• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.5. Teknik Pengumpulan Data

III.7 Proses Pengolahan Data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Analisis Tabel Tunggal IV.2 Analisis Tabel Silang IV.3 Uji Hipotesis

IV.4 Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan

V.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

26 BAB II

URAIAN TEORITIS

II.1. KOMUNIKASI

Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini kemudian memaksa manusia untuk berkomunikasi. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat.

Wilbur Schramm (1982) menyebut bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi (Cangara, 2006: 1).

Harold D. Lasswell (Cangara, 2006: 2-3) menyebutkan terdapat tiga penyebab yang mendorong manusia untuk berkomunikasi, yaitu:

1. Adanya hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa, bahkan manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.

2. Upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi dalam hal ini bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi

27

tanggapan terhadap gejala alam, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan.

3. Upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan seperti di keluarga, sekolah, pemerintahan, dan media massa.

Karena komunikasi merupakan suatu keinginan dasar yang dibawa oleh setiap manusia dan bahkan seluruh makhluk hidup, maka dapat dikatakan komunikasi itu sendiri telah muncul semenjak adanya kehidupan pertama di dunia ini, yang kemudian mengalami perkembangan cukup pesat semenjak adanya manusia. Komunikasi turut membentuk peradaban sehingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini.

Wilbur Schramm mengatakan istilah komunikasi (communication) berasal dari bahasa Latin communicatio yang berdasar dari communis yang berarti sama. Dalam bidang komunikasi, sama ini berarti ‘memiliki kesamaan makna’. Komunikasi adalah tindakan menyampaikan informasi, ide-ide, dan sikap dari satu orang ke orang yang lain (Warren, Philip & Edwin, 1988: 34).

Sedangkan Sir Gerald Barry manyatakan bahwa kata communication berasal dari bahasa Latin communicare yang artinya “berbicara, dialog, berkonsultasi bersama”, dan kata ini masih memiliki hubungan erat dengan kata communitas yang artinya “bukan hanya komunitas tapi juga kebersamaan dan keadilan dalam aktifitas-aktifitas manusia antara yang satu dengan yang lainnya” (Purba, dkk, 2006: 30). Dapat dilihat Schramm dan Barry memiliki suatu hakekat atau pengertian yang sama terhadap komunikasi.

Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan

28

pendapat dan sikap. Ia juga mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (Effendy, 1993: 10).

Charles H. Cooley dalam bukunya The Significance of Communication berpendapat bahwa dengan komunikasi adalah dimaksud, mekanisme melalui mana hubungan manusia terjadi dan berkembang segala lambang dari pemikiran dengan alat-alat penyampaian dan cara menjaganya melalui ruang dan waktu. Ia meliputi ekspresi muka, sikap dan gesture, nada suara, kata-kata, tulisan, lukisan, kereta api, telegrap, telepon, dan segala apa yang dapat disebut sebagai hasil usaha menaklukkan ruang dan waktu (Lubis, 2007: 9).

Berger dan Chaffee (1987) mengemukakan ilmu komunikasi adalah ilmu pengetahuan tentang produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang (Senjaya, 2007: 1.10).

Raymond S. Ross (1974) mendefinisikan komunikasi sebagai proses transaksional yang meliputi pemisahan, dan pemilihan bersama lambang secara kognitif, begitu rupa sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri arti atau respons yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber (Rakhmat, 2007: 2). Definisi ini sejalan dengan definisi komunikasi yang diungkapkan Berelson dan Steiner (1964), yang menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol, seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain (Senjaya, 2007: 1.22).

Berdasar pada konsep pemahaman, Anderson (1959) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh

29

orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku.

Harold Lasswell dalam bukunya The Structure and Function of Communication in Society mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? atau ‘Siapa mengatakan Apa dengan Saluran apa kepada Siapa dengan Efek apa?’ (Effendy, 1993: 10).

II.1.1. Unsur-Unsur Komunikasi

Untuk menggambarkan jalannya proses komunikasi, maka dibuatlah sebuah model yang dikembangkan oleh Joseph DeVito, K.Sereno dan Erika Vora yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.1

Model Komunikasi DeVito

Penjelasan mengenai unsur-unsur dalam proses komunikasi diatas adalah sebagai berikut:

1. Sumber (source) adalah orang yang mempunyai suatu kebutuhan untuk berkomunikasi. Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi

SUMBER PESAN MEDIA PENERIMA EFEK

UMPAN BALIK

30

bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga.

