BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
5.2.1 Distribusi responden berdasarkan umur, masa kerja, lama pajanan,
dan penggunaan alat pelindung telinga
Distribusi responden berdasarkan umur didapatkan dari 22 responden, sebanyak 12 responden (54,5%) berumur kurang dari 40 tahun, sedangkan 10 responden (45,5%) berumur 40 tahun atau lebih. Hal ini menunjukkan hanya sedikit perbedaan jumlah sampel yang berumur kurang dari 40 tahun dengan pekerja yang berumur 40 tahun atau lebih. Karena umur akan terus bertambah, maka penting diberikan batasan usia pensiun bagi pekerja. Dengan adanya batas pensiun, maka pekerja uang sudah mencapai umur pensiun yang secara fisik sudah banyak mengalami penurunan, tidak lagi harus terpapar oleh kondisi lingkungan kerja yang membahayakan bagi kesehatan fisik maupun mental (Arini, 2005).
Distribusi responden berdasarkan masa kerja didapatkan dari 22 responden, sebanyak 11 responden (50%) sudah bekerja selama 5-10 tahun, sedangkan 11 responden (50%) sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun. Hal ini menunjukkan
tidak ada perbedaan jumlah sampel yang bekerja 5-10 tahun dengan jumlah sampel yang bekerja sudah lebih dari 10 tahun. Berdasarkan teori, paparan kebisingan setelah 10-15 tahun dapat menyebabkan kenaikan ambang pendengaran yang merupakan salah satu indikasi terjadinya gangguan pendengaran (Arini, 2005).
Distribusi responden berdasarkan lama pajanan didapatkan dari 22 responden, sebanyak 12 responden (54,5%) bekerja di ruang mesin rata-rata 2-3 jam/ hari dan sebanyak 10 responden (45,5%) bekerja di ruang mesin rata-rata 4-6 jam/ hari. Hal ini menunjukkan hanya sedikit perbedaan jumlah sampel yang bekerja 2-3 jam/hari dengan yang bekerja 4-6 jam/ hari. Kejadian gangguan pendengaran umumnya terjadi setelah terpapar bising lebih dari 5 tahun. Gangguan pendengaran yang terjadi lebih awal kemungkinan disebabkan berbagai macam faktor antara lain: kerentanan subjek terhadap bising, tipe kebisingan, jarak telinga dari sumber bunyi (Meyer, 1997).
Distribusi responden berdasarkan penggunaan alat pelindung telinga didapatkan dari 22 responden, sebanyak 5 responden (22,7%) menggunakan alat pelindung telinga saat bekerja, sedangkan 17 responden (77,3%) tidak menggunakan alat pelindung telinga saat bekerja. Secara umum, terdapat 3 macam alat pelindung telinga, yaitu sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff), dan pelindung kepala (helmet) (Bashiruddin J, 2009). Alat pelindung telinga yang digunakan oleh para pekerja di PT Pelindo Cab. Belawan berupa sumbat telinga (ear plug). Ear plug mempunyai kemampuan mengurangi paparan kebisingan sebesar 5 dB. Intensitas kebisingan di tempat kerja berkisar antara 92-97 dB sehingga terdapat kelebihan intensitas yang diterima oleh pekerja. Selain itu, para pekerja mengaku tidak nyaman jika menggunakan ear plug saat bekerja sehingga kebanyakan pekerja tidak menggunakan ear plug saat bekerja.
5.2.2 Distribusi responden berdasarkan jenis gangguan pendengaran
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan dari 22 responden, responden yang pendengarannya normal pada telinga kanan sebanyak 8 (36,4%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 10 (45,5%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran konduktif pada telinga kanan sebanyak 3 (13,6%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 2 (9,1%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural pada telinga kanan sebanyak 3 (13,6%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 2 (9,1%) responden, dan responden yang mengalami gangguan pendengaran campuran pada telinga kanan sebanyak 8 (36,4%) responden,sedangkan pada telinga kiri sebanyak 8 (36,4%) responden.
