• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye terdiri atas 33 episode yang masing-masing mempunyai judul tersendiri. Meskipun begitu, episode-episode tersebut merupakan rangkaian-rangkaian cerita yang saling terkait atau

berhubungan layaknya sebuah sinetron. Pada awal cerita dikisahkan Thomas sebagai seorang petarung yang ingin bertarung di sebuah klub di Makau dan pada episode selanjutnya dijelaskan bahwa Thomas ternyata adalah seorang konsultan politik.

Novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye ditulis pengarang dengan menggunakan alur maju meskipun di beberapa bagian terdapat backtracking. Alur ceritanya logis dan kronologis. Dalam tempo tiga hari, pembaca seolah dibawa untuk merasakan bagaimana lelahnya Thomas menjalani rangkaian peristiwa yang serba mendadak dan mengejutkan.

Dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye, diceritakan Thomas adalah seorang konsultan keuangan sekaligus konsultan politik yang terkenal di dalam dan luar negeri. Dibalik profesinya sebagai konsultan, Thomas memiliki hobi yang unik, ia mengikuti klub petarung rahasia dan merupakan salah satu petarung yang tangguh di Indonesia. Penyajian cerita di awal tentang seorang petarung ini akan membuat terperangah pembaca ketika membaca cerita selanjutnya yang merambah ke dunia politik.

Sebagai konsultan politik, Thomas harus menghadapi segala trik yang digencarkan oleh musuh klien politiknya. Mulai dari penangkapan di Hong Kong atas tuduhan membawa serbuk heroin dan senjata, dilanjutkan dengan penangkapan di Jakarta dan banyak jebakan. Namun, di tengah-tengah cerita pengarang menyajikan kenangan masa lalu Thomas. Disinilah alur ditarik kembali ke belakang atau backtracking. Meskipun peristiwa ditarik ke belakang tetapi alurnya masih tetap disebut alur maju, hal ini sejalan dengan pendapat Soediro

Satoto (1996: 28-29) yaitu teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.

Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dengan makna (pengalaman) kehidupan. Pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye bertemakan tentang dunia politik karena dari keseluruhan peristiwa yang terjadi, dunia politiklah yang menjadi dasar pengembangan dari cerita tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Stanton (1965:142) yang mengartikan tema sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara sederhana. Tema menurutnya, kurang lebih dapat bersinonim dengan ide utama dan tujuan utama. Hartoko dan Rahmanto (1986: 142) juga berpendapat bahwa tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh cerita.

Tema politik yang kental dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye sangat menarik sebab sangat jarang diangkat oleh pengarang di jaman sekarang yang selalu saja menulis tentang cinta. Melaui tema inilah pengarang menawarkan makna kehidupan, mengajak pembaca untuk melihat, merasakan, dan menghayati makna (pengalaman) kehidupan yang tyerjadi dalam novel. Tema yang dihadirkan dalam novel mampu membuat siapa saja yang membacanya akan belajar banyak hal terutama kepedulian. Karena kepedulian, mata hati pembaca akan terbuka tentang representasi dunia politik dengan carut marutnya yang diceritakan oleh pengarang. Pembaca akan sadar dan dan tentunya merasa

terkesima dengan cerita fiksi yang seolah nyata. Pasalnya, dalam novel ini ada banyak hal yang digambarkan seperti kenyataan. Mulai dari klien politik Thomas yang berinisial JD, seorang mantan walikota dan gubernur ibu kota yang kini akan mencalonkan diri sebagai kandidat presiden hingga petinggi-petinggi negara serta pejabat yang terlibat dalam berbagai kasus dan menghalalkan segala cara untuk menutupinya termasuk membeli hukum.

Dalam novel juga kental akan tema persahabatan, bagaimana sang tokoh utama; Thomas diselamatkan dan dibantu oleh sahabat-sahabatnya demi membongkar jaringan besar mafia hukum, membebaskan klien politiknya, dan tentunya menegakkan hukum setegak-tegaknya, kembali lagi semua atas nama kepedulian.

Novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye diceritakan pengarang berlatar di Hong Kong, Makau, Jakarta, dan Bali. Mungkin bagi sebagian pembaca akan menerka-nerka seperti apa persisnya latar tempat peristiwa demi peristiwa itu terjadi yang notabene tidak pernah mengunjungi kota bahkan negara yang dimaksud. Tapi, dalam novel pengarang menggambarkan dengan begitu detail seperti apa tempat, kapan waktu peristiwa tersebut terjadi dan bagaimana atmosfernya sehingga pembaca seakan dibawa larut dalam tiap rangkaian peristiwa yang dialami oleh Thomas dan kawan-kawannya.

Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahasa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya yang digunakan untuk melahirkan keindahan. Gaya bahasa adalah cara pengungkapan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf,

2002: 113). Gaya bahasa pengarang yang menggunakan kalimat-kalimat frontal merupakan interpretasi pengarang tentang pandangannya terhadap dunia politik.

Seperti kalimat ―politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia‖ dan masih banyak kalimat frontal yang lainnya. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa memang dunia politik seperti sebuah bisnis omong kosong. Tak bisa dipungkiri lagi bagaimana kasus-kasus korupsi dan kasus-kasus hukum yang tidak diusut tuntas karena di dalamnya terdapat sebuah bisnis, ada tawar menawar yang terjadi antara beberapa pihak yang berkepentingan.

Pengarang juga menggunakan gaya bahasa untuk menambah estetika bahasanya. Namun dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye tidak banyak gaya bahasa yang digunakan, karena sebagian besar disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa personifikasi dan hiperbola.

Penggunaan gaya bahasa dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye membuat novel ini komunikatif. Penggunaan sudut pandang Aku yang memungkinkan pembaca merasa seolah terlibat dalam cerita. Pembaca akan mengidentifikasikan diri sebagai tokoh Aku dan memberikan rasa empati yang penuh. Walaupun hanya secara imajinatif, pembaca akan ikut mengalami dan merasakan semua petualangan maupun pengalaman tokoh Aku karena didukung juga oleh cara pengarang memunculkan dan melukiskan tokoh yang ada dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye. Tokoh-tokoh yang ada disajikan dengan metode dramatik; yaitu teknik pengarang mendeskripsikan tokoh tersebut

dengan membiarkan tokoh-tokoh tersebut saling menunjukkan kediriannya masing-masing, melalui berbagai aktivitas yang dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal, seperti tingkah laku, sikap dan peristiwa yang terjadi (Burhan Nurgiyantoro, 1995: 44-45).

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari penelitian yang dilakukan peneliti lakukan terhadap novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye dengan menggunakan teori struktural Robert Stanton menghasilkan suatu simpulan beberapa hal sebagai berikut.

1. Fakta cerita yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye sebagai berikut.

Alur dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye sederhana dan tidak berbelit-belit. Alur yang logis dan kronologis. Peristiwa diceritakan secara berurutan sehingga mudah dipahami meskipun pada beberapa bagian dihadirkan backtracking atau mengenang peristiwa masa lalu. Konflik sentral dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah tentang pergulatan Thomas sebagai konsultan politik yang ingin mengungkap para mafia hukum dan menegakkan hukum setegak-tegaknya. Klimaks sentral terjadi saat Thomas kehilangan Om Liem yang merupakan saksi kunci jaringan besar mafia hukum.

Dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye terdapat beberapa tokoh bawahan tetapi hanya ada satu tokoh sentral yaitu Thomas. Teknik penulisan tokoh dalam novel meliputi deskripsi tokoh oleh pengarang melalui dialog, peristiwa, dan perubahan watak tokoh.

