BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA
C. Pembahasan
kepentingan individu saja akan tetapi juga untuk kepentingan bersama sehingga menghasilkan kerjasama yang mendatangkan manfaat.
2. Kendala Melaksanakan Program Penyuluhan
1. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat yang diakibatkan dari tingkat pendidikan masyarakat menyebabkan masyarakat kurang memahami program tersebut.
2. Pelaksanaan kegiatan yang terlaksana tidak sesuai dengan jadwal yang telah tersusun sebelumnya, misalnya lambatnya kegiatan pembagian pupuk organik dan pembuatan laporan kegiatan yang telah berlangsung sehingga mengahabat pelaksanaan kegiatan selanjutnya.
3. Permasalahan sikap dan orientasi masyarakat merasa tidak merata dalam pemberian bantuan yang disebabkan oleh keterbatasan dana yang di berikan oleh pihak penyuluh sehingga masih ada masyarakat yang tidak merasakan langsung bantuan tersebut
di Desa Cendana Putih Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara yang di bahas sebagai berikut:
1. Modal sosial penyuluhan pertanian
Modal sosial ini membahas modal sosial yang tergabuang dalam kelompok masyarakat tani kepada penyuluh pertanian. Penyuluhan pertanian dalam mewujudkan kemandirian kelompok, penelitian ini menggunakan teori modal sosial.
Fukuyama (2002) dalam Hanugrah (2012) mengatakan bahwa terdapat tiga unsur utama dalam modal sosial adalah trust (kepercayaan), network (jaringan), dan reciprocal (timbale balik). Terdapat berbagai modal sosial masyarakat di Desa Cendana Putih dalam Program Penyuluhan Pertanian. Modal sosial dapat dilihat dari sikap dan perilaku masyarakat antara kelompok. Trust (kepercayaan) terbentuk dalam interaksi antara sesama Masyarakat petani, Penyuluh pertanian, network (jaringan) memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, sehingga tumbuh kepercayaan dan memperkuat kerjasama reciprocal (timbal balik) yang saling menguntungkan.
a. Kepercayaan Pada Program Penyuluhan Pertanian
Kepercayaan merupakan harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat, yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama, sedangkan norma merupakan pemahaman-pemahaman, nilai-nlai, harapan-harapan, dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Karena itulah kepercayaan akan
tumbuh seiring dengan kepatuhan masyarakat terhadap norma yang diakui dan disepakati bersama. Salah satu bentuk kepercayaan adalah adanya antusias dari masyarakat tani terhadap pelaksanaan suatu kegiatan. Kondisi ini terlihat pada lokasi penelitian. Masyarakan kelompok Tani antusias dan bersemangat melaksanakan program-program Penyuluhan Pertanian bersama dengan Penyuluh pertanian. Indikator dari antusias dan semangat masyarakat tercermin dari kehadiran masyarakat yang selalu memenuhi undangan pada setiap pertemuan, musyawarah dan sosialisasi kegiatan.
Sesuai dengan penjelasan yang ada di atas maka dapat dikaitkan dengan teori komunikasi dimna komunikasi sangan penting dalam melakuakn penyuluhan terhadap masyarakat penati sehungga masyarakat petani dapat mengerti apa yang di sampaikan kepada penyuluh dan dengan melakukan komunikasi yang baik masyarakat petani dapat percaya kepada penyuluh pertanian. Hal ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana masyarakat penati percaya kepada program-program penyuluh pertanian yang dilakukan oleh penyuluh dengan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat tani dan hanya kelompok tani yang percaya terhadap penyuluh pertanian sehingga penyuluh harus pandai berkomunikasi kepada petani.
b. Jarinagan
Masyarakat yang memiliki modal sosial yang baik akan membuka kemungkinan menyelesaikan masalah kelompoknya dengan lebih mudah.
Bermodalkan saling percaya, toleransi dan kerjasama mereka dapat membangun jaringan baik di dalam kelompok masyarakatnya maupun dengan kelompok masyarakat lainnya. Jaringan terbentuk tidak dengan sendirinya melainkan ada proses terlebih dahulu yang harus dilalui seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Pada dasarnya kepercayaan dan jaringan tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan, jaringan berkembang di kelompok masyarakat diawali dengan norma-norma yang berfungsi sebagai aturan yang harus dipatuhi agar tercapainya suatu kerjasama di dalam komunitas tersebut.
c. Hubungan Timbal Balik
Bekerja sama merupakan usaha bersama antara individu dan kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama. Timbal balik antara anggota kelompok tani dengan tim penyuluh, dengan saling menerima dan saling memberi bantuan yang mucul dari adanya interaksi sosial menjadikan mereka lebih peka terhadap sesama. Hubungan timbal balik antar masyarakat dan penyuluh pertanian terjalin dalam kegiatan-kegiatan dalam program tersebut. penyuluh memberikan bantuan yang merupakan kebutuhan dari masyarakat sehingga program tersebut menarik perhatian masyarakat untuk ikut serta dalam melancarkan promram tersebut dan masyarakat pentanipun mendapatkan haknya.
