• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Pada penelitian ini didapati ada perbedaan yang bermakna pada tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan frekuensi denyut jantung antara perokok ringan dan perokok sedang. Walaupun ada perbedaan yang bermakna, berdasarkan kategori JNC VII rata- rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada perokok ringan termasuk dalam kategori normal dan tekanan darah sistolik dan diastolik pada perokok sedang termasuk dalam kategori prehipertensi dan rata-rata frekuensi denyut jantung baik perokok ringan dan perokok sedang masih dalam batas normal.

Penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dochi, et al, (2009) terhadap laki-laki yang bekerja didapati bahwa tekanan darah pada perokok lebih tinggi dibanding yang bukan perokok. Sama halnya dengan

tekanan darah pada lansia. Hal ini juga sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Linni, et al, (2014) untuk melihat hubungan konsumsi rokok dengan perubahan tekanan darah. Pada penelitian tersebut didapati bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah konsumsi rokok dengan perubahan tekanan darah, dimana perokok sedang lebih banyak mengalami peningkatan tekanan darah dibanding pada perokok ringan.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan Syazana (2010) pada sekelompok mahasiswa laki-laki di FK USU, yang menunjukkan ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan tekanan darah sistolik dan diastolik. Rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada perokok berat lebih tinggi dibanding pada perokok ringan. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Ridwan, et al, (2012) dimana pada penelitian tersebut didapati bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah rokok yang dihisap dengan kejadian hipertensi. Primatesta (2012) dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa diantara perempuan yang merokok, perempuan perokok ringan cenderung memiliki tekanan darah yang lebih rendah dari perokok sedang dan perokok berat.

Adanya perbedaan denyut jantung antara perokok ringan dan perokok sedang didukung oleh penelitian yang dilakukan Papathanasiou, et al, (2013) pada 289 orang dewasa muda yang menunjukkan bahwa rata-rata denyut jantung pada pria yang merokok lebih tinggi dibanding pria yang tidak merokok begitu juga dengan rata-rata denyut jantung pada perempuan yang merokok lebih tinggi dibanding perempuan yang tidak merokok.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh Price & Wilson (2006) dalam Linni (2014), yang menyatakan bahwa menghisap sebatang rokok akan berpengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah, hal ini disebabkan karena nikotin yang terkandung akan menyebabkan perangsangan terhadap sekresi hormon epinefrin (adrenalin) yang akan meningkatkan frekuensi jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung serta menyebabkan gangguan irama jantung.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

- Ada perbedaan bermakna pada tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan frekuensi denyut jantung antara perokok ringan dan perokok sedang pada mahasiswa FK USU.

- Rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada perokok ringan termasuk dalam kategori normal sedangkan pada perokok sedang rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik termasuk dalam kategori prehipertensi. - Rata-rata frekuensi denyut jantung baik perokok ringan dan perokok

sedang masih dalam batas normal. 6.2 Saran

1. Agar dilakukan penelitian selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan lebih homogen untuk mengurangi bias.

2. Dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat hubungan antara variabel yang berbeda misalnya perbandingan tekanan arteri rerata.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rokok

2.1.1. Definisi Rokok

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (2003), rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.

2.1.2 Jenis Rokok

Menurut Sitepoe (2000), rokok dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan bahan baku yang digunakan :

a. Rokok Putih yaitu rokok yang bahan bakunya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. b. Rokok Kretek yaitu rokok yang bahan bakunya berupa daun tembakau

dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

c. Rokok Klembak yaitu rokok yang bahan bakunya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan rasa dan aroma tertentu.

