru juga membantu peserta didik untuk membuat kesimpulan atas pembelajaran yang telah dilakukan. Sehingga peserta didik sudah dilatih untuk terbiasa berpikir divergent dengan menghasilkan ide yang bermacam-macam. Dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas X-4 dengan menerapkan model Ekspositori, guru hanya menjelaskan garis besar materi. Selanjutnya guru meminta peserta didik untuk membentuk kelompok dengan anggora 5 – 6 peserta didik kemudian berdiskusi untuk membahas permasalahan Daerah Aliran Sungai. Dalam diskusi, guru hanya membantu apabila peserta didik menemukan kesulitan, guru tidak mengarahkan peserta didik untuk bisa memecahkan masalah. Diakhir pembelajaran guru hanya memberikan umpan balik dari hasil diskusi kelompok. Tidak semua peserta didik mengikuti keseluruhan pembelajaran dan mengikuti jalannya diskusi dengan baik. Peserta didik yang malas hanya mendengarkan dan tidak mencatat baik saat guru menyampaikan materi maupun saat diskusi. Hal ini menunjukan bahwa model Problem Based Instruction dapat membuat kemampuan berpikir kreatif peserta didik lebih baik dibandingkan dengan model Ekspositori.
Pengujian hipotesis ketiga dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada masing-masing perlakuan (model Guided Discovery Learning dan Ekspositori) secara signifikan. Pada hipotesis ini digunakan uji pasca anava dengan metode Schffe’ dan menggunakan SPSS 19 for Windows. Hasil uji Scheffe’ menunjukan nilai probabilitas atau signifikansi 0,000 < nilai α adalah 0,05. Berdasarkan perbandingan tersebut maka keputusan yang diambil adalah H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata kelas kontrol (model Ekspositori) dengan kelas Eksperimen 2 (model
Guided Discovery Learning) secara signifikan. Hal ini sesuai dengan
commit to user
Learning lebih baik dibandingkan model Ekspositori terhadap
kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Magelang tahun ajaran 2014/2015 pada materi hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi. Selain itu berdasarkan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Nilai rata-rata kelas Guided Discovery Learning sebesar 25,42 sedangkan nilai rata-rata kelas ekspositori sebesar 23,33. Hal ini menunjukan nilai rata-rata kelas Eksperimen 2 dengan model Guided Discovery Learning lebih baik dibanding dengan nilai rata-rata kelas kontrol dengan model Ekspositori. Dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas X-7 dengan menerapkan model Guided Discovery Learning guru membentuk peserta didik kedalam kelompok-kelompok diskusi. Di dalam kelompok guru hanya memberi umpan peserta didik dengan gambar-gambar dan mengarahkan peserta didik untuk menemukan permasalahan yang terjadi, faktor penyebab, dan pemecahan masalah. Guru benar-benar membimbing berjalannya diskusi dari awal hingga penarikan kesimpulan oleh peserta didik. Dengan demikian, peserta didik terbiasa menuangkan idenya sejak awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa model Guided Discovery Learning dapat membuat kemampuan berpikir kreatif peserta didik lebih baik dibandingkan dengan model Ekspositori.
Pengujian hipotesis keempat dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada masing-masing perlakuan (model Guided Discovery Learning dan Problem
Based Instruction) secara signifikan. Pada hipotesis ini digunakan uji
pasca anava dengan metode Schffe’ dan menggunakan SPSS 19 for
Windows. Hasil uji Scheffe’ menunjukan nilai probabilitas atau
signifikansi 0,036 < nilai α adalah 0,05. Berdasarkan perbandingan tersebut maka keputusan yang diambil adalah H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata kelas Eksperimen 2 (model Guided Discovery Learning) dengan kelas Eksperimen 1 ( model
commit to user
hipotesis keempat yang menyebutkan bahwa Model Guided Discovery
Learning lebih baik dibandingkan model Problem Based Instruction
terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Magelang tahun ajaran 2014/2015 pada materi hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi. Selain itu berdasarkan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Nilai rata-rata kelas Guided Discovery Learning sebesar 25,42 sedangkan nilai rata-rata kelas Problem Based Instruction sebesar 24,42. Hal ini menunjukan nilai rata-rata kelas Eksperimen 2 dengan model Guided Discovery Learning lebih baik dibanding dengan nilai rata-rata kelas eksperimen 1 dengan model Problem Based Instruction. Pada dasarnya kedua model ini memiliki kesamaan dalam hal proses pembelajaran. Kedua model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menganalisis menemukan faktor penyebab dan menemukan cara pemecahan masalah. Perbedaan keduanya adalah pada Model Guided
Discovery Learning kreativitas peserta didik sudah mulai diasah dan
dipergunakan dari awal saat memulai pembelajaran. Sejak awal pembelajaran guru sudah mengarahkan dan membimbing peserta didik untuk membandingkan suatu gambar, mencari sendiri permasalahan, faktor penyebab, dan cara pemecahannya. Guru hanya memberi umpan dengan gambar kemudian peserta didik membandingkan gambar-gambar tersebut. Peserta didik yang kritis dalam menangkap permasalahan, akan menghasilkan gagasan-gagasan kreatif sehingga mereka dapat menemukan permasalahan apa yang terjadi, faktor penyebab, dan solusi mengatasi permasalahan tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya ditemui dalam model Problem Based Instruction. Pada model ini, peserta didik mendapatkan arahan dari guru agar dapat menemukan faktor penyebab dan solusi mengatasi permasalahan tersebut. Permasalahan tidak dicari sendiri oleh peserta didik melainkan permasalahan diberi oleh guru. Meskipun kedua model tersebut merupakan cara belajar mandiri untuk peserta didik tetapi kreativitas peserta didik lebih banyak dibutuhkan dalam Model Guided Discovery Learning dibandingkan pada Model
commit to user
Problem Based Instruction. Hal ini menunjukan bahwa model Guided Discovery Learning dapat membuat kemampuan berpikir kreatif peserta