77

Latar tempat dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah Hong Kong, Makau, Jakarta, dan Denpasar. Latar waktu yang digunakan adalah latar waktu parsial yang menggunakan kata-kata yang langsung merujuk pada waktu dan kalimat-kalimat yang diasosiasikan pada waktu. Latar dideskripsikan pengarang dengan sangat detail sehinngga membuat pembaca mudah berimajinasi dan membayangkan seperti apa suasana kejadian demi kejadian yang terjadi di negara maupun kota tersebut.

Tema dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah interpretasi dunia politik dengan carut-marutnya. Tema yang sangat menarik, dan tidak biasa, karena membuat pembaca lebih banyak belajar dan membuka mata tentang apa yang terjadi di negeri ini.

2. Sarana cerita yang meliputi judul, sudut pandang, gaya dan tone dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye.

Judul Negeri di Ujung Tanduk merupakan penggambaran tentang negeri yang seolah tengah berada di sebuah titik. Negeri tersebut penuh dengan polemik. Lebih jelas diterangkan lagi adalah polemik mengenai dunia politik dengan carut-marutnya. Dalam novel, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi, setidaknya seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam novel Negeri di Ujung Tanduk adalah sudut pandang pertama-utama. Sudut pandang tokoh ―Aku‖

yang membuat novel komunikatif sehingga memungkinkan pembaca seolah terlibat langsung dan mengalami tiap peristiwa yang terjadi.

Gaya bahasa dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah gaya bahasa personifikasi dan hiperbola. Terdapat pula gaya bahasa yang menggunakan kalimat-kalimat frontal. Tone yang terdapat dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah kritikan. Kritikan tentang dunia politik dengan berbagai carut-marutnya.

B. Saran

1. Peneliti berharap semoga hasil penelitian ini dapat menyempurnakan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai kritik sastra induktif menggunakan teori struktural Robert Stanton.

2. Peneliti berharap kepada pembaca maupun penikmat karya sastra khususnya Novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye mampu memetik pesan yang disampaikan oleh pengarang dan lebih peduli terhadap masalah yang terjadi di negeri tercinta ini.

3. Penulis berharap penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penulisan skripsi khususnya bidang kritik sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada.

Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djunaedi, Moha.1994. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang: Putra Maspul.

Hayati dan Winarno. 1990. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Malang: YA3.

H.B Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Jassin, H, B. 1991. Pengarang Indonesia dalam Dunianya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kristiani, Etika. 2012. ―Citra Perempuan dalam Novel Saman karya Ayu Utami : Suatu Tinjauan Kritik Sastra Feminis‖. Skripsi. Tidak diterbitkan.

Makassar: Universitas Hasanuddin.

Poerwadarminta, W.J.S. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Pradopo, Rachmat Djoko.2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta:

Gama Media.

Pradopo, Rachmat Djoko.2007. Prinsip-Prinsip Karya Sastra. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Rahmawati, Nurdiana. 2010. ―Analisis Nilai Sosial Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata‖. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosmawati. 2011. ―Kritik Sosial dalam Novel Bulan Jingga Dalam Kepala Karya M.Fajroel Rachman: Tinjauan Sosiologi Sastra. Skripsi. Tidak diterbitkan.

Makassar: Universitas Hasanuddin.

Semi, M. Atar. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Soedjiman. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Widia Duta.

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Lingusitik Struktural. Surakarta:

Sebelas Maret University Press.

Syamsuddin. 2001. ―Analisis Sturuktural puisi Disebabkan Oleh Angin karya Rendra‖. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Tarigan, H, G. 1985. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

http://teguhwirwan.blogdetik.com/2009/08/27/analisis-psikologi-sastra-dalam-roman-larasati-karya-pramoedya-ananta-toer/

LAMPIRAN

1. Korpus Data

2. Sinopsis Novel

3. Biografi Tere Liye

4. Riwayat Hidup

Lampiran 1

KORPUS DATA

Data 1

―Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentleman. Well, simpan teriakan kalian. Pertarungan kedua akan segera tiba. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertarung sejak enam bulan‖ (Tere Liye, 2013:11).

