• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Berdasarkan data hasil yang diperoleh pada penelitian ini ditemukan bahwa kedua partisipan mengalami peningkatan psychological well-being terutama untuk dimensi self- acceptance dan dimensi positive relational with others, setelah melakukan serangkaian kegiatan well-being therapy. Peningkatan pada kedua dimensi tersebut, telah mengubah dimensi yang lainnya menjadi lebih baik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Linley & Joseph (2004), bahwa well-being therapy merupakan salah satu terapi yang dapat meningkatkan level psychological well-being pada individu, sesuai dengan enam dimensi yang dikemukakan oleh Ryff (1989). Dalam hal ini kesejahteraan (wellness) dan hidup yang sehat dapat dicapai dengan membantu individu menyadari potensi diri yang sesungguhnya, memiliki keterlibatan secara penuh dengan orang lain, dan meraih potensi yang optimal.

Menurut Ryff (1989), teknik yang digunakan dalam well-being therapy menekankan pada pemikiran dan kepercayaan yang mengarah pada interupsi premature. Selama proses pelaksanaannya, terapis menemukan defense pada salah satu partisipan penelitian, yakni Rheina. Rheina yang meski memiliki motivasi yang cukup kuat untuk menyelesaikan masalahnya, ia terus saja menyangkal dan menghindar untuk mengungkapkan hal yang menjadi sumber masalah yang terkait dengan kondisi kesehatannya. Berbeda dengan Aulia yang sejak awal sudah cukup terbuka untuk mengungkapkan apa yang menjadi masalahnya dan memiliki motivasi yang cukup kuat untuk menyelesaikan masalah yang muncul terkait kondisi kesehatannya. Kondisi ini membuat Rheina butuh waktu lebih lama untuk menyadari dan mengenali emosi-emosi positif dan emosi-emosi negatif yang ia miliki dibandingkan Aulia. Seperti yang diungkapkan oleh Sarafino (1994), bahwa terapi bertujuan untuk membuat perubahan dan biasanya diiringi dengan rasa sakit. Jika sesuatu terlalu menyakitkan untuk dihadapi,

individu mungkin menyangkal bahwa hal tersebut ada. Hal ini merupakan suatu sistem pertahan diri yang disebut denial atau penyangkalan. Individu akan melakukan tindakan menghindar dari hal-hal yang menimbulkan rasa sakit.

Ada tidaknya defense yang dilakukan oleh kedua partisipan mempengaruhi proses sebelum, saat dan setelah pelaksanaan terapi. Dalam penelitian ini, terapis berusaha untuk lebih memahami kondisi Aulia yang tidak melakukan defense dalam bentuk denial dan kondisi Rheina yang melakukan defense dalam bentuk denial dengan memberikan perlakuan yang berbeda pada keduanya. Pada Aulia, terapis sering melakukan konfrontasi yang membuatnya lebih mudah insight terhadap permasalahan. Sedangkan pada Rheina, terapis lebih fokus pada unsur-unsur subjektif dari apa yang disampaikan Rheina dengan melakukan refleksi dari apa yang ia sampaikan dan rasakan, dan melakukan konfrontasi seperlunya. Pertimbangan ini diambil terapis didasarkan pada apa yang diungkapkan Corey (1997), bahwa ada saatnya terapis harus melakukan konfrontasi terhadap tingkah laku menyangkal dan menghindar (Corey, 1997). Walau demikian, terlalu memusatkan perhatian terhadap konfrontasi dapat menjadi batasan yang tidak perlu dalam terapi. Pada penelitian ini, hal yang dilakukan terapis cukup berhasil dalam menghadapi Aulia dan Rheina.

Ketika kedua partisipan terbuka terhadap masalahnya, kemudian menyadari dan memahami emosi-emosi yang muncul dalam diri mereka, maka proses terapi pun lebih mudah untuk dilaksanakan dan keberhasilan tujuan terapi pun berpeluang besar untuk dicapai. Selain keterbukaan terhadap masalah, motivasi dan kedisiplinan juga menjadi hal yang penting dalam proses pelaksanaan well-being therapy pada penelitian ini. Sama halnya ketika membuat partisipan terbuka terhadap masalahnya, untuk membuat mereka tetap termotivasi dan disiplin juga bukanlah hal yang mudah. Perlu upaya dari terapis untuk meyakinkan mereka lebih jauh bahwa motivasi dan kedisiplinan sangat penting

