• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

2. Pembahasan

2.2 Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB Paru Dalam penelitian ini hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB paru dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek medik seperti yang berasal dari penyakti dan penyebab penyakit dan aspek nonmedik seperti pendidikan yang rendah, sikap penderita yang kurang peduli (acuh) terhadap dirinya sendiri, sosial budaya dan faktor ekonomis.

2.2.1 Hambatan Medik

2.2.1.1 Masalah Pemakaian OAT

Pada hasil penelitian 70% responden mengalami mual dan muntah setelah makan obat. Seorang penderita kadang-kadang berhenti minum obat sebelum masa pengobatan selesai, hal ini terjadi karena penderita belum memahami bahwa obat harus ditelan seluruhnya dalam waktu yang telah ditetapkan dan juga karena adanya efek mual dan muntah setelah makan obat yang menyebabkab penderita enggan makan obat. Pemakaian obat antituberkulosis yang tidak teratur dapat menimbulkan resistensi kuman terhadap obat dan harus dijaga jangan sampai pemakaian obat yang berbulan-bulan menimbulkan efek samping dari obat-obatan yang bersangkutan (Yunus, dkk, 2004).

Dasar pengobatan TB Paru terdiri dari 2 fase, yaitu fase intensif dan fase lanjutan. Pada fase intensif obat diminum setiap hari dengan pengawasan. Pada fase lanjutan obat diminum seminggu 3 kali. Pengobatan yang diberikan tergantung kepada tipe penderita, lamanya pengobatan sebelumnya, lamanya putus berobat dan bagaimana hasil pemeriksaan dahak sewaktu dia kembali

berobat. Pemakaian OAT jangka pendek sesuai dengan rekomendasi WHO, yaitu berdasarkan kategori dan klasifikasi penyakit adalah sangat penting. Obat anti TB Paru yang digunakan sesuai dengan program pemerintah untuk mencegah kegagalan pengobatan. Hal ini sesuai dengan prinsip pengobatan TB Paru yakni dengan mengkombinasikan beberapa jenis obat dalam jumlah yang cukup dan dosis tepat selama 6 sampai 8 bulan. Pengobatan penyakit TB tidak boleh setengah-setengah, harus rutin, berturut-turut sampai tuntas dan memakan waktu paling sedikit enam bulan (Depkes RI, 2002).

2.2.2 Hambatan Nonmedik

2.2.2.1Masalah Pengetahuan Tentang TB Paru

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa 85% responden setuju penderita datang ke puskesmas setelah merasakan adanya sesak bernafas, hal ini dapat terjadi karena pada umumnya karena kurangnya pengetahuan penderita tentang gejala dini atau tanda-tanda awal penyebab penyakit TB paru dan kebanyakan penderita tidak datang ke puskesmas setelah mengalami batuk yang panjang dan tidak sembuh setelah minum obat karena menganggap penyakitnya waktu batuk biasa dana baru akan datang ke puskesmas setelah mengalami sesak dalam bernafas dan tidak bisa diatasi oleh perobatan alternatif. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sebahagian responden (30%) pernah mengikuti program pengobatan tetapi tidak tuntas, dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa penderita enggan untuk mengikuti program pengobatan TB paru karena masih

menganggap program itu tidak penting, sedangkan sebahagian besar lainnya (95%) setuju bahwa responden datang kepuskesmas setelah terlebih dahulu mencoba pengobatan lain dan tidak sembuh. Bila dilihat hasil penelitian ini sesuai dengan karakteristik orang pedesaan yang lebih mengutamakan pengobatan alternatif daripada pengobatan secara medis, mereka masih menganggap pengobatan yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka turun temurun lebih ampuh daripada pengobatan secara medis hal ini yang menjadi hambatan dalam program pelaksanaan pemberantasan penyakit TB paru karena kurangnya keyakinan dan kepercayaan penderita terhadap pengobatan secara medis sehingga akan datang ke puskesmas setelah gagal pengobatan alternatif.

2.2.2.2Masalah Sikap Penderita yang tidak Acuh terhadap Penyakitnya Dari hasil penelitian diketahui bahwa umumnya responden tidak memiliki ventilasi rumah yang cukup, pintu dan jendela tidak dibuka setiap hari. Ventilasi yang kurang menyebabkan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah menjadi sedikit yang dapat menimbulkan penyakit (Kustijadi, 2001), 70% responden datang ke puskesmas hanya jika sempat, 70% lainnya malas datang kepuskesmas karena merasa obat yang diberikan tidak ada pengaruhnya terhadap penyakitnya dan 70% tidak diawasi oleh petugas/keluarga sewaktu minum obat. Hasil penelitian ini menunjukkan kurangnya perhatian penderita terhadap penyakit yang dideritanya, penderita menganggap penyakit yang dideritanya adalah penyakit biasa dan karena kurangnya kepercayaan penderita terhadap obat yang diberikan hal ini dapat terjadi karena kurang proaktif, tidak sabar dan kurangnya pemahaman penderita tentang proses penyembuhan penyakit TB paru dimana

membutuhkan waktu paling sedikit 6 bulan, rasa jenuh dan rasa kurang yakin menyebabkan penderita memberhentikan minum obat dan pemeriksaan penyakitnya secara rutin ke puskesmas (Aditama, 2002).