Data 2

―Kau pasti bosan dengan pertarungan yang itu-itu saja di klub kita, Thomas?‖ Kami bicara ringan menghabiskan waktu setelah jam kerja.

―Nah, aku punya ide hebat, kawan. Kau tidak akan mampu menolaknya.‖

Maka meluncurlah rencana itu (Tere Liye, 20113:14).

Data 3

―Hadirin!‖ aku mengangkat tangan, memasang intonasi suara serius dan bertenaga, ―Maafkan saya, tapi saya akan tegaskan di depan kalian semua, bahwa bagi kami, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, indsutri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia‖ (Tere Liye, 2013:20).

Data 4

―Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan. Tetapi saya dibayar mahal untuk memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan simsalabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan‖ (Tere Liye,2013:20-21).

Data 5

―Jangan bergerak, Tuan. Tetap ditempat, please.‖ Kalimat patah-patah dalam bahasa Inggris itu disampaikan dengan sopan, tapi intonasi suaranya penu ancaman serius. Membuat gerakanku terhenti. Sebelum sempat melakukan apa pun, enam orang bertopeng dengan pakaian komando telah sempurna mengepung kabin, Kadek diseret masuk, didorong kasar ke pojok kabin, terduduk (Tere Liye, 2013:65).

Data 6

―Tangkap mereka semua. Pastikan tidak ada yang melarikan diri. Sisir seluruh kabin kapal. Sita semua identitas dan dokumen apa pun yang ada.

Mereka diduga anggota sindikat pengedar narkoba internasional, dan boleh jadi memiliki hubungan dengan teroris lokal. Amat berbahaya dan tidak segan membunuh.‖ Orang berpakaian sipil berseru tegas, memberikan perintah (Tere Liye,2013:68).

Data 7

―Aku tidak mengetahui Chai Ten telah menjadi orang yang berkecukupan, memiliki keluarga, memiliki cucu seperti Lee, begitu diberkahi bumi. Kapal nelayan bocor itu ternyata memberikan nasihat hidup yang banyak sekali‖ (Tere Liye, 2013:127).

Data 8

―Aku menggigit bibir. Astaga! Klien politikku ditangkap? Apa tuduhan mereka? Ini jebakan seperti yang terjadi di Hong Kong tadi pagi. Aku mengusap rambut. Ini sebuah pertempuran. Ini bukan lagi intrik politik biasa. Serangan mereka datang laksana roket, ditembakkan berkali-kali untuk meruntuhkan pertahanan lawan (Tere Liye, 2013:134).

Data 9

―Pemirsa, dari lokasi penangkapan, kami mengabarkan bahwa pihak kepolisian menyatakan efektif hari ini JD dijadikan tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjadi gubernur ibu kota. seperti yang kita ketahui, nilai proyek yang digagas beberaoa tahun lalu itu dilaporkan 16 triliun, dan saat selesai pembangunannya setahun lalu membengkak menjadi 24 triliun karena perubahan spesifikasi terowongan raksasa dan alasan teknik lainnya. Pihak kepolisian akan melakukan pressconference nanti malam pukul sembilan, memberikan keterangan lengkap atas penangkapan yang amat mengejutkan ini (Tere Liye, 2013:134-135).

Data 10

― Dengan penangkapan ini JD dipastikan batal menghadiri pembukaan konvensi partai besar besok pagi di Denpasar, dan kami belum bisa memastikan apakah JD tetap menjadi kandidat calon presiden atau beliau terpaksa didiskualifikasikan karena kasus ini. Beberapa pengurus partai berwarna lembayung itu belum bisa memberikan konfirmasi, masih menunggu pertemuan terbatas antar partai untuk membahas hal ini, dan boleh jadi baru bisa diputuskan saat pembukaan konvensi besok pagi (Tere Liye, 2013:135).

