• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.5. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan

Merokok menimbulkan banyak gangguan pada keseluruhan bagian tubuh dan mengganggu jaringan tubuh mulai ujung rambut di kepala sampai ke ujung jari di kaki. Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam rokok bersifat iritasi. Rokok dapat mengiritasi membran di mulut, hidung, faring, dan trakea-bronchial. Ada juga bahan kimia rokok yang diserap masuk ke dalam darah dan disebarkan ke seluruh tubuh. Ada juga bahan kimia rokok yang masuk ke dalam air ludah dan ditelan masuk ke dalam pencernaan, diserap, serta masuk lagi ke dalam darah tersebar ke seluruh tubuh (Sitepoe, 1997).

a. Penyakit Kardioavaskular

Nikotin diserap ke dalam aliran darah ketika rokok diisap. Ketika masuk ke dalam aliran darah, nikotin segera merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epineprin (adrenalin). Epineprin merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan tekanan darah, pernafasan dan denyut jantung

(NIH,2014). Nikotin yang terdapat di dalam perokok akan menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, pemaksaan kontraksi otot jantung , pemakaian oksigen bertambah, aliran darah pada pembuluh koroner bertambah dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer (Sitepoe, 1997).

Rokok dapat meningkatkan resiko penyakit jantung termasuk stroke, serangan jantung, penyakit pembuluh, dan aneurisma (NIH, 2014). Perokok rentan menderita aterosklerosis pembuluh darah besar dibandingkan bukan perokok. Terdapat interaksi multipliktif antara merokok dan faktor resiko penyakit jantung lebih tinggi pada perokok dengan hipertensi dan peningktan serum lipid. Merokok juga meningkatkan kejadian infark miokard dan sudden cardiac death

melalui agregasi platelet dan oklusi vaskular (Budiman, 2009).

Resiko menjadi penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) 60-70% lebih tinggi pada perokok pria dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Mati mendadak akibat penyakit jantung dijumpai 2-3 kali lebih besar pada pria berumur 35-45 tahun dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok dan tidak menggunakan oral kontraseptik. Merokok akan mempengaruhi ketidakseimbangan oksigen pada otot jantung, adanya percepatan penggumpalan darah sehingga terjadi gangguan fungsi jantung (Sitepoe, 1997).

Pembentukan aterosklerosis adalah penyebab terjadinya PJK. Nikotin dalam rokok mendorong vasokontriksi pembuluh darah koroner. Merokok juga akan meningkatkan kadar kolesterol di dalam darah yang akan memberikan risiko tinggi terhadap PJK. Rokok juga mempercepat pembekuan darah sehingga agregasi trombosit lebih cepat terjadi. Hal ini merupakan salah satu faktor pembentukan aterosklerosis (Sitepoe, 1997).

Dalam penelitian kohort prospektif yang dilakukan oleh Xu, Tian et al (2013) menunjukkan bahwa perokok dengan denyut jantung < 80 kali per menit dan perokok dengan denyut jantung > 80 kali per menit memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik dibandingkan dengan bukan perokok dengan denyut jantung <80 kali permenit.

Papathanasiou, et al (2013) dalam penelitiannya terhadap 289 orang menunjukkan bahwa denyut jantung pada perempuan yang merokok dibanding yang tidak merokok yaitu 76,4 kali per menit : 70 kali per menit. Perbandingan denyut jantung pada pria yang merokok dengan yang tidak merokok yaitu 78,2 kali per menit : 66,3 kali per menit. Hal ini menunjukkan bahwa denyut jantung pada perokok lebih tinggi dibanding dengan yang tidak merokok.

b. Kanker

Merokok dapat menyebabkan berbagai jenis kanker seperti kanker paru-paru, mulut, naso-oro dan hipofaring, lubang hidung dan sinus paranasal, laring, esofagus, perut, pankreas, hati, ginjal (badan dan pelvis), ureter, kandung kemih, dan juga menyebabkan leukimia mieloid. Terdapat bukti bahwa merokok berperan meningkatkan risiko kanker kolorektal dan payudara (Budiman, 2009). Menurut Sitepoe (1997) kanker mulut rahim merupakan kanker yang paling banyak dijumpai pada wanita terutama bagi perokok. National Institue on Health (NIH) pada tahun 2014 juga menyebutkan bahwa tar dapat meningkatkan resiko kanker paru, empisema dan penyakit bronkial pada penggunanya.