2. Pesan (message) adalah sesuatu yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Pesan disampaikan dengan terlebih dahulu melalui proses penyandian (encoding), yaitu suatu proses internal yang ada dalam diri pengirim pesan dimana perasaan dirubah kedalam bentuk sandi/lambang/simbol yang dapat diterima oleh penerima, seperti melalui suara, gerakan maupun tulisan. Pada saat pesan sampai pada diri penerima pesan, sandi/lambang/simbol tersebut akan disandi kembali (decoding) sehingga pesan yang disampaikan memiliki makna bagi penerima.

3. Media atau saluran (channel) adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Terdapat beberapa pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang menilai bahwa media bisa bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi antarpribadi, panca indera dianggap sebagai media komunikasi. Selain indera manusia, ada juga saluran komunikasi seperti telepon, surat, telegram yang digolongkan sebagai media komunikasi.

4. Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai, atau masyarakat. Dalam proses

31

komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat dari adanya sumber. Tidak ada penerima apabila tidak ada sumber.

Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena penerima merupakan objek yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang seringkali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan, atau saluran.

5. Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang (De Fleur, 1982). Karena itu, pengaruh juga bisa diartikan sebagai perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.

6. Umpan balik (feedback). Terdapat beberapa anggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meskipun pesan belum sampai pada penerima. Misalnya adalah gangguan pada saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan sebelum pesan sampai kepada penerima. Hal ini menjadi umpan balik yang diterima oleh sumber.

7. Lingkungan atau situasi, adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan

32

atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.

• Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi kalau tidak terdapat rintangan fisik, misalkan rintangan geografis. Komunikasi seringkali sulit dilakukan karena faktor jarak yang begitu jauh, dimana tidak tersedia fasilitas komunikasi seperti telepon, kantor pos atau jalan raya.

• Lingkungan sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi dan politik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan status sosial.

• Dimensi atau lingkungan psikologis adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi. Misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain, menyajikan materi yang sesuai dengan usia khalayak. Dimensi psikologis ini biasa disebut dimensi interval.

• Dimensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakukan kegiatan komunikasi. Banyak proses komunikasi tertunda karena pertimbangan waktu, misalnya musim.

Setiap unsur komunikasi diatas salng bergantung satu sama lainnya. Tanpa adanya salah satu unsur, akan mempengaruhi jalannya komunikasi secara keseluruhan.

33 II.1.2. Efek Komunikasi

Efek adalah tanggapan, respon, atau reaksi dari komunikan ketika ia atau mereka menerima pesan dari komunikator. Jadi efek adalah akibat dari proses komunikasi (Effendy, 1989: 16).

Efek dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

a. Efek Kognitif (Cognitive Effect)

Terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsi oleh khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi, misalnya terjadi peningkatan pengetahuan, kemampuan, intelektual yang semakin baik, wawasan yang semakin luas, meningkatnya kemampuan menganalisis atau melakukan evaluasi dan sebagainya.

b. Efek Afektif (Affective Effect)

Timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap atau nilai. Dengan kata lain efek dikategorikan sebagai efek afektif jika menyangkut perasaan seseorang sesuai dengan ajakan atas himbauan dalam pesan yang diterima misalnya jika sebelumnya seseorang memiliki sikap tertutup (overt) dan prejudice interpersonal terhadap orang lain yang berasal dari luar sistem sosialnya berubah menjadi seseorang yang lebih terbuka dan bersikap positif dan tidak menaruh curiga setelah berkomunikasi dengan orang lain misalnya opinion leader-nya.

c. Efek Konatif / Behavioral (Conative Behavioral Effect)

Efek ini merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati meliputi pola-pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan perilaku sebagai dampak atau pengaruh

34

dari sebuah proses komunikasi yang ditandai adanya perubahan atau bertambahnya keterampilan yang dimiliki seseorang misalnya cara-cara mengoperasikan mesin traktor pertanian baru bagi petani, kemampuan verbal seperti meningkatnya keterampilan berbahasa Inggris, dan sebagainya.

Efek komunikasi yang timbul pada diri komunikan belum tentu sama pada setiap orang. Hal ini terjadi karena manusia memiliki sifat memilih terhadap pesan informasi. Seperti yang dikatakan oleh Kincaid dan Schramm (1985: 11), yaitu: sifat memilih yang terkandung dalam proses informasi menunjukkan bahwa tidak pernah pengalaman dua orang yang manapun tepat sama. Bahkan dua orang yang kelihatannya saling berbagi pengalaman yang sama tidak akan mengalami semua hal yang sama pada saat bersamaan. Begitu pula mereka tidak akan melakukan penafsiran yang sama. Hal ini disebabkan karena orang yang satu memusatkan perhatian memilih atau memperhatikan hal-hal yang lain.