2. Teori yang berkaitan dengan Modal Sosial Penyuluhan Pertanian
Sesuai dengan pembahasan modal sosial penyuluhan pertanian di desa cendana putih kecaman mappedeceng kabupaten luwu utara ada beberapa teori yang sangat berkaitan yaitu:
1. Teori komunikasi (Burhan, 2006)
Teori ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana masyarakat penati percaya kepada program-program penyuluh pertanian yang dilakukan oleh penyuluh dengan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat tani dan hanya kelompok tani yang percaya terhadap penyuluh pertanian sehingga penyuluh harus pandai berkomunikasi kepada petani.
Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau komunikasi dari seseorang ke orang lain. Sosiologi komunikasi menurut Soerjono Soekanto (1992) dalam burhan (2006), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalm mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau komunikasiyang menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Sebelumnya telah dituliskan bahwa”komunikasi”di artikan sebagai suatu pernyataan antar manusia, baik secara ,perorangan maupun secara berkelompok, yang sifatnya umum dengan menggunakan lembanga-lembaga tertentu. Kalau pengertian ini dikaitkan dengan bidang pertanian maka komunikasih pertanian adalah suatu pernyataan antar manusia yang berkaitan dengan dibidang pertanian, baik secara perorangan maupun secara
berkelompok yang sifatnya umum dengan menggunakan lembaga-lembaga tertentu seperti yang dijumpai pada metode penyuluhan. Komunikasi pertanian bukan saja dimasukan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku komunikan seperti yang sering ditemui dalam metode penyuluahn pertanian, tetapi lebih dari itu dalam sejahra perkembangannya sering dipengaruhi dan dimonopoli oleh pihak pemberi pesan, sehingga model komunikasi pertanian yang demikian sering dikenal dengan istilah”model linear”.model linear beranggapan bahwa informasih penelitian yang diberikan kepada komunikan dapat dikatankan berhasil kalau pihak pemberi pesan (komunikator) dapat menyampaikan pesannya kepada komunikan. Hal ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana masyarakat penati percaya kepada program-program penyuluh pertanian yang dilakukan oleh penyuluh dengan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat tani dan hanya kelompok tani yang percaya terhadap penyuluh pertanian sehingga penyuluh harus pandai berkomunikasi kepada petani.
2. Teori Konstruksi Sosial (Poloma, 1994)
Teori ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana Dalam teori konstruksi sosial Peyuluhan pertanian dilakukan karna melihat konstruksi realita sosial yang ada pada masyarakat desa, bisa lebih membangun di bandingkan sebelumnya, dengan melakukan kerja sama yang dilakukan bersama untuk meningkatkan suatu perekonomian demi kesejahtraan masyarakat desa.
Membahas teori konstruksi sosial (social construction),tentu tidak bias terlebas dari bangunan teoritiik yang telah di kemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas lucman. Berger dan Luckmann (1990; 1) mulai menjelaskan relitas sosial dengan memisahkan pemahaman “kenyataan” dan
“pengetahuan”. Relitas diartiakan sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan di definisikan sebagai kepastian bahwa realitas-relitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.
Berger dan luckmann (1990: 61) mengatakan, institusi masyarakat tercipta dan diperhatikan atau diubah melalui tindakan dan interksi manusia.
Meskipun masyarakat dan instruksi sosial terlihat nyata secara objektif, namun pada kenyataan semua dibangun dalam definisi subjektif melaui proses interksi. Kata Burger dan Luckmann (1990: 61) terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakt dan masyarakat menciptakan individu.
Dalam teori konstruksi sosial Peyuluhan pertanian dilakukan karna melihat konstruksi realita sosial yang ada pada masyarakat desa, bisa lebih membangun di bandingkan sebelumnya, dengan melakukan kerja sama yang dilakukan bersama untuk meningkatkan suatu perekonomian demi kesejahtraan masyarakat desa. Sesuai dengan istilah konstruksi sosial atas realitas (sosial construction of reality) yang di definisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimna individu mencuptakan secara
terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.(poloma,2004:301). Hal ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana Dalam teori konstruksi sosial Peyuluhan pertanian dilakukan karna melihat konstruksi realita sosial yang ada pada masyarakat desa, bisa lebih membangun di bandingkan sebelumnya, dengan melakukan kerja sama yang dilakukan bersama untuk meningkatkan suatu perekonomian demi kesejahtraan masyarakat desa.