Distribusi paling banyak adalah responden dengan pendengaran normal. Hal ini disebabkan para pekerja bekerja dibagian mesin dengan waktu yang tidak terlalu lama yaitu hanya sekitar 2-6 jam/ hari dengan interval waktu hanya 30-45 menit berada di dalam ruang mesin. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No. SE-01/MEN/1978 menyatakan nilai ambang batas untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi dan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu terus-menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggu (Buchari,2007). Sedangkan distribusi terbanyak kedua adalah gangguan pendengaran campuran. Gangguan pendengaran campuran adalah kondisi dimana gangguan pendengaran mempunyai unsur konduktif dan sensorineural dimana hasil pemeriksaan audiometri menunjukkan hantaran tulang lebih dari 25 dB, hantaran udara lebih besar dari hantaran tulang, dan terdapat gap. Hal ini disebabkan para pekerja mengalami gangguan telinga luar atau telinga tengah disertai dengan gangguan pendengaran akibat kebisingan lingkungan kerja.
Sesuai dengan laporan tahunan balai Hiperkes Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2004, hasil pengukuran pada 76 perusahaan menunjukkan 33,2% intensitas bising berada diatas nilai ambang batas (> 85 dB), kehilangan
pendengaran 89,9% dengan tipe gangguan yang menonjol adalah tipe campuran (43,5%) dan konduktif (46,4%) (Mallapiang, 2008).
Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang jenis-jenis gangguan pendengaran berdasarkan etiologi gangguan pendengaran di RSUP. H. Adam Malik Tahun 2009 berdasarkan hasil pemeriksaan audiometri, dari 54 pasien didapatkan sebanyak 44 orang (81,5%) mengalami gangguan pendengaran konduktif, sebanyak 2 orang (3,7%) mengalami gangguan pendengaran sensorineural, sedangkan sebanyak 8 orang (14,8%) mengalami gangguan pendengaran campuran (Yathavan, 2011).
5.2.3 Distribusi responden berdasarkan derajat gangguan pendengaran
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan dari 22 responden, responden yang pendengarannya normal pada telinga kanan sebanyak 8 (36,4%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 11 (50%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran ringan pada telinga kanan sebanyak 6 (27,3%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 2 (9,1%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran sedang pada telinga kanan sebanyak 4 (18,2%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 3 (13,6%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran sedang berat pada telinga kanan sebanyak 3 (13,6%) responden, sedangkan telinga kiri sebanyak 2 (9,1%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran berat pada telinga kanan sebanyak 1 (4,5%) responden, sedangkan pada telinga kiri sebanyak 3 (13,6%) responden, responden yang mengalami gangguan pendengaran sangat berat pada telinga kanan tidak ada (0%) responden, sedangkan pada telinga kiri sebanyak 1 (4,5%) responden.
Berdasarkan hasil pemeriksaan audiometri didapatkan distribusi terbanyak adalah responden dengan pendengaran normal (10-25 dB) dan gangguan pendengaran ringan (26-40 dB). Hal ini dikarenakan ada jeda antara paparan bising sebelumnya dengan paparan bising berikutnya sehingga kerusakan sel-sel rambut masih bersifat reversible. Jika paparan kebisingan melebihi nilai ambang
batas (> 85 dB) secara terus-menerus akan menyebabkan kerusakan sel-sel rambut permanen (irreversible) (Arini, 2005).
Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang jenis-jenis gangguan pendengaran berdasarkan etiologi gangguan pendengaran di RSUP. H. Adam Malik Tahun 2009 berdasarkan hasil pemeriksaan audiometri, dari 54 pasien didapatkan derajat penurunan pendengaran tertinggi adalah no impairment
sebanyak 24 orang (44,4%), yaitu akibat infeksi sebanyak 23 orang dan presbikusis sebanyak 1 orang. Sebanyak 10 orang (18,5%) mengalami mild impairment akibat infeksi. Sebanyak 11 orang (20,4%) mengalami moderate impairment akibat infeksi. Sebanyak 7 orang (13%) mengalami severe impairment
akibat infeksi sebanyak 6 orang dan tumor sebanyak 1 orang. Sedangkan derajat penurunan pendengaran terendah adalah profound impairment (including deafness) sebanyak 2 orang (3,7%) yaitu akibat infeksi dan paparan bising masing-masing sebanyak 1 orang (Yathavan, 2011).