Selain memilih terhadap informasi, efek komunikasi yang timbul pada diri komunikan juga biasanya dipengaruhi oleh kerangka referensi (frame of reference) dan kerangka pengalaman (frame of experience). Dalam rangka referensi segala hal-hal baru akan diletakkan, tiap kali pengalaman-pengalaman baru itu datang. Dengan demikian bila seseorang itu dirangsang oleh suatu pesan, maka pesan itu dikonfrontasikan dengan referensi, apakah kemudian semua pesan itu akan diterima atau ditolak.

II.1.3. Tujuan dan Fungsi Komunikasi

Komunikasi memiliki tujuan dan fungsi dalam menyampaikan pesan-pesannya (Amir, 2006: 37), yaitu:

35

a. Tujuan Komunikasi

1) Untuk mengubah sikap (to change the attitude)

2) Untuk mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) 3) Untuk mengubah perilaku (to change the behavior)

4) Untuk mengubah masyarakat (to change the society) b. Fungsi Komunikasi

1) Menginformasikan (to inform) 2) Mendidik (to educate)

3) Menghibur (to entertain) 4) Mempengaruhi (to influence)

II.2. KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi memiliki banyak jenis dan ragam, tergantung dari media, isi pesan, kondisi komunikator dan komunikan, dan sebagainya. Komunikasi massa merupakan salah satu jenis kegiatan komunikasi yang memungkinkan pesan atau informasi untuk dapat diterima secara serentak dalam suatu waktu dan tempat, dengan menggunakan media penghubung tertentu. Massa dalam komunikasi massa merujuk pada sifat khalayak, audience, penonton, pemirsa atau pembaca.

Komunikasi massa adalah proses menyampaikan informasi, ide-ide, dan sikap kepada audiens yang luas dan beragam melalui penggunaan media yang dikembangkan untuk tujuan tersebut (Warren, Philip & Edwin, 1988: 35).

Komunikasi massa merupakan suatu proses yang sangat kompleks yang di dalamnya meliputi hubungan antara publik dan sarana saluran. Beberapa aspek di dalam komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi yang secara keseluruhan masuk kepada kelompok organisasi massa (Suwardi, 2007: 33).

36

Menurut Gerbner (1967) komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri (Elvinaro, 2004: 4).

Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) mendefinisikan pengertian komunikasi massa sebagai sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim dan heterogen (Nurudin, 2004: 11).

Berdasarkan definisi-definisi diatas, maka komunikasi massa dapat diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan dalam waktu bersamaan.

II.2.1. Karakteristik Komunikasi Massa

Seseorang yang akan menggunakan media massa sebagai alat untuk melakukan kegiatan komunikasinya perlu memahami karakteristik komunikasi massa (Effendy, 1993:81-83), yaitu:

a. Komunikasi massa bersifat umum

Yaitu pesan komunikasi yang disampaikan melalui media massa adalah terbuka untuk semua orang.

b. Komunikan bersifat heterogen

Yaitu massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda, dengan kebudayaan yang beragam, berasal dari berbagai lapisan masyarakat, dan sebagainya.

37

Yaitu keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut berada dalam keadaan terpisah.

d. Hubungan komunikator-komunikan bersifat non-pribadi

Karena komunikan yang anonim dicapai oleh orang-orang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator.

II.2.2. Proses Komunikasi Massa

Proses komunikasi massa dapat dipahami dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Siapa (Who), Berkata Apa (Says What), Melalui Saluran Apa (In Which Channel), Kepada Siapa (To Whom), dan Dengan Efek Apa (With What Effect?).

Ungkapan dalam bentuk pertanyaan yang dikenal sebagai Formula Laswell ini, meskipun sangat sederhana atau terlalu menyederhanakan suatu fenomena komunikasi massa, telah membantu mengorganisasikan dan memberikan struktur pada kajian terhadap komunikasi massa. Selain dapat menggambarkan komponen-komponen dalam proses komunikasi massa, Laswell sendiri menggunakan formula ini untuk membedakan berbagai jenis penelitian komunikasi. Adapun penerapan Formula Laswell dalam komunikasi massa dapat dilihat dalam visualisasi berikut (Senjaya, 2007: 5.5):

38

Gambar 2.2

Proses Komunikasi Massa Lasswell

II.2.3. Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi komunikasi massa adalah sebagai berikut (Bungin, 2009: 79-81):

a. Fungsi Pengawasan

Media massa merupakan sebuah medium di mana dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

b. Fungsi Social Learning

Dengan efek apa Efek Analisis efek Kepada siapa Penerima Analisis audiens Melalui saluran apa Media Analisis media Berkata apa Pesan Analisis pesan Siapa Komunikator Control Studies