Berdasarkan penggunaan filter, rokok dibagi dua jenis :

a. Rokok filter (RF) yaitu rokok yang bagian pangkalnya terdapat gabus b. Rokok non filter (RNF) yaitu rokok yang pada bagian pangkalnya

2.1.3. Klasifikasi Perokok

Menurut Bustan (2007), jenis perokok dapat dibedakan berdasarkan jumlah rokok yang diisap :

1. Perokok ringan yaitu mengisap rokok kurang dari sepuluh batang per hari 2. Perokok sedang yaitu mengisap rokok 10-20 batang per hari

3. Perokok berat yaitu mengisap rokok lebih dari dua puluh batang per hari

2.1.4. Kandungan Rokok

Jumlah senyawa yang terkandung di dalam asap rokok lebih dari 4000 macam, diantaranya bersifat toksik, mutagenik, karsinogenik dengan 43 jenis karsinogen yang telah diidentifikasi (Soetiarto, 1995). Komponen utama rokok yaitu nikotin, tar, dan karbon monoksida. (Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 2012).

Asap rokok terdiri dari dua bagian yaitu asap rokok utama (main stream smoke) dan asap rokok sampingan (side stream smoke). Asap rokok utama merupakan asap rokok yang diisap oleh paru-paru perokok itu sendiri, sedangkan asap rokok sampingan adalah asap yang berasal dari ujung rokok yang terbakar. Polusi udara yang ditimbulkan oleh asap rokok utama yang dihembuskan lagi oleh perokok dan asap sampingan disebut asap rokok lingkungan (ARL) atau

Environmenttal Tobaco Smoke (ETS) (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2008).

a.Nikotin

Komponen ini paling banyak ditemukan dalam rokok. Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara 0.5-3 gr dan semuanya diserap (Sitepoe,2000). Nikotin merupakan zat adiktif dan dapat menjadi racun jika digunakan dalam dosis tinggi. Nikotin sama seperti zat adiktif lainnya seperti kokain dan heroin. Nikotin dapat meningkatkan level neurotransmiter dopamin, yang memiliki efek ke otak untuk memberi rasa penghargaan dan kesenangan. Penelitian menunjukkan bahwa komponen tambahan di rokok seperti

mengurangi rasa ingin buang air kecil (kencing), dan meningkatkan agregasi sel pembekuan darah (Sitepoe, 1997).

Nikotin memegang peranan penting dalam ketagihan terhadap rokok. Beberapa penelitian mengatakan dengan lima batang rokok putih luar negeri sudah dapat membuat ketagihan terhadap rokok. Kadar nikotin yang dihisap 4-6 mg setiap hari pada orang dewasa sudah dapat menyebabkan adiksi atau kecanduan. Jumlah rokok yang diisap dipengaruhi oleh berbagai faktor kuantitas rokok, jumlah tembakau setiap batang rokok, dalamnya isapan, lamanya isapan, dan menggunakan filter rokok atau tidak (Sitepoe, 1997). Rokok kretek mempunyai kadar nikotin hampir 5 kali lipat sedangkan kadar tar 3 kali lipat dibanding rokok putih (Soetiarto, 1995).

Nikotin merupakan bahan kimia yang berbahaya dan sangat adiktif (menyebabkan kecanduan). Nikotin dapat meningkatkan tekanan darah, aliran jantung, penyempitan arteri (pembuluh yang membawa darah). Nikotin juga mengakibatkan dinding arteri mengeras, yang dapat menyebabkan serangan jantung. Bahan kimia ini dapat berada di dalam tubuh selama 6 sampai 8 jam tergantung berapa sering merokok (AHA, 2015). Ambrose & Barua (2004) juga mengatakan bawha nikotin dalam asap rokok memiliki peran utama pada peningkatan curah jantung, denyut jantung. Menurut Susana et al (2003) dalam Nurwidayanti dan Wahyuni (2013), nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4-6 kali lebih besar dari asap rokok arus utama.