3. Teori Desa (Salam, 2012)
Teori ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana masyarakat desa di identikkan dengan masyarakat petani dan bermata pencaharian dari hasil pertanian.
Desa adalah komunoitas masyarakat yang tinggal di dalam satu adaerah yang sama, dlam kurung waktu yang cukup lama, bersatu bersama-sama, memiliki ikatan yang kuat dan sangat mempengaruhi satu sama lain.
Pada masyarakat desa cenderung lebih mempertahankan nilai-nilai terdisional yang dipahaminya. Ini dikarenakan pada masyarakat desa tradisi itu masih sangat dipelihara dan kental. Pada umumnya masyarakat desa diidentikkan dengan masyarakat petani, dan tak heran jika masyarakat pedesaan dominan bermata pencaharian dari hasil pertanian. Masyarakat desa juga sangat menghargai prinsip solidaritas dan nilai-nilai gotong royong.
Talcon parson (poloma, 1994:174) menggambarkan desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal cirri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubunganya dengan perasaan kasih saying, cinta, kesetiaan dan kesamaan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain yang menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitumereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjilkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu.
Perasaan subyektif, perasaan kebersaman sesungguhnya yanghanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.
d. Akspirasi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama antara hubunagan pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit.
Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk
menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut dapat dillihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh fari luar.
Masyarakat pedesaan mempunyai sifat yang kaku tapi sangatlah ramah.
Biasanya norma dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tetapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berfikir maju dan keluar dari hakikat itu.
Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan oranglain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan tetapi kenyatannaya adalah sebaliknya. Di era modernisasi ini,masyarakat desapun ikut andil dalam memanfaatkan teknologi yang dapat membantu mengefisienkan pekerjaanya. Ini merupakan perubahan yang nayata terhadap pola pikir dan tindakan masyarakat desa walaupun tidak dapat dipingkiri prosesnya setahap demi setahap. Bersinergisnya desa dengan lingkungan sekitar merupakan proses alamiah masyarakat desa. Hal ini sangat berkaitan dengan hasil yang ada di lapangan dimnana masyarakat desa di identikkan dengan masyarakat petani dan bermata pencaharian dari hasil pertanian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Terdapat berbagai modal sosial masyarakat di Desa Cendana Putih dalam Program Penyuluhan Pertanian. Modal sosial dapat dilihat dari sikap dan perilaku masyarakat antara kelompok. Trust (kepercayaan) terbentuk dalam interaksi antara sesama petani, Masyarakat, Pemegang kepentingan, network (jaringan) memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, sehingga tumbuh kepercayaan dan memperkuat kerjasama reciprocal (timbal balik) yang saling menguntungkan
. Modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama. Modal sosial memiliki peran yang sangat penting pada beberapa kelompok masyarakat dalam berbagai aktivitas. Seperti halnya modal fisik dan modal finansial, modal sosial juga merupakan modal dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari suatu komunitas masyarakat.
Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya memberikan pendapat sehingga dapat membuat keputusan yang benar. Kegiatan tersebut dilakukan oleh seseorang yang disebut penyuluh pertanian
73
B. Saran
1. Perlu sering dilakukan upaya pemberian informasi yang lebih intensif kepada masyarakat. Komunikasi yang dibangun oleh pengelola kepada masyarakat hendaknya dilakukan secara simultan baik secara personal maupun kolektif.
2. Perlu dilakukan evaluasi dan musyawarah yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan desa yang bersangkutan.
3. Sebaiknya dilakukan ketelitian dari pihak pemangku kepentingan desa dalam memilih calon penerima bantuan sehingga tidak terjadi rasa kecemburuan sosial dan ketidakadilan antarmasyarakat penerima bantuan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Undang Undang Republic Indonesia Nomer 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, dan Kehutanan. Departemen Pertanian Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana
Dewanti Hajar. 2015. Modal Sosial pada Corporate Social Responsibility Program Mitra Desa Mandiri pada PT.Vale Desa Matompi Kecamatan Towuti.
Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Hanugrah. 2012. Kajian Teori dan Kerangka Pikir dalam http://eprints.uny.ac.id/8790/3/BAB%202%20-%2008413244020.pdf
[Diakses tanggal 07 mei 2015].
Hasbullah, J. 2006. Sosial Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia).
Jakarta: MR United Press
Hutabarat Rikki. 2011. Sikap Petani Terhadap Materi Dan Media Penyuluhan Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dalam https://www.google.co.id/search?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8397705006 diakses tanggal 19 mei 2015
Inayah. 2012. Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan dalam.
http://www.polines.ac.id/ragam/index_files/jurnalragam/paper_6%20apr%202 012.pdf [Diakses tanggal 07 mei 2015].