39

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung. Komunikasi massa dimaksudkan agar proses pencerahan itu berlangsung efektif dan efisien dan menyebar secara bersamaan di masyarakat secara luas.

c. Fungsi Penyampaian Informasi

Komunikasi massa yang mengandalkan media massa, memiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

d. Fungsi Transformasi Budaya

Komunikasi massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa. Fungsi ini lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari budaya global.

e. Fungsi Hiburan

Fungsi lain dari komunikasi massa adalah hiburan. Komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yanga

40

ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

Sedangkan Schramm menyebutkan bahwa komunikasi massa memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut:

a. Surveillance of the environment (Pengamatan terhadap lingkungan) Fungsinya sebagai pengamatan lingkungan, oleh Schramm disebut sebagai decoder yang menjalankan fungsi The Watcher (pengawasan). Penyikapan ancaman dan kesempatan yang mempengaruhi nilai masyarakat dan bagian-bagian unsur didalamnya (Effendy, 1993: 27). b. Correlation of the parts of society in responding to the environment

(Korelasi unsur-unsur masyarakat ketika menanggapi lingkungan) Fungsinya adalah menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungan. Schramm menamakan fungsi ini sebagai interpreter yang melakukan fungsi The Forum (musyawarah).

c. Transmission of the social heritage from one generation to the next (Penyebaran warisan sosial dari satu generasi kepada generasi berikutnya)

Fungsinya penerusan atau pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Schramm menamakan fungsi ini sebagai encoder yang menjalankan fungsi The Teacher (mendidik). Disini berperan pada pendidik, baik dalam kehidupan rumah tangganya maupun di sekolah, yang meneruskan warisan sosial kepada keturunan berikutnya. d. Entertainment (Hiburan)

41

Fungsi ini ditambahkan oleh Charles R. Wriht, menunjuk pada kegiatan-kegiatan komunikatif yang dimaksud untuk memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu (Wiryanto, 2000: 11).

II.2.4. Efek Komunikasi Massa

Menurut Steven M. Chaffe (Ardianto, 2004 :49) efek komunikasi massa, dalam hal ini bisa disamakan dengan efek media massa dapat dilihat dari berbagai pendekatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan media massa yang berkaitan dengan pesan atau media itu sendiri. Pendekatan kedua yaitu dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak yaitu komunikasi massa yang berupa perubahan sikap, perasaan dan prilaku atau dengan istilah lain dikenal sebagai perubahan kognitif, afektif, behavioral.

a. Efek komunikasi massa yang berkaitan dengan pesan atau media itu sendiri:

1) Efek Ekonomi

Kehadiran media massa ditengah kehidupan manusia dapat menumbuhkan berbagai usaha prosuksi, distribusi dan konsumsi jasa media massa. Keberadaan televisi baik televisi pemerintah maupun televisi swasta dapat memberikan lapangan pekerjaan kepada sarjana ilmu komunikasi, para juru kamera, pengarah acara, juru rias, dan profesi lainnya.

2) Efek Sosial

Efek sosial berkaitan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial sebagai akibat dari kehadiran media massa. Sebagai contoh misalnya kehadiran televisi dapat meningkatkan status dari pemiliknya.

42

3) Penjadwalan Kegiatan Sehari-hari

Terjadinya penjadwalan kegiatan sehari-hari, misalnya sebelum pergi ke kantor, masyarakat kota akan terlebih dahulu melihat siaran di televisi.

4) Efek Hilangnya Perasaan Tidak Nyaman

Orang menggunakan media massa untuk memuaskan kebutuhan psikologinya dengan tujuan menghilangkan perasaan tidak nyaman, misalnya untuk menghilangkan perasaan kesepian, marah, kesal, kecewa dan sebagainya.

5) Efek Menumbuhkan Perasaan Tertentu

Kehadiran media massa bukan saja dapat menghilangkan perasaan tidak nyaman pada diri seseorang, tetapi juga dapat menumbuhkan perasaan tertentu. Terkadang seseorang akan mempunyai perasaan positif atau negatif terhadap media tertentu.

b. Efek komunikasi massa yang berkaitan dengan perubahan pada diri khalayak:

1) Efek Kognitif

Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Efek ini membahas bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Melalui media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media adalah

43

realitas yang diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh lainnya.

• Efek Proporsional Kognitif

Efek proposional kognitif adalah bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televisi menyebabkan kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka televisi telah menimbulkan efek proposional kognitif.

2) Efek Afektif

Efek ini kadarnya lebih tinggi dari pada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan hanya sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih daripada itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah setelah menerima pesan dari media massa.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan dari media massa adalah sebagai berikut :

• Suasana emosional

Dokumen terkait