BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
Perilaku manusia dapat dibagikan kepada 3 yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Penelitian ini lebih memfokuskan kepada pengetahuan tentang kebersihan vagina karena pengetahuan yang akan mempengaruhi sikap seseorang dan seterusnya menentukan tindakannya dalam sehari-hari. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembagian kuesioner yang telah valid untuk mengukur pengetahuan responden pada tingkat pengetahuan yang pertama, yaitu tahu.
Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 36 responden (60%) telah menjawab dengan benar tentang maksud kebersihan vagina yang paling tepat yaitu kondisi vagina dalam keadaan asam yaitu pH 3.8-4.5. Menurut Barad (2010), pada wanita yang berusia reproduksi, Lactobacillus sp adalah bakteri yang predominan sebagai flora normal pada vagina. Kolonisasi oleh bakteri ini
mempertahankan pH vagina dalam kadar yang normal yaitu pH 3.8-4.5, yang akan mencegah pertumbuhan dari bakteri-bakteri yang patogenik. Selain itu, kadar estrogen yang tinggi memelihara ketebalan vagina yang berperan sebagai pertahanan lokal.
Sebanyak 51 responden (85%) telah menjawab dengan benar mengenai jenis material yang paling sesuai untuk celana dalam wanita. Jawaban yang benar adalah kapas, dan bukannya nilon atau satin. Menurut Sacks (2009), untuk mencegah kegatalan pada vagina, gunakan celana dalam yang diperbuat daripada kapas. Pemakaian celana dalam yang diperbuat daripada material sintetik haruslah dielakkan. Pemakaian celana dalam yang diperbuat daripada kapas boleh mengurangkan risiko mendapat infeksi jamur karena kapas menyerap kelembapan dari kulit maka akan menghambat pertumbuhan jamur. Pemakaian celana dalam yang diperbuat dari nilon, satin, dan material sintetik yang lain pula haruslah dicegah karena ia memerangkap panas dan kelembapan, maka menyediakan suasana yang baik untuk pertumbuhan jamur. Kapas dan material alami yang lain mempunyai pengudaraan yang baik, membenarkan kelembapan untuk berevaporasi. (Marcellin, 2009).
Di samping itu, sebanyak 36 responden (60%) mengetahui cara penjagaan vagina yang benar yaitu cukup dengan hanya mencuci dengan air sahaja, tanpa perlu menggunakan produk-produk yang dibeli di apotek, ataupun dengan cara memasukkan bahan kimia ke dalam vagina (douching). Menurut Stoppler (2010), walaupun wanita sering menggunakan douche untuk mencuci vagina setelah menstruasi atau berhubungan seksual, dokter tidak menggalakkan cara pembersihan sedemikian. Vagina mempunyai mekanisme pembersihannya sendiri. Cara douching akan mengeliminasi bakteri komensal (bakteri yang memang hidup di vagina) yang melapisi vagina. Jika vagina wanita tersebut mengeluarkan sekresi yang abnormal, douching malah memperburuk kondisi vagina tersebut. Maka douche tidak disarankan tanpa pengetahuan dokter.
Sebanyak 42 responden (70%) yang mengetahui bahwa penyakit yang boleh timbul jika vagina tidak dijaga dengan bersih adalah Bacterial Vaginosis, penyakit jamur (Candidiasis), dan Trichomoniasis. Hasil tersebut sesuai dengan
yang ditemukan oleh Stoppler (2010) bahwa menurut teori, infeksi pada vagina bermaksud inflamasi pada vagina yang mengakibatkan sekresi, bau, atau kegatalan. Vagina mempunyai kondisi yang tersendiri dan mempertahankan keseimbangannya dengan kehadiran bakteri komensal dan perubahan hormon pada tubuh wanita itu sendiri. Inflamasi pada vagina berlaku apabila ekosistem vagina diubah oleh obat-obat tertentu, hormon, douche, hubungan seksual, penyakit menular seksual, stress, dan perubahan pasangan seksual. Tiga jenis infeksi vagina yang paling sering adalah Bacterial vaginosis, Candidiasis, dan Trichomoniasis. Simptom-simptom penyakit tersebut hampir sama tetapi pengobatannya adalah berlainan. Bacterial vaginosis adalah penyebab utama terjadinya vaginitis, yang disebabkan perubahan atau ketidakseimbangan jenis- jenis bakteri yang merupakan flora normal pada vagina, yang kemudian mengakibatkan pertumbuhan berlebihan oleh organisme seperti Gardnerella vaginalis. Faktor risikonya termasuk, kehamilan, penggunaan AKDR (alat kehamilan dalam rahim), dan douching. Penyebab kedua adalah infeksi jamur yaitu Candidiasis, yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur yang berlebihan pada vagina. Kejadian seperti ini mungkin disebabkan oleh penggunaan douche, perfumed feminine hygiene sprays, penggunaan steroid, kehamilan, dan lain-lain. Antara faktor risikonya adalah vagina yang tidak dijaga dengan bersih seperti penggunaan seluar dalam yang terlalu ketat atau non-cotton karena ini akan meningkat temperatur, kelembapan, dan iritasi lokal.
