• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1.3 Kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan

Kualitas hidup pasien HIV/AIDS di dasarkan delapan variebel dengan jumlah 36 pertanyaan dengan kategori baik dan buruk di dapatkan bahwa jumlah kategori baik sebanyak 5 (29.41%) dan jumlah kualitas buruk sebanyak 12 (70.58%).

Table 5.3 Distribusi prekuensi kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan (N=17).

Kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani

perawatan di RSUPH. Adam malik medan n F

a. Baik 5 29.41

b. Buruk 12 70.58

5.2

Pembahasan

5.2.1

Kualitas hidup pasien HIV/AIDS berdasarkan Fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri, keterbatsan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan peran emosional, dan kesehatan mental yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan (N=17)

Hasil analisa peneliti yang terdiri dari fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri, keterbatasan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan peran emosional, dan kesehatan mental. Didapatkan pada kategori kesehatan mental yaitu 10 (58.82%) dengan kategori baik pada kesehatan mental responden merasa putus asa dan sedih. Hal ini tidak sesuai dengan yang dikemukakan oleh Margiantari dan Basuki (2002) yang mengatakan pasien menerima diri sendiri sebagaimana adanya, pasien pun mengakui bahwa kondisinya sekarang adalah kekurangannya, pasien merasa berharga, bermanfaat, juga menunjukkan penderita HIV/AIDS rentang terhadap kesehatan mental, ini terlihat bahwa pasien mengalami perasaan-perasaan khawatir, ketidak puasan dan ketidak berdayaan. Pada penelitian Margiantari, Basuki dan Riyanto (2007) Awalnya pasien tidak menerima keadaannya sebagai orang dengan HIV/AIDS saat mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS pasien menjadi pendiam, menutup diri dari keluarga dan lingkungannya dan pernah mencoba untuk bunuh diri, namun pasien sudah bisa

menerima keadaan dirinya dengan banyak melakukan kegiatan positif untuk mengendalikan emosi dan membangkitkan semangatnya seperti mengikuti seminar-seminar tentang HIV/AIDS dan berdiskusi dengan sesama orang dengan HIV/AIDS.

Kategori fungsi fisik yaitu 9 (52.94%) yaitu kategori baik responden mampu melakukan aktifitas mandi atau memakai baju sendiri. Menurut Effendi dan Nasronudin (2008) aspek seperti kemampuan fisik yang di tandai dengan mempunyai banyak energi dan sistem kekebalan tubuh meningkat sehingga penderita HIV/AIDS dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri aktivitas paling tinggi sebagai penampilan fisik penderita adalah mempunyai kemampuan melaksanakan aktivitas normal dan tidak perlu perawatan khusus. Sedangkan menurut Encarta (2002) bahwa setiap makhluk hidup secara alami di bekali kemampuan untuk menolong diri sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar bertahan hidup. Tiori tersebut juga di kemukakan oleh Malcom (1992) bahwa kesungguhan dan kematangan diri sendiri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri secara mandiri. Keadaan kesehatan membatasi pasien berjalan merupakan menunjukkan bahwa penurunan dari fungsi fisik diantara orang HIV positif dibandingkan dengan orang negatif namun perbedaan ini tidak terlalu besar, seorang HIV positif yang memiliki tingkat fungsi fisik yang sama dengan orang HIV negativ bisa disebabkan karena penyakit penyerta yang dianggap sebagai faktor resiko penting untuk pungsi fisik yang buruk.

Kategori fungsi sosial di dapatkan 12 (70.58%) yaitu kategori buruk. Dapat dilihat dari mayoritas responden mengatakan kesehatan fisik atau masalah emosi mempengaruhi kegiatan sosial responden. Menurut hasil penelitian Nurlaila (2008) aspek sosial bagi pesien HIV/AIDS seperti melakukan peran dalam keluarga, masyarakat atau kemampuan aktivitas dalam komunitas menjadi suatu kendala karena adanya stigma dan diskriminasi kondisi ini membuat pasien HIV/AIDS menarik diri dari lingkungannya dan juga penghubung antara fungsi kogniti yang lebih tinggi seperti pertimbangan dan respon emosi yang lebih primitip seperti rasa takut. Menurut Sunaryadi (2003) karena adanya diskriminasi maka pasien akan kehilangan pekerjaan dengan akibat terjadinya maslah finansial. Pasien HIV/AIDS sering mengalami kesulitan dalam mencari tempat tinggal, bahkan untuk bertahan di tempat tinggalnya pun kadang-kadang mengalami kesulitan ini semuanya akibat adanya stigma dan diskriminasi. Dalam penelitian Tejawinata, (2003) pasien HIV/AIDS memberikan dampak yang besar kepada keluarga, terutama pada pasien-pasien yang muda atau dalam usia produktif. Pasangannya yang tidak tahu bahwa ia terinfeksi, akan terinfeksi pula dan akibatnya timbul penyesalan yang mendalam bahkan kemarahan pasangannya. Lebih-lebih bila anaknya juga terinfeksi, sehingga anak ini tidak dapat meneruskan sekolah atau bahkan tidak bisa mulai bersekolah. Akibat yang lebih luas lagi, orang tua pasien akhirnya harus menggantikan pasien memelihara cucu-cucunya.