Kanker paru mengakibatkan 85% perokok mengalami kematian. Perokok yang menghabiskan sebungkus rokok setiap hari mempunyai risiko menjadi penderita kanker paru-paru sepuluh kali lipat dibandingkan dengan yang tidak merokok. Jika perokok mengisap dua bungkus sehari maka risiko penderita kanker paru-paru 25 kali lipat dibandingkan dengan seseorang yang tidak merokok. Kanker paru-paru pada wanita perokok lebih cepat mengakibatkan kematian dibandingkan pada wanita yang tidak merokok (Sitepoe, 1997).

Resiko kanker meningkat berdasarkan meningkatnya jumlah rokok perhari yang diisap dan meningkatnya durasi merokok, dan terdapat hubungan sinergistik antara merokok dan minum alkohol dengan kanker mulut, esofagus, dan paru. Berhenti merokok, menurunkan risiko terjadinya kanker. Kendati demikian, terdapat kemungkinan terjadinya kanker paru setelah 20 tahun (Budiman, 2009).

c. Penyakit Pernafasan

Merokok menjadi penyebab utama penyakit paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif, misalnya bronkitis dan empisema ( 85% dari penderita penyakit ini disebabkan oleh rokok). Bagi pria perokok kematian karena penyakit paru ini 4-25 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Wanita yang merokok memberikan efek jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dengan pria yang merokok. Gejala yang dijumpai pada perokok berupa batuk kronis, berdahak, dan gangguan pernafasan (Sitepoe, 1997).

Dalam 1-2 tahun merokok, pada jalur pernafasan kecil seorang perokok muda akan terjadi inflamasi (Budiman, 2009). Apabila diadakan uji fungsi paru-paru maka pada perokok jauh lebih jelek bila dibandingkan dengan yang tidak merokok (Sitepoe, 1997). Setelah 20 tahun merokok, terjadi perubahan patofisiologi pada paru secara proporsional seiring dengan intensitas merokok dan durasi merokok. Inflamasi kronik dan penyempitan jalur nafas kecil dan atau

digestif enzimatik dinding alveolar pada empisema pulmonal menyebabkan pengurangan aliran napas ekspirasi sehingga terjadi gejala klinis napas terhambat pada hampir 15% perokok (Budiman, 2009).

Merokok dikaitkan dengan terjadinya influenza dan radang paru-paru yang lain. Bagi perokok lebih mudah terserang influenza dan radang paru-paru yang lain dibandingkan dengan yang tidak merokok. Pada penderita asma, merokok akan memperparah gejala asma sebab asap rokok akan lebih menyempitkan saluran pernafasan (Sitepoe, 1997). Budiman (2009) mengatakan bahwa seorang perokok muda yang mengalami perubahan pada jalur pernafasan kecil akan kembali normal setelah berhenti meokok selama 1-2 tahun.

d. Kehamilan

Merokok berhubungan dengan beberapa komplikasi maternal selama kehamilan seperti ruptur prematur pada membran, abrupsio plasenta, dan

plasenta previa. Merokok juga dapat meningkatkan sedikit peningkatan risiko aborsi spontan. Janin pada seorang ibu yang merokok, akan lebih berisiko

berisiko lebih tinggi mengalami infant respiratory distress syndrome, kemungkinan mengalami kematian akibat sudden infant death syndrome, dan mengalami pertumbuhan yang terhambat pada tahun-tahun pertamanya (Budiman, 2009). Sitepoe (1997) juga mengatakan bahwa wanita hamil yang merokok juga mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan intelektual anak-anak yang akan bertumbuh.

e. Kondisi Lain

Merokok akan mengurangi terjadinya konsepsi (memiliki anak), fertilitas baik pria maupun wanita akan mengalami penurunan, nafsu seksual juga mengalami penurunan bagi perokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Bagi wanita perokok akan mengalami masa menopause lebih cepat dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Sakit mag lebih banyak dijumpai pada orang yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Merokok mengakibatkan penurunan tekanan pada ujung bawah dan atas lambung sehingga mempercepat terjadi sakit mag. Pencernaan protein terhambat dan rasa lapar berkurang bagi perokok (Sitepoe, 1997).

Merokok juga merupakan faktor yang mendorong pembentukan gondok sehingga bagi perokok lebih banyak dijumpai penyakit gondok dibanding dengan seseorang yang tidak merokok. Merokok juga menjadi penyebab terjadinya penyakit Burger yaitu penyakit yang terjadi akibat gangguan pembuluh darah yang disebut thromboangitis oblitrans. Hal ini akibat nikotin yang mempersempit pembuluh darah dan mempercepat terjadinya pembekuan darah (Sitepoe, 1997).

Dokumen terkait