• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

2. Pembahasan

Menurut Departemen Kesehatan RI (1988) dalam Effendy (1998) keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Dengan demikian kedudukan keluarga merupakan inti yang paling penting dari masyarakat.

Pada dasarnya keluarga dijadikan unit pelayanan dalam mengatasi masalah kesehatan, karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarga sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai pemeliharaan kesehatan (Effendy, 1998).

Untuk melihat kemampuan keluarga dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan oleh keluarga. Tugas kesehatan keluarga tersebut antara lain : Mengenal gangguan masalah kesehatan setiap anggota keluarga, Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga, Memberikan perawan kepada anggota keluarganya yang sakit dan yang tidak dapat membantu dirinya karena cacat atau usianya yang terlalu muda, Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga dan mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan yang menunjukkan pemanfaatan dengan fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada. Pada penelitian ini, pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa di nilai dari lima aspek.

2.1. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Pada Suku Jawa dalam Mengenal Gangguan Masalah Kesehatan Setiap Anggota Keluarga.

Keluarga merupakan unit pelayanan dalam mengatasi masalah kesehatan. Dalam hal ini keluarga harus paham dan mengerti pengertian dari sehat – sakit. Berdasarkan hasil penelitian dari 28 keluarga menunjukkan bahwa 60,7% keluarga paham dengan pengertian sehat – sakit dan 60,7% keluarga selalu dapat membedakan kondisi sehat – sakit setiap anggota keluarga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syamsuddin (2009) yang dikutip dari hasil wawancara yang mengatakan bahwa : “Apabila seseorang tetap mampu menjalankan peran sosialnya seperti bekerja diladang, sawah, selalu gairah bekerja, gairah hidup, kondisi ini dikatakan sehat dan pada saat menjalankan kegiatan mulai terganggu, barulah dikatakan tidak sehat (sakit)”. Selain itu keluarga harus mengetahui perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya. Berdasarkan hasil penelitian dari 28 keluarga menyatakan bahwa 53,6% keluarga sering mengetahui perubahan yang terjadi jika timbul keluhan penyakit pada salah satu anggota keluarga yang sakit 53,6% keluarga selalu menanyakan keluhan yang dirasakan anggota keluarga yang sakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Setiadi (2005) yang mengatakan bahwa keluarga harus perhatian dengan perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarganya.

Pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa dalam mengenal gangguan masalah kesehatan keluarga sudah baik.

2.2. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Pada Suku Jawa dalam Mengambil Keputusan Untuk Melakukan Tindakan yang Tepat Bagi Keluarga.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,1% keluarga menyatakan selaku kepada keluarga yang berperan penting dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan 46,4% keluarga selalu menanyakan pendapat dari anggota keluarga yang lain untuk menentukan tindakan kesehatan yang tepat 78,6% keluarga selalu memberikan perawatan sederhana di rumah kepada anggota keluarga yang sakit sebelum dibawa ke puskesmas, bidan, atau rumah sakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendy (1998) yang mengatakan bahwa dalam mengatasi masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, yang mengambil keputusan dalam pemecahannya adalah tetap kepala keluarga atau anggota keluarga yang dituakan. Hal ini dibuktikan dengan hasil data demografi yang didapat 78,6% kepala keluarga berada pada usia 21 – 40 tahun dari 64,3% keluarga dengan pendidikan tamatan SMU. Kedua faktor ini mempengaruhi pola pikir seseorang, termasuk dalam mengambil keputusasn untuk mengatasi masalah kesehatan (Potter dan Perry, 2005) dan keluarga memberikan pertolongan kesehatan yang sederhana di rumah kepada anggota keluarganya yang sakit sebelum membawanya ke pelayanan kesehatan (Sudiharto, 2007).

Kemudian berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 39,3% keluarga yang menyatakan sering dalam mengatasi masalah kesehatan adalah Puskesmas, bidan atau rumah sakit 46,4% keluarga menyatakan sering keputusan yang diambil keluarga dapat mengatasi masalah kesehatan. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Syamsuddin (2009) yang dikutip dari wawancara mengatakan

bahwa : “Keluarga Jawa umumnya memiliki untuk menggunakan pengobatan tradisional yang menjadi penyembuhnya adalah para normal atau dukun”.

Pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga sudah baik.