Keterbatasan fisik di dapatkan 10 responden (58.82%) kategori buruk yang dapat dilihat dari pasien menghabiskan seluruh waktu melakukan pekerjaan atau

kativitas lain mayoritas pasien menjawab tidak. Hal ini sesuai menurut Sukarni (1994) keadaan yang sempurna baik dari segi fisik, mental maupun kesejahteraan sosial diri seseorang dikatakan sehat tidak hanya lepas dari penyakit dan kelemahan tetapi juga mampu menjalankan aktifitas kehidupan dan menyesuaikan diri dengan perubahan dan juga responden mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas –aktivitass lain. Sesuai dengan yang dikatakan Papalia (2001) yang menyebutkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada pasien mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan sebagian aktivitas atau seperti biasanya.

Keterbatasan emosional didapatkan 9 (52.94%) yaitu kategori buruk mayoritas responden tidak berhati-hati sebagai mana biasanya dan dan pasien mengalami tertekan atau cemas. Dalam hal ini sesuai dengan penelitian Hal ini sesuai yang di katakan (Nurachman,1999) pasien yang sedih dan tertekan yaitu merasa tidak berguna, tidak berdaya, cemas yang disebabkan oleh penyakit yang di deritanya. Doengoes, Moorhouse, (1999) mengatakan bahwa kecemasan dan kegagalan yang terjadi di sebabkan oleh adanya ancaman terhadap perubahan pada status kesehatan, sosial, ekonomi, fungsi peran dan hubungan dengan orang lain. Abdullah (2008) mengemukakan bahwa keyakinan diri yang rendah pada penderita HIV/AIDS akan menyebabkan penderita mengalami hypocondria, dimana penderita seringkali memikirkan mengenai kehilangan, kesepian dan perasaan berdosa di atas segala apa yang telah dilakukan sehingga menyebabkan mereka kurang menitik beratkan langkah-langkah penjagaan kesehatan dan kerohanian mereka.

Vitalitas di dapatkan 10 (58.82%) kategori buruk dimana responden mengatakan cepat lelah pada kategori ini pasien menjawab merasa cepat lelah hal ini sesuai yang di katakana oleh Papilia (2001) yang menyebutkan perubahan-perubahan fisik pada pasien mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan sebagian aktifitasnya dengan baik dan merasa cepat lelah.

Nyeri tubuh didapatkan 11 (64.70%) kategori buruk pada kategori ini mayoritas responden menjawab seberapa besar pasien merasakan nyeri pada tubuh anda mayoritas responden menjawab nyeri sedang. Menurut haylock (2006) bahwa rasa nyeri pada penderita HIV/AIDS merampas kemungkinan untuk menikamati hidup dari penderitanya dan rasa nyeri yang hebat sanggup menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.

Keterbatasan secara umum di dapatkan bahwa 17 responden (100) kategori buruk dimana responden mengatakan kondisi kesehatan saat ini dan merasa kesehatannya semakin menburuk. Menurut Murtiwi (2005) kesehatan pasien dapat di ukur berdasarkan terpenuhinya semua tingkatan kehidupan fisik, fungsional, sosial, spiritual psikososil, dan ekonomi. Jadi kemungkinan pasien merasakan bahwa semua tingkatan kehidupannya terpenuhi dengan baik. Dalam penelitian Wahyuni (2007) responden cendrung terus menerus atau sering berdoa dan mendekatkan diri pada tuhan karena hal ini dianggap sebagai sumber kekuatan agar mampu menerima keadaan yang dihadapi. Menurut Hamid (1999) dukungan dari keluarga sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakit yang dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yang lama dan hasil yang belum pasti.