Data 11

―Kita semua tahu, tidak ada satu pun penyidik yang penah mengonfirmasi sedang menyelidiki kasus tersebut. Tidak ada kabar beritanya. Apa mereka bilang ? Korupsi megaproyek tunnel raksasa ibu kota? Omong kosong. Ayolah, apa kalian pernah mendengar selentingan ada tindak korupsi di proyek itu selama ini ? Nihil. Proyek itu dibiayai dana swasta dan dianggap salh satu proyek paling efektif mengurangi banjir di ibu kota sejak pembangunan kanal VOC seabad silam‖ (Tere Liye, 2013:137).

Data 12

―Kami tidak tahu, Sambas. Bahkan bisa kupastikan beliau juga sama sekali tidak tahu. Dua jam lalu saat bicara lewat telepon denganku, klien politik kami mencemaskan ada eskalasi besar-besaran dalam konvensi partai besok. Entah siapa yang melakukannya, apa tujuannya. Beliau meyakini ada yang sedang menggelaroperasi kilat, melakukan manuver politik tingkat tinggi, penuh intrik dan rekayasa (Tere Liye, 2013:138).

Data 13

―Dari ketiga fakta itu, siapa yang melakukan serangan politik ini?

Membunuh karakter klien kami? Jawabannya adalah kejadian ini jelas melibatkan konspirasi besar dari banyak pihak, orang-orang yang terganggu jika klien kami menjadi presiden. Aku akan menyebutnya dengan istilah mafia hukum. Ya, mafia adalah padanan kata terbaik untuk menjelaskan banyak hal. Merekalah yang melakukannya. Mereka bergerak dalam jaringan rahasia. Anggotanya petinggi banyak institusi, mulai dari penegak hukum itu sendiri, birokrat, legislatif, pengusaha, siapa pun yang merasa berkepentingan dengan hukum di negeri ini.

Politik hanya salah satu alat mereka. Hukum adalah bisnis besar mereka.

Kita tidak pernah tahu siapa saja anggota mafia ini, anggota persekongkolan raksasa yang ada di negeri ini. Klien politik kami jelas bukan korban pertama, dan juga bukan korban terakhir jika tidak ada yang berani menghentikan jaringan ini (Tere Liye, 2013:138).

Data 14

―Sayangnya, tidak ada yang boleh menemanimu, Thomas. Datanglah sendirian. Kau tidak perlu mengajak gadis wartawan itu ke sini. Hingga urusan kita selesai, dia aman di Jakarta. Setelah itu, tergantung pertemuan kita, apakah dia akan dimasukkan ke penjara atau kami membuatnya menghilang begitu saja. Sekali lagi, Thomas, sekali kami melihat kau membawa org lain, siapa pun itu, pertemua batal, dan kau tahu risikonya. Tidak ada lagi percakapan hingga kau tiba di pelabuhan kontainer (Tere Liye, 2013:302).

Data 15

―Sayangnya ayahmu Edward dan pamanmu Liem tidak sependapat denganku. Mereka dengan bodohnya memilih jalan sembilan orang kebanyakan, padahal aku menawarkan mereka bergabung denganku menjadi pemburu ke sepuluh. Saat aku bicara baik-baik menyampaikan ide itu, mereka menolak mentah-mentah, maka aku tidak punya pilihan lain, memutuskan mengambil tepung terigu itu. Mengirim orang-orang membakar rumah dan gudang kalian‖ (Tere Liye, 2013:331).

Data 16

―Kami mengirim orang untuk bicara dengannya baik-baik, menceritakan kisah sepuluh pemburu tadi, tapi dia menolak mentah-mentah. Dan lebih mengejutkan lagi, kau ternyata kau ada dibelakangnya. Kau mendukungnya dengan semua ide briliant. Maka masalah ini tidak boleh berkembang di luar kendali. Aku mengirim orang-orang. Kau target pertama. Anak buahku di Hong Kong meletakkan seratus kilogram bubuk heroin dan sekarung senjata di kapal pesiar itu, lantas menghubungi satuan khusus antiteror. Kau, Opa, nahkoda kapalmu, dan gadis malang itu ditangkap. Sialnya kau berhasil lolos. Aku terlalu meremehkan seorang Tommi, sepertinya memang kau pemburu ke sebelas‖(Tere Liye, 2013:331).

