BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
5.2.1 Karakteristik Individu
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pola komunikasi keluarga dengan orangtua tunggal di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas terhadap 52 responden, terlihat bahwa mayoritas keluarga memiliki komunikasi fungsional (n = 49;82,69%).
Karakteristik responden berdasarkan umur rata-rata lebih banyak berusia 40-65 tahun sebanyak (n = 47; 90,38%), paling muda berusia 29 tahun dan paling tua berusia 67 tahun. Responden terbanyak berada pada rentang usia dewasa tengah-lajang (40-65 tahun), karena pada rentang usia ini banyak terdapat perubahan dalam perkawinan seperti kematian pasangannya, perpisahan, perceraian dan pilihan untuk menikah lagi atau tetap sendiri (Potter & Perri, 2005).
Jenis kelamin lebih banyak perempuan dari pada laki-laki, perempuan (n = 36; 75%) dan laki-laki (n = 12; 25%). Hal ini dikarenakan umur harapan hidup perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki, dan didukung pula apabila seseorang wanita merasa mempunyai konflik dalam kehidupannya mereka mencari bantuan; seperti bercakap-cakap dengan orang terdekat bahkan sampai berkonsultasi pada ahli professional untuk mencapai pemecahan masalah yang dihadapinya, perempuan cenderung lebih bersifat terbuka, dan menyelesaikan masalah dengan cara berdiskusi dengan keluarga (Gray, 2008). Selain dari pada itu perempuan juga lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif.
Perempuan lebih mudah dipengaruhi oleh tekanan-tekanan lingkungan daripada laki-laki. Lebih jauh lagi, dalam berbagai studi kecemasan secara umum, menyatakan bahwa perempuan lebih cemas daripada laki-laki dan memiliki skor yang lebih tinggi pada pengukuran ketakutan dalam situasi sosial dibanding laki-laki (Trismiati, 2004).
Mayoritas penduduk beragama Protestan (n=33 ; 63,46%), sebanyak n=30 memiliki pola komunikasi fungsional dan n=3 disfungsional. Dari hasil pengamatan bahwa penduduk di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas ini sangat erat dalam persekutuan ibadahnya, mereka memiliki perkumpulan yang dinamakan PA/ Partangiangan. Dengan pendekatan spritual yang baik maka stres dalam keluarga dapat diminimalkan, dan tentunya mereka akan memiliki kekuatan baru apabila selesai beribadah. Dengan pendekatan ibadah yang baik maka komunikasi dalam keluarga juga akan terjalin menjadi jauh lebih baik, orangtua dan anak-anak akan cenderung lebih bersabar dan akan memiliki koping yang lebih kuat dalam menghadapai tantangan kehidupan dalam keluarga (Friedman, 1998).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan responden SMA (n = 17; 35,42%) dan SMP (n = 16; 33,33%). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2002), bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pengetahuan yang dimilikinya. Setelah mengenyam pendidikan yang tinggi orangtua akan melakukan sosialisasi pendidikan didalam lingkungan keluarga karena sesungguhnya ilmu adalah harta yang tidak bisa ditiru.
Sedangkan untuk suku mayoritas berasal dari suku Batak (n = 37; 71,15%), dan dilihat dari pola komunikasi suku Batak n = 31 yang fungsional dan n = 6 disfungsional, hal ini dikarenakan suku Batak lebih cenderung terbuka, mengungkapkan dan menceritakan masalah yang terjadi dalam dirinya, menghormati orangtuanya, cenderung memecahkan masalah dengan diskusi (musyawarah) diantara orangtua dan anak-anaknya, sehingga hal ini memudahkan keluarga dalam berkomunikasi satu sama lain kepada anggota keluarga lainnya (Sudiharto, 2007). Berdasarkan suku Jawa (n = 13 ; 25%), sebanyak n = 10 yang memiliki komunikasi fungsional dan n = 3 yang memiliki komunikasi disfungsional. Berdasarkan karakteristik suku Jawa dalam buku karangan Sudiharto (2007) dinyatakan bahwa anak-anak pada suku Jawa tidak dapat menyampaikan pendapatnya secara bebas kepada orangtuanya dan tidak bisa mengkritik orangtuanya, tetapi hasil temuan dilapangan menggambarkan bahwa lebih dominan suku Jawa yang memiliki komunikasi fungsional yang artinya anak-anak terbuka menyampaikan pendapatnya kepada orangtuanya dan keluarga mereka dapat menyelesaikan masalah dengan cara berdiskusi, hal ini dikarenakan masyarakat suku Jawa di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas ini telah membaur dengan beberapa suku lainnya seperti suku Batak, hal inilah yang menjadi pemicu bagi masyarakat suku Jawa didaerah ini dalam berkomunikasi secara fungsional dengan keluarganya. Ada sebanyak n = 3 yang memiliki pola komunikasi disfungsional, hal ini dikarenakan kultur yang ada pada masyarakat suku Jawa asli masih melekat dalam keluarga tersebut, sehingga anak-anak tidak bebas menyampaikan pendapat dengan orangtuanya dan anak-anak lebih
Mayoritas keluarga bekerja sebagai wiraswasta (n = 30; 57,69 %), dari data didapatkan bahwa n = 22 memiliki pola komunikasi fungsional, dan n = 8 memiliki pola komunikasi disfungsional. Berdasarkan pengamatan peneliti mayoritas penduduk berwiraswasta dirumah seperti membuka toko untuk berjualan, ada juga ia menjahit bersama dengan anak-anaknya, hal ini memungkinkan semakin sering orangtua berinteraksi dengan anak-anaknya maka akan semakin sering juga mereka dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Dari data juga didapatkan bahwa 6 dari 7 orangtua tunggal yang bekerja sebagai PNS memiliki komunikasi fungsional, hal ini dikarenakan pekerjaan menjadi PNS lebih mapan dan lebih memiliki banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya, hal ini yang membuat pola komunikasi keluarga menjadi fungsional.
Penghasilan keluarga berada para rentang Rp.1.000.000 - Rp.3.000.000 (n = 26 ; 50%), sebanyak n = 22 yang memiliki pola komunikasi fungsional dan n = 4 yang memiliki pola komunikasi disfungsional. Apabila penghasilan keluarga berada pada rentang Rp.1.000.000-Rp.3.000.000 maka akan lebih mapan dalam hal finansial, hal ini akan meminimalkan konflik ekonomi didalam keluarga, dan keluarga pasti akan mampu memberikan pendidikan yang lebih baik dengan anaknya, dengan pendidikan yang lebih baik maka akan semakin baik juga anak-anak dalam berkomunikasi kepada orang-orang disekitarnya khususnya antar anggota keluarga.
5.2.2 Pola komunikasi keluarga dengan orangtua tunggal.
Friedman (1998) mengatakan bahwa interaksi keluarga memiliki pengaruh bagi pola komunikasi keluarga. Komunikasi keluarga yang efektif
terjadi apabila tidak terdapat kekakuan dan formalitas di dalam keluarga tersebut. Sehingga antara anggota keluarga dapat melakukan komunikasi dari hati ke hati secara dialogis dalam berbagai kondisi dan situasi dengan santai dan penuh keterbukaan serta keakraban (Komala, 2005).
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas keluarga dengan orangtua tunggal memiliki pola komunikasi yang fungsional (n = 40; 83,33%). Berarti dapat diasumsikan bahwa walupun kehilangan salah satu pasangannya, ternyata orangtua tunggal mampu untuk berperan ganda yaitu menjadi ayah dan ibu dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Hal ini terbukti dalam keluarga dengan orangtua tunggal memiliki komunikasi fungsional yang terbuka, sehat, dan idealnya dapat memenuhi fungsi-fungsi umum dalam keluarga. Keluarga dengan orangtua tunggal yang memiliki komunikasi fungsional berarti akan meminimalkan stres yang terjadi didalam keluarga, karena keluarga dapat menyelesaikan masalah dengan sehat melalui diskusi atau musyawarah dan mampu mengungkapkan kemarahan secara sehat (Potter & Perry, 2005 dan Friedman, 1998). Komunikasi fungsional dipandang sebagai kunci dari sebuah keluarga yang berhasil dan sehat (Friedman, 1998).
Dari data yang didapatkan, ternyata ada 9 ( 17,31%) keluarga dengan orangtua tunggal yang mempunyai pola komunikasi disfungsional dan 7 dari 9 orangtua tunggal yang pola komunikasinya disfungsional adalah berjenis kelamin laki-laki. Hal ini terkait dengan pendapat yang dikemukakan oleh Jhon Gray (2008) menyatakan bahwa laki-laki cenderung bersifat dominan, aktif, bebas, percaya diri yang tinggi, keras dan yakin pada diri sendiri sehingga sulit untuk
mengungkapkan konflik yang terjadi dalam dirinya kepada orang lain, hal ini mengakibatkan laki-laki sulit berkomunikasi dengan anak-anaknya secara baik.
Untuk itu sebagai seorang orangtua tunggal sangat membutuhkan perjuangan yang lebih tinggi dalam membesarkan anak-anaknya. Mengingat banyaknya tuntutan dalam membesarkan anak-anaknya selama menjadi orangtua tunggal, baik dalam bidang ekonomi maupun pendidikan, untuk itu dibutuhkan adanya komunikasi yang terbuka dalam keluarga agar anak-anak juga dapat mengerti akan kebutuhan orangtuanya, sehingga anak-anak tidak terlalu menuntut kepada orangtuanya. Dengan begitu keluarga akan hidup damai sejahtera, saling mengerti dan memahami akan kebutuhan satu sama lain dan lebih terbuka dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Orangtua juga akan lebih pandai dalam mengungkapkan emosinya secara sehat, sehingga anak-anak akan merasakan orangtua mereka sedang mendidik mereka menjadi individu yang berguna bagi masyarakat (Endang, 2005).