• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.5. Pembahasan

5.5.1. Distribusi status gizi berdasarkan karakteristik balita

Berdasarkan jenis kelamin, status gizi balita indeks BB/U ditemukan perempuan lebih banyak mengalami status gizi kurang dibandingkan laki-laki dan berdasarkan indeks BB/TB ditemukan secara klinis perempuan lebih banyak tampak kurus dibanding laki-laki. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sri (2014) dimana proporsi balita perempuan lebih besar (52%) dibandingkan jenis kelamin laki-laki (48%). Hal ini dapat dipengaruhi oleh jumlah anak balita perempuan yang berdasarkan data puskesmas memang lebih banyak dibandingkan anak balita laki-laki di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru. Hal ini mengindikasikan bahwa baik anak balita laki-laki maupun perempuan, mempunyai kemungkinan relatif sama mengalami status gizi kurang. Pada hasil penelitian sebelumnya juga ditemukan balita jenis kelamin paling banyak mengalami gizi buruk dan kurang karena di kehidupan sehari-hari masih banyak keluarga yang memberikan porsi lebih banyak kepada laki-laki daripada perempuan dan mengutamakan makanan terlebih dahulu pada anak balita laki-laki setelah itu baru perempuan.38

Berdasarkan umur, status gizi balita indeks BB/U ditemukan kelompok umur 13-24 bulan lebih banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini dapat terjadi karena anak balita dengan umur 13-24 bulan adalah anak balita termasuk dalam kelompok

masa pertumbuhan yang cepat sehingga memerlukan kebutuhan gizi yang paling banyak dibandingkan dengan masa-masa selanjutnya.39 Umur balita bukan merupakan faktor risiko gizi kurang pada anak balita. Namun demikian, hal ini dapat mempengaruhi tumbuh kembang.40 41

Berdasarkan berat badan, status gizi balita BB/U, ditemukan kelompok berat badan 9-11 Kg lebih banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Status gizi balita berdasarkan indikasi BB/U lebih mencerminkan status gizi anak saat ini (current nutritional status) bersifat umum dan tidak spesifik.21 Berat badan menggambarkan jumlah protein dan lemak, air serta mineral pada tulang yang sangat sensitif terhadap perubahan mendadak, seperti terserang penyakit infeksi, penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Hal ini menunjukkan balita mengalami gangguan pertumbuhan yang serius, yaitu balita menglami ketidakseimbangan asupan protein dan energi, namun tidak memberikan indikasi apakah masalah kekurangan gizi tersebut bersifat akut atau kronis. Oleh karena itu, setiap gangguan kesehatan terutama memperlihatkan adanya gejala muntah, diare, atau turunnya selera makan anak, segera bawa ke pelayanan terdekat. Berdasarkan tinggi badan pada status gizi balita indeks BB/U ditemukan kelompok dengan tinggi badan 76-86 Cm banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB menggambarkan status gizi bersifat akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit. Dalam keadaan demikian, berat badan anak akan cepat turun, sehingga tidak proporsional dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Besarnya masalah kekurusan (kurus dan sangat kurus) pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat adalah jika prevalensi kekurusan >5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kekurusan antara 10,1% -15% dan dianggap kritis bila prevalensi kekurusan sudah diatas 15%.22

5.5.2. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Ibu Balita

Umur ibu balita, lebih banyak pada umur 20-35 tahun. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/U secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini menunjukkan bahwa ibu balita lebih banyak pada kategori usia produktif. Kurangnya pengetahuan tentang gizi, kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu penyebab kejadian gangguan kurang gizi.24

Ketidaktahuan ibu balita akan kebutuhuan gizi balita bisa mengakibatkan asupan gizi pada anak tidak terpenuhi dengan baik, sehingga proses tumbuh kembang anak akan terhambat dan anak dapat mengalami kekurangan gizi. Anak yang mengalami defisiensi gizi pada usia muda, kemungkinan besar akan mengalami hambatan pertumbuhan dan kapasitas intelektualnya rendah.34

Pendidikan ibu balita lebih banyak SLTA. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini sesuai dengan penelitian Sri (2014) dimana gizi kurang terjadi banyak pada pendidikan terakhir SLTA. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar. Menurut pendapat Notoatmodjo bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuan seseorang juga semakin tinggi.24 Dari hasil penelitian sebelumnya ,dikatakan bahwa status gizi kurang dapat terjadi pada pendidikan tinggi dikarenakan bahwa faktor status gizi balita tidak hanya dipengaruhi pendidikan ibu.36

Pekerjaan ibu balita, lebih banyak sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan secara klinis lebih banyak tampak kurus. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Ihsan (2012) dimana proporsi ibu balita tidak bekerja lebih besar yaitu 90,6%. Tidak bekerjanya ibu membuat ibu lebih memiliki waktu untuk

merawat dan mengasuh anak balitanya. Hasil penelitian ini tidak menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja memilki faktor risiko gizi kurang yang cendeung sedikit. Hal ini disebabkan adanya faktor lain seperti pendapatan keluarga. Dengan adanya ibu yang bekerja, maka dapat menambah pendapatan keluarga sehingga mempengaruhi daya beli keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dana anggota keluarga lainnya.40

Pendapatan keluarga, lebih banyak <Rp 2.037.000 (UMK Kota Medan). Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru sebagian besar pekerjaan kepala keluarga berprofesi sebagai buruh harian (tukang becak, buruh pekerja bangunan, tukang jahit, pekerja pabrik), sehingga hal ini terkait dengan pendapatan keluarga. Pendapatan yang meningkat maka berpengaruh terhadap perbaikan kesehatan dan keadaan gizi. Sebaliknya, pendapatan yang rendah akan mengakibatkan lemahnya daya beli.

Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan dalam kualitas dan kuantitas pada makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suhardjo menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat maka berpengaruh terhadap perbaikan kesehatan dan keadaan gizi serta kemiskinan sebagai salah satu determinan sosial ekonomi merupakan penyebab gizi kurang yang pada umumnya menduduki posisi pertama.14

Jumlah anak dalam keluarga, lebih banyak 1-2 orang. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini sesuai penelitian Sri (2014) dengan proporsi gizi kurang lebih besar terjadi pada jumlah anak 1-2 orang. Besar keluarga mungkin berpengaruh terhadap distribusi makanan dalam keluarga. Keadaan demikian juga dapat mengakibatkan perhatian ibu dalam merawat dan membesarkan anak balita dapat terpengaruh bila jumlah anak yang dimilki besar. Bila besar keluarga ditambah, maka porsi makanan untuk setiap anak berkurang.24 Hasil penelitian ini tidak menggambarkan bahwa semakin banyak jumlah anggota keluarga semakin rendah risiko terjadinya gizi kurang.

Berdasarkan penelitian Saputra dan Rizka (2012), kondisi ini dapat terjadi akibat ada indikasi anak dilibatkan dalam membantu ekonomi rumah tangga sehingga total pendapatan rumah tangga menjadi meningkat yang selanjutnya berpengaruh dalam peningkatan pola konsumsi. Pola konsumsi yang meningkat dapat membuat rendahnya risiko terjadinya gizi kurang.3

Dokumen terkait