Data 17

―Tidak ada pilihan lain, aku memerintahkan seluruh anggota penting jaringan di Jakarta mengerluarkan usaha terbaik untuk mencegah klien politikmu maju di konvensi itu. Klien politikmu ditangkap petinggi kepolisian, mudah saja merekayasa sebuah kasus hukum, perang opini digelar di media massa, posisi klien politikmu terancam didiskualifikasi di konvensi. Sepertinya kami akan menyelesaikan masalah itu, menutup buku, tapi kau malah muncul di Jakarta, kembali dari Hong Kong dengan banyak rencana bahkan balas menyerang, menyakiti anggota kami, membuat semua berantakan (Tere Liye, 2013:333).

Data 18

―Maka hadirin sekalian, rapatkan barisan kalian. Mari kita bersumpah satu sama lain untuk tetap setia. Setahun lalu kita berhasil memaksakan konvensi partai diadakan. Tidak boleh lagi calon presiden hanya ditentukan mereka, elite politik. Setahun lalu kita berhasil membuat ini nyata, satu-satunya partai dengan proses pemilihan kandidat presiden melalui konvensi partai yang melibatkan anggota partai. Saat semua ini sudah dekat sekali, tidak peduli dengan intrik politik yang mereka lakukan, fitnah kejam atas calon presiden kita, tidak peduli itu semua,

kita akan terus maju. Tidak ada yang boleh mendiskualifikasi calon presiden kita. Tidak ada yang boleh membatalkannya. Penangkapan itu dusta, intrik politik untuk membunuh karakter. Kita semua pemilik partai ini, kitalah pemilik suaranya, maka kita sendiri yang akan menentukan nasib partai ini, bukan mereka‖(Tere Liye, 2013:257).

Data 19

― Tidak, Bapak Presiden. Aku tidak akan bersembunyi,‖ aku menjawab tegas dan menggeleng. ―Aku justru akan tampil di arena. Tidak ada yang perlu dicemaskan...(Tere Liye, 2013:108).

Data 20

― Itulah poin paling pentingnya, Bapak Presiden. Selama dua hari ke depan, hingga konvensi berakhir, apa pun ending semua skenario, harus ada yang mengirimkan pesan bahwa kita tidak takut. Biarkan aku yang melakukannya. Biarkan perhatian mereka tertuju padaku (Tere Liye, 2013:108).

Data 21

―Tentu saja mungkin. Mudah sekali melakukannya. Kita legalkan saja korupsi. Minta Presiden atau kepala negara mengeluarkan dekrit bumi, korupsi menjadi legal, boleh dilakukan di seluruh negeri. Selesai sudah, korupsi telah diberantas tuntas dalam semalam‖ (Tere Liye, 2013:108).

Data 22

― Ternyata benar, mengejar jadwal anda tidak mudah. Aku tiba di Singapura dua hari lalu, berusaha menemui Anda di ruangan transit, hanya untuk mendapatkan kabar Anda sudah menumpang pesawat menuju Hong Kong. Aku segera menyusul, tiba di lokasi konferensi itu, dan lagi-lagi menemukan ruangan kosong. Maggie, sekretaris Anda, sama sekali tidak membantu. Dia hanya bilang Anda pergi ke Makau.

Aku terpaksa semalaman memeriksa seluruh hotel untuk menemukan di mana Anda menginap. Tadi pagi tiba di hotel kasino itu, lagi-lagi terlambat, petugas memberitahu Anda sudah pergi ke pelabuhan‖ (Tere Liye, 2013:50).

Dokumen terkait