Terpapar asap rokok baik dalam jangka waktu yang singkat atau panjang, baik perokok aktif maupun pasif akan menyebabkan perubahan akut maupun kronis terhadap keseimbangan sistem saraf otomon, sehingga aktivasi saraf simpatis menjadi dominan. Hal ini dikaitkan dengan interaksi nikotin dengan sistem saraf otonom (Middlekauff et al, 2014).

b. Gas Karbon Monoksida (CO)

Gas CO merupakan gas yang bersifat toksis yang bertentangan dengan oksigen dalam transport maupun penggunaannya. Gas CO yang diisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm (part per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi-hemoglobin dalam darah sejumlah 2-16 %. Kadar

normal karboksi-hemoglobin hanya 1% pada bukan perokok. Apabila keadaan terus berjalan akan terjadi polycythemia (pertambahan kadar butir darah merah) yang mempengaruhi fungsi saraf pusat (Mangku, 1997). Gas CO juga dapat meningkatkan kejadian penyakit kardiovaskular (NIH, 2014).

Ketika berada di paru, CO akan masuk ke dalam aliran darah. CO menurunkan sejumlah oksigen yang dibawa dalam sel darah merah. CO juga akan meningkatkan jumlah kolesterol yang disimpan di dalam arteri yang suatu ketika dapat menyebabkan arteri menjadi mengeras. Hal ini memicu terjadinya penyakit jantung, penyakit arteri dan mungkin serangan jantung (AHA, 2015).

c. Tar

Beberapa komponen zat kimia dari tar bersifat karsinogen (pembentuk kanker). Kadar tar pada sebatang rokok yang diisap adalah 24-45 mg, sedangkan bagi rokok yang menggunakan filter dapat mengalami penurunan 5-15 mg. Walaupun diberi filter, efek sebagai kanserogenik (membentuk kanker) pada paru-paru tidak berguna bila menghirup rokok dalam-dalam , mengisapnya berkali-kali dan jumlah rokok yang dipergunakan bertambah banyak (Sitepoe, 1997). National Institue on Health (NIH) pada tahun 2014 juga menyebutkan bahwa tar dapat meningkatkan resiko kanker paru, empisema dan penyakit bronkial pada penggunanya.

d. Timah Hitam (Pb)

Timah hitam (Pb) merupakan partikel asap rokok. Setiap satu batang rokok yang diisap diperhitungkan sejumlah 0,5 µgr. Bila seseorang mengisap satu bungkus rokok per hari, berarti menghasilkan 10 µgr, sedangkan batas bahaya adalah 20 µgr per hari (Sitepoe, 1997).

e. Amoniak

Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini memiliki bau yang tajam dan bersifat sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang terdapat pada amoniak sehingga jika masuk sedikit saja ke dalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma

f. Hidrogen Sianida

Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan dan merusak saluran pernapasan. Sianida adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja sianida dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian (Angraini,2007).

g. Fenol

Fenol merupakan campuran kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan karena zat ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim (Angraini,2007).

h. Hidrogen Sulfida

Hidrogen sulfida adalah sejenis gas yang beracun yang mudah terbakar dan memiliki bau yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim (Angraini,2007).

2.1.5. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan

Merokok menimbulkan banyak gangguan pada keseluruhan bagian tubuh dan mengganggu jaringan tubuh mulai ujung rambut di kepala sampai ke ujung jari di kaki. Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam rokok bersifat iritasi. Rokok dapat mengiritasi membran di mulut, hidung, faring, dan trakea-bronchial. Ada juga bahan kimia rokok yang diserap masuk ke dalam darah dan disebarkan ke seluruh tubuh. Ada juga bahan kimia rokok yang masuk ke dalam air ludah dan ditelan masuk ke dalam pencernaan, diserap, serta masuk lagi ke dalam darah tersebar ke seluruh tubuh (Sitepoe, 1997).

a. Penyakit Kardioavaskular

Nikotin diserap ke dalam aliran darah ketika rokok diisap. Ketika masuk ke dalam aliran darah, nikotin segera merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epineprin (adrenalin). Epineprin merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan tekanan darah, pernafasan dan denyut jantung

(NIH,2014). Nikotin yang terdapat di dalam perokok akan menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, pemaksaan kontraksi otot jantung , pemakaian oksigen bertambah, aliran darah pada pembuluh koroner bertambah dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer (Sitepoe, 1997).