dalam keberhasilan pencapaian tujuan terapi untuk membantu masalah psikologis mereka, seperti ketika terapis meminta kesediaan mereka untuk mengisi lembar self-report untuk episodes of well-being yang mereka alami. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ryff (1989), bahwa individu sering menolak mengerjakan pekerjaan rumah tersebut, karena bagi mereka tidak ada situasi sejahtera dalam hidup mereka. Dalam hal ini terapis dapat membantu dengan meyakinkan bahwa saat-saat tersebut sebenarnya terjadi, namun terlewatkan tanpa diperhatikan. Untuk itu, perlu memonitornya dengan baik sehingga identifikasi terhadap situasi-situasi psychological well-being untuk saat-saat dan perasaan well-being dapat terus ditingkatkan.

Ketika motivasi telah mampu dipertahankan oleh kedua partisipan, dan kedisiplinan juga sudah diterapkan, maka dukungan dari orang-orang terdekat yang mengetahui kondisi kedua partisipan yang tengah dalam proses terapi sangat diperlukan untuk mengingatkan mereka akan tugas-tugas yang harus dikerjakan, keberhasilan- keberhasilan yang sudah susah payah didapatkan, dan ketika mereka harus mempertahankan bahkan harus meningkatkan apa yang mereka telah dapatkan selama sesi terapi ketika sesi terapi berakhir. Hal menarik lainnya adalah tingkat religiusitas yang mereka miliki sangat membantu untuk lebih mudah dan cepat memahami peranan well- being pada setiap situasi dari pengalaman hidup yang dihadapi berkaitan dengan kondisi kesehatan mereka.

Pemanfaatan kekuatan-kekuatan yang dimiliki kedua partisipan telah mendukung keberhasilan terapi dalam penelitian ini. Kekuatan tersebut diantaranya adalah motivasi, kedisiplinan, dukungan dari orang-orang terdekat dan tingkat religiusitas dari kedua partisipan yang telah diuraikan sebelumnya. Kekuatan yang dimiliki Aulia dan Rheina telah menuntun mereka untuk mengalami perubahan dan peningkatan psychological well- being selama proses well-being therapy. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan

Rogers (dalam Corey, 1997) bahwa prasyarat dasar bagi terapi adalah individu mempersepsi bahwa dirinya memiliki suatu masalah sehingga menimbulkan motivasi untuk berubah. Individu yang kemudian berhasil mendapatkan manfaat dalam terapi biasanya memperlihatkan kesediaan yang tinggi untuk berubah dan memiliki pengharapan yang positif atas perbaikan pribadi. Mereka juga bisa terlibat dalam eksplorasi diri yang dalam dan ekstensif. Kondisi ini tentu saja membuat individu disiplin dalam proses terapi, dan tetap mempertahankan hal yang sudah berhasil didapatkan selama terapi. Pada kegiatan follow-up pertama dan kedua yang dilakukan terapis, ditemukan bahwa kedua partisipan tetap mempertahankan apa yang sudah mereka dapatkan selama proses terapi, yakni emosi-emosi positif yang muncul dari pikiran dan perasaan positif mereka yang membuat mereka bersikap dan berperilaku positif juga dalam keseharian. Hal tersebut mereka lakukan dengan terus memanfaatkan hal-hal dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan selama proses terapi hingga selesai, bahkan hingga peneliti menemui mereka kembali.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:

1. Well-being therapy dapat meningkatkan psychological well-being pada wanita penderita kanker payudara. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan dimensi self acceptance dan dimensi positive relational with others pada kedua partisipan. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa hipotesa alternatif penelitian ini diterima yaitu well-being therapy dapat meningkatkan psychological well-being untuk dimensi self acceptance dan dimensi positive relational with others pada partisipan penelitian yang menderita kanker payudara. Peningkatan kedua dimensi tersebut, juga telah mengubah dimensi-dimensi psychological well-being lainnya menjadi lebih baik.

2. Terapis perlu mengantisipasi defense-defense yang muncul selama proses well-being therapy. Pada penelitian ini terapis melakukan metode refleksi dan konfrontasi untuk mengahadapi partisipan dengan defense dalam bentuk denial.