Sebanyak 45 responden (75%) mengetahui bahwa pembalut wanita seharusnya diganti 3 kali atau lebih dalam sehari. Menurut Cornforth (2009), pembalut wanita harus diganti sekurang-kurangnya 4-8 jam sewaktu menstruasi untuk mencegah penyakit pada vagina, misalnya penyakit Toxic Shock Syndrome (TSS), yang merupakan penyakit yang jarang terjadi namun bisa mengakibatkan kematian. Selain itu, wanita seharusnya menggunakan pembalut wanita yang kadar penyerapan yang rendah karena penggunaan pembalut wanita yang kadar penyerapannya sangat tinggi berpotensi untuk menyebabkan penyakit TSS. Wanita yang paling berisiko untuk TSS adalah yang berusia di bawah 30 tahun, terutama sekali remaja.
Sebanyak 40 responden (66,7%) yang mengetahui bahwa tujuan mengganti pembalut wanita adalah untuk mengelakkan bakteri bertumbuh, dan bukannya untuk mengelakkan timbulnya bau atau untuk merasa lebih selesa. Menurut kajian yang dilakukan oleh Shands (1998), penggunaan pembalut wanita dan tampon pada waktu yang lama merupakan faktor risiko terjadinya penyakit Toxic Shock Syndrome (TSS) pada wanita yang sedang menstruasi. Dari 64 wanita, 62 orang daripadanya dijumpai bakteri Staphylococcus aureus yang telah diisolasi dari penyakit TSS, dan 7 orang daripada 71 kultur vagina dijumpai pada kontrol yang sehat.
Sebanyak 29 responden (48,3%) yang mengetahui bahwa kita perlu menggunakan pantyliner hanya sewaktu mengalami keputihan, dan bukannya setiap hari, ataupun tidak perlu menggunakan sama sekali. Menurut Pribakti (2010), untuk mengurangi kelembapan di sekitar daerah organ intim wanita, memang sebaiknya penggunakan pantyliner. Namun, sebaiknya pantyliner hanya digunakan saat mengalami keputihan saja sebab pantyliner sangat membantu untuk mengurangi rasa lembab dan basah pada celana dalam. Pemakaian pantyliner terus-menerus tiap hari juga sangat tidak dianjurkan pada tidak dalam keadaan keputihan, karena pantyliner akan menutup aliran udara di sekitarnya sehingga menyebabkan kondisi di sekitar vagina menjadi panas dan semakin lembab. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Farage (1997), penggunaan pantyliner yang mengandung parfum berbanding dengan yang non-parfum, tidak dijumpai peningkatan dari segi jumlah mikroba. Ini menunjukkan bahwa tiada perbedaan di antara jenis-jenis pantyliner yang digunakan. Selain itu, penggunaan pantyliner pada kelompok kontrol tidak menunjukkan peningkatan jumlah bakteri patogen.
Sebanyak 47 responden (78,3%) yang mengetahui bahwa cara yang betul untuk mencuci vagina adalah dari arah depan ke belakang, dan bukannya dari belakang ke depan. Menurut Canadian Women’s Health Network, untuk mencegah iritasi vagina, cara yang betul untuk mencuci vagina adalah dari depan ke belakang setelah membuang air untuk mencegah bakteri dari anus tersebar ke vagina.
Secara keseluruhan diperoleh sebanyak 43 responden (71,7%) yang berpengetahuan baik, 17 responden (28,3%) yang berpengetahuan sedang, dan tiada responden (0%) yang berpengetahuan kurang. Dari hasil tersebut terlihat bahwa mayoritas pengetahuan tentang kebersihan vagina pada wanita sudah menikah di kawasan perumahan Taman Hussein berada pada tingkat baik. Menurut asumsi peneliti, hal ini mungkin dikarenakan oleh mayoritas dari sampel merupakan wanita yang beredukasi agak tinggi, yaitu taraf diploma, maka tingkat pengetahuan dan kesedaran mereka mengenai hal-hal penjagaan kebersihan adalah baik. Selain itu, kawasan perumahan Taman Hussein ini terletak di area kota, dan bukannya di kawasan pedalaman. Ini mungkin mempengaruhi tingkat pengetahuan sampel karena mereka mempunyai akses yang lebih luas untuk mencari informasi-informasi tentang kebersihan vagina misalnya dari buku, internet dan lain-lain.
Dari hasil analisa secara keseluruhan dapat dilihat bahwa pengetahuan wanita sudah menikah di Taman Hussein terhadap kebersihan vagina berada pada kategori baik (71,7%). Menurut Notoadmodjo (2005), pengetahuan yang diperoleh subjek selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap terhadap objek yang diketahuinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bila pengetahuan yang baik akan memiliki sikap yang baik juga.