Rokok dapat meningkatkan resiko penyakit jantung termasuk stroke, serangan jantung, penyakit pembuluh, dan aneurisma (NIH, 2014). Perokok rentan menderita aterosklerosis pembuluh darah besar dibandingkan bukan perokok. Terdapat interaksi multipliktif antara merokok dan faktor resiko penyakit jantung lebih tinggi pada perokok dengan hipertensi dan peningktan serum lipid. Merokok juga meningkatkan kejadian infark miokard dan sudden cardiac death

melalui agregasi platelet dan oklusi vaskular (Budiman, 2009).

Resiko menjadi penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) 60-70% lebih tinggi pada perokok pria dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Mati mendadak akibat penyakit jantung dijumpai 2-3 kali lebih besar pada pria berumur 35-45 tahun dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok dan tidak menggunakan oral kontraseptik. Merokok akan mempengaruhi ketidakseimbangan oksigen pada otot jantung, adanya percepatan penggumpalan darah sehingga terjadi gangguan fungsi jantung (Sitepoe, 1997).

Pembentukan aterosklerosis adalah penyebab terjadinya PJK. Nikotin dalam rokok mendorong vasokontriksi pembuluh darah koroner. Merokok juga akan meningkatkan kadar kolesterol di dalam darah yang akan memberikan risiko tinggi terhadap PJK. Rokok juga mempercepat pembekuan darah sehingga agregasi trombosit lebih cepat terjadi. Hal ini merupakan salah satu faktor pembentukan aterosklerosis (Sitepoe, 1997).

Dalam penelitian kohort prospektif yang dilakukan oleh Xu, Tian et al (2013) menunjukkan bahwa perokok dengan denyut jantung < 80 kali per menit dan perokok dengan denyut jantung > 80 kali per menit memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik dibandingkan dengan bukan perokok dengan denyut jantung <80 kali permenit.

Papathanasiou, et al (2013) dalam penelitiannya terhadap 289 orang menunjukkan bahwa denyut jantung pada perempuan yang merokok dibanding yang tidak merokok yaitu 76,4 kali per menit : 70 kali per menit. Perbandingan denyut jantung pada pria yang merokok dengan yang tidak merokok yaitu 78,2 kali per menit : 66,3 kali per menit. Hal ini menunjukkan bahwa denyut jantung pada perokok lebih tinggi dibanding dengan yang tidak merokok.

b. Kanker

Merokok dapat menyebabkan berbagai jenis kanker seperti kanker paru-paru, mulut, naso-oro dan hipofaring, lubang hidung dan sinus paranasal, laring, esofagus, perut, pankreas, hati, ginjal (badan dan pelvis), ureter, kandung kemih, dan juga menyebabkan leukimia mieloid. Terdapat bukti bahwa merokok berperan meningkatkan risiko kanker kolorektal dan payudara (Budiman, 2009). Menurut Sitepoe (1997) kanker mulut rahim merupakan kanker yang paling banyak dijumpai pada wanita terutama bagi perokok. National Institue on Health (NIH) pada tahun 2014 juga menyebutkan bahwa tar dapat meningkatkan resiko kanker paru, empisema dan penyakit bronkial pada penggunanya.

Kanker paru mengakibatkan 85% perokok mengalami kematian. Perokok yang menghabiskan sebungkus rokok setiap hari mempunyai risiko menjadi penderita kanker paru-paru sepuluh kali lipat dibandingkan dengan yang tidak merokok. Jika perokok mengisap dua bungkus sehari maka risiko penderita kanker paru-paru 25 kali lipat dibandingkan dengan seseorang yang tidak merokok. Kanker paru-paru pada wanita perokok lebih cepat mengakibatkan kematian dibandingkan pada wanita yang tidak merokok (Sitepoe, 1997).