3. Rapport, motivasi, dukungan dari orang-orang terdekat, dan pemanfaatan aspek religiusitas sebagai salah satu cara dalam pendekatan eudomanic pada well-being therapy merupakan faktor-faktor yang mendukung proses pelaksanaan well-being therapy.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Saran Metodologis

a. Pelaksanaan well-being therapy pada wanita penderita kanker payudara akan lebih mudah jika menggunakan contoh-contoh sederhana dan konkrit berdasarkan situasi dan pengalaman yang dialami partisipan dalam hidupnya untuk kemudian mengaitkannya dengan aspek religi yang mereka miliki. Hal ini disesuaikan dengan kondisi religiusitas yang dimiliki partisipan.

b. Melihat kekuatan dan kelemahan partisipan akan memudahkan proses pelaksanaan well-being therapy pada partisipan penderita kanker payudara.

2. Saran Praktis a. Partisipan

Mempertahankan dan meningkatkan motivasi, serta memanfaatkan hal-hal dan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan untuk terus meningkatkan dan mengoptimalkan psychological well-being.

b. Keluarga Partisipan

Untuk terus memberikan dukungan dalam bentuk dukungan sosial dan moral kepada kedua partisipan dalam upaya mengoptimalkan psychological well-being di masa mendatang setelah kegiatan terapi berakhir.

c. Profesi Lain

Memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai salah satu sumber informasi intervensi yang dapat diberikan kepada penderita kanker payudara yang mengalami gangguan-gangguan psikologis terkait permasalahan kesehatannya sehingga dapat

mencegah gangguan yang lebih berat, dan sekaligus juga untuk meningkatkan psychological well-being mereka.

d. Masyarakat

Memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai salah satu sumber bacaan untuk menambah wawasan dalam memahami dan mensejahterakan para penderita kanker payudara yang memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan kedua partisipan

DAFTAR PUSTAKA

Ade, F.R., dan Erlina, L.W. (2011). Post Traumatic Growth Pada Penderita Kanker Payudara. Yogyakarta

Andrews, F. M, dan Robinson, J. P. (1991). Measures of Subjective Well-Being. In J. P. Robinson, P. R. Shaver, & L. S. Wrightsman (Eds.), Measures of Personality and Social Psychological Attitudes. Volume 1. San Diego: Academic Press

Anis, S.T., Ayu, P.,Urip, P. (2011). Hubungan Koping dan Dukungan Sosial dengan Body Image Pasien Kanker Payudara Post Mastektomy di Poli Bedah Onkologi RSHS Bandung. Jurnal Psikologi, 1-14

Baradero, M. (2007). Seri Asuhan Keperawatan Pada Klien Kanker. Jakarta: EGC

Bargai, N. & Hochhauser, C. (2009). Medical resilience. [on-line] www. Israel Center for the Treatment of Psychotrauma.com. [8 September 2012]

Bellenir, K. (2009). Breast Cancer Sourcebook. USA: Springer Publishing Company, Inc Chyntia, E. (2009). Akhirnya Aku Sembuh dari Kanker Payudara. Yogyakarta: Maximus Corey, G. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Fifth edition:

Brooks/Cole Publishing Company

Diananda, R. (2009). Mengenal Seluk-Beluk Kanker. Yogyakarta: KATAHATI

Dixon, M. dan Leonard, R. (2002). Seri Kesehatan: Kelainan Payudara. Jakarta: Dian Rakyat

Drageset, S., Lindstrom, T., & Underlid, K. (2010). Coping with Breast Cancer: Between Diagnosis and Surgery. Journal of Advance Nursing, 66, 149-158

Fava, G. A. (1999). Well-Being Therapy: Conceptual and Technical Issues. Psychoterapy Psychosom, 68: 171-179

Fava, G.A. dan Ruini, C. (2003) Development and Characteristic of Well Being Enhancing Psychoterapeutic Strategy: Well-Being Therapy. Journal of Behavior Therapy and Experimental, 34, 45-63

Fava, G.A., Ruini, C., Rafanelli, C., Finos, L., Salmaso, L., Mangelli, L., & Sirigantti, S. (2005). Well-Being Therapy of Generalized Anxiety Disorder. Psychoterapy Psychosom, 74; 26-30

Feuerstein, M. (2007). Handbook of Cancer Survivorship. USA: Springer Publishing Company, Inc.