Khoirul Anam.2013. Identifikasi modal sosial dalam kelompok tani dan implikasinya terhadap kesejahteraan anggota kelompok tani. Skripsi. Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaja Malang.
Kusnadi tarya. 1994. Teknik Penyuluhan Pertanian. Universitas Terbuka. Makassar Moleong, Lexy J. 2007 . Metode Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mahbub, A. 2000. Metode Penyuluhan Kehutanan. Makassar: Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Novianti Dwi. 2013. Sejarah dan pengertian penyuluhan pertanian dalam https://rismajayanti.wordpress.com/2012/01/15/penyuluhan/
75
Poloma, M. Margaret.1994. sosiologi kontemporer. Jakarta: PT Raja Gafindo Persada Ruddy Agusyanto. 2007. Jaringan Sosial dalam Organisasi. Jakarta: Raja
Salam Darmawan. 2012. Sosiologi desa. Makassar: Ininnawa
Soekartawi. 2005. komunikasi pertanian universitas Indonesia. Jakarta
Sugihantono. 2013. Modal Sosial Dan Partisipasi Masyarakat dalam http://pusdiklat.bnpb.go.id/home/Downloads/Materi-PelaithanMRR/4.a.%20 MODAL%20SOSIAL%20final%20Pak%20Anung.pdf. [Diakses tanggal 07 mei 2015].
Sugiyono. 2008.Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Syahputra. 2012. Kajian Pustaka. Buku ajar Universitas Sumatera Utara dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30469/3/Chapter%20II.pdf.
[Diakses tanggal 07 mei 2015].
van den Ban, A.W. dan Hawkins H.S. 1998. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: PT Kanisius
66
A. Identitas Responden No. urut responden : Tanggal Wawancara :
Nama Responden :
Umur :
Jenis Kelamin :
Agama :
Status : a. Menikah
b. belum menikah
Pekerjaan : a. Pokok :
b. Sampingan : Jumlah Anggota keluarga :
Jumlah Tanggungan : Pendidikan Terakhir :
B. Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyuluhan
1. Apakah anda tahu tentang Penyuluhan ?
2. Apa saja manfaat yang anda rasakan dengan adanya program-program Penyuluhan Pertanian?
5. Apa ada kritikan atau saran terhadap program-program kerja Penyuluhan terhadap masyarakat tani dan lingkungan sekitar?
C. Modal Sosial Terhadap Penyuluhan Pertanian
1. Apakah anda percaya terhadap Program Penyuluhan Pertannian dapat menguntungkan masyarakat ?
2. Apakah Penyuluhan Pertanian telah jujur dalam pemberian bantuan ke masyarakat ? bagaimana tanggapan anda?
3. Apakah telah ada hubungan timbal balik antara penyuluh dan Masyarakat Tani ?
4. Bagaimana partisipasi masyarakat desa terhadap pelaksanaan program Penyuluhan Pertanian ? 5. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang kerjasama masyarakat tani terhadap pelaksanaan
program Penyuluhan Pertanian ?
Umur : 44 Tahun Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikah
Pekerjaan : Kepala Desa
2. Nama : Asnah.SP
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin :Perempuan
Status : Menikah
Pekerjaan : Penyuluh 3. Nama : Baharuddin
Umur : 43 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikah
Pekerjaan : Petani dan pmpm 4. Nama : Kasianto
Umur : 53 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikah
Pekerjaan : petani dan ternak sapi 5. Nama : Aa’saepuddin
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikah
Pekerjaan : Petani
6. Nama : Aswar
Umur : 32 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikah
Pekerjaan : petani dan wiraswasta
Pekerjaan : Petani
8. Nama : Naim
Umur : 31 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Belum menikah Pekerjaan : petani
9. Nama : maimun
Umur : 62 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : menikah
Pekerjaan : petani
10. Nama : Hidayat
Umur : 43 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : Menikh
Pekerjaan : Petani 11. Nama : Supriadi
Umur : 52 tahun
Jenis kelamin :laki-laki
Status : menikah
Pekerjaan :petani
Wawancara dengan bapak Desa Imam muslich di kantor Desa 22 Agustus 2015
Dokumentasi pada saat observasi di kantor penyuluhan pertanian pada tanggal 7 juli 2015
Wawancara dengan bapak Baharuddin pada tanggal 10 juli 2015
Wawancara dengan bapak maimun pada tanggal 12 agustus 2015
Wawancara dengan bapak kasianto 8 agustus 2015
Wawancara dengan bapak Hidayat 10 agusus 2015
Wawancara dengan bapak Aa’saefuddin pada tanggal 11 agustus 2015
Wawancara dengan bapak supriadi pada tanggal 12 agustus 2015
Dokumentasi di kantor penyuluhan pertanian
Dokumentasi di kantor penyuluh pertanian