Resiko kanker meningkat berdasarkan meningkatnya jumlah rokok perhari yang diisap dan meningkatnya durasi merokok, dan terdapat hubungan sinergistik antara merokok dan minum alkohol dengan kanker mulut, esofagus, dan paru. Berhenti merokok, menurunkan risiko terjadinya kanker. Kendati demikian, terdapat kemungkinan terjadinya kanker paru setelah 20 tahun (Budiman, 2009).

c. Penyakit Pernafasan

Merokok menjadi penyebab utama penyakit paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif, misalnya bronkitis dan empisema ( 85% dari penderita penyakit ini disebabkan oleh rokok). Bagi pria perokok kematian karena penyakit paru ini 4-25 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Wanita yang merokok memberikan efek jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dengan pria yang merokok. Gejala yang dijumpai pada perokok berupa batuk kronis, berdahak, dan gangguan pernafasan (Sitepoe, 1997).

Dalam 1-2 tahun merokok, pada jalur pernafasan kecil seorang perokok muda akan terjadi inflamasi (Budiman, 2009). Apabila diadakan uji fungsi paru-paru maka pada perokok jauh lebih jelek bila dibandingkan dengan yang tidak merokok (Sitepoe, 1997). Setelah 20 tahun merokok, terjadi perubahan patofisiologi pada paru secara proporsional seiring dengan intensitas merokok dan durasi merokok. Inflamasi kronik dan penyempitan jalur nafas kecil dan atau

digestif enzimatik dinding alveolar pada empisema pulmonal menyebabkan pengurangan aliran napas ekspirasi sehingga terjadi gejala klinis napas terhambat pada hampir 15% perokok (Budiman, 2009).

Merokok dikaitkan dengan terjadinya influenza dan radang paru-paru yang lain. Bagi perokok lebih mudah terserang influenza dan radang paru-paru yang lain dibandingkan dengan yang tidak merokok. Pada penderita asma, merokok akan memperparah gejala asma sebab asap rokok akan lebih menyempitkan saluran pernafasan (Sitepoe, 1997). Budiman (2009) mengatakan bahwa seorang perokok muda yang mengalami perubahan pada jalur pernafasan kecil akan kembali normal setelah berhenti meokok selama 1-2 tahun.

d. Kehamilan

Merokok berhubungan dengan beberapa komplikasi maternal selama kehamilan seperti ruptur prematur pada membran, abrupsio plasenta, dan

plasenta previa. Merokok juga dapat meningkatkan sedikit peningkatan risiko aborsi spontan. Janin pada seorang ibu yang merokok, akan lebih berisiko

berisiko lebih tinggi mengalami infant respiratory distress syndrome, kemungkinan mengalami kematian akibat sudden infant death syndrome, dan mengalami pertumbuhan yang terhambat pada tahun-tahun pertamanya (Budiman, 2009). Sitepoe (1997) juga mengatakan bahwa wanita hamil yang merokok juga mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan intelektual anak-anak yang akan bertumbuh.

e. Kondisi Lain

Merokok akan mengurangi terjadinya konsepsi (memiliki anak), fertilitas baik pria maupun wanita akan mengalami penurunan, nafsu seksual juga mengalami penurunan bagi perokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Bagi wanita perokok akan mengalami masa menopause lebih cepat dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Sakit mag lebih banyak dijumpai pada orang yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Merokok mengakibatkan penurunan tekanan pada ujung bawah dan atas lambung sehingga mempercepat terjadi sakit mag. Pencernaan protein terhambat dan rasa lapar berkurang bagi perokok (Sitepoe, 1997).

Merokok juga merupakan faktor yang mendorong pembentukan gondok sehingga bagi perokok lebih banyak dijumpai penyakit gondok dibanding dengan seseorang yang tidak merokok. Merokok juga menjadi penyebab terjadinya penyakit Burger yaitu penyakit yang terjadi akibat gangguan pembuluh darah yang disebut thromboangitis oblitrans. Hal ini akibat nikotin yang mempersempit pembuluh darah dan mempercepat terjadinya pembekuan darah (Sitepoe, 1997).

2.2 Tekanan Darah

2.2.1. Definisi Tekanan Darah

Menurut American Heart Association (2014), tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan jantung terhadap dinding arteri sebagai pompa darah ke seluruh tubuh. Tekanan darah terdiri dari tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan maksimum dari darah yang mengalir pada arteri yang terjadi saat ventrikel jantung berkontraksi, besarnya sekitar 100-140 mmHg.

Tekanan diastolik adalah tekanan darah paling rendah pada dinding arteri pada saat jantung relaksasi, besarnya sekitar 60-90 mmHg (Masud, 1989).

2.2.2. Fisiologi Tekanan Darah

Tekanan darah sangat penting dalam sistem sirkulasi darah dan selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di dalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena, sehingga terbentuklah suatu aliran darah yang menetap (Masud, 1989).

Tekanan arteri rerata atau sering dikenal dengan istilah mean arterial pressure (MAP) adalah gaya pendorong utama yang mengalirkan darah ke jaringan sepanjang siklus jantung. Tekanan arteri rerata bukan nilai tengah antara tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan arteri rerata = tekanan diastolik + 1/3 tekanan nadi. Tekanan nadi adalah selisih tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan arteri rerata ini harus diatur secara ketat karena dua alasan. Pertama, tekanan darah harus cukup tinggi untuk menjamin tekanan pendorong yang memadai; tanpa tekanan ini, otak dan organ lain tidak akan menerima aliran darah yang memadai. Alasan kedua yaitu tekanan darah harus tidak terlalu tinggi sehingga menimbulkan tambahan kerja bagi jantung dan meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah serta kemungkinan pecahnya pembuluh darah halus (Sherwood, 2011).

Tekanan darah di arteri brakialis pada orang muda dewasa yang beristirahat pada posisi duduk atau berbaring sekitar 120/70 mmHg. Tekanan darah normalnya turun sebanyak 20 mmHg atau kurang saat tidur. Tekanan darah merupakan produk curah jantung dan tahanan perifer sehingga tekanan darah dipengaruhi oleh kondisi yang mempengaruhi salah satu atau kedua faktor tersebut. Emosi meningkatkan curah jantung (Ganong, 2008).

Curah jantung adalah darah yang keluar dari jantung persatuan waktu. Pada seorang pria dalam keadaan istirahat dan telentang, curah jantung rata-rata adalah 5 L/menit. Curah jantung dapat bervariasi akibat perubahan pada kecepatan

berkontraksi lebih kuat untuk setiap panjang sedangkan rangsang parasimpatis menimbulkan efek sebaliknya (Ganong, 2008). Curah jantung harus dikendalikan agar dapat mengalirkan darah ke seluruh jaringan tubuh sehingga fungsi organ tidak terganggu. Aliran darah berfungsi untuk mengangkut nutrisi ke jaringan (Guyton, 1981).

Tahanan perifer total bergantung pada jari-jari semua arteriol serta kekentalan darah. Faktor utama yang menentukan kekentalan darah adalah jumlah sel darah merah. Namun jari-jari arteriol adalah faktor yang lebih penting dalam menetukan resistensi perifer total. Jari-jari arteriol dipengaruhi oleh kontrol metabolik lokal yang menyamakan aliran darah dengan kebutuhan metabolik dan dipengaruhi juga oleh aktivitas simpatis yaitu suatu mekanisme kontrol ekstrinsik yang menyebabkan vasokontriksi arteriol. Jari-jari arteriol juga dipengaruhi secara ekstrinsik oleh hormon vasopresin dan angiotensin II. Jadi, Tekanan darah = curah jantung × resistensi perifer total. Curah jantung = kecepatan jantung × isi sekuncup (Sherwood, 2011).

Tekanan darah meningkat seiring dengan pertambahan usia. Tekanan darah sistolik dan diastolik lebih rendah pada wanita muda daripada pria muda sampai usia 55-65 tahun, namun setelah usia tersebut tekanan darah wanita menjadi setara dengan tekanan darah pria (Ganong, 2008).

Dokumen terkait