BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah a. Perencanaan Proses Pembelajaran
Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah merupakan hal yang penting karena tujuan dari kegiatan supervisi itu sendiri adalah untuk membina atau membimbing guru agar bekerja dengan benar dalam mendidik dan mengajar siswanya. Pelaksanaan supervisi tidak hanya menilai penampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan esensinya yaitu bagaimana membina guru untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya yang berdampak pada peningkatan kualitas proses pembelajaran. Supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah SMP Negeri 4 Yogyakarta juga bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan tugas mengajar guru yang bertujuan untuk membimbing guru agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini sesuai dengan tujuan supervisi menurut Burton dalam Ngalim Purwanto (2012: 77), yang menyatakan bahwa tujuan supervisi adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total.
67
Kepala sekolah SMP Negeri 4 Yogyakarta adalah sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi akademik. Sebagai supervisor, kepala sekolah memberikan pelayanan terhadap performasi guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Kegiatan supervisi akademik oleh kepala sekolah dilakukan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan dilakukan untuk mempersiapkan intrumen yang akan digunakan untuk pelaksanaan supervisi dan mengatur jadwal supervisi. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi kepala sekolah dilakukan secara periodik, yaitu dilaksanakan pada awal semester. Kepala sekolah SMP Negeri 4 Yogyakarta dalam melaksanakan tahap perencanaan ini sesuai dengan prinsip-prinsip supervisi menurut Sahertian (2000: 20), yaitu supervisi harus memenuhi prinsip sistematis, harus dilakukan secara teratur, yaitu melalui perencanaan yang matang dan dilakukan secara kontinyu. Perencanaan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMP Negeri 4 Yogyakarta dan pelaksanaan secara kontinyu, yaitu setiap awal semester. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah telah melaksanakan supervisi akademik secara sistematis.
Data hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik yang dilaksanakan oleh kepala sekolah SMP Negeri 4 Yogyakarta meliputi supervisi administrasi perencanaan pembelajaran, supervisi perangkat, proses penilaian, analisis, dan tindak lanjut. Aspek-aspek atau komponen-komponen yang dinilai oleh kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi perangkat, proses penilaian, analisis dan tindak lanjut meliputi daftar hadir dan catatan khusus, daftar nilai,
68
kriteria penilaian dan KKM, soal ulangan harian, analisis dan pengembalian hasil ulangan harian, perbaikan dan pengayaan, serta penilaian akhlak dan kepribadian.
Hal-hal yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam perencanaan kegiatan supervisi adalah mempersiapkan aspek-aspek yang akan dinilai dari guru, yang meliputi persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran oleh guru. Aspek-aspek atau komponen-komponen yang dinilai oleh kepala sekolah dalam melakukan supervisi administrasi perencanaan pembelajaran meliputi persiapan, silabus, RPP, dan administrasi pendukung.
b. Pelaksanakan Proses Pembelajaran
Program supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah meliputi pengembangan perangkat pembelajaran, penguasaan model pembelajaran, serta pelaksanaan pembelajaran. Teknik-teknik yang digunakan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan perannya sebagai supervisor di antaranya teknik individual dan teknik kelompok. Teknik supervisi individual meliputi teknik kunjungan kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan kunjungan observasi, sedangkan teknik supervisi kelompok meliputi pertemuan/rapat, dan diskusi kelompok. Hal ini sesuai dengan teknik supervisi menurut Sergiovanni (Ibrahim Bafadal, 1992: 5), yang menyatakan bahwa supervisor bisa membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam memahami pengajaran, kehidupan kelas, mengembangkan keterampilan mengajarnya dan menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu. Teknik-teknik tersebut bukan saja bersifat individual, melainkan juga bersifat kelompok.
69
Salah satu teknik individual supervisi akademik yang dilaksanakan oleh kepala sekolah adalah teknik kunjungan kelas. Teknik kunjungan kelas dilakukan setiap awal semester. Teknik ini dilakukan dengan cara kepala sekolah melakukan pengamatan secara langsung terhadap guru ketika sedang mengajar di kelas. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sergiovanni (Ibrahim Bafadal, 1992: 5) yang menyatakan bahwa supervisor dapat memonitor kegiatan proses belajar mengajar di sekolah melalui kunjungan supervisor ke kelas-kelas ketika guru sedang mengajar. Dalam melaksanakan kunjungan kelas, kepala sekolah menggunakan lembar observasi. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip supervisi menurut Sahertian (2000: 20) yang menyatakan bahwa supervisi harus menggunakan instrumen yang baik yang digunakan untuk mengumpulkan data sehingga data yang diperoleh benar-benar data yang terandalkan. Dengan adanya instrumen lembar observasi, maka hasil supervisi kepala sekolah akan lebih sesuai dengan tujuan supervisi itu sendiri.
Setelah kepala sekolah mendapatkan hasil pengamatan, selanjutnya kepala sekolah membuat tindak lanjut dari hasil pengamatan tersebut. Aspek-aspek yang dinilai kepala sekolah meliputi pendukung proses pembelajaran, pembukaan proses pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran, penutup pembelajaran, dan kesesuaian pelaksanaan pembelajaran dengan RPP.
Selain menggunakan teknik kunjungan kelas, kepala sekolah juga melaksanakan supervisi akademik menggunakan teknik observasi kelas. Teknik ini dilakukan dengan cara kepala sekolah menugaskan kepada guru untuk mengamati guru lain yang sedang mengajar. Hal ini dilakukan agar guru dapat
70
melihat guru lain yang sedang mengajar dan melakukan perbaikan dalam pembelajaran yang dilakukannya.
Selain itu, kepala sekolah juga melakukan supervisi akademik menggunakan teknik individual, yaitu dengan cara menemui guru secara individual dan mengadakan diskusi dengan guru tersebut terkait dengan perbaikan proses pembelajaran dan penyelesaian permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru. Adanya pertemuan individu dan diskusi antara kepala sekolah dengan guru akan mempermudah kepala sekolah dalam memonitor pelaksanaan tugas guru. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sergiovanni (Ibrahim Bafadal, 1992: 5) yang menyatakan bahwa supervisor bisa memonitor kegiatan proses belajar mengajar di sekolah melalui percakapan pribadi dengan guru.
Selain secara individual, kepala sekolah juga melakukan kegiatan supervisi dengan melibatkan beberapa guru atau menggunakan teknik supervisi kelompok. Kepala sekolah melakukan supervisi akademik menggunakan teknik kunjungan antar kelas. Teknik ini melibatkan kerjasama guru dalam menyusun jadwal kunjungan dan fasilitas yang digunakan karena teknik ini dilakukan dengan cara guru mengamati pembelajaran guru lain pada kelas yang lain. Berdasarkan data yang ada, kepala sekolah tidak melaksanakan teknik supervisi ini kepada semua guru.
Teknik supervisi secara kelompok, kepala sekolah juga melakukan kegiatan supervisi akademik dengan teknik penilaian diri sendiri. Pelaksanaan supervisi ini dilakukan dengan cara guru menilai diri sendiri berdasarkan instrumen kepala sekolah. Selanjutnya kepala sekolah menilai hasil penilaian diri sendiri tersebut.
71
Pelaksanaan teknik penilaian diri sendiri oleh kepala sekolah ini sesuai dengan peran supervisor menurut Sahertian (2000: 25), yang menyatakan bahwa peran seorang supervisor yaitu membantu (Assisting), dorongan (Supporting), dan mengikutsertakan (Sharing).Pengertian membantu dalam hal ini adalah kegiatan membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan menasehati yang dilakukan oleh supervisor atau kepala sekolah terhadap guru (Oemar Hamalik, 2007: 200).
Selain itu, kepala sekolah juga melakukan kegiatan supervisi akademik menggunakan teknik rapat dan diskusi. Rapat dilakukan dalam dua minggu sekali untuk membicarakan hal-hal terkait dengan proses pembelajaran. Diskusi dilakukan dengan membentuk kelompok guru sesuai dengan mata pelajaran. Dalam kegiatan diskusi, kepala sekolah memberikan bimbingan serta saran kepada guru terkait dengan permasalahan pembelajaran yang dialami guru. Kepala sekolah juga melakukan supervisi akademik melalui teknik tukar pengalaman. Hal ini dilakukan dengan cara kepala sekolah berbagi pengalaman dan ilmu dari hasil diklat, workshop, ataupun kunjungan kerja kepada guru yang biasanya dilaksanakan dalam jangka waktu satu bulan dua kali.
c. Evaluasi Proses Pembelajaran
Kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap supervisi akademik dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 4 Yogyakarta. Evaluasi dilakukan oleh kepala sekolah untuk megetahui keberhasilan pelaksanaan supervisi akademik. Kegiatan evaluasi merupakan penilaian terhadap guru dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran. Kepala sekolah melakukan penilaian terhadap instrumen yang digunakan guru dalam melakukan penilaian terhadap siswa. Tujuan
72
dilaksanakannya supervisi akademik dalam evaluasi proses pembelajaran adalah untuk menilai apakah guru sudah melakukan penilaian sesuai dengan tugas penilaian yang harus dilaksanakan guru.
Evaluasi proses pembelajaran ini dilakukan setelah kegiatan supervisi akademik selesai dilakukan. Evaluasi ini dilakukan dengan cara sharing antara guru dengan kepala sekolah. Hal ini dilakukan dalam suatu pertemuan, baik pertemuan secara pribadi maupun kelompok. Pertemuan secara pribadi dilakukan dengan bertatap muka langsung antara kepala sekolah dan guru yang bersangkutan. Sedangkan pertemuan secara kelompok dilakukan kepala sekolah dengan beberapa atau semua guru yang disupervisi. Kepala sekolah dan guru berdiskusi mengenai apa saja yang menjadi kesulitannya dalam kegiatan belajar mengajar, serta apa saja yang menjadi kelebihannya dalam kegiatan belajar mengajar.
d. Tindak Lanjut Proses Pembelajaran
Kepala sekolah juga melakukan supervisi akademik dalam tindak lanjut proses pembelajaran. Supervisi akademik terhadap tindak lanjut proses pembelajaran bertujuan untuk menilai guru dalam memberikan tindak lanjut dari hasil penilaian yang telah dilakukan. Tujuan adanya tindak lanjut adalah untuk memperbaiki kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran yang selama ini sudah dilaksanakan oleh guru. Tindak lanjut yang dilakukan kepala sekolah setelah melakukan evaluasi terhadap guru yaitu dengan pembinaan. Pembinaan yang dilakukan kepala sekolah ada beberapa cara, yaitu dengan menyarankan kepada guru untuk mengikuti kegiatan KKG dan
pelatihan-73
pelatihan. Selain itu, pembinaan juga dilakukan secara kolektif dalam rapat dewan guru. Pembinaan juga dilakukan dengan percakapan pribadi antara kepala sekolah dengan guru mengenai hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensinya, diantaranya dengan memberikan tugas-tugas tertentu.
2. Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Supervisi Akademik
Bardasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dalam pelaksanaan kegiatan supervisi akademik, kepala sekolah SMP N 4 Yogyakarta mengalami beberapa kendala. Kendala yang dialami oleh kepala sekolah ketika melakukan kegiatan supervisi akademik lebih pada kendala psikologis karena kendala tersebut berasal dari diri kepala sekolah sendiri. Kendala-kendala tersebut di antaranya yaitu adanya rasa kekhawatiran terhadap tanggapan-tanggapan guru yang kurang menyenangkan dan rasa tidak nyaman untuk mensupervisi guru senior. Hal ini dikarenakan kepala sekolah saat ini merupakan kepala sekolah baru yang belum lama menjabat di SMP N 4 Yogyakarta. Sebagai kepala sekolah yang baru, perasaan canggung dan kurang nyaman dalam melaksanakan supervisi akademik kepada guru-guru, terutama terhadap guru senior, merupakan suatu hal yang wajar. Tanggapan-tanggapan negatif pun akan terlontarkan apabila kepala sekolah tidak memberikan penilaian yang memuaskan bagi guru melalui supervisi akademik, dan hal tersebut dapat membuat guru menjadi tidak maksimal dalam mengajar karena terlalu sibuk untuk menanggapi hasil supervisi kepala sekolah terhadap dirinya.
74
Selain itu, kepala sekolah juga mengalami kendala teknis, yaitu dalam hal pengaturan waktu supervisi. Hal ini disebabkan karena jumlah guru yang akan disupervisi yang tidak sedikit, sedangkan kepala sekolah juga memiliki tugas lain selain sebagai supervisor, sehingga waktu pelaksanaan supervisi akademik tidak sesuai dengan rencana atau tertunda. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Haedar Akib bahwa kepala sekolah memiliki beberapa tugas yang harus dikerjakannya, yaitu sebagai edukator, manajer, administrator, dan supervisor. Kemudian, sebagai kepala sekolah yang baru, pengalaman dan pengetahuan kepala sekolah mengenai tugasnya sebagai supervisor masih kurang mencukupi, sehingga pelaksanaan supervisi akademik menjadi kurang maksimal.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dienda Mahendrawati (2012) mengenai “Implementasi Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kebakkramat”.Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik yaitu kompleksitas tugas kepala sekolah dan jadwal pelaksanaannya tidak sesuai jadwal.
3. Upaya untuk Mengatasi Kendala yang Dihadapi
Meskipun kepala sekolah menemui beberapa kendala dalam pelaksanaan kegiatan supervisi akademik, namun kepala sekolah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya.Untuk mengatasi kendala mengenai rasa kekhawatiran terhadap tanggapan-tanggapan guru dan rasa tidak nyaman untuk mensupervisi guru senior, sebelum melaksanakan supervisi, kepala sekolah mengadakan
75
pertemuan dengan guru-guru yang akan disupervisi terlebih dahulu. Dalam pertemuan tersebut, kepala sekolah memberikan penjelasan dan pengertian kepada guru-guru mengenai kegiatan supervisi akademik yang harus dilakukan, serta tujuan dilaksanakannya supervisi. Sehingga guru akan memahami dengan baik maksud dan tujuan kepala sekolah melakukan supervisi guna membantu guru untuk menemukan kesulitan dan kekurangan-kekurangan dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, serta untuk membantu guru dalam meningkatkan kompetensi profesional guru menjadi lebih baik.
Beban tugas yang dimiliki oleh kepala sekolah juga tidak sedikit. Selain sebagai supervisor, kepala sekolah juga memiliki tugas sebagai edukator, manajer, dan administrator. Sehingga pelaksanaan supervisi akademik menjadi tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Untuk mengatasi masalah tersebut, kepala sekolah melakukan penjadwalan ulang supervisi akademik dengan menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal guru yang akan disupervisi. Selain itu, pelaksanaan supervisi akademik telah dilakukan secara rutin oleh kepala sekolah, yaitu setiap semester dilakukan supervisi satu kali. Hal ini sesuai dengan prinsip supervisi pendidikan menurut Piet A. Sahertian (2000: 20) yaitu bahwa pelaksanaan supervisi dilakukan secara sistematis, yaitu dilakukan dengan cara teratur, melalui perencanaan yang matang dan dilakukan secara kontinyu.
Sebagai kepala sekolah yang baru, pengalaman dan pengetahuan kepala sekolah mengenai tugasnya sebagai supervisor masih kurang mencukupi, sehingga pelaksanaan supervisi akademik menjadi kurang maksimal. Upaya untuk mengatasi kendala tersebut, kepala sekolah telah melakukan beberapa hal, di
76
antaranya adalah dengan mengikuti pelatihan-pelatihan kepala sekolah yang diadakan oleh dinas pendidikan, menerima saran-saran dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan supervisi akademik. Selain itu, kepala sekolah juga dibantu oleh guru-guru senior yang tergabung dalam Tim Pembantu Supervisi Kepala Sekolah dalam menyusun program supervisi akademik, sehingga supervisi akademik dapat terlaksana dengan baik.
77 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN