BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
5.2.1 Pengetahuan Pasien TB Paru di BP4 Medan
Berdasarkan penelitian ini dapat dilihat bahwa dari 97 orang responden yang ikut dalam penelitian ini, 86 orang (88.7%) responden memiliki pengetahuan yang baik dan 11 orang (11.3%) memiliki pengetahuan yang buruk [Tabel 5.13]. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien TB paru di BP4 medan cukup baik tetapi belum maksimal. Jumlah tingkat pengetahuan responden yang baik seharusnya lebih tinggi dan bisa mencapai angka maksimal yaitu 100%. Hal ini dapat terwujud bila pasien mendapat penjelasan mengenai penyakit TB paru dan DOTS dari dokter, petugas kesehatan ataupun PMO serta kerja sama dari seluruh pasien dan seluruh lapisan masyarakat.
Namun, berdasarkan hasil penelitian Zuliana (2009), sebagian besar pasien TB paru dalam penelitiannya memiliki pengetahuan yang sangat rendah tentang penyakit TB paru. Mereka hanya mengetahui penyakit TB paru adalah penyakit batuk darah yang disebabkan oleh karena merokok, angin malam dan lain-lain. Hal ini dikarena penyuluhan kesehatan masih sangat sedikit. Pengetahuan pasien tentang penyakit TB paru dan DOTS merupakan hal yang seharusnya dimiliki oleh semua pasien yang sedang menjalani strategi DOTS tersebut.
Salah satu yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah ketersediaan fasilitas sebagai sumber informasi yang benar dan tepat. Dalam pengobatan TB paru dengan
strategi DOTS yang seharusnya menjadi sumber informasi adalah dokter, petugas kesehatan dan PMO. Sebagian besar responden mengetahui tentang penyakit TB paru dan DOTS dari dokter, petugas kesehatan ataupun PMO sebanyak 86 orang (88.7%). Sedangkan 3 orang (3.1%) hanya mendengar dari orang yang juga tidak mengerti dan 8 orang (8.2%) lainnya tidak mendapat sama sekali penjelasan dari siapapun [Tabel 5.11]. Dengan mengetahui dari sumber yang benar maka informasi yang diberikan dapat membantu pasien untuk mengerti dan memahami keadaannya. Hal ini harus mendapat perhatian yang khusus sehingga penyampaian informasi kepada pasien TB paru di BP4 Medan dapat lebih baik.
Sebagian besar responden hanya bisa menjawab benar pertanyaan tentang cara penularan TB paru di masyarakat yaitu melalui bersin/ batuk sebanyak 94 orang (96.9%) [Tabel 5.4] dan pertanyaan tentang cara pemeriksaan yang harus dilakukan untuk memastikan pasien menderita TB paru ini yaitu dengan dahak dan rontgen sebanyak 97 orang (100%) [Tabel 5.5]. Jawaban ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien sudah memahami jalur penularan TB paru dan pemeriksaan yang harus dijalani untuk memastikan seseorang terkena TB paru atau tidak. Dengan begitu pasien lebih paham untuk tidak bersin/batuk dan menulari masyarakat sekitarnya serta mengetahui juga fungsi dari pemeriksaan dahak dan rontgen yang rutin dijalanin oleh pasien tersebut.
Pengetahuan yang paling penting adalah mengenai TB paru dan pengobatan dengan strategi DOTS. Dari hasil kuesioner didapati bahwa 77 orang (79.4%) menjawab dengan benar tentang arti DOTS [Tabel 5.6]. Hal ini sebenarnya sangat penting dijelaskan agar pasien dapat mengerti maksud dan tujuan pengobatan dengan strategi DOTS tersebut. menunjukkan pasien belum mengerti makna sebenarnya strategi pengobatan dengan DOTS yang mengutamakan pengawasan minum obat, pencegahan putus berobat dan pencarian pasien TB paru.
Jenis obat yang digunakan dalam strategi DOTS yaitu rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Sebanyak 93 orang (95.9%) responden menjawab benar dan 4 orang lainnya menjawab salah. Dapat dilihat bahwa hampir semua pasien mengetahui obat
yang telah diminumnya paling sedikit selama 3 bulan ini. Tetapi sebanyak 4 orang (4.2%) yang menjawab salah harus tetap menjadi perhatian agar pasien mengetahui obat-obat yang diminumnya sehingga pengobatan menjadi lebih baik.
Efek samping obat merupakan hal yang penting untuk diperhatikan pada semua strategi pengobatan. Pada pertanyaan mengenai efek obat masih banyak yang tidak dapat menjawab dengan benar yaitu 29 orang (29.9%) menjawab tidak tahu obat yang menimbulkan efek air kencing (urin) dan 6 orang (6.2%) lainnya menjawab pirazinamid [Tabel 5.9]. Pengetahuan pasien tentang tindakan bila terjadi efek samping obat juga berbeda-beda. Hanya sebanyak 78 orang (80.4%) responden memilih untuk kembali ke dokter bila timbul efek samping setelah minum obat anti tuberkulosis. Seharusnya pasien dpat menjawab 100% benar pertanyaan ini bila telah mendapat penjelasan karena setiap obat memiliki efek samping yang berbeda-beda. Penjelasan yang diberikan pada saat memberikan obat harus ditingkatkan sehingga pasien tidak ragu dalam meminum obat anti tuberkulosis.
5.2.2 Keteraturan Pasien TB Paru untuk Berobat di BP4 Medan
Berobat teratur merupakan hal yang harus mendapat perhatian karena keberhasilan pengobatan juga ditentukan dari sikap pasien itu sendiri. Dengan adanya dokter, petugas kesehatan dan PMO, pasien seharusnya bias menjadi lebih patuh dan berobat secara teratur sesuai jadwal. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki sikap berobat teratur adalah sebanyak 82 orang (84.5%) dan 15 orang (15.5%) responden lainnya tidak teratur dalam berobat [Tabel 5.19]. Persentase 84.5% dari seluruh jumlah responden merupakan angka yang cukup tinggi tetapi tidak maksimal dalam pengobatan TB paru dengan strategi DOTS. Bila pelaksanaan strategi DOTS di BP4 Medan dilakukan sesuai standar pengobatan dengan benar dan pasien mengikuti semua perintah dokter, petugas kesehatan dan PMO maka semua pasien (100%) akan berobat teratur dan sesuai jadwal.
Pada penelitian sebelumnya oleh Simamora (2004) di kota Binjai terdapat angka ketidakteraturan berobat sangat tinggi yaitu 33,7%. Menurutnya hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu pengetahuan pasien, efek samping obat, adanya komitmen PMO dan perilaku dan penyuluhan oleh petugas kesehatan. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi tindakan pasien dalam berobat. Hal ini juga sesuai dengan penelitian ini yang mendapati bahwa pasien akan cenderung berobat teratur bila sudah diberi penjelasan oleh dokter ataupun petugas kesehatan.
Sikap pasien dalam berobat yang paling banyak adalah patuh pada semua saran dokter dan petugas yaitu 80 orang (82.5%) responden. Sedangkan 14 orang (14.4%) hanya mematuhi sebagian saran dokter dan petugas kesehatan dan hanya 3 orang (3.1%) responden yang menjawab tidak patuh sama sekali pada saran dokter dalam berobat [Tabel 5.14]. Sedangkan (85.6%) responden memilih datang untuk memeriksakan diri / periksa ulang kembali sesuai jadwal ataupun saran dokter dan petugas kesehatan. [Tabel 5.15]. Angka/jumlah dari hasil penelitian tentang sikap pasien ini cukup besar dan menggambarkan kebanyakan pasien patuh dalam berobat dan mengikuti saran dokter serta petugas kesehatan demi kesembuhan dirinya.
Dengan strategi DOTS masalah kepatuhan minum obat ini harusnya bisa dicegah dan diawasi sehingga pasien dapat minum obat secara teratur dan sesuai petunjuk dokter dan petugas kesehatan ataupun PMO. Dapat dilihat bahwa 15 orang (15.5%) responden memilih untuk minum obat tidak teratur dan 82 orang (84.5%) minum obat teratur sesuai jadwal yang telah ditetapkan [Tabel 5.17]. Hal ini berkaitan dengan kepatuhan, kebiasaan dan sikap pasien dalam minum obat setelah menerima obat tersebut dari dokter ataupun petugas kesehatan di BP4 Medan.
Keteraturan berobat juga ditentukan dari waktu minum obat anti tuberkulosis tersebut. Sebanyak 33 orang (34%) responden memilih untuk minum obat anti tuberkulosis (OAT) setiap hari. Hal ini kurang tepat karena OAT harusnya diminum sesuai dengan perintah dokter ataupun PMO yang bertugas untuk mengawasi pasien tersebut selama mengikuti pengobatan dengan stratgei DOTS. Hanya sejumlah orang yaitu 60 orang (61.9%) menjawab benar yaitu minum OAT bila diperintah oleh PMO ataupun dokter. Tindakan pasien ini harus mendapat penjelasan yang sebenarnya sehingga para pasien
tidak salah mengerti dalam waktu minum obat yang benar sehingga pengobatan yang dilakukan dengan strategi DOTS ini dapat lebih baik.
5.2.3 Status Drop Out Pasien TB Paru di BP4 Medan
Status drop out pasien sangat penting diperhatikan karena pengobatan akan sia-sia bila pasien tidak mengikuti pengobatan dengan adekuat dan berkesinambungan. Pasien di BP4 Medan yang menjawab pertanyaan di kuesioner dan cenderung untuk drop out adalah 21 orang (21.6%) responden dan yang tidak drop out sebanyak 76 orang (78.4%) [Tabel 5.25]. Status drop out ini menunjukkan bahwa pasien di BP4 Medan masih melakukan hal – hal yang tidak sesuai dengan strategi pengobatan. Seharusnya pasien mengetahui dan menyadari tentang fungsi keteraturan minum obat dan berkelanjutan, minimal pengobatan, tindakan pasien bila merasa bosan serta resiko bila tidak minum obat secara teratur. Dokter, petugas kesehatan serta PMO harus meningkatkan komunikasi dengan pasien dan melakukan pengawasan yang lebih ketat sehingga pasien tidak drop out dari pengobatan. Keadaan ini berhubungan erat dengan compliance dan adherensi dari proses pengobatan. Pasien tidak paham dengan proses pengobatan dan tindakan yang diberikan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Sihombing (2002) bahwa sikap pasien dalam minum obat teratur merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan dalam keberhasilan pengobatan. Bila pasien tidak minum obat teratur maka keberhasilan pengobatan akan sulit dicapai.
Petugas kesehatan, dokter dan PMO harus menjelaskan dan mengawasi pasien dengan benar sehingga pasien tidak mngalami drop out selama pemgobatan. Dari jawaban responden dapat dilihat bahwa 79 orang (81.4%) responden memilih teratur minum obat sesuai dengan dosis dan berkelanjutan sebagai hal yang paling penting dalam proses pengobatan TB paru dengan strategi DOTS [Tabel 5.20]. Dapat juga kita lihat masih banyak pasien TB paru di BP4 Medan yang tidak paham dan mengetahui lama minimal pengobatan TB paru. Sebanyak 22 orang (22.7%) menyatakan bahwa pengobatan TB paru minimal adalah 2 bulan sedangkan 9 orang (9.3%) lainnya tidak tahu sama sekali. Hanya
66 orang (68%) yang mengetahui dengan pasti bahwa pengobatan minimal TB Paru adalah 6 bulan [Tabel 5.21]. Angka ini masih sangat rendah mengingat strategi DOTS memiliki kebijakan untuk menjelaskan secara terperinci mengenai minimal pengobatan tersebut. Hal ini harus dijelaskan dengan baik kepada pasien demi pengobatan yang tidak terputus dan pasien sembuh total.
Hambatan yang berarti juga tampak pada masih banyaknya pasien yang akan berhenti minum obat bila batuk telah hilang dan berat badan telah naik yaitu sebanyak 23 orang (23.7%). Padahal hal tersebut bukanlah suatu standar kesembuhan yang benar dan akan tampak pada akhir bulan ke-2 pengobatan. Sedangkan 72 orang (74.2%) memilih jawaban yang benar yaitu pasien akan berhenti minum obat setelah dinyatakan sembuh total oleh dokter [Tabel 5.23]. Sebaiknya pasien dijelaskan dengan benar bahwa pasien boleh berhenti minum obat setelah pasien dinyatakan sembuh total oleh dokter sehabis pemeriksaan dan pengobatan lengkap. Pemahaman ini harus ditegaskan kepada pasien sehingga tidak ada lagi pasien yang berhenti berobat (drop out) selama pengobatan.
Pengetahuan pasien mengenai resistensi obat yang bisa terjadi bila pasien tidak minum obat teratur juga masih sangat rendah. Dapat dilihat bahwa hanya 59 orang (60.8%) responden yang mengetahui hal tersebut. 28 orang (28.9%) tidak mengetahui sama sekali dan 10 orang (10.3%) beranggapan tidak akan terjadi apa-apa dan pengobatan bias disambung lagi [Tabel 5.24]. Hal ini sangat berhubungan erat dengan status drop out pasien dan keadaan resistensi obat yang menghambat pengobatan dan pemberantasan TB paru di kalangan masyarakat. Maka tidaklah heran pada akhir – akhir ini kasus resistensi terus meningkat. Penanganan kasus-kasus drop out harus segera dilakukan dengan member penjelasan yang cukup dan benar serta mengawasi pasien TB paru selama menjalani pengobatan.
5.2.4 Komitmen PMO kepada Pasien TB Paru
Komitmen PMO pada 97 orang responden dalam penelitian ini cukup baik tapi tidak menunjukkan angka maksimal. Hanya 70 orang (72.2%) responden yang memiliki PMO yang baik dan berkomitmen untuk mengawasi dan memperhatikan pasien selama
minum obat anti tuberkulosis. Pertanyaan yang diberikan kepada responden lebih mengarah ke komunikasi yang terjalin antara pasien dengan PMO-nya.. Dari hasil kuesioner juga dapat dilihat ada 27 orang (27.8%) responden yang memiliki PMO dengan status komitmen PMO yang buruk [Tabel 5.31].
Pengawas minum obat (PMO) yang paling tepat adalah keluarga, masyarakat umum seperti keluarga, tetangga, teman dan lain-lain atau petugas kesehatan yang telah dilatih terlebih dahulu. 75 orang (77.3%) telah menjawab benar dan tepat tetapi harus diperhatikan ada 19 orang (19.6%) responden yang memiliki PMO dari keluarga yang tinggal serumah dan tidak mendapat pelatihan ataupun penjelasan sama sekali tentang TB Paru dan tugas-tugasnya. Sedangkan 3 orang (3.1%) responden lainnya memilih teman yang tidak mengerti tentang TB untuk menjadi PMO-nya [Tabel 5.26].
Dalam strategi DOTS yang benar seharusnya pasien minum obat anti tuberkulosis karena disuruh oleh PMO yang bersangkutan. Dapat dilihat hanya 54 orang (55.7%) responden saja yang minum obat anti tuberkulosis karena diperintah oleh PMO-nya. Sedangkan 36 orang (37.1%) minum obat karena kesadaran sendiri dan 7 orang (7.2%) lainnya memilih karena keluarga [Tabel 5.28]. Walaupun pasien minum dengan kesadaran sendiri tetapi PMO tetap berkewajiban mengingatkan dan menyuruh pasien untuk tetap minum obat teratur sesuai jadwal dan berkelanjutan.
Tugas PMO yang paling penting adalah mengawasi pasien untuk minum obat secara teratur. PMO seharusnya terus melihat dan memperhatikan pasien sampai selesai saat pasien minum obat. Hasil penelitian menunjukkan ada 71 orang (73.2%) yang memiliki PMO dan terus memperhatikan pasien sampai selesai minum obat. Sebanyak 21 orang (21.6%) menyatakan bahwa PMO-nya sudah pergi saat pasien minum obat anti tuberkulosis dan 5 orang (5.2%) lainnya hanya mencatat tindakan minum obat tanpa memperhatikan / melihat pasien. Hal ini juga berfungsi untuk mengetahui sejauh mana PMO mengetahui, dekat dan mengerti pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang PMO juga harus mendengarkan keluhan pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan memberikan solusi yang diketahuinya. PMO yang mendengarkan keluhan pasien dan
memberi nasehat yang baik selama pengobatan ini hanya 65 orang (67%). Jumlah ini sangat kecil dan minimal mengingat dalam pengobatan TB paru dengan strategi DOTS yang menjadi kunci keberhasilannya adalah pengawas minum obat (PMO). PMO yang sebenarnya harus terus mengawasi dan menjaga pasien tersebut agar tetap menjalankan pengobatan dengan teratur sesuai jadwal dan sampai tuntas (2007, Gerdunas-TB).
5.2.5 Hubungan Pengetahuan Responden dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Pengetahuan responden dikategorikan menjadi dua yaitu pengetahuan yang baik dan pengetahuan yang buruk. Proporsi pengetahuan responden tampak jauh berbeda anatara pengetahuan baik sebanyak 86 orang (88.7%) dengan yang pengetahuan yang buruk sebanyak 11 orang (11,3%). Pada kelompok pengobatan yang berhasil sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 79 orang (92,9%) dan 6 orang (7,1%) lainnya merupakan responden yang memiliki pengetahuan yang buruk. Secara statistik didapati bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat keberhasilan pengobatan.
Hasil yang sama juga diperlihatkan oleh penelitian oleh Simamora (2004) bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik akan cenderung berobat teratur dan menyelesaikan pengobatan sampai berhasil. Dari hasil penelitian yang didapat sebelumnya tersebut dinyatakan juga bahwa terdapat hubungan yang erat antara tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang bermakna yaitu p < 0,0001.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pendapat dari Notoatmodjo (2003), bahwa tindakan seseorang terhadap masalah kesehatan pada dasarnya akan dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang terhadap masalah tersebut. Dalam hal ini, pemgetahuan yang dimiliki oleh penderita TB paru berhubungan dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Semakin tinggi pengetahuan penderita tentang penyakit TB paru dan DOTS maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pengobatan.
Namun, keberhasilan pengobatan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan ini berbeda dengan hasil penelitian oleh Sihombing (2002) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Walaupun
pasien yang memiliki pengetahuan yang baik mempunyai peluang untuk sembuh tetapi pasien yang berpengetahuan kurang baik mempunyai peluang yang sama dengan taraf signifikan 0,284. Hal ini berarti tinggi atau rendahnya tingkat pengetahuan penderita tentang penyakit TB paru dan DOTS ternyata tidak mempengaruhi proses penyembuhannya.
Pengetahuan responden adalah pengetahuan mengenai tuberkulosis paru yang diterima secara langsung dari dokter, petugas kesehatan sewaktu mendapat pengobatan, maupun melalui media lainnya sebelum dan sewaktu pengobatan, sehingga dapat merubah perilaku responden untuk berobat teratur dan mencapai keberhasilan pengobatan. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penyuluhan tuberkulosis bagi penderita, keluarga maupun masyarakat. Penyuluhan secara intensif, secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan pengetahuan dan pada akhirnya akan mendorong meningkatkan keberhasilan pengobatan.
5.2.6 Hubungan Pasien Berobat Teratur dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Kebiasaan pasien untuk berobat teratur sangan berpengaruh dengan keberhasilan pengobatan pasien itu sendiri. Pada tabulasi dapat dilihat bahwa dari 82 orang (84.5%) yang berobat teratur hanya 3 orang yang pengobatannya tidak berhasil sedangkan 79 orang (92,9%) pengobatan berhasil. p value < 0,0001 yang didapat juga menjelaskan bahwa ada hubungan yang erat antara keadaan pasien berobat teratur dengan tingkat keberhasilan pengobatan.
Sikap keteraturan berobat ini dibatasi pada keteraturan melakukan pemeriksaan ulang, keteraturan mengambil obat dan meminumnya serta ketanggapan pasien dalam tindakan yang mendukung keberhasilan pengobatan selama menjalani pengobatan. Dari tabel dapat dilihat bahwa pasien yang tidak berobat teratur hanya 15 orang (15,5%) dengan 6 orang (7,1%) berhasil dalam pengobatan dan 9 orang (75%) tidak berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan berobat tidak teratur memliki peluang yang lebih besar untuk tidak sembuh daripada yang berobat teratur.
Hal ini sesuai dengan penelitian Sihombing (2002) yang mendapati bahwa dari 22 orang (73,34%) responden yang sembuh, kebanyakan bersikap baik dan berobat teratur, yaitu sebanyak 17 orang (56,67%). Dari hasil perhitungan statistik didapati nilai 0,417 dengan taraf signifikan 0,001. Dapat disimpulkan bahwa bila sikap konsumen semakin baik maka peluang untuk sembuh semakin besar, sebaliknya bila sikap konsumen semakin buruk maka peluang untuk tidak sembuh yang semakin besar.
Dalam Pedoman Nasional Penanggulangan TB Paru dikatakan bahwa kerjasama antara pasien (penderita) TB paru dan petugas kesehatan sangat mempengaruhi sembuh atau tidaknya pasien (Gerdunas-TB, 2007), dimana ini berkaitan dengan pengetahuan dan sikap pasien dalam berobat teratur. Hal yang menjadi penyebab adanya pengaruh ini adalah keputusan pasien untuk sembuh tergantung pada pasien sendiri, sehingga keputusan tersebut akan mempengaruhi sikapnya.
5.2.7 Hubungan Status Drop Out Pasien dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Berdasarkan data dari profil Kesehatan Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2007 (DinKes Sumut, 2008) tercatat dari 12.179 kasus TB paru yang diobati hanya 9.140 (75,05%) yang sembuh dan kasus drop out masih banyak terjadi. Berdasarkan rekam medik BP4 Medan tahun 2007 terdapat 31 orang penderita dan pada tahun 2008 sebanyak 24 penderita. Kasus-kasus tersebut masih menjadi masalah yang harus mendapat perhatian sehingga kasus drop out dapat dicegah dan keberhasilan pengobatan TB paru akan meningkat.
Hubungan keadaan pasien drop out sangat berkaitan erat dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Hal ini terlihat jelas pada tabel 5.36 yang menunjukkan bahwa pada 85 orang yang pengobatannya berhasil terdapat 75 orang (88,2%) merupakan pasien yang tidak memiliki status drop out sedangkan 10 orang lainnya memiliki status drop out (+). Pada uji statistic terdapat p value < 0,0001 yang artinya terdapat hubungan antara status drop out pasien dengan tingkat keberhasilan pengobatan.
Keadaan yang sama juga terlihat pada tabel dengan pengobatan yang tidak berhasil. Dari 12 pasien yang pengobatannya tidak berhasil, 11 orang (91,7%) responden memiliki status drop out (+). Dan hanya 1 orang yang memliki status drop out (-). Hal ini sangat menentukan keadaan pasien selama menjalankan pengobatn TB paru dengan strategi DOTS. Seharusnya bila pasien mengikuti pengobatan dengan stretegi DOTS maka pasien akan diberi penjelasan, pengarahan, pengawasan yang menimbulkan keinginan pasien untuk tetap ikut dalam pengobatan secara teratur sesuai jadwal sampai tuntas/sembuh. Tetapi pada kenyataannya masih ada pasien yang tidak patuh dalam berobat ataupun minum obat sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Dokter, petugas kesehatan dan PMO harus lebih memahami keadaan pasien dan membantu dan mencegahnya drop out.
Masih banyak kendala dalam pelaksanaan DOTS merupakan faktor terjadinya drop out . Salah satu kendala yang paling sering terjadi adalah rendahnya compliance dan pengetahuan penderita yaitu pasien TB paru tidak mengerti dan tidak sadar akan pentingnya pengobatan yang berkelanjutan dan teratur yang diberikan kepadanya sehingga pasien biasanya tidak begitu peduli patuh dalam mengikuti prosedur pengobatan (Gitawati, 2002).
5.2.8 Hubungan Komitmen PMO dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Pengawas Minum Obat (PMO) sangat erat hubungannya dengan keberhasilan pengobayan TB paru dengan strategi DOTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 orang (72,2%) responden yang memiliki PMO dengan komitmen baik hanya 1 orang (8,3%) responden yang pengobatannya tidak berhasil sedangkan 69 orang (81,2%) responden mendapatkan hasil akhir yang baik yaitu keberhasilan pengobatan. Pada perhitungan statistik didapati hasil p value < 0,0001 yang artinya ada hubungan antara komitmen PMO dengan tingkat keberhasilan pengobatan.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Sawaluddin (2004) yang menunjukkan bahwa sebanyak 7 Puskesmas kelompok PMO (70%) yang mendukung pasien mempunyai peluang keberhasilan pengobatan yang lebih baik sebesar 85,7% dan yang tidak berhasil
14,3%. Hasil uji statistik didapat p value 0,033, pada derajat kepercayaan 95%, berarti ada hubungan yang signifikan antara komitmen PMI dengan pengobatan TB paru dengan strategi DOTS.
PMO yang baik adalah PMO yang dekat dengan pasiennya, mengawasi pasiennya sepenuh hati dan berkomitmen menjalan semua tugas-tugasnya dengan baik demi kesembuhan pasien. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengatakan PMO-nya bekerja dengan baik yaitu 89,5%. Ini karena yang menjadi PMO seluruhnya keluarga sehingga mereka lebih memperhatikan kesehatan responden dan selalu memberikan dorongan kepada responden untuk menjalani pengobatannya sampai tuntas (Zuliana, 2009).
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bahwa sebelum dilaksanakan pengobatan harus terlebih dahulu ditunjuk seorang PMO dan harus dihadirkan di poloklinik untuk diberikan pelatihan tentang pengobatan TB paru dan DOTS. Dukungan PMO sangat menunjang keberhasilan pengobatan penderita dengan selalu mengingatkan