2.3. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Pada Suku Jawa Dalam Memberikan Perawatan Kepada Keluarganya yang Sakit

Memberikan perawatan kepada keluarganya yang sakit dapat dilakukan di rumah atau membawanya ke pelayanan kesehatan untuk mendapat tindak lanjutan agar, tidak terjadi masalah yang lebih parah lagi (Setiadi, 2007). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,4% keluarga selalu membantu anggota keluarga yang sakit dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari 53,6% keluarga sering memperhatikan perkembangan kesehatan anggota keluarga yang sakit, 78,6% keluarga selalu memberikan perhatian yang lebih kepada anggota keluarga yang sakit, 75,0% keluarga selalu memberikan perawatan sederhana kepada anggota keluarga yang sakit. Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa di dalam sebuah keluarga harus memiliki rasa solidaritas yang tinggi antara sesama anggota keluarga, sehingga ketika salah satu anggota keluarga terserang suatu penyakit, maka tugas kesehatan keluarga dalam memberikan perawatan kepada keluarganya yang sakit dapat terlaksana dengan baik. Kemudian keluarga terbebas dari penyakit.

Pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa dalam memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit sudah baik.

2.4. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Pada Suku Jawa dalam Mempertahankan Suasana Rumah yang Menguntungkan Kesehatan dan Perkembangan Anggota Keluarga

Lingkungan rumah yang bersih yang dapat menguntungkan kesehatan, maka dari itu keluarga hendaknya mempertahankan suasana rumah yang seperti itu demi meningkatkan status kesehatan di keluarga. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,4% keluarga selalu menyediakan keperluan sehari-hari setiap anggota keluarga seperti perlengkapan mandi, makan ataupun perlengkapan untuk merawat diri, 87,1% keluarga sering menyediakan waktu untuk membersihkan rumah dan lingkungan rumah setiap hari, 38,7% keluarga selalu ikut serta dalam membersihkan lingkungan sekitar rumah, 42,9 keluarga sering menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan anggota keluarga untuk mengetahui kondisi dan perkembangan dari setiap anggota keluarga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum dapat berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal dan komunikasi yang terbuka, sopan dan jelas dapat mempengaruhi kesehatan serta perkembangan setiap anggota keluarga (Friedman, 1998).

Pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa dalam mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan anggota keluarga sudah baik.

2.5. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Pada Suku Jawa dalam Mempertahankan Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga dengan Lembaga-lembaga Kesehatan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,9% keluarga selalu percaya kepada Petugas Kesehatan yang ada di puskesmas, Bidan atau Rumah Sakit 46,4% keluarga selalu membawa anggota keluarga yang sakit ke Puskesmas, Bidan atau Rumah Sakit, 46,4% keluarga selalu dapat menjangkau puskesmas, bidan atau rumah sakit, 53,6% keluarga selalu memanfaatkan puskesmas, bidan atau rumah sakit sesuai dengan kebutuhan, 53,6% keluarga selalu mendukung program kesehatan yang diselenggarakan oleh petugas kesehatan, 39,3% keluarga merasa puas terhadap pelayanan kesehatan tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Sudiharto (2007) yang mengatakan bahwa keluarga Jawa masih percaya dengan pengobatan tradisional yang penyembuhnya adalah dukun atau paranormal. Namun demikian pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa dalam mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dengan lembaga-lembaga kesehatan sudah berjalan dengan baik.

2.6. Analisa Mengenai Gambaran Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Pada Suku Jawa

Berdasarkan hasil penelitian gambaran pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada suku Jawa masih menggunakan reramuan tradisional dalam mengatasi masalah kesehatan, selain itu keluarga Jawa juga sering melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh para leluhur misalnya seperti kebiasaan bangun pagi, minum jamu, makan sayuran dan menjaga kebersihan rumah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesehatan.

Keluarga Jawa masih juga mempercayai konsep personalistik yaitu percaya bahwa penyakit yang timbul akibat gangguan makhluk halus atau setan dan untuk mengusirnya dengan menggunakan dukun atau paranormal dengan mantera- mantera dan sesajian. Misalnya pada keluarga Jawa masih percaya hari sabtu atau Selasa tidak dapat melihat orang sakit atau mengobati orang sakit, karena mereka mempercayai hari tersebut merupakan hari keramat. Padahal menurut konsep ilmiahnya tidak ada hubungannya antara hari-hari tertentu dengan menjenguk atau mengobati orang sakit. Selain itu keluarga Jawa juga melarang bepergian pada waktu magrib atau pada saat terbenamnya matahari, karena pada saat itu setan atau makhluk halus berkeliaran sehingga dapat menyebabkan orang kesapuh atau keteguran makhluk halus dan menjadi sakit. Hal ini sudah membuktikan bahwasanya keluarga Jsawa masih meyakini hal yang berbau gaib atau mistik.

Namun demikian sebagian keluarga sudah menggunakan metode ilmiah, yaitu mereka sudah menggunakan fasilitas-fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah atau swasta. Diantaranya mereka telah membawa anggota keluarganya yang sakit ke puskesmas atau rumah sakit, serta mendukung program kesehatan yang diselenggarakan oleh petugas kesehatan. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan dan perekonomian yang mapan sehingga keluarga dapat mengikuti teknologi kesehatan yang sudah canggih sesuai dengan kemajuan zaman.

Dokumen terkait