5.2.2

Kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan (N=17).

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 17 pasien di dapatkan 5 pasien (29.41%) kualitas hidup baik, dan 12 pasien (70.58%) kualitas hidup buruk. Penurunan kualitas hidup salah satunya di pengaruhi oleh kesehatan mental atau psikologis pasien HIV/AIDS (Hay, 1992). Berdasarkan hasil penelitian Widiyanto (2009) menunjukkan bahwa seluruh penderita HIV/AIDS mengalami problem psikologis berupa stres, merasa bersalah, putus asa, pasrah dan ketakutan akan kematian dalam hidup. Halim dan Atmoko (2005) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan pada penderita HIV/AIDS, maka kesejahteraan psikologis pada penderita HIV/AIDS akan semakin rendah sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita HIV/AIDS.

Sukarni (1994) berpendapat keadaan yang sempurna baik dari segi fisik, mental maupun kesejahteraan sosial dari seseorang dikatakan sehat tidak hanya lepas dari penyakit dan kelemahan tetapi juga mampu menjalankan aktivitas kehidupan dan dapat menyesuaikan dengan perubahan, untuk mencegah berbagai penyakit diperlukan dukungan keluarga dan fasilitas yang memadai.

Menurut Bastian dan Wawan (2003) mengutarakan ketika seseorang didiagnosa terinfeksi HIV /AIDS, maka hampir selalu ini merupakan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan meskipun terkena karena perilaku mereka sendiri, diagnosa HIV bisa terasa berat untuk dapat diterima reaksi bisa beragam ada yang bereaksi dengan kemarahan, ketakutan yang amat sangat, membantah kebenaran tes, atau kadang, dengan reaksi tumpul.

Roy (dalam Winarto, 2007) memandang manusia yang utuh dan sehat, individu mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biopsikososial setiap orang menggunakan koping yang positif maupun yang negatif. Untuk mampu beradaptasi tiap individu akan berespon terhadap kebutuhan fisiologis, konsep diri yang positif, mampu memelihara integritas diri, selalu berada pada rentang sehat sakit untuk memelihara proses adaptasi. Demikian besar dampak mekanisme koping adaptif untuk kualitas hidup pada pasien HIV reaktif maka diperlukan pertukaran informasi secara mendetail dan menyeluruh antar sesama pasien HIV.

Menurut Depkes RI (2007), peningkatan kualitas hidup pasien HIV/AIDS dapat didukung oleh pelayanan rumah sakit. Pengelola rumah sakit harus mampu memberikan pelayanan kuratif yang terbaik, tidak hanya menyentuh kebutuhan penderita tetapi juga terhadap keluarganya, sehingga kualitas hidup penderita HIV/AIDS semakin membaik.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

6.1.1 Kualitas hidup pasien HIV/AIDS berdasarkan Fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri, keterbatsan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan peran emosional, dan kesehatan mental yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan (N=17) Dari hassil penelitian yang di lakukan terhadap 17 pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan yang di lihat dari Fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri, keterbatsan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan peran emosional, dan kesehatan mental di dapatkan mayoritas kualitas buruk dan hanya di dapat satu kategori kualitas baik yaitu pada kesehatan mental di dapatkan 10 (58.82%) kategori baik

6.1.2 Kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan (N=17).

Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 17 pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam malik medan menggambarkan kualitas hidup pasien dilihat dari kesehatan mental dan kesehatan fisik di dapatkan bahwa kualitas hidup pasien HIH/AIDS yaitu baik 5 (29.41%) dan kualitas hidup buruk 12 (70.58%).

6.1 Rekomendasi

6.1.1 Rekomendasi terhadap keterbatasan penelitian

Pada penelitian ini tdak membahas hubungan antara data demografi dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan, maka diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat menyelidiki hubungan antara faktor demografi dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan instrument kualitas hidup secara umum, sehingga pada penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk menggunakan instrument yang lebih spesifik dalam mengukur kualitas hidup pasien HIV/AIDS dan dipandang perlu meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar tentang kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di RSUPH. Adam Malik Medan.

6.1.2 Rekomendasi bagi peraktek keperawatan

Perawat sebagai bagian dari tim kesehatan yang mengalami masalah pasien hendaknya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Peran perawat sanagat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan dalam mencapai kualitas hidup yang baik.

Dokumen terkait