Franco. (2010). Body Image and Quality of Life in Patients Who Underwent Breast Surgery. The American Surgeon, 76, 1000-1005

Halim, M. S. (2003). Quality of Life and Breast Cancer: A General Concept. Journal of Psychology, 12 (2), 13-24

Hawari, D. (2004). Kanker Payudara: Dimensi Psikoreligi. Jakarta: FKUI Jemal, A. (2003). Cancer Statistic. CA. Cancer J Clin ; 53:5

Linley, P.A dan Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Wiley dan Sons, Inc

Luwia, M. (2003).Problematika dan Keperawatan Payudara. Cetakan I. Jakarta: Kawan Pustaka

Macleod, A. K., & Moore, (2000). Positive Thinking Revisited: Positive Cognitions, Well- Being, and Mental Health. Clinical Psychology and Psychoterapy, 7, 1-10

Matthew, E dan Cook, P. (2005). Relationship Among Optimism, Well-Being, Self- Transcendence, Coping and Social Support in Women During Treatment for Breast Cancer. Psycho-Oncology, 18, 716-726

Moleong, J. L. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Odgen, J. (2004). Understanding Breast Cancer. England: John Willey & Sons, Ltd Odgen, J. (2007). Health Psychology. New York: McGraw-Hill International

Osborn, Kathlen, S., & Watson. (2010). Medical Surgical Nursing: Preparation for Practice. Volume 2. USA: Pearson

Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman. (2001). Human Development. Six Edition. New York: McGraw-Hill International

Poerwandari, E.K. (2007). Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Rahardjo, M. (2010). Triangulasi Pada Penelitian Kualitatif. Malang: UIM

Rahayu, T. A. (1991). Kanker Payudara. Surabaya: Yayasan Kanker Wisnuwardhana Ramli, M. (2003). Management of Breast Cancer: Kumpulan Naskah Ilmiah Muktamar VI

PERABOI. Semarang

Ramli, M. (2005). Deteksi Dini Kanker. Jakarta: FKUI

Reich, M. C., Lesur, & Chevallier, P. (2008). Depresion, Quality of Life and Breast Cancer: A Review of The Literature. Breast Cancer Res Treat, 110, 9-17

Ricks, D. (2005). Breast cancer, Basics and Beyond: Treatment, Resources, Self-Help, Good News, Updates. USA: Hunter House Inc., Publishers

Smeltzer, S dan Bare, B. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Volume 3 Edisi 8 (alih bahasa oleh Kuncara, dkk) Jakarta: EGC

Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: Grasindo

Tavistock dan Routledge. (2002). The Experience of Illness Series. USA: Springer Publishing Company, Inc

Ryan, R. M dan Deci, E. L. (2001). On Happiness and Human Potensials: A Review of

Research on Hedonic and Eudomanic Well-Being. Annual Reviews: University of

Illinois, 52: 141-166

Ryff, C. D. (1989). Happiness Is Everything or Is It? Exploration on The Meaning of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology, 57 (6): 1069-1081

Ryff, C. D dan Keyes, C. L. (1995). The Structure of Psychology Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69, 719-727

Ryff, C. D., & Singer, B. (2000). Biopsychosocial Challenges of The New Millenium. Psychoterapy and Psychosomatics, 69, 170-177

Ryff, C. D., Keyes, C. L., M. & Smotkin, D. (2002). Optimizing Well-Being: The Empirical of Two Traditions. Journal of Personality and Social Psychology, 82: 6, 1007-1002

Ryff. C. D (2005). Psychological Well-Being in Adult Life. Current Directions in Psychological Science, 4,99-104

Sarafino, E. P. (1994). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction. Second Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc

Seniati, L., Yulianto, A., & Setiadi, B.N (2005). Psikologi Eksperimen. Jakarta: Indeks

Strauses, D. R., Lustig, D. C & Ciptci, A. (2008). Psychological Well-Being: Its Relation to Work Personality, Vocational Identity, and Cancer Thoughts. The Journal of Psychology Provincetown, Vol.142, 155

World Health Organization. (2008). Breast Cancer: Prevention and Control. [Online]. http://www.who.int/cancer/detection/breastcancer/en/indexl.htm [8 September 2012]

Dokumen terkait