2.2.2.3Masalah Sosial Budaya

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa umumnya (90%) responden berkeyakinan penyakit TBC lebih diakibatkan oleh mistik, dan mereka lebih suka berobat alternatif daripada ke dokter di puskesmas dengan keyakinan bahwa penyakitnya hanya dapat disembuhkan oleh tabib di daerah tersebut. Mengakarnya budaya masyarakat Indonesia terutama masyarakat yang tinggal dipedesaan yang lebih percaya kepada hal gaib dan mistik menjadi hambatan dalam program pemberantasan penyakit TB paru (Crofton, 2002). Mayoritas penderita meyakini bahwa penyakit yang dialami karena disebabkan oleh mistik atau niat jahat orang lain sehingga lebih mempercayakan pengobatannya kepada tabib atau orang pintar di daerah tersebut, tingginya keyakinan masyarakat akan hal-hal yang berbau mistik ini dapat dilihat dari tingginya tanggapan responden (90%) menyatakan setuju bahwa penyakitnya disebabkan oleh mistik (Wijaya, 2001). Keyakinan seperti ini telah lama diturunkan dari generasi ke generasi dan menggap hal ini sakral dalam kehidupan masyarakatnya sehingga siapa yang tidak mempercayai hal ini biasanya akan dikucilkan dari kelompok maupun suku yang ada di daerah tersebut sehingga petugas kesehatan mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada penderita mengenai penyakit dan penyebab penyakit yang dideritanya (Wijaya, 2001).

2.2.2.4Masalah Kemiskinan (Ekonomi)

Hambatan lain dalam program pemberantasan penyakit TB paru adalah masalah ekonomi atau kemiskinan. Padan umumnya masyarakat yang tinggal di daerah atau dipedalaman adalah masyarakat ekonomi menengah kebawah dan mayoritasnya adalah masyarakat miskin hal ini dapat dilihat dari tanggapan responden, yang menyatakan bahwa 90% setuju responden tetap bekerja seperti biasa meskipun sedang sakit untuk memenuhi kebutuhan keluarga, 75% setuju responden makan apa adanya karena tidak mampu membeli makanan yang bergizi dan 75% tidak setuju responden minum susu untuk memperkuat daya tahan tubuh. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa mayoritas penderita tidak sanggup membeli makanan yang bergizi dan membeli susu untuk meningkatkan daya tahan tubuh bahkan mayoritas penderita masih bekerja walaupun sedang dalam keadaan sakit, faktor kemiskinan ini dapat menjadi penghambat dalam program pemberantasan penyakit TB paru dimana penderita yang kurang gizi akan gampang kena penyakit TB paru juga akan sulit untuk sembuh karena tidak didukung oleh gizi yang cukup serta penderita akan rentan kembali kena penyakit TB paru karena daya tahan tubuh yang rendah (Wardani, 2001) disebabkan penderita tidak mampu membeli suplemen yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh seperti susu dan juga penderita yang tetap bekerja menyebabkan proses penyembuhan menjadi lebih lama karena orang sakit membutuhkan istirahat yang cukup untuk proses penyembuhannya (Aditama, 2002, Crafton, 2002).

2.2.2.5Masalah Petugas

Mayoritas responden setuju bahwa penderita mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan selama menjalani pengobatan (85%) akan tetapi sebahagian kecil yang lain (15%) tidak setuju mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan dan 75% kurang setuju petugas kesehatan melakukan pemeriksaan rutin, menimbang berat badan setiap berkunjung. Kesibukan dan kelalaian petugas dalam melakukan pemeriksaan rutin terhadap penderita menjadi hambatan dalam program pemberantasan penyakit TB paru. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Yunus dkk (1992) yang menyatakan bahwa dedikasi dari petugas penting artinya untuk mendapatkan keberhasilan dalam tiap tugas terutama untuk penyakit kronik seperti tuberculosis yang membutuhkan pasien harus terus dimotivasi dengan baik, karena kesibukannya petugas tidak mempunyai waktu lagi memperhatikan pasien untuk melakukan pengawasan, pasien yang tidak mengerti apa yang dihadapinya dengan sendirinya akan lalai berobat sampai putus berobat, apalagi kalau penderita sudah merasakan sembuh dari penyakitnya (Sutanto, 2000